My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 50



Setelah mengantar Qila ke rumah sakit, mereka sekarang sedang dalam perjalanan kembali ke mansion Gil. Sebenarnya Sam memintanya untuk beristirhat karena, kondisi Qila yang tidak baik. Tapi, Qila memaksa untuk segera memberitahukan ini kepada Gil.


"Kamu masih pusing?" Tanya Sam mengalihkan perhatian pada Qila yang sedang bersandar.


"Sedikit, sepertinya ingatanku perlahan mulai kembali." jawab Qila.


"Baguslah, ini yang kamu inginkan dari dulu bukan?"


"Entahlah, rasanya lebih baik tidak pernah mengingatnya lagi. Kehidupanku yang dulu sangatlah buruk Sam, aku bersyukur di temukan oleh mom dan daddyku yang sekarang."


"Iya, entah apa yang terjadi sebelumnya dengan keluarga kandungmu. Tapi yang jelas, sekarang kamu sudah hidup bahagia bukan!" Ucap Sam sambil terkekeh.


"Tentu."


"Tidurlah, nanti akan ku bangunkan jika sudah sampai."


"Baiklah." Ucap Qila dan perlahan-lahan sudah mulai terlelap.


Sam melanjutkan perjalanan mereka, Dia tidak habis pikir. Ternyata Selena adalah cucu dari musuh keluarga Gil, semuanya menjadi jelas. Kenapa mencari data mengenai Selena sangatlah sulit dan, dalang dari balik semua ini adalah Victor.


....................


Mansion Gil sangat berisik karena kedatangan Sahabat Alesya bersama Niel dan Marvel, mereka sedang berkupul di gazebo belakang. Berita yang di berikan Marvel sangatlah mengejutkan mereka semua.


"Aku akan menikah." Tiga kata yang berhasil membuat semuanya ternganga mendengarnya.


"Hah." Kompak mereka.


"Kapan, kenapa kau tidak memberitahu kami. Teganya kau tidak pernah memperkenalkan calon istrimu dan, sekarang kau datang berbicara seperti ini. Mengejutkan sekali Marvel, Siapa?" Omel Niel.


"Acarnya lusa, Adela calon istriku." Jawab Mervel acuh.


"Hah." Teriak mereka lagi kecuali Adela tentunya, sedari tadi dia sudah salah tingkah.


"Aa..Adela..Adela siapa?" Tanya Audrey tidak percaya.


"Adela Frisiliya Herald sahabatmu."


"What, kau serius Marvel?" Sekarang Alesya yang bertanya.


"Tanya saja pada calon istriku itu." Acuh Marvel.


"Jelaskan Adela?" Sahut Audrey.


"Emm..eeemm...Maaf. Sebelumnya Aku kan sudah bilang Mom dan Dad menjodohkanku, pada saat itu aku tidak tahu siapa orangnya. Saat Mom memintaku untuk fitting baju ke butik Bibi Nensy, kebetulan Marvel juga akan kesana. Dan ternyat anak Mom Ashley adalah Marvel yang akan di jodohkan denganku. Maaf..Aku juga baru tahu." Jelas Adela merasa tidak enak kepada Sahabatnya itu.


"Jadi, Dia?" Tanya Audrey dan Adela hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Huffttt...Syukurlah. Setidaknya yang di jodohkan denganmu pria tampan dan masih muda, bukan om tua bangka perut buncit dan memiliki istri banyak. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Adela akan bisa hidup tenang, Kau akan jadi budaknya ihhh mengeringan." Ucap Audrey.


"Kau saja kalau begitu." Sahut Niel.


"Sembarangan." Balasnya kesal.


"Jadi kalian berdua mengundang kami ke acara pesta pernikahan kalian?" Tanya Gil.


Tiba-tiba Sam dan Qila datang langsung bergabung bersama mereka, saat sampai Sam bertemu Mom Bela yang menyuruhnya ke gazebo belakang saja. Katanya semua sedang berkumpul, aku pikir siapa dan ternyata para anak bebek ini.


"Undangan pernikahan, siapa?" Tanya Sam tiba-tiba.


"Marvel lusa akan menikah dan, dia sedang mengundang kita dude." Sahut Niel.


"Benarkah, lalu kenapa kau tidak membawa calon istrimu untuk di kenalkan kepada kami?"


"Nih, Adela kan calon istrinya." Celetuk Audrey.


"Whoa...Aku tidak menyangka calonya adalah Dia, Selamat Bro." Ucap Sam.


"Kenapa membawa dia?" Tanya Audrey tidak suka.


"Rey, jangan gitu dong. Sekarang Qila sudah menjadi bagian dari kita." Ucap Alesya.


"Bagian, emangnya peta pake jadi bagian, bagian segala." Jawab Audrey.


"Rey." Tegur Adela.


"Apa sih Del?" Sewot Audrey.


"Kamu kenapa sih Rey?" Tanya baik-baik Alesya.


"Nggak suka aja, emangnya kenapa?" Jawab jujur Audrey.


"Udahlah Le, gapapa." Sahut Qila.


"Kalian mendapatkannya?" Tanya Gil begitu saja.


"Tentu, berbaliklah Qila." Pinta Sam dan Qila hanya menurut bingung.


Sam menggambil sebuah Chip tipis di balik rambut panjang Qila dan memasangkannya pada alat khusus berbentuk kotak hitam yang di rancang sepaket bersama Chip itu.


Setelah selesai mendengarkanya Gil terlihat biasa saja kecuali, Marvel dan Niel yang terkejut akan fakta besar yang selama ini di tutup-tutupi oleh Selana. Sedangkan Adela bersama Audrey hanya sebagai pendengar yang baik saja karena, mereka tidak tahu apa-apa. Alesya yang melihat Gil tenang seperti itu membuatnya khawatir, sebenarnya apa yang dirasakan Gil setelah Mendengar ini.


