
"Huftt... Malas sekali harus mendekor kamar sebesar ini berdua. Aku heran kenapa Alesya sangat berbeda dengan Adela, Marvel maupun kita tidak pernah di repotkan oleh semua keinginan yang aneh-aneh darinya. Berbeda dengan Adik tercintaku itu, keinginannya yang konyol membuatku kesal." Keluh Niel.
"Bersabarlah, memang wanita hamil suka merepotkan dan berkeinginan yang aneh-aneh. Dulu Kakak ku juga seperti itu, dia menelpon ku saat larut malam hanya ingin di usap perutnya. Aku sampai rela pergi menenemuinya yang tinggal di Korea saat itu juga, manyebalkan memang. Nanti juga kau akan merasakannya jika Audrey hamil anakumu..."
"Hey Samuel, kenapa membawa Audrey. Dia bukan istriku, menikah saja belum."
"Ya Aku tahu, perjelaslah hubungan kalian. Audrey sudah menunggu kau untuk melamarnya, wanita butuh kepastian."
"Ya aku tahu."
"Terserah, yang penting aku sudah memberitahumu. Jangan sampai kau menyesal karena dia memilih yang lain."
"Apa hah, kau menakutiku?"
"Bukan menakut-nakuti Danielo, aku hanya memberi saran. Buat apa bersama dalam waktu yang lama, jika kalian bukanlah siapa-siapa."
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Tanya Niel.
"Astaga, kenapa kau menjadi idiot Niel."
"Hei jangan menghinaku." Kesal Niel.
"Kau masih bertanya harus melakukan apa sedangkan sudah jelas aku berbicara panjang lebar tadi, otak mu sedang pergi kemana."
"Kenapa kau menyolot seperti itu, jika tidak mau ya sudah."
"God, Danielo. Sebaiknya kita selesaikan ini dulu."
"Baiklah."
Mereka melanjutkan mendekor kamar dengan berbagai hiasan yang sudah tersedia.
Berbeda di dapur, Audrey, Maria dan Gil sedang membagi tugas memasak. Jangan dikira mereka bisa dengan tenang memasak, Audrey yang tidak bisa memasak malah membuat keduanya kesusahan.
"Astaga Audrey, kau sedang apa?" Pekik Maria.
Banyak sayuran, telur dan tepung berserakan di lantai. Audrey di tugaskan untuk memotongnya dan membuat adonan, tapi apa yang dia lihat. Semuanya berantakan, Gil yang melihat itu menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana seorang wanita tidak bisa memotong sayuran, dapurnya berantakan. Ia sudah kesal dan pergi meninggalkan dapur dengan apron yang masih setia terpasang rapih dan bersih di tubuhnya.
"Memotong sayur dan membuat adonan, kenapa?" Jawab Audrey acuh.
"Berantakan sekali, kau mau meracuni Alesya dan keponakanku hah?"
"Apa yang salah, aku tidak memasukan obat apapun."
"Lihatlah pekerjaanmu, ini kotor dan tidak sehat."
"Tinggal di cuci, gampangkan?"
"Sudahlah, sekarang kau diam saja. Biar aku dan Gil yang memasak, lebih baik kau pergi membantu Sam dan Niel mendekor kamar."
"Dengan senang hati." Ucap Audrey, kemudian membersihkan diri dan melepas apron yang sudah kotor lalu pergi ke atas dengan riang.
"Anak itu." Gumam Maria. "Gil cepat bantu ak.." Ucapnya dan tidak melihat Gil. "Baiklah apa aku harus memasak sebanyak ini sendirian ? malang sekali kau Maria."
Alesya sedang bersantai di kolam ikan di belakang mansion nya, tiba-tiba saja melihat Gil yang sedang berjalan kearahnya dengan kesal.
"Sweetheart." Panggil Gil dan duduk di samping Alesya.
"Ada apa Gil?"
"Sahabat mu membuat kekacauan di dapurku."
"Audrey?"
"Siapa lagi."
"Lalu, kenapa kamu kemari. Bantulah Kak Maria, aku sudah tidak sabar memakan masakannya."
"Suruh Amer saja untuk membantunya, Aku sudah malas."
"Gil." Ucap Alesya dengan nada yang tidak bisa di bantah.
"Baiklah baiklah sweetheart, berikan aku satu ciuman. Setelah itu aku pergi membantu Maria, bagaimana?"
"Oke, dengan senang hati."
Alesya medekatkan tubuhnya semakin menempel dengan Gil, di ciumnya lembut. Perlahan balasan ciuman Gil menbuatnya menginginkan lebih, tapi beberapa detik selanjutnya Gil memelepaskan ciuman mereka.
"It's okey, sana kembali dan cepat hidangkan masakan yang aku minta." Ucap Alesya.
"Kamu tak apa?"
"Aku baik-baik saja, sana capat bantu Kak Maria."
"Baiklah." ucap Gil kengecup kening dan perut buncit Alesya kemudian pergi.
Di dapur Maria sangat kewalahan memasak, tidak ada satupun yang menbantunya.
"Kemana Audrey?" Tanya Gil begitu sampai di dapur.
"Pergi."
"Baguslah."
Tidak ada percakapan lagi setelah itu, keduanya fokus memasak.
Kini giliran di atas yang terjadi keributan, siapa lagi penyebabnya kalu bukan pasangan rusuh itu.
"Heh, tiup balonya dengan benar. Kau ini laki-laki atau banci lembek sekali." Ucap Audrey.
"What, dengar ya terompet kapal. Meniup balon tanapa alat itu susah, coba saja."
"Tidak perlu, itu tugas mu. Aku sibuk membingkai ini, berikan saja pada Sam."
"Kenapa jadi aku, kau tidak lihat aku sama sibuknya."Sahut Sam.
" Memangnya siapa yang menyuruh kau membantu ku tidak ada."Ucap Niel.
"Yasudah." Sewot Audrey.
"Lagian kenapa kau kemari, bukannya memasak ?"
"Apa tuan Danielo ini keberatan aku disini?"
"Ya , kau ini perusuh."
"Heh, emang sendirinya bukan perusuh."
"Tidak, kau yang perusuh."
"Enak saja, ohhh atau jangan-jangan kau merinduka ku ya?"
"Percaya diri sekali."
"Mengaku saja." Goda Niel.
"Tidak, aku disuruh Maria membatu Sam."
"Bukan karena merindukan ku?"
"Jangan harap."
"Astaga, kalian berdua yang perusuh. Aku heran, kenapa kalian selalu bedebat." Sahut Sam.
"Niel yang memulai Sam."
"Lihatlah, sudah jelas dia yang memulai duluan."
"Kau."
"Kau Audrey."
"Danielo."
"Audrey."
"Cukup, dasar anak-anak. Aku sudah seperti guru TK jika seperti ini, mengajar dua anak nakal." Kesal Sam.
"Danielo dan kau, Audrey. Tutup mulut kalian dan jangan benyak bicara, cepat selasaikan." Perintah Sam.
Mereka tidak menyahut, malah saling padang dengan tatapan sengit. Lucu memang, terkdang mereka seperti Tom & Jerry kadang juga seperti Romeo dan Julit yang saling cinta.