
Gil terlihat marah, saat bangun Alesya tidak ada dimana pun.
"Cepat cari Alesya sampai ketemu, aku tidak mau tahu." Teriakannya menggema kepada bodyguard yang sudah berjejer di hadapannya.
"Gil tenanglah." Ucap Bela.
"Mom, Alesya hilang. Kenapa penjaga di mansion sangat bodoh, apa yang mereka lakukan."
"Boy, bersihkan dirimu. Setelah itu temui aku di ruang kerja." Perintah Gio berdiri di lantai atas yang sudah rapih dengan tuxedo kerjanya.
"Dad, Alesya hilang dan kalian biasa saja. Aku tidak peracaya ini." Balas Gil.
"Turuti saja apa kata Daddymu Gil, mungkin dia tahu di mana keberadaan Alesya." Saran Bela.
"Baiklah." Singtakat Gil, dia tidak mau menambah masalah. Cukup hilangnya Alesya yang membuatnya hilang akal, Akhirnya Gil pergi membersihkan diri dengan cepat.
"Hahahah, lucu sekali melihat Gil sepagi ini sudah mengamuk." Sahut Sam yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Biarkan anak itu merindukan Alesya selama seminggu." Balasnya.
"Jangan sampai Mommy-ku seperti mu, sungguh jika aku berada di posisi Gil saat ini. Mungkin Aku akan marah besar apalagi setelah tahu ini rencana orangtuanya." Ucap Sam.
"Akan kuberithau Anna nanti, untuk melakukan hal yang sama padamu."
"Jika Mommy setuju, oh ya salamkan kepada Dad Gio. Aku akan pulang hari ini dan, ada urusan yang harus aku kerjakan sebelum pergi ke Italia. Aku yakin dia tidak akan menemukan Alesya dengan mudah, koneksi Dad Gio lebih kuat." Jelas Sam
"Baiklah, sering-seringlah kemari. Salamkan juga kepada Anna dan Matheo jika mereka ada di rumah."
"Tentu Mom, Aku pergi dulu." Pamit Sam.
................
Dia sebuah apartment yang sanagat nyaman Alesya sedang memasak Pie kesukaannya bersama Maria.
"Kak, menurutmu apa reaksi Gil saat aku tidak ada di mansion?" Tanya Alesya sambil mengaduk adonan Pie nya.
"Entahlah, mungkin marah?" Jawab Maria.
"Mom dan Dad, mereka mendapatkan ide seperti ini darimana. Aku tidak habis pikir, apalagi baru dua hari kita bersama setelah seminggu terpisah. Dia pasti khawatir dan, marah tentunya." Ucap Alesya.
"Kau beruntung memilikinya Ale."
"Ya, Aku sangat bertung di kelilingi orang yang sangat menyayangi dan melindungiku seperti Kak Maria." Ucap Alesya.
"Terimakasih, sudah membebaskan ku."
"Berterimakasih-lah kepada tuhan, berkat dia kita di pertemukan. Akhirnya aku bukan hanya memiliki Kakak laki-laki tapi juga perempuan." Ucap senang Alesya.
"Kau punya Kakak laki-laki?" Tanya Maria.
"Tidak, Aku anak tunggal. Kak Niel sudah ku anggap Kakak laki-laki ku dan, sekarang Kak Maria Kakak peremuan Ku." Jawab Alesya senang.
"Oh ya baru ingat, dari kemarin aku tidak melihat kedua orangtua mu."
"Mereka sudah tiada." Balas Alesya.
"Maafkan aku."
"Tak apa Kak, sepertinya adonannya sudah siap." Ucap Alesya.
"Ya, ayo kita cetak segera." Balasnya.
kemudian, mereka melanjutkan acara membuat pie nya.
...............
"Apa-apan Daddy ini, bukannya membantu mencari Alesya. Kau malah meminta ku pergi ke Italia untuk menyelesaikan masalah perusahaan disana? Dad come on, apa yang kau pikirkan. Jelas Aku tidak mau, pergi saja sendiri, Aku akan mencari Alesya." Protes Gil.
"Hanya tiga hari, aku akan memberitahu dimana kebaradaan Alesya."Ucapnya Santai.
" What, sebenarnya apa rencanamu Dad?"
"Berangkatlah hari ini bersama Sam dan Niel, jika kau mau."
"Dad, tell me.. Apa kau yang merencakana semua ini?"
"Mereka akan menunggumu sore nanti di bandara, Dad harus pergi sekarang." Ucap Gio meninggalkannya begitu saja.
