My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 38



Setibanya Alesya di kampus dia langsung bergegas pergi ke kelas untuk menemui sahabatnya. Benar saja, Adela dan Audrey sedang berbincang disana.


"Hey, aku kemabali." Ucap Alesya dan langsung duduk di sebelah Adela yang masih fokus mengobrol bersama Audrey mengacuhkannya.


"Ihh kok kalian cuekin aku sih, harusnya aku yang marah karena kalian nggak dateng kemarin." Ucap Ale.


"Apansih kaya anak kecil banget."ketus Audrey.


"Rey kamu kenapa sih, dateng-dateng kok jadi berubah gini."


"Berubah jadi apa, wonder women, batman, suprmernan. Gue nggak berubah tuh masih sama aja manusia buka jin."


"Yaudah maaf deh." Ucap Ale malah meminta maaf.


"Hmmm.." jawab Audrey singkat.


Kebutuan hari ini adalah matkul sam dan Alesya ingin menanyakan sesuatu padanya. Beberapa jam kemudian materi yang di sampaikan sam sudah selesai dan semua orang sudah pergi kecuali mereka berempat.


"Sam." Ucap Alesya menghampiri sam yang sedang membereskan bukunya.


"Ada apa?"


"Emm...apa kau sibuk hari ini. Aku ingin bertanya beberapa hal mengenai selena."


"Sorry aku tidak bisa dan, menurutku kau tidak perlu tahu apapun tentang selena atau Qila. Jangan ikut campur yang bukan masalah mu Ale, biarkan aku bersama sahabatku yang berhak menyelesaikan ini semua, aku harus pergi dulu. sampai jumpa." Ucap Sam meninggalkan ruangan.


"Kenapa semua orang berbeda hari ini, Gil yang berubah manis tapi kenapa yang lainnya malah sebaliknya." Alesya membatin


"Gue pulang duluan sama Adela, lo jangan ikut gue takut dimarahin Gilbert yang udah jemput lo di depan kampus." pamit Audrey dan mereka berdua meninggalkan Alesya sendirian.


"Rasanya aku ingin menangis, kenapa mereka. Apa aku melakukan kesalahan yang membuat seperti ini, tapi setelah ku ingat-ingat.Aku tidak melakukan apapun dan, seharusnya aku yang marah di sini." Ucap Ale.


"Maaf Nyonya, tuan Gilbert sudah menunggu anda di depan... silahkan." Ucap Bodyguard memberitahu Ale.


"Astaga, apa Gil juga akan marah. Karena aku pergi ke kampus tidak memberitahunya."


Dilihatnya Gil yang sedang bersender di depan mobilnya menjadi pusat perhatian semua orang.


"Masuk." singkat Gil memerintah.


Alesya hanya menurut dan tidak mengatakan apapun karena, Gil terlihat marah? Baru saja tadi pagi dia baik-baik saja sekarang sudah kembali lagi.


Tidak ada perkataan apapun yang keluar dari mulut mereka, hanya terdengar deru mesin dan lagu yang di putar oleh Gil saat akan pergi.


Sesampainya di apartment Gil menyuruh Alesya duduk di ruang tengah.


"Mau ku apakan kau hari ini Hah, sudah ku bilang jangan pergi kemanapun sebelum luka mu benar-benar sembuh Alesya." ucap Gil datar. "Sebenarnya apa maumu, sudah ku berikan fasilitas agar kau tidak merasa bosan."


"Maaf." cicit Ale.


"Terus saja meminta maaf, maaf tapi kenyataanya kau melakukan hal yang sama. Benar-benar bodoh, apa kau tidak berfikir bahwa kau begitu menyusahkanku. Aku banyak pekerjaan dan kau hanya tinggal menuruti ucapanku tidak bisa." Ucapnya Kasar


"Jika kau merasa terbebani, kenapa mengursiku. biarakanlah aku mati kehabisan darah waktu itu agar bisa bertemu keluargaku disana, Aku tidak memintamu untuk melakukan semua ini." Balas Alesya yang sudah berkaca-kaca.


"Lalu, jika kau saja berfikir seperti itu. Kenapa tidak pergi."


"Kau mengusriku Gil, sungguh. Baiklah akan dengan senang hati aku pergi dari sini, toh sebelum aku bertemu denganmu hidupku baik-baik saja."


