
Sekarang ketiga sahabat itu sedang berada di kantin dan tidak ketinggalan Bodyguard nya.
"Kalian mau pesen apa biar sekalian." Ucap Ale
"Gue Sandwich sama moccacino." Ucap Audrey.
"Mm gue mah Big Burger sama ice tea aja Le." Ucap Adela.
"Okeyy, om mau pesen apa?" Tanya Ale pada om bodyguard.
"Tidak usah Nyonya biar saya saja." jawabnya
"No...No...No biar aku aja om tunggu di sini."Ucap Alesya kemudian pergi untuk memesan.
Namun saat dia tidak sengaja menabrak seseorang.
" Aduhhh..sorry..sorry."ucap Ale pada orang itu.
"Yahhh basah deh." Ucapnya.
"Sorry banget yah aku nggak sengaja, sini biar aku bersihkan." ucap Ale panik.
"It's okey, aku bisa ke toliet dan mengganti baju." ucap orang itu.
"Emm gimna dong kak, bajunya jadi basah dan lengeket." ucap Ale.
"Nggak apa-apa kok." balasnya.
"heummm bener nih."ucap Ale merasa tidak enak.
" Iya santai saja, oh ya kamu MABA. Perkenalkan Aku Samuel Delvano dosen magang disini."ucapnya memperkenalkan diri.
"Ddd...dddosen ya tuhan. Sekali lagi maafkan saya pak." ucap Ale meminta maaf.
"Hahaha lucu sekali." ucapnya.
"Ehh?" gumam Ale
"Kenapa cara bicara mu jadi berubah seperti itu, panggil Sam saja." ucapnya sambil terkekeh.
"Emmm tidak sopan berbicara seperti itu kepada dosen." ucapku.
"Ada-ada saja, baiklah kalo begitu aku ke toilet dulu untuk mengganti baju takut di kerubuni semut." candanya.
"Hehe iya pak silahkan." Ucap Alesya terkekeh karena candaan sam. Dia hampir lupa memesan makanan dan keasyikan mengobrol dengannya.
"Lama banget, ngantri? perasaan enggak deh." ucap Audrey.
" Iya maaf tadi aku nambrak dosen magang tau gak, kan malu."ucapku sambil memeberikan pesanan mereka.
"Whatt.. siapa? cewek atau cowok, ganteng nggak, umurnya berapa?" Cerocos Adela.
"Satu-satu kenapa?" balasku.
"Ya kan penasaran." kekehnya.
"Cowok, masih muda baik lagi." ucapku sambil tersenyum.
"Ihh apaan lo senyum-senyum gitu. naksir yah?" canda Adela.
"Nggak apaan sih kamu del, cuman senyum aja di kira naksir." balas Ale.
"Udah ahh makan gue udah laper." ucap Audrey.
"Emm Nyonya terimakasih." ucap om bodyguard.
"Iya sama-sama, di makan yah." ucapku.
"Ehh gue kesel tau gak, tadi bemper mobil gue di tabrak sama cowo banci, ngeselein banget." Ucap Audrey tiba-tiba.
"Hah dimana, kamu nggak apa-apa kan?" ucap Alesya.
"Guenya nggak kenapa-napa, itu si Unyu mobil kesayang gue dong yang rusak." Ucap Audrey berkaca-kaca.
Karena Unyu adalah mobil kesayangannya karena hadiah ulang tahun dari mendiang Omanya yang udah meninggal pas waktu SMA kelas 10.Mangkanya Audrey sayang banget sama mobil itu.
"Terus tuh orang tanggung jawab nggak?"Tanya Adela.
" Boro-boro dia mah balik marah-marah sama gue, orang dia yang nabrak gue yang kena marah."Kesal Audrey.
"Tapi lo dapet kontaknya kan?" tanya Adela.
"Hmmm, untungnya." ucap Audrey.
"Syukurlah, minta ganti rugi aja rey." Ucap Alesya.
"Hmmmm." singkat Audrey dan melanjutkan makan.
setelah urusan di kantin selesai karena mata kuliah sudah berakhir kami bergegas pulang namun, di depan loby kampus sangat ramai.
"Ehh ada apa kok rame banget?" tanya Adela kepada seseorang yang ia cekal tanggannya.
"Siapa?" tanya Adela kembali.
"Liat aja sana." ucapnya lalu pergi.
"Pangeran tampan?" Gumam Audrey.
"Yaudah kita liat aja kesana sekalian pulang." Ucap Adela.
