
kemarin orang tua Gil tidak pulang ke mansion melainkan menginap di apartment dan, pagi ini Alesya bangun lebih awal untuk memasak sarapan.
Sekarang Ale sedang fokus, dengan masih menggunakan pakaian tidurnya, rambut di gulung asal membuat Alesya terlihat manis dan sexy.
Gil sudah dari tadi memandang Alesya dari arah ruang makan yang jaraknya dekat dengan dapur, sambil menompang kedua dagunya di atas meja.
Sebentar lagi masakan akan siap di hidangkan, aromanya tercium sangat enak membuat merka yang menciumnya keroncongan karena lapar.
"Astaga, Gil kamu mengagetkanku." Ucap Alesya yang sedang membawa membawa hidangan di kedua tangannya. "Bagaimana jika masakannya tumpah." Omel Ale.
"Maafkan Aku sweetheart, Kamu saja yang terlalu asyik memasak sehingga tidak melihat makhluk tampan ssdang memandangmu." Goda Gil.
"Sungguh, Kamu Gil si datar dan dinginkan? Kenapa sekarang terlihat seperti orang bucin." Ucap Alesya.
"Bucin?"
"Kamu tidak tahu?" Tanya Alesya dan, hanya di angguki oleh Gil.
"Bahasa anak gaul orang indonesia, mereka menyebut seseorang yang sedang di mabuk cinta dengan sebutan bucin."
"Aneh sekali bahasanya."
"Hmmm..." Alesya berdehem sambil menata makanan di meja.
"Sini biar aku bantu." Tawar Gil.
"Dari tadi kek." Sindir Ale.
"Heheh...Kamu memasak semua ini dan, makanan kesukaanku, Mom, Dad? Sebanyak ini? Kamu bangun jam berapa sweetheart?" Tanya Gil yang baru menyadari Alesya begitu banyak menghidangkan makanan di atas meja.
"Jam set 5" Ucap Ale yang masih fokus bolak-balik ke dapur membawa masakannya.
"Harusnya kamu tidak perlu memasak sebanyak ini sendirian sweetheart, buatkan kami yang sederhana saja iti sudah cukup."
"It's okay Gil, ini atas kemaunku. Selesai.." Ucap Alesya. "Cepat bersiaplah, Mom dan Dad sebentar lagi mungkin akan turun. Aku juga ingin mandi." Lanjutnya.
"Mau mandi bersama, untuk menghemat waktu?" Godanya.
"Ishhh, cepat bersiaplah." Balas Alesya yang merasa pipinya sudah memanas dan merah, buru-buru Ale pergi meninggalakam Gil yang tersyum melihat tingkah wanitanya itu.
Yah, Alesya adalah wanitanya sekarang, Dia tidak menyangka sudah menjadi tunangan orang lain dan akan segera menikah. Memang datanya cinta tidak bisa di tebak, Gil pikir ia tidak akan pernah merasakan lagi cinta dari wanita.
Beberapa menit berlalu, Gio dan Bela baru saja keluar dari kamar mereka untuk sarapan.
"Astaga, siapa yang memasak ini semua?" Kaget Bela setelah melihat meja makannanya penuh dengan berbagai hidangan.
"Kurasa menantu kita yang memasak ini sayang."Ucap Gio sambil menuntun istrinya untuk duduk dan menunggu.
" Sayang ini menu favorite ku."Ucap Bela senang dan, tidak sabar untuk segera mencicipinya. Fabada Ausriana makanan khas Spanyol yang sangat ia sukai karena, memang dulu Ibunya yang berkebangsaan Spanyol selalu membuatkan ini ketika ia susah untuk makan.
"Beef Stoganoff adalah kesukaan kita bukan Dad?" Tanya Gil yang baru saja bergabung bersama mereka dan, mengambil kursi di depan ibunya.
"Of course." Singkat Gio.
"Maaf, sepertinya aku terlambat dan membuat kalian menunggu." Ucap Alesya dari arah kamarnya, kemudian duduk di samping Gil.
"Ohh sayang, kamu tidak perlu meminta maaf. Seharusnya Mom karena, bangun terlambat dan tidaj membantumu memasak." Balas Bela.
"Tidak apa Mom, memang sudah kewajibanku" Ucapnya.
"Terimakasih sayang, emm...Bagaimana jika kita makan sekrang?" Tawar Bela karena sudah tidak sabar memakan kesukaannya itu.
