My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 11



Setelah mengecek keadaan anggota yang terluka, Gil dan Niel tidak kembali pulang karena ada beberapa masalah yang harus segera ia tangani. Berhubung sudah jam 4 pagi dan mereka belum beristirahat, memilih diam di markas. Tenang saja markas milik Gil sangat mewah dengan faslitas luar biasa.


Tidak sedikit musuh yang di hadapi Keluarganya sejak dulu. Rasanya menjadi seorang Rodrigez adalah sebuah keberuntungan dan Kutukan karena di hadapkan dengan banyak musuh, namun banyak juga yang tidak mau berurusan dengan keluarga yang sangat berpengaruh ini.


"Ku dengar dari Anthony gadis itu kabur dari apartment mu Gil.", Ucap Niel.


" Memang keras kepala."balas Gil.


"Tidak seperti wanita murahan di luar sana right, Aku baru tahu seorang wanita tidak tertarik dengan wajah yang sialannya sedikit sempurna itu, malah sebaliknya." Tutur Niel.


"Diamlah, dasar cerewet." Balas Gil.


"Hahaha lihatlah wajahmu Gil, sangat lucu." Ucap Niel tak bisa menahan tawanya.


"Dengar, apa kau berpikir yang menuduhku si tua bangka itu?" Tanya Gil serius kali ini.


"Kurasa juga begitu."


"Mungkin sekarang dia sedang bersenang-senang, tunggu waktunya akan ku kabisi mereka." ucap Gil.


"Memang seharusnya." balas Niel.


"Aku akan pulang, beristirahatlah." Ucap Gil kemudian pegi meninggalkan Niel.


"Pria itu, selalu bersikap seperti ini." kekeh Niel. "Samuel yah..Aku harus menyelidiki ini. Dan meluruskan kesalah pahaman yang belum terselesaikan."lanjut Niel dan bangkit dari duduknya untuk kembali pulang.


......


"Hoammm...Selalu saja terbangun di kamar pria itu." Ucap Alesya dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah siap dia keluar menuju dapur mumpung masih jam 6 dan para pelayan belum ada yang datang, biasanya mereka akan datang pada pukul 7 pagi dan kembali saat pukul 5 sore.


"Enak sekali bekerja disini. Tidak banyak yang di lakukan tapi penghasilannya besar, aku jadi tertarik."Ucap Alesya " Ohh apa yang kau pikirkan Ale, kau seorang tawanan disini bukan untuk bekerja."Lanjutnya mengacak rambut prustasi. Kemudian mengecek ada bahan makanan apa yang bisa ia masak untuk sarapan.


Akhirnya Ale memutuskan untuk memasak beberapa menu indonesia yang sangat ia rindukan, dulu sejak masih ada Dad keluarganya masih sering mengunjungi Grandma di indonesia, di saat libur sekolah menjelang.


Dan sekarang Alesya siap bertempur dengan alat masakannya, jangan salah. Alesya sangat pandai memasak, sejak kecil ia tidak pernah absen membantu ibunya memasak dan sambil belajar.


Tepat pukul 7 masakan Ale siap di hidangkan dan bersamaan dengan datangnya para pelayan. Mereka panik melihat nyonya-nya memasak, karena takut di marahi tuan merka.


"Astaga Nyonya biar saya saja, Anda tidak perlu memasak. Nanti tuan akan marah." Ucap Amer.


"Tidak apa-apa Bibi, Aku suka memasak. Dan Bibi melarangku memasak karena takut di marahi? Ohh astaga, tidak akan ada yang marah. Okey Bibi tenang saja." Ucap Alesya menenangkan


"Baiklah, Anda memasak apa. Sepertinya hidangan yang Anda masak begitu Asing dan terlihat menggoda untuk di cicipi." ucap Amer.


"Ouhhh heheh ...Aku memasak menu Indonesia kalian belum tahu kan, ayo...Cobalah aku sudah menyisihkan untuk kalian." ucap Ale.


"Benarkah kami boleh mencobanya?" ucap Amer.


"Tentu." Balas Alesya dengan riang.


"Wow ini enak sekali, apa nama masakannya nyonya?" Tanya Nory.


"Ayam betutu makaman khas Bali." Jawabku.


"Kalau yang satunya lagi nyonya, aku sangat suka dengan yang ini." Ucap Viya.


"Hanya ikan bakar namun, bedanya memakai bumbu khas daerah papua." Ucapku.


"Anda pandai memasak ternyata." Puji Amer.


Mereka sangat fokus sampai-sampai Gil yang sudah datang dari tadi terus memeperhatikan dengan tatapan berbeda, dia tidak menyangka gadis itu akan berani menggunakan dapurnya dan memasak. Yang Gil pikirkan saat pulang dengan Alesya yang mengurung diri di kamarnya sambil menangis namun ternyata tidak. Alesya terlihat bahagia dan bersemangat bersama para pelayannya, sungguh di luar dugaan.