"Gil, kenapa kau terlihat biasa saja?" Tanya Sam yang mewakili mereka yang terlihat bingung melihat reaksi Gil.


"Aku sudah menduga ini sebelumnya, jadi aku tidak kaget dengan apa yang Selena katakan." Jawab Gil.


"Lalu kenapa kau memintaku untuk melakukannya?" Kesal Sam merasa dibodohi.


"Aku hanya membutuhkan bukti." Jawab Gil acuh.


"Sialan." Umpat Sam.


"Sebaiknya kita selesaikan ini setelah pernikahan Marvel lusa." Ucap Gil.


"Ya, terserah kau saja." Ucap Niel.


"Emm, boys apa boleh tinggalkan kami?" Sahut Alesya yang sepertinya merasa kashihan kepada Qila setelah mendegar audio percakapn tadi.


"Kenapa Sweetheart?" Tanya Gil.


"Aku hanya ingin membicarakn beberapa hal yang tidak perlu kalian para laki-laki tahu, apakah bisa?" Ucap Alesya memohon.


"Tentu, apapun untukmu." Balasnya kemudian mengecup pipi Alesya singkat lalu pergi dan di ikuti oleh yang lainnya.


"Qila kemarilah." Ucap Alesya meminta Qila untuk mendekat dan memememeluknya, seketika Qila menangis menumpahkan rasa kecewanya di pelukan Alesya.


"Menangislah, sampai kamu merasa lebih baik." Alesya yang berkata seperti itu membuat Qila lebih kencang menangis, hingga Audrey dan Adela merasa iba kepadanya.


Setelah Qila tenang dan tidak menangis lagi, Alesya mulai melepaskan pelukan mereka.


"Terimakasih." Ucap Qila dengan mata yang sedikit sembab.


"Hmmm, Apa kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Alesya.


"Mungkin separuh dan, rasanya aku tidak mau mengingat sisanya." Ucap Qila terkekeh.


"Kenapa, bukankah ini yang kamu inginkan?"


"Separuh ingatanku yang sudah kembali sangat buruk dan menyedihkan ." Jawabnya sendu.


"Kau harus mengingat semuanya Qila, supaya kau bisa menghukum orang yang sudah membuatmu seperti ini." Sahut Adela.


"Ya, mungkin ingatanku akan kembali dengan cepat. Dan untuk menghukum mereka, sepertinya tidak bisa "


"Kenapa?" Tanya Audrey yang sudah mulai tertarik dengan pembicaraan ini.


"Mereka keluargaku dan mungkin ini kesalanku juga, karena membuat Selena terasingkan." Jawab Qila.


"Bodoh." Cibir Audrey yang mendapati pukulan di lengan kerena Adela dan Alesya.


"Ya aku memang bodoh, tapu aku juga bersyukur. Karenanya sekarang aku bisa mendapatkan keluarga yang hangat dan sayang kepadaku."


"Terserah." Kesal Audrey.


"Sudahlah, jangan dengarkan anak ini." Ucap Adela.


"guys, aku hanya mau kalian menerima Qila sebagai bagian dari kita. Dia tidak seperti Selena, percayalah. Audrey, disini kamu yang terlihat tidak suka pada Qila, Kenapa?"" Tanya Ale tiba-tiba .


"Bukan seperti itu maksudnya, Aku hanya waspada saja. Bisa jadi dalam kemungkinan buruk Dia sudah berkomlpot dengan kembarannya yang kejam itu." Jelas Audrey.


"Aku bukan Selena, meskipun kami kembar tapi kepribadian kami sungguh bertolak belakang. Aku tidak meminta kalian untuk menjadikanku bagian dari kalian, terserah. Yang jelas, aku tidak ingin memilik musuh dan hanya ingin hidup damai seperti manusia lainnya." Ucap Qila.


"Maafkan perkataan Audrey, Qila. Dia memang seperti itu pada orang baru, tapi dia tidak berniat menjelaknmu." Sahut Adela.


"Yayayaya, Aku minta maaf. Sebenarnya aku hanya takut kau menyakiti Aleku sahabat kami, dia sudah hidup menderita sejak dulu. Aku tidak mau kau merusak kebahagian yang Ale punya sekarang, sebagai sahabat dan keluarga yang Ale punya kami berhak melindunginya dari siapapun yang akan membuatnya tersakiti termasik Gil dan kau." Ucap Audrey menjelaskan sikapnya yang seperti itu.


"Kamu beruntung Alesya, memiliki sahabat dan orang-orang yang selalu menyayangi dan melindungimu." Ucap Qila.


"Yah, aku sangat bersyukur dan beruntung." Ucap Alesya kemudian beralih melihat Audrey dan Adela secara bergantian.


"Jadi, apa kalian menerima Qila sebagai keluarga baru kita?" Lanjutnya.


"Tentu." Jawab Adela.


"Emm ... Kau kelihatanya memang orang yang baik." Jawab Audrey.


"Jadi, kau menerimanya Rey?" Tanya Ale sekali lagi memastikan.


"Hmmm."


"Yeaayyyy....Akhirnya." Teriak Alesya senang. Mereka hanya tersenyum melihat tingkah Alesya yang seperti anak kecil itu.


"Terimakasih semuanya." Ucap Qila yang begitu bahagia.


Setelah obrolan tadi mereka kemudian masuk kedalam, karena hari sudah mulai gelap. Tak terasa berjam-jam mereka habiskan mengobrol dan, membuat Qila sedikit bisa mengalihkan kesedihannya hari ini.