"Silahkan, aku tidak perduli." Ucap Gil acuh.


"Kau kenapa Gil, saat pagi saja kau bersikap manis padaku tapi, karena hal sepele seperti ini kau mengusirku?"


"Jangan salah paham nona, aku hanya merasa kasihan saja kepadamu yang kekurangan kasih sayang dan tidak punya siapapun."


"Stop it Gil you hurt me.." Teriak Alesya kemudian sedikit berlali menuju kamarnya dan di ikuti Gil dari belang. Ternyata setelah Alesya benar-benar masuk, Gil mengunci pintunya.


"Gil sialan, kenapa kau mengunciku Hah. Aku harus pergi dari sini, buka pintunya Gil." Teriak Alesya sambil menggedor pintu dengan keras.


"Gilbert, baj*ngan Gila, buka pintunya." Alesya terus mengumpat dan berteriak.


"Kalian semua jaga Alesya jangan sampai kabur, aku harus pergi mengurusi sesuatu. Jennya akan kemari untuk mengursinya, kabari aku jika terjadi sesuatu." perintah Gil.


Satu jam berlalu teriakan Alesya sudah tidak terdengar lagi karena, ternyata Alesya tertidur di karpet kamrnya. Saat jenny masuk ke dalam dia sempat kaget, ia pikir Alesya pingsan.


"Madam Jenny." Gumam Alesya saat terbangun dan medapati jenny sedang menata perlatan make-up miliknya di meja rias Alesya bersama beberpa asistennya.


"Ouhhh sayang, kau sudah bangun. Aku pikir kau mati karena di kurung iblis tampan itu."


"Kenapa kau bisa masuk, dan kemana dia?"


"Dia sedang ada urusan mendadak jadi jangan banyak bertanya. Bersihkan dirimu cepat, aku sudah menunggu dari siang dan kau malah enak tertidur di karpet berbulu ini."


"Aku harus pergi dari sini madam jenny, Gil sudah mengusriku dan dia sangat marah."


"Abaikan saja, cepat jangan banyak berfikir mandilah. Pelayanmu sudah menyiapkan semuanya di dalam."


"Bibi Amer?"


"Siapa lagi."


Kemudian Alesya menurutinya tanpa protes, sebenarnya ia berifkir sangat keras. Rasanya seperti baru saja terbangun dari mimpi, semuanya berbeda.


Setelah selesai membersihkan diri, Alesya sudah terlihat segar.


"Berapa jam lagi aku harus menunggu, mandi saja kau harus mengabiskan waktu satu jam. Di dalam kau mandi apa bersemedi." Omel Jenny


"Maaf, aku kesulitan membersihkan diri karena lukaku." Balasnya


"Ohh sorry aku lupa akan itu, baiklah nona. Mari duduk dan jangan banyak bertanya, aku akan mendandanimu."


"Sebentar, kenapa aku harus dandan?"


"Sudah ku katakan gadis cerewet, jangan banyak bertanya, diamlah."


Hampir memakan waktu dua jam jenny mendani Alesya dan sekarang dirinya sudah siap dengan dress cantik nya.



"it's perfect." Puji jenny.


"Apa ini tidak terlalu tebal?" Ucap Alesya


"Oh astaga dasar anak kecil, kau menghina karyaku. Ini sudah sempurna dan, karena aku mendandanimu kau terlihat berkali-kali lipat cantiknya."


"Apa aku cantik?"


"Lama-lama denganmu membuatku gila, bagaimana bisa Gilbert menyukai gadis seperti ini." Ucapnya kesal.


"Apa?"


"Tidak..tidak..tidak..cepatlah keluar, Mereka sudah menunggumu." kemudian mereka pergi meninggalkan kamar Alesya


Tibanya di bawah Alesya harus menutup matanya sebelum menaiki mobil.


"Aku akan pusing jika kalian menutup mataku lama." Protes Alesya


"Tenang saja Nyonya kami menjamin tidak akan membuat anda merasakn pusing." Ucap salah satu bodyguard yang duduk di depan bersama supir.


"Apakah masih lama?"


"Sebentar lagi kita akan sampai, bersabarlah Nyonya."


"Dari tadi kau bilang sebentar terus, nyatanya tidak sampai-sampai." gerutu Alesya.


Setelah pembicaraan itu mereka hanya diam dan Alesya tidak berbicara lagi.