"Ohh iya tentu Mom, cobalah." Ucap Alesya.
"Girl, kamu hanya memasakan kami satu piring Beef Stoganoff untuk berdua? Yang benar saja, Aku harus berbagi dengannya?" Protes Gio.
"Memang, Aku sengaja membuatnya satu piring. Agar kalian bisa berbagai." Ucap Alesya.
"Tak apa Dad kau saja yang makan karena, Aku akan setiap hari mendapatkan itu dari kekasihku ini." Ucap Gil menyombongkan diri.
"Yayayaya terserah."
"Yuhuuuuu...Niel datang." Teriak Niel.
"Pengganngu." Gumam Gil.
"Ow..oww.oww, ternyata Aku datang di waktu yang tepat." Ucap Niel langsung mengambil tempat duduk di samping Alesya.
"Mau apa Kau, tidak tahu malu." Ucap Gil.
"Apa lagi, ikut makan." Ucapnya yang sedang sibuk menaruh lauk di piring miliknya.
"Ck!" Gil berdecak, tidak ada yang memprotes. Memang mereka sudah tahu bagaimana kelakuan Niel yang tidak tahu malu itu kecuali, Alesya yang bengong karena melihat Mom dan Dad yang biasa saja. Terlihat tenang dan acuh, atas kehadiran Niel yang rusuh.
"Ahhhh kenyang juga."Ucap Niel yang bersandar dengan mengusap-usap perut sixpack nya itu setelah menghabiskan makan yang lumayan banyak.
"Thanks sayang, Mom hari ini makan enak karenamu." Puji Bela.
"Mom bisa saja, ini tidak sebanding dengan masakanmu yang seperti chef internasional itu." Balas Alesya.
"Hahah memang masakan istriku yang paling enak di seluruh dunia ini." Ucap Gio.
"Kalian sangat berlebihan." Ucap Bela.
Setelah membereskan semuanya, mereka berkumpul di ruang tengah.
"Boy, kami harus pulang karena ada pekerjaan dan, Bela akan pergi mengunjungi butiknya." Pamit Gio.
"Iya sayang, lain kali pulang dan menginaplah di mansion." Ucap Bela.
"Tentu Mom." Ucap Gil.
"Baiklah, kami pergi sekarang. Alesya thanks untuk masakannya walaupun tidak seenak makanan istriku." Ucap Gio.
"Ahaha, tenang saja. Aku akan belajar pada Mom nanti." Balas Alesya kemudian memeluk Bela. " Becarful Mom."Lanjutnya.
"Ya sayang, sampai jumpa semuanya." Kemudian mereka pergi meninggalkan apartment dan, Alesya yang pergi meninggalkan mereka untui bersiap pergi ke kampus.
"Mau apa kau kemari?" Ucap Langsung Gil.
"Ingin bertamu saja dan numpang makan." Balas Gil.
"Aku serius."
"Sebenarnya beberapa waktu yang lalu aku melihat Selena, Jerry dan, Victor keluar bersama dalam satu mobil."
"Selena?" Tanya Gil.
"Hmmm, sayangnya waktu itu Aku ada urusan penting. Jadi tidak sempat mengikuti mereka."
"Diamana kau melihatnya?"
"Sky Hotel karena, kebutulan Aku baru saja dari sana dan akan bertemu Client untuk meeting penting."
"Apa kau tahu yang mereka lakukan disana?"
"Aku belum sempat, mungkin lebih mudah jika meminta Marvel."
"Hmmm, akan kita lanjutkan nanti. Aku harus mengantar Alesya pergi kuliah."
"Gilbert Alejandro Rodrigez beralih menjadi supir pribadi tunangannya." Ledak Niel.
"Diamlah Niel."
"Baiklah, Aku pergi." Pamit Niel seperti jelangkung.
"Kak Niel kemana?" Tanya Ale yang sudah siap akan pergi.
"Pulang, Ayok sweetheart." Acuh Gil kemudian merangkul Ale.
Hari ini Gil mengantarnya tanpa supir, sebenarnya Alesya bisa saja pulang pergi tanpa harus di jemput Gil ataupun supir. Tapi, Gil memaksa dari pada dia marah lagi yasudah Alesya menyetujuinya dan, jangan lupakan bodyguard yang selalu menguntitnya seperti magnet.