Dilihatnya kerumunan yang mengganggu jalanku, bodyguard mengusir mereka untuk memberikan jalan kepada kami.
"Gila Le, berasa sultan aja kita." Ucap Audrey.
"Hahah iya ya.." Ucapku sambil tertawa dan melihat kearah depan dan seketika tubuhnya kaku tidak bisa di gerakan.
"Mau apa dia kemari.?" tanyanya dalam hati.
Pasalnya di depan sana seorang Gilbert Alejandro Rodrigez bersandar dengan gagahnya di depan mobil sport yang dapat dipastikan sangat mahal itu.
Lamborghini Veneno buatan Italia yang di produksi dengan sangat terbatas, mungkin hanya beberapa orang yang memiliki mobil jenis ini termasuk Gilbert.
"Le..Kenapa dia disini?" Tanya Audrey sedikit berbisik.
Semua perempuan yang ada di sini menjerit antusias saat Gil tiba-tiba melangkah menuju Alesya dengan tenang dan Grepp.. dia menggandeng tangan Alesya membawanya kedalam mobil untuk pulang bersama.
"Hh..hhhey, lepaskan..Rey..Del." ucap Alesya dan memanggil kedua sahabatnya meminta bantuan namun mereka hanya diam saja melongo tidak bisa berbuat apapun.
Kini Alesya sudah pasrah berada satu mobil dengan Gil, tidak ada percakapan dan Gil belum mengucapkan sepatah kata pun.
Sampai tibalah di sebuah butik dan salon yang terlihat sangan luxury dan besar.
"Mau apa dia membawaku kemari. Ohh tidak jangan-jangan dia akan merubah penampilanku setelah itu dia akan menjualku." Batin Alesya berasumsi buruk.
"Kau tidak akan turun?" Tanyanya
"Emmm iya." ucapku.
Besar sekali, pasti yang merancang semua baju disini adalah perancang internasional. Kemudian Gil meninggalkan ku dan berbicara kepada seseorang sambil sesekali melihat kearahku.
"Hallo sis aku Madam jeny okey, ayo ikut denganku akan ku buat kau menjadi putri yang sangat cantik." Ucap seorang pria yang terlihat gemulai.
"Tunggu, aku mau di bawa kemana?" tanyaku.
"Menurut saja, aku hanya akan merubah si upik abu menjadi Cinderella." Ucapnya sambil menuntunku ke sebuah tempat yang penuh dengan make up.
Setelah menghabiskan waktu yang lumayan lama, dia menyuruhku untuk memilih dress untuk ku kenakan.
"Perfecto... Kau cantik sekali ya tuhan si tamapan Rodrigez memang handal mencari wanitanya." Ucapnya antusias dan aku kaget. Wanitanya apa aku tidak salah dengar.
Dan Madam jeny membawaku keluar menemui Gil.
"Ekhemmm." Dehem Madam Jeny dan Gil yang sedang memainkan ponselnya berpaling melihat Kami seketika raut mukanya terlihat kagum namun ia segera merubah eksprsinya.
"Tadaaaa....She look very beautiful right Mr.Rodrigez." Ucapnya antusias.
"Lumyan." ucapnya singkat.
"Hell dia bilang lumayan, sperti apa memangnya taraf kecantikan menurut si iblis ini." Ucapku kesal dalam hati.
"Okey kerja bagus Jen, akan ku transfer kan sisanya." ucap Gil pergi meninggalkanku dan menyusulnya.
Saat di perjalanan aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Kita akan kemana?" tanyaku.
"Mansion keluargaku dan berpura-puralah menjadi keksihku nanti."
"Maksud tuan?"
"Ohh dan jangan panggil aku taun, Gil kau boleh memanggil namaku dengan bebas aku bukan tuanmu."
"Tapi saya harus bagaimana?"
"Bersikaplah seperti sepasang kekasih lainnya."
"Aku..Akuu tidak tahu." cicit Alesya.
"Kau...Hahaaahah tidak tahu mana bisa. Aku tidak percaya." Seketika Aku terdiam, baru kali ini melihat Gil tertawa.
"Baiklah akan ku beri tahu, bersikap mesralah seperti bergandeng tangan, memanggil sayang mungkin kau bisa lakukan yang di lakukan pasangan kekasih di luar sana." tuturnya.
"Baiklah." Gumamnya.
Setelah itu sisa perjalanan mereka hanya habiskan dengan tenang tidak ada pembicaraan apapun.