My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 58



Alesya samar-samar mendengar Maria terus memanggil namanya. Perlahan pendengarannya semakin jelas, Ia membuka mata perlahan. Ruangan gelap, pengap dan bau.


Ya, mereka di kurung dalan sebuah ruangan kedap suara yang sempit tanpa ventilasi. Lampu gantung Orange satu-satunya sumber cahaya disini, pun sangat redup.


"Alesya, sadarlah." Panggil Maria.


Kemudian Ale melihat ke arah sampingnya, Maria terikat di sebuah kursi kayu.


"Kak." Lirih Ale, saat Ia akan menggerakan tangannya tapi tidak bisa. Ternyata tangannya juga di ikat oleh tali, begitupun kakinya.


"Ale, apa yang terjadi. Kenapa kepalamu berdarah?" Tanya Maria panik.


"Jerry memukul ku dan saat aku terjatuh, tak sengaja mengenai ujung nakas yang ada di kamar." Jelas Alesya.


"Maafkan Aku, semua ini keselahanku karana tidak berhati-hati." Sesal Maria.


"Tak apa Kak, jangan menyalahkan dirumu seperti itu. Seharusnya Aku yang meminta maaf karena, sudah melibatkanmu." Balas Ale.


"Sudahlah, yang kita pikirkan bagaimna caranya kita keluar dari sini."


"Tenanglah, Aku yakin Gil sudah membaca surat petunjuk dariku." Ucap Ale.


"Maksudmu?"


"Aku tak sengaja mendengar percakapan Jerry bersama Victor saat dia ingin ke kamar ku."


"Aku tidak mengerti!"


"Saat Jerry akan membuka kamarku tapi Victor datang, dia memberitahu bahwa markasnya yang berada dekat tebing dan terpencil aman untuk menyembunyikan kita. Akhirnya Aku memutuskan menuliskannya sebagai petunjuk bagi Gil."


"Seyakin itu, dia akan datang?" Tanya Maria.


"Ya, aku sangat yakin." Ucap Alesya.


PROKK...PROKKK...


Suara tepuk tangan menggema di ruangan kosong ini, Selena datang dengan senyum kemenangannya.


"Lihatlah bit*h, ini akibat kau ingin bersama Gil. Sekarang, bersiapah untuk menemui orangtua mu Alesya." Ucapnya.


"Silahkan, sebenarnya Aku kasihan kepadamu Selena. Pasti hidupmu sangat menyedihkan sekali, beruntunglah Qila karena tidak tumbuh di lingkungan buruk seperti kalian." Balas Alesya tenang.


Tiba-tiba Selana berjalan cepat kearah Alesya yang hanya diam di kursi terikat, Maria yang melihat aksi Selena hanya bisa menangis.


Srettt....


Selena melukai paha Alesya dengan belati yang dibawanya.


ARGHHH...


"Haahhah...apakah sakit. Kurasa tidak atau, mau sebuah ukiran cantik di leher indah mu itu?"


"Cukup Selena, jangan sakiti dia." Sahut Maria.


"Diamlah dasar pelayan rendahan, kau kau juga merasakan yang lebih menyenangkan daripada dia." Selena menghampiri Maria.


"Lakukanlah, aku tidak takut pada siapun termasuk kau." Maria balik menantang Selena.


"Kau menantangku, baik."


SRETT...SRETTT


Selena menyayat pipi Maria sangat tipis, kemudian Ia menurunkan belatinya ke bahu Maria yang sudah gemetar itu. Perlahan Selena menekan ujung belatinya, sehingga baju panjang Maria yang berwarna putik sudah berganti menjadi Merah.


"Arggghhh, sialan." Teriak Maria.


"Bagaimana, apa kurang?" Ucap Selena.


"Berhenti Lena, kenapa kalian melakukan ini pada kami." Sahut Alesya.


"Siapapun yang bersama Gil itu adalah musuh bagiku, kau tidak tahu. Aku hidup tanpa kasih sayang Mommy, dia selalu memanjakan Syela. Karena kembaranku penyakitan dan selalu menurut perkataannya, di asingkan dan tidak dianggap. Menurutmu itu tidak menyakitkan, Daddy adalah satu-satunya orang yang menyayangiku. Walaupun dia lebih perhatian kepada Syela tapi, Dad tidak seperti yang lainnya." Ucap Selena.


"Kemudian hari itu tiba, Dad pergi meninggalkanku. Dia pergi selamanya, tidak ada lagi yang menyayangiku karena, Giovano Rodrigez membunuhnya." Lanjutnya.


"Kau salah paham Selena." Ucap Alesya


"Jangan sok tahu Alesya, Gio tidak seperti apa yang kau pikirkan."


"Terserah, yang jelas. Aku akan membalaskan dendam Dad kepada siapapun yang berususan dengan keluarga Rodrigez." Ucap Selena.


