My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
82. END



7 year later


Suasana di sebuah mansion sangat ramai dengan suara teriakan dari anak-anak mereka yang sedang berdebat, Seorang anak laki-laki yang genap berusia Tujuh tahun itu sedang memarahi adiknya yang masih Lima tahun. Iya, mereka adalah Leonardo Austen Rodrigez dan Michelle Aquenzy Rodrigez, selang dua tahun Alesya melahirkan seorang puteri.


"Kenapa kau selalu mengangguku Chelle, aku sudah terlambat. Sekarang kembalikan tas ku, cepat." Teriaknya.


"Aku ingin ikut bersama Kakak, minta Mom untuk menyekolahkan ku." Ucap Chelle.


"Astaga, kau masih lima tahun Chelle. Nanti jika kau sudah seperti ku, Mom dan Dad akan menyekolah kan mu juga."


"Kakak saja masuk sekolah masih berumur lima tahun waktu itu, kenapa aku tidak?"


"Karena kau bodoh."


"Apa, Kau mengataiku bodoh. Mommmm......" Teriak Chelle.


"Jangan berteriak Chelle."


"Terserah, aku adukan Kakak karena sudah mengataiku bodoh."


"Diamlah adik kecil, dasar pengadu..."


"Mommy .... Daddy......." Teriaknya lagi.


"Anak ini..." Desis Leo.


Tak berapa lama Alesya dan Gil datang bersamaan, sebenarnya mereka sudah mendengar pertengkaran anak-anaknya di meja makan. Dan, itu sudah biasa, memang mereka selalu seperti ini. Chelle yang manja dan selalu penasaran dengan apapun membuat Kakaknya kesal, karena Chelle selalu merecokinya.


Dilihatnya Chelle yang hampir mirip dengannya, rambut panjang lurus burgundy dan mata biru laut miliknya membuat mereka terlihat sama, sedangkan Leo persis seperti Gilbert. Mereka versi kecilnya, Alesya sungguh bersyukur memiliki mereka di dunia ini.


"Ada apa sayang, kenapa berteriak seperti itu hemm?" Tanya Gil begitu sampai dan langsung menghampiri puterinya yang sedang merajuk itu, sedangkan Ale duduk di samping Leo.


"Dia menyembunyikan tas sekolah ku Dad." Ucap Leo.


"Habisnya Kakak tidak mau membawa ku bersamanya." Belanya.


"Chelle mau sekolah ?" Tanya Ale.


"Ya Mom, biar tidak dikatai bodoh." Sindirnya.


"Siapa yang mengatai princes Mommy bodoh." Alesya pura-pura marah.


"Tuh." Tunjuknya langsung.


"Leo?"


"Jusr kidding Mom, Chelle saja yang melebih-lebihkan."


"Lain kali jangan diulangi lagi okey?" Ucap Alesya.


"Yes Mom."


"Good."


"Kembalikan tas milik Kakak mu dulu okey, nanti Chelle ikut bersama kami ke sekolah." Bujuk Gil.


"Benarkah?"


"Iya sayang, tapi tidak sekarang. Besok kita pergi bersama ke sekolah untuk mendaftar, hari ini Dad akan mengurus suatu pekerjaan dulu, bagaimana?"


"Sekarang, Mom minta Chelle kembalikan tas milik Kak Leo." Ucap Ale.


"Okey, tunggu." Ucapnya, kemudian pergi keluar untuk mengambil tas yang sudah Ia sembunyikan.


"Mom, Dad serius akan menyekolahkan Chelle?" Tanya Leo.


"Mau bagaimana lagi sayang, adikmu sudah ingin bersekolah kami tidak bisa melarangnya. Bukankah bagus jika Chelle semangat untuk sekolah, lagian nanti ada kamu dan Davon yang menjaga Chelle." Ucap Alesya.


"Kelas Satu kan?"


"Iya sayang, tidak mungkin kan langsung kelas enam."


"Aku contohnya, baru tujuh tahun sudah kelas 3."


"Karena kamu anak kami yang sangat cerdas." Ucap Alesya sambil memeluk Leo, kemudian Gil menghampiri mereka dan ikut memeluknya.


"Kami bangga padamu Leo, jadilah anak yang tangguh, cerdas, dan perduli kepada siapapun. Jaga Chelle semampu yang kamu bisa, kami selalu menyayangi mu ." Ucap Gil.


"Tanapa Dad minta pun, aku akan selalu menjaga Chelle, menjaga kalian." Balasnya.


"Terimakasih sayang." Ucap Alesya.


"Huwaaaaa....hwaaaaa..." Suara Chelle menangis begitu kencang terdengar, mereka langsung mengalihkan pandangan tatkala melihat Chelle di ambang pintu sedang menangis melihat kearah dalam sambil menenteng tas sekolah milik Leo.


Alesya buru-buru saja menghampiri dan menggendongnya.


"Chelle kenapa kamu menangis sayang ada apa, jangan membuat kami khawatir." Ucap Ale.


"Kalian jahat pada Chelle." Ucapnya masih sambil menangis.


"Jahat?"


"Kalian, berpelukan tanpa Chelle." Protesnya.


Mereka pun diam sejenak sambil memperhatikan chelle kemudian tertawa karena tingkahnya yang menggemaskan.


"Astaga princes nya Daddy, Leo ayok kita peluk Chelle." Perintah Gil.


"Yeaayyyyyyy..." Teriaknya senang dan merentangkan tangan lebar-lebar.


Kebahagian kini sudah sempurna bagi Alesya dan Gil, hidup bersama dengan tenang tanpa gangguan musuh bersama anak-anaknya.


Clan Mafia yang dia jalankan pun sudah di ambil alih oleh Anthony, Gil tidak ingin anak-anaknya tahu. Ia hanya takut Leo, terjerumus pada lubang yang sama seperti Daddy nya.


Meskipun masih banyak musuh yang selalu mengusik keluarga Rodrigez, tapi menurut Gil dan Gio itu hanyalah hambatan kecil. Audrey dan Niel sudah menikah setelah Alesya melahirkan Leo, dan sekarang dia juga sudah memiliki keturunan. Seorang laki-laki, Brian Alverdo Francisco yang masih berumur enam tahun. Berumur sama dengan si kembar Marshal Delvano dan Marshely Delvano, putra dan putri Sam dan Maria. Mereka menikah Tujuh bulan setelah Niel dan Audrey, dan beruntung nya langsung di berikan keturuan tidak lama setelah mereka menikah.


Para sahabat kini sudah jarang bertemu karena setelah menikah mereka pergi meninggalian New York, bukan tanpa alasan mereka pindah. Bisnis suaminya yang memaksa mereka harus berpisah jarak, walaupun sudah jarang bertemu tapi komunikasi mereka tidak pernah padam.


Tepat besok malam mereka akan kembali berkumpul, kembali merasakan suasana yang hangat.


"Baiklah semua, sekarang cepat sarapan dan Dad akan mengantarkan Leo kesekolah." Ucap Alesya.


"Aye captain." ucap kompak mereka dan bergegas menuju ruang makan.


Beginilah rutinitas sehari-hari mereka, Aleysa yang menyiapkan sarapan di bantu Amer. Gil mengurus anak-anak, untung saja Leo dan Chelle meskipun masih kecil, mereka tidak manja seperti kebanyakan anak orang berada di luaran sana.Gil dan Alesya sangat melimpahkan kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak mereka, keduanya mendidik Leo dan Chelle dengan sangat baik.