"Shit.." Umpat Gil.
Tak terasa dua jam berlalu, aktifitas Gil terhenti oleh suara dering handphone miliknya.
"Kau dimana ? cepatlah ke bandara kami sudah menunggu." Ucap Niel kesal.
"Aku tidak akan pergi sebelum menemukan Alesya."
"Hanya tiga hari, apa Dad Gio tidak memberitahu mu kalau dia tahu dimana keberadaan Alesya?"
"Aku tidak percaya itu, mungkin saja dia berbohong."
"Astaga, idiot. Apa pernah ? coba pikirkan lagi, jangan membuat kami menunggu lebih lama lagi Gilbert."
Setelah itu, panggilan berakhir. Niel yang kesal langsung mematikan sambungan telponnya.
"Argghh sial, baiklah Dad. Aku akan ikut permainan mu." Ucap Gil sambil menyeringai, entah apa yang di pikirkan Gil. Kemudian dia pergi ke bandara sendiri tanapa pengawalan apapun, berpamitan kepada Bela pun tidak Ia lakukan.
..................
Di sebuah jet pribadai Niel dan Sam sudah duduk menunggu Gil, sebenarnya mereka bingung. Kenapa orangtua Gil ingin melakukan ini pada anaknya, apalagi setelah penculikan Alesya.
"Apa orang tua kita akan sekejam mereka saat hari pernikahan, membayangkannya saja aku sudah tidak mau." Omel Niel.
"Kuharap Mom dan Daddy tidak seperti mereka." Ucap Sam.
"Kau tahu, aku pernah mendengar tradisi di indonesia juga melakukan hal ini."
"Maksudnya?"
"Aku lupa mereka menyebutnya apa, yang jelas pria dan wanita yang akan melangsungkan pernikahan di pisahkan untuk beberapa hari samapai, harinya tiba mereka di pertemukan kembali di acara pernikahan." Jelas Niel.
"Wow, menarik."
"Ya." Singakt Niel kemudian melihat Gil yang baru datang duduk di denpannya mengacuhkan mereka.
"Dia kira menunggu itu menyenangkan." Sindiri Niel.
"Memang benar, cinta membuat semuanya berubah. Bahkan yang ber IQ tinggi pun bisa jadi sangat bodoh, memang hebat." Lanjutnya.
BUGH.....
BUGHH...
Gil menerjang Niel yang duduk di kursi belakang, adu jotos pun tak terhalangkan.
Sam yang mencoba memisahkan mereka ikut terkena bogeman di pipi kirinya, setelah di bantu beberepa bodyguard yang berjaga di pintu depan. Akhirnya mereka bisa di pisahkan, dengan wajah Niel yang sudah makin jelek. Baru beberapa hari dia mendapatkan tato di wajahnya, sekarang di tambah milil Gil.
"Kurang ajar, kau juga akan merasakannya. Lihat saja nanti, aku tidak sudi membantu jika suatu saat wanitamu hilang." Ucap Gil.
"Sudahlah Gil, Niel memang sering bercanda. Dia memang Idiot, biarkan saja." Sahut Sam.
"Hell, tidak ada yang membelaku? wajahku sudah hancur begini karenanya, sial." Protes Niel.
"Mangkannya jangan asal bicara." Omel Sam.
"Itu fakta, aku hanya ingin mengutarakan pendapat saja." Bela Niel.
"Sudahlah, Niel jangan memancing keributan lagi." Ancam Sam, sedangkan Niel hanya mendelikan bahu acuh dan kembali duduk.
"Gil, percaya padaku. Alesya pasti baik-bail saja, apa kau tidak berpikir dia pergi dengan seseorang?" Lanjut Sam yang sudah beralih kepada Gil.
"Siapa?" Tanya Gil.
"Maria, kau menemukannya di rumah? tidak bukan."
"Astaga, Mom dan Dad sudah merencanakan ini untukku?"
"Ya."
"Kenapa harus pergi ke Italia, jika Alesya berada di New York." Ucap Gil kesal.
"Memang masalah perusahaan yang harus kau selesaikam disana Gil, Dad Gio memberitahu kami untuk membantumu."
"Menyusahkan."
"Hanya tiga hari, kita akan menyelesaikannya dengan cepat." Ucap Sam menyemangati Gil.
Setelah itu, mereka menikmati perjalanan di pesawat. Niel tidak berbicara apapun lagi setelah adu jotos dengan Gil.