
9 month later
Semenjak kepulangan Gil dari Maldives, Besoknya Bela langsung membawa Alesya ke dokter kandungan.
Berita gembira itu tak bisa terbendung, Gio maupun Bela sangat senang mendengarnya. Mereka menjadi sangat protektif kepada Alesya termasuk Gil, banyak hal yang dilarangnya untuk Alesya lakukan.
Oh ya, Adela sudah melahirkan putra pertama mereka minggu kemarin. Davon Emery Darko putra dari pasangan Marvelino Darko dan Adela Frisiliya Darko, lahir dengan selamat dan sehat.
Rencananya Gil dan Alesya akan menjenguk Adela di rumah sakit hari ini. Dan, apa yang di lakuakan Gil kepada istrinya.
"Sweetheart, sebaiknya nanti saja kita menjenguk baby Davon. Aku takut, lihatlah perutmu sudah besar seperti itu. Jangan pergi kemanapun dulu, biarkan mereka saja yang berkunjung kemari." Ucap Gil mencoba membujuk Alesya yang sedang merengut kesal duduk di sofa kamarnya.
"Ayolah sweetheart, ini demi keselamatan kalian. Hari persalanan sudah dekat, pikirkanlah." Lanjut Gil.
Alesya terlihat bergelut dengan egonya, Ia ingin sekali melihat keadaan Adela dan bayinya. Tapi apa yang di katakan Gil ada benarnya juga, ia tidak boleh ogois pikirkan bayi dalam perutnya.
Masalahnya semenjak kejadian Alesya yang keram perut yang sangat berebih karena terlalu banyak gerak dan bepergian bersama Audrey. Mungkin Gil khawatir, apalagi beberapa minggu lagi dia akan melahirkan.
"Maaf." Cicit Alesya yang sudah ingin menangis.
"Hei sweetheart, tak apa jangan menangis. Maafkan aku okey, bukannya aku membatasimu berpergian, kita bisa melihatnya nanti." Ucap Gil memeluk Alesya yang memang sangat sensitif dan manja.
"Aku seperi ibu yang jahat dan tidak perduli pada anak kita."
"Suttt... Kamu adalah calon ibu terhebat bagi anak-anak kita. Jangan merasa seperti itu, Don't cry sweetheart. Sekarang apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak sedih lagi, hemm?" Ucap Gil.
"Emmm bagaimana jika dengan mengundang Kak Niel, Sam, Kak Maria dan Audrey kemari?"
"Hanya itu?"
"Iya." Jawab Alesya mantap.
"Untuk?"
"Datangkanlah mereka kemari jangan banyak bertanya." Sewot Alesya.
Gil sudah merasakan firasat buruk tentang ini, apalagi yang akan di lakukan Alesya kepada sahabat-sahabatnya. Sebelumnya, Alesya juga pernah meminta Gil untuk memanggil mereka ke mansionnya, dan apa yang dilakukan? Alesya meninnta mereka untuk menjadi karakter badut dan berakting layaknya aktor di televisi. Yang paling parah, ketika Istrinya sesuka hati mendandani mereka menjadi buruk rupa dan berkeliling di Mall.
"Tunggulah mereka akan segera kemari." Ucap Gil sambil mengusap perut buncit Alesya.
"Kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan?" Tanya Alesya.
"Kuharap laki-laki, tapi apapun jenis kelamainnya nanti, Aku akan tetap menerimananya."
"Aku merasa sangat menyesal untuk tidak mengetahui jenis kelamimnya."
"Why sweetheart, bukanlah itu kemauanmu agar menjadi kejutan untuk kita."
"Kita jadi harus membeli perlengkapan untuk bayi perempuan dan laki-laki, sangat boros sekali."
"Hey, apa kamu lupa. Suami tercintamu ini siapa?"
"Siapa, aku lupa." Ucap Alesya menggoda Gil.
"Baiklah jika wanita di hadapanku ini lupa dangan pangeran tampan Gilbert. Aku tidak akan pernah kebahisan uang, mungkin akan cukup untuk cucu bahkan keturunan selanjutnya."
"Sombong sekali tuan ini." Ucap Alesya terkekeh.
"Benarkah, apa anda tidak salah?"
"Mau bukti apa agar kamu percaya sweetheart?" Tanya Gil dengan nada menggoda.
"Kiss me."
"just it?"
"Hemm."
"Dengan senang hati sweetheart." Ucap Gil tersenyum miring, Alesya menjadi lebih agresif di masa kehamilannya.
Gil akhirnya mencium Alesya, sebenarnya ini hanya akal-akal Alesya saja. Dia menginginkannya tapi malu untuk memulai duluan dan memintanya, alhasil dia harus mencari cara untuk mendapatkannya dan berhasil. Ciuman Gil dia dapatkan dengan mudah, hati nya bersorak gembira.
Satu jam semuanya sudah berkumpul di mansion, mereka saling pandang satu sama lain.
"Ada apa kau memanggil kami kemari?"Tanya Audrey.
" Baiklah, semuanya sudah berkumpul dan aku ingin kalian membantuku untuk mendekor kamar bayi."Tunjuknya kepada para pria.
"Dan, kalian memasak untuk kami semua."Lanjutnya menatap Audrey dan Maria bergantian.
" Hanya itu?"Tanya Maria.
"Iya, tapi kalian harus memasak menu yang ada di kertas ini." Maria menerika gulungan kertas dari Alesya.
"Sebanyak ini?" Tanya Maria.
"Tidak banyak, hanya sepuluh masakan yang aku mau. Tenang saja suami tercintaku akan membantu kalian."
"Wait, jadi hanya aku dan Sam yang mendekor kamar?" Tanya Niel.
"Apa Kakak kebaratan?"Tanya Alesya sudah berkaca-kaca.
" Tidak tidak sangat ringan tidak berat kan Sam? ayo sebaiknya kau tunjukan dimana kamarnya agar kita mendekornya segera."Ucap Niel, ia lupa jika Alesya sangat sensitif.
"Benarkah, oke. Emm Gil, tunjukan kamarnya." Perintah Ale.
"Aku?" Tanya Gil.
"Iya, kamu juga tidak mau?"
"Siapa bilang, mari kawan aku tunjukan kamarnya." Ucap Gil langsung berdiri dan bergegas pergi di ikuti oleh Niel dan Sam.
"Nah, sekarang Kak Maria dan Audrey cepatlah memasak." Perintahnya lagi.
"Baik tuan putri." Ucap Audrey yang terlihat kesal atas tingkah sahabatnya ini.
"Tunggulah." Sahut Maria.
"Hihihi... ternyata enak juga jadi bumil." Gumam Alesya.
Dia memang sengaja mengerjai mereka, entahlah. Alesya merasa senang saat melihat mereka berwajah kesal, memang saat kehamilan sikapnya berubah. Menjadi manja, cengeng, tukang perintah dan jahil. Mungkin Alesya pikir bawaan anak dalam kandungannya yang ingin mengerjai Uncle dan aunty nya.