My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 19



Di sebuah cafe Niel dengan santai menunggu Audrey untuk membicarakan permasalahan kemarin sebenarnya dia tidak mau repot-repot mengurusi hal kecil seperti ini tapi sebagai pria yang bertanggung jawab Niel harus menemuinya dan ganti rugi.


Setengah jam berlalu dirinya sudah memesan segelas hot coffee late, Niel sudah jengkel karena wanita itu tak kunjung datang. Awalnya dia akan segera pergi namun di urungkannya karena, mendengar lonceng cafe berbunyi dan melihat dia sedang kebingungan.


Dan Audrey mencoba menelpon Niel untuk memastikan apakah seseorang yang menyuruhnya kemari ada di tempat.


Drtttt....Drtttt..


"Teble 4 vvip." ucap Niel langsung memutuskan sambungannya.


Kemudian Audrey melangkah menuju tempat yang orang itu katakan.


"Permisi apakah anda yang menyuruhku untuk kemari." Ucap Audrey sopan karena belum tahu itu Niel karena posisinya yang membelakangi Audrey.


Saat Niel berbalik, Audrey kaget dan sedikit berteriak manggilnya.


"Kau...Kau yang menelponku untuk datang kemari?" ucap Audrey memastikan.


"Duduklah, jangan berteriak apa kau tidak malu di lihat orang lain." ucap Niel. Meskipun VVIP masih ada beberapa orang disini dan dapat di pastikan semua orang menatap Audrey yang sedikit berteriak tadi.


"Darimana kau dapat nomor ponselku.?" Ucap Audrey.


"Mudah saja, kau tidak perlu tahu." ucap Niel angkuh.


"Jadi mana uang ganti rugi untuk mobilku?" Ucap Audrey


"Santailah sedikit nona, apa kau tidak akan memesan beberapa menu. Jangan terburu-buru." ucap Niel.


"Aku sedang sibuk, tidak ada waktu untuk makan bersamamu."


"Oho.. Kasar sekali, terserah karena kebetulan aku lapar sebaiknya kau tunggu aku selesai menyantap makananku untuk membahas masalah ganti rugi mobil bututmu itu."


"Sebarangan kau menghina mobilku."


"Jadi, kau mau menungguku ?"


"Argghhh...baiklah, pesan kan aku spaghetti carbonara, ice cream choco with avocado caramel, dan satu gelas ice lemon tea sekarang."


"Dasar tidak tahu malu." gumam Niel dan masih tersengar olehnya.


"Cepat pesanankan jangan terus mengumpat kau kira aku tidak dengar." ucap Audrey hanya di acuhkan olehnya dan memanggil pelayan untuk memesan.


"Aku pesan spaghetti carbonara untuk dua orang, ice cream choco with avocado caramel, ice lemon tea and mojito."


"Baik terimakasih saya ulang pesananannya spaghetti carbonara untuk dua orang, ice cream choco with avocado caramel, ice lemon tea and mojito. Mohon di tunggu."


"Apa kau tahu juga namaku?" tanya Audrey


"Audrey Veronica Baston, umur 20 tahun lahir di New york dari pasangan Liliana dan Erick Baston. Melanjutkan study Di EGU dan mempunyai dua sahabat. Suka warna Merah dan Pink dan.."


"Cukup, siapa kau? kenapa kau tahu semua tentangku. Apa kau memata-mataiku selama ini hah."


"Tenanglah, apa kau tidak mengenalku atau merasa pernah melihatku. Aku adalah seseorang yang dengan mudah mencari siapapun jika aku ingin."Ucap Niel angkuh. " Bacalah kartu nama yang aku berikan maka kau akan tahu siapa aku."lanjutnya.


Segera Audrey mengecek siapa nama yang tertera disana, dan sungguh mengejutkan Audrey tidak menyangka akan berurusan dengan salah satu orang yang berpengaruh.


"Danielo Francisco, Francisco.. Ohhh astaga kau, kau, kau pengusaha itu. Pemilik pertambangan terbesar di dunia. Franchise company sekaligus sahabat dekat Gilbert dan Marvelino."ucap Audrey kaget.


" Ternyata kau tahu, kukira tidak."balas Niel


"Berarti kau mengenal sahabatku yang tinggal bersama.." ucapan Audrey terpotong karena pelayan membawakan hidangan yang mereka pesan.


"Selamat menikmati hidangannya Mr. and Mrs Francisco." ucap pelayan itu dan berlalu pergi.