Tiba-tiba seseorang memanggil Selena.


"Lena, maafkan Aku." Qila, itu suara kembarannya.


Syaqila berdiri di ujung pintu ketika Selena berbicara mengenai dirinya, Ale sengaja tidak melihatnya disana. Ia ingin tahu apa yang membuat Selena menjadi pendendam seperti ini.


"Kau, kenapa dia di sini?" Tanya Selena.


Qila berjalan menghampiri Selena dan memeluknya, erat.


"Maafkan Aku Ele." Ucap Qila, seketika tubuh Selena menegang. Panggilan sayang dari Syela dan kedua orangtua nya, Ele.


"Aku sudah mengingat semuanya, ini bukan salahmu. Andai saja Mom tidak terlalu sibuk mengurusiku, mungkin tidak akan seperti ini." Lanjut Qila masih memeluk Selena.


"Aku pantas mendapatkan ini Ele, karena ku. Kau di asingkan, maaf...maaf..." Ulang Qila meminta maaf.


Selena melepaskan pelukannya dengan kasar.


"Ya, ini adalah kesalahanmu Ela. Seharusnya kau mati saja waktu itu, mungkin Aku akan mendapatkan kasih sayang Mom, Dad and, Grandpa." Balas Selena.


"Jika kau ingin, maka lakukanlah." Jawab Qila pasrah.


"Oke,.dengan senang hati." Ucap Selena.


Lalu dia membawa satu kursi di pojokan dan di dudukannya Qila, seperti yang dilakukannya pada Alesya dan Maria sebelumya. Selena Mengikat Qila di kursi itu.


"Qila apa yang kau lakukan?" Tanya Alesya, Dia hanya tersenyum membalas pertanyaan Alesya.


"Tunggulah, Aku berikan waktu untuk kalian bergosip sebelum mati...Hahahah." Ucap Selena meninggalkan Mereka.


"Selena, punya kemabaran?" Tanya Maria.


"Iya, Aku Syela. Adik kembar Selena, maafkan sikapnya. Bersabarlah Gil bersama yang lain sudah menunggu untuk menyelatkan kita di sana."


"Maksudmu?" Tanya Ale.


"Aku kemari atas perintah Gil dan, kenapa bisa masuk. Mereka kira Aku adalah Selena, sebenarnya mereka tidak memberiku Izin ikut mencarimu."


"Jadi kenapa?"


"Setidaknya sebelum pergi, Aku ingin melihat keluargaku yang sebenarnya Ale."


"Apa yang kamu bicarakan Qila, pergi kemana?"


"Maafkan aku Alesya, penyakit yang dideritaku sejak kecil sangat sulit untuk disembuhkan. Aku masih bersyukur tuhan masih memberikan nafas dan bertemu dengan kalian, Sam, Audrey dan, Adela."


"Kamu menyembunyikannya dariku selama ini?"


"Maaf...Maaf, aku hanya tidak mau kalian mengasihani ku."


"Apa, Aku tidak habis pikir dengan cara kerja otakmu Qila." Ucap Alesya kesal sekaligus kecewa dan sedih, Qila yang selama ini Ia kenal keras ternyata sangat rapuh di dalamnya.


"Maaf." Lirih Qila.


"Sudahlah jangan di pikirkan, jadi apa?" Tanya Alesya mengalihkan pembicaraan agar Qila tidak merasa bersalah lagi.


"Saat kecelakaan itu terjadi, kebetulan aku sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanku. Tidak sengaja, Aku melihat Sam bersama yang lain berjalan dengan terburu-buru. Setelah menghampiri mereka dan menanyakan ada apa, Kalian. Kau dan Audrey mengalami kecelakaan, tapi kau menghilang Alesya. Gil panik, semuanya ikut membantu dan aku memliki firasat. Bahwa keluarga Maures yang berarti keluarga kandungku yang melakukan semua ini, aku bersikeras unuk ikut mencari. Tujuh hari kami terus mencarimu dan, tepat hari ini seseorang menelpon memberitahu keberadaanmu." Jelas Qila.


"Iya dia Kak Maria, sepertint kalian semumuran." Ucap Ale.


"Terus dimana mereka?" Tanya Maria.


"Berada dekat, sebentar!" Qila mulai berusha mendekatkan kursinya ke arah Alesya.


"Ada apa?" Tanya Ale heran.


"Kemarikan tangan yang tersemat cincin." Ucapnya.


"Memangnya kenapa?"


"Menurutlah Mereka sedang menunggu signal dari kita, untuk mengetahui keberadaanmu." Ucap Qila.


Dengan kaget Alesya dan Qila melihat pintu terbuka, disana Selena dan, Kakek yang selama ini Qila rindukan berdi dengan paman yang tega menyingkirkannya.