Saat Gil melangkah ingin membersihkan diri, Alesya memanggilnya, seketika tubuhnya Kaku.


"Apa dia tahu aku memperhatikannya dari tadi." batin Gil.


"Tuan, Anda baru pulang. Maaf tadi aku tidak izin untuk menggunakan dapurmu sebelumnya, tapi aku memasakan untuk anda. Apakah tuan akan makan sekarang." ucap Alesya ragu.


"Hmmmm." singkat Gil lalu pergi meninggalkan Alesya begitu saja.


"Dia malah meminta maaf, memang aneh." Batin Gil.


"Apa dia tidak mau?" Gumam Ale. Kemudian ia duduk di salah satu kursi dan diam menatap sendu masakannya. Namun setelah beberapa lama seseorang menarik kursi dan duduk di hadapannya.


"Tuan, kau mau makan. Akan ku ambilkan." Ucap Ale semangat.


"Menu apa ini, aku belum pernah melihatnya." ucap Gil.


"Ini masakan indonesia, cobalah aku yakin rasanya tidak kalah enak dengan restoran bintang lima yang sering kau kunjungi." Ucap Alesya membanggakan masakannya.


"Berikan." ucap Gil singkat.


"Hah?"


"Ouhhh... ini tuan pasti suka." ucap Ale hanya melihat Gil.


"Kau tidak makan?"


"Aku nanti saja, setelah tuan selesai." ucapnya.


"Makanlah, aku tahu kau belum makan juga."


"Baiklah." Jawab Ale dan mulai mengambil lauk dan nasi yang sudah ia masak tadi.


"Bagaimna enak tidak?" Tanya Alesya namun Gil diam tidak menjawab. Mereka makan dengan diam dan baru Gil selesai.


"Lumayan." singkat Gil dan beranjak meninggalkan Alesya yang melongo karena bingung akan perkataan Gil barusan. Tadinya Ale ingin bertanya namun Gil sudah pergi ke kantornya.


"Lumayan apa?" gumam Ale. "Ahh sudahlah yang penting dia memakanya dengan lahap, kurasa dia menyukainya" ucap Ale sambil terkekeh.


Bisa dilihat dari bersihnya piring Gil yang hanya tersisa tulang-tulangnya saja.Alesya merasa senang karena dia tidak menolak dan malah makan dengan lahap.


"Wahh Baru kali ini Tuan Rodrigez makan sebanyak itu sampai habis, biasanya dia hanya akan minum segelas kopi dan pancake yang kami buatkan itu pun tidak sampai habis." Ucap Amer.


"Benarkah?" tanya Ale kaget.


"Seperti itu kenyataanya Nyonya." balas Amer.


"Ya tuhan aku lupa." Ucap tiba-tiba Alesya mengagetkan.


"Ada apa Nyonya?" Tanya Amer panik.


"Aku lupa bertanya mengenai, apakah aku bisa pergi kuliah." Ucap Ale lesu.


"Kita bisa menghubunginya lewat telepon nyonya." Ucap Amer.


"Aku tidak memiliki ponsel." Ucapku.


"Pakai telepon rumah saja untuk mengubungi kantor."


"Benarkah?"


"Iya Nyonya." Setelah itu Amer memghubungi kantor Gil.


"Selamat pagi, apa saya bisa berbicara dengan Mr.Rodrige?" Ucap Amer.


"Selamat pagi, maaf dengan siapa ini. kebetulan Mr.Rodrigez belum sampai." Ucap seseorang di sebrang sana.


"Saya Amer pelayan Mr.Rodigez, ouhhh...emm apakah bisa tolong sampaikan bahwa Nyonya Alesya mau berbicara kepadanya." Ucap Amer.


"Baiklah nanti saya sampaikan." Balasnya.


"Terimakasih." Ucap Amer dan mengakhiri sambungannya.


"Bagaimana?" tanya Alesya.


"Tuan belum sampai, mungkin tunggu beberapa saat lagi. Sebaiknya saya rapihkan meja makan terlebih dahulu." Ucap Amer.


"Biar aku bantu."Ucapku.


" Tak apa biar saya saja."Ucap Amer dan terdengar dering telpon.


"Baiklah, biar aku yang angkat telponnya." Ucap Ale


"Hallo.."


"Ada apa?"


"Ini dengan siapa?"


"Tadi kau menyuruh sekertaris ku untuk menghubungimu ada apa?"


"Tuan Gilbert?"


"katakan."


"Apa aku boleh pergi kk..ke...kampus?" Ucap Ale hati-hati.


"Supir ku akan mengantarmu dan jangan mencoba kabur lagi dariku."


"Terimakas...."


Tutttt...tuttt.. sambungan telah di matikan oleh Gil sepihak.


"Aishhhh tidak sopan sekali dia." Kesal Alesya dan sekarang ia akan bersiap-siap pergi ke kampus.