"Hey aku bukan istrinya." Ucap Audrey


"Kau tidak mau menjadi istriku, sayang sekali bahkan di luaran sana banyak wanita yang mengantri untuk menjadi nyonya Francisco selanjutnya."


"Tidak berminat, wanita macam apa mereka yang mau dengan pria sepertimu hah."


"Memang aku seperti apa?" tanya Niel.


"Kau baru saja memuji dan sekaligus menghinaku sayang."


"Berhenti berbicara menjijikan dan makanlah aku jadi lapar karena terus berdebat dengan banci."


"Ohoy..Kau tidak tahu seberapa perkasanya aku di atas ranjang." Ucap Niel menggoda Audrey.


"Omong kosong, diam dan makanlah."


"Akan ku buktikan omong kosongku ini sayang." ucap Niel dan hanya di hiraukan Audrey.


Beberapa menit mereka habiskan untuk menyantap hidangannya dan sekarang Audrey dan Niel sudah selesai.


"Kau belum menjawabnya." ucap Audrey.


"Menjawab apa.?"


"Apa kau tahu juga Alesya yang tinggal bersama sahabtmu sekrang."


"Yahh aku tahu cuman belum bertemu dengannya saja."


"Apa kau tahu dimana tempat tinggal Gil, aku ingin bertemu sahabatku. Kau tahu kami hanya bisa menghabiskam waktu di kampus dan itu hanya sebentar karena, pria sialan itu selalu melakukam pengawasan ketat pada Alesya. Terkesan seperti narapidana.." Keluh Audrey.


"Gim memang seperti itu, berlebihan. Apa kau tahu meskipun aku belum bertemu dengan Alesya tapi aku yakin dia membawa perubahan pada sikap Gil."


"Memangnya sahabatmu yang Gila itu kenapa? Kurasa dia hidup dengan sangat baik, secara keluarganya sudah kaya dan pasti memiliki apa yang di inginkan."


"Ada yang kalian tidak tahu dari sosok Gil."


"Apa? tanya Audrey mulai penasaran.


" Tunggu kenapa kau malah menanyai hal ini, ahh ternyata kau kepo juga orangnya."


"Ahhh sudahlah, bagaimna dengan mobilku. Aku ingin Unyu kembali seperti semula tanpa ada perubahan sedikitpun."


" What unyu, kau memberi nama mobilmu Unyu. Jelek sekali."


"Terserah, jangan mengkritiknya.",


" Baiklah mungkin perlu waktu yang sedikit lama jika ingin kemabali tanpa perubahan dan, kenapa kau tidak membeli yang baru saja. Kuihat kau masih bisa membelinya."


"Tidak akan pernah, mobil itu pemberian mendiang Grandma jadi aku sangat menyayanginya."


"Maafkan aku tidak bermaksud memngingatnya lagi."


"it's okey, itu sudah berlalu dan jika memperbaikinya butuh waktu yang lumayan aku ingin kau mengantaf jemputku ke kampus."


"What kau menyuruhku menjadi supir pribadimu seperti itu, hell..No. Aku tidak mau."


"Why, kau harus bertanggung jawab. Sebagai gantinya kau harus siap mengantar jemputku ke kampus setiap hari."


"Aku bukan seorang yang pengangguran kau tahu mana bisa aku..."


"Yayaya itu terserah padamu, akan ku berikan kau pilihan. Menerima itu atau aku akan berbicara kepada orangtuamu karena kau telah mengahamiliku."


"Ahahah apa kau serius, lelucon macam apa ini. Aku yakin kau tidak berani melakukan itu."


"Terserah, aku bisa menelpon dad dan berbicara meminta untuk menghubungi orangtua mu karena anaknya telah menghamiliku, mudah bukan."


"Sialan baiklah, Aku kan menerimanya. Berikan alamat rumah mu dan jadwal kau kuliah."


"Bukankah kau tahu segalanya tentangku, kurasa hanya sebuah alamat itu mudah. Dan yahh, aku ingin kau yang melakukannya bukan orang lain."


"Heyy.. kau.."


"Okey aku pergi dulu, thanks untuk terarktirannya dan jangan lupa untuk menjemputku, bye Niel." Ucap Audrey kemudian pergi meninggalkan Niel yang sangat kesal.


"Sialan dia mempermainkan ku, awas saja kau." ucap Niel marah kemudian pergi meninggalkan cafe dengan beberapa lembar uang di table untuk membayar.