
Setelah membersihkan diri, semuanya sudah berkumpul di meja makan, hari ini memang mereka berduka. Tapi tidak selamanya harus terpuruk bukan, semua berusaha memulihkan luka pada diri masing-masing dengan kebahagian terutama Sam.
Hening tidak ada pembicaraan, Maria sebagai orang baru di sini sangat canggung. Setelah beberapa menit mereka menghabiskan makan malam, barulah suara bariton terdengar.
"Beristirahatlah, kalian pasti lelah." Perintah Gio.
Tanpa menjawab, mereka langsung pergi meninggalkan ruang makan. Gio tahu apa yang sedang dirasakan mereka saat ini, mangkannya dia meminta untuk segera pergi tidur.
Dinyalakannya perapian untuk menghangatkan ruangan. Hujan tidak berhenti malahan semakin deras, seakan langitpun ikut bersedih.
Gil membawa Alesya ke ruang santai, mereka memandang perapian itu lama. Hingga suara Alesya terdengar.
"Gil."
"Yes, sweetheart?"
"Apa tidak sebaiknya pernikahan kita di tunda saja?"
"Why, semuanya sudah siap sweetheart." Ucap Gil kaget.
"Kita baru saja kehilangan Qila dan, Sam. Aku tidak tega melihatnya murung seperti itu, kamu tahu enam hari masih masa berkabung untuk kita." Jelasnya.
"Alesya..."Gil menjeda ucapannya. " Baiklah, akan aku pikirkan lagi."Lanjutnya.
"Terimakasih, semoga kamu tidak keberatan." Ucapnya.
"Sekarang, apakah kamu tidak keberatan jika besok kita akan pergi?"
"Kemana?" Tanya Alesya.
"Rahasia, Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak?"
"Gil." Rengek Alesya.
"Sweetheart." Gil mebalasnya.
"Beritahu sekarang apa susahnya sih." Kesal Alesya.
"Bukan surprise jika seperti itu, ayolah sweetheart jawab iya atau tidak?" Ulangnya.
"Jika aku menjawab tidak, kamu juga pasti memaksa."
"Kamu sudah tahu ternyata." Goda Gil.
"Tidak perlu di beritahu juga semua orang mau, tidak mau wajib menurut kepadamu bukan." Alesya memutar bola matanya.
"Pengecualian untukmu dan Mommy tentunya." Jawab Gil.
"Daddy?"
"Biarkan saja dia orang yang kolot dan keras kepala."
"Itulah dirimu tuan Gilbert, Mom Bela pasti sangat tertekan bersama kalian."
"Kamu menghina kami sweetheart?" Gil pura-pura tidak terima.
"Tidak bukan seperti itu. Maafkan Aku, sungguh aku minta maaf." Mohon Alesya.
"Hahahaha...sweetheart... hahahaha lihatlah wajah ketakutanmu itu. Aku sangat merindukannya, lucu sekali."
Alesya hanya diam memperhatikan Gil tertawa seperti ini, Dia baru menyaksisaknnya pertama kali. Gil sangat jarang sekali tertawa, tapi sekarang didepannya sedang tertawa lepas. Alesya seperti melihat diri Gil yang sebenarnya, yang selama ini Ia sembunyikan dengan topeng dinginnya.
"Sweetheart." Panggilan Gil membuyarkan lamunannya.
"Tidak, seringlah tertawa." Ucap Alesya kemudian memajukan diri lalu memeluk Gil.
"Hey, kenapa kamu berubah agresif sekarang." Balasnya.
"Aku hanya ingin memelukmu, tidak boleh." Sewot Alesya sambil melepaskan pelukannya kasar.
"Astaga, ada apa dengan kekasihku ini. Moodmu gampang berubah, maafkan aku okey." Ucap Gil mencoba menenangkannya.
"Ini karenamu Gilbert."
"Apa ?" Gil bingung dengan perubahan Alesya.
"Antarkan aku kemar." Ucap Alesya, tapi Gil masih bingung dan hanya diam saja. "Kamu tidak mau, yasudah aku pergi sendiri." Lanjutnya sudah akan mengerakan kursi rodanya.
"Ehh..tunggu sweetheart." Ucap Gil kemudian mendorong kursi Alesya menuju kamarnya.
Setelah sampai dan membantu Alesya berbaring, Gil ikut naik namun di cegah Alesya.
"Mau apa, tidurlah di kamar mu." Ucap Alesya.
"Ini juga kamar ku jika kamu mau tahu." Balasnya.
"Baiklah, aku akan tidur di luar saja kalu begitu."
"Oke sweetheart oke, aku tidak tidur disni." Finalnya.
"Bagus, pergilah."
"Astaga, setan apa yang merasuki kekasih manis ku menjadi kejam seperti ini." Kesal Gil.
Cup...
Satu kecupan hangat Gil berikan di kening Alesya, sontak dia langsung terdiam.
"Sweet dream Sweetheart." Kemudian Gil pergi, setelah mendengar pintu tertutup rapat baru Aleysa berteriak.
"Astaga, apa aku bisa tidur setalah ini." Ucap Alesya.
Gil yang menikmati perapian di dalam, berbeda dengan Audrey dan Niel yang memilih taman belakang untuk menikmati dinginnya hujam malam ini.
"Niel, apa yang kau dapat dari hujan?" Tanya Audrey.
"Dingin." Singkat Niel.
"Itu saja?"
"Ketenangan dan kesedihan, kenapa kau menangakan itu?"
"Tidak, hanya ingin."
"Tidak jelas." Ucap Niel.
"Apa itu sakit?"Tanya Audrey mengusap luka di wajah Niel.
" Awhhh.."
"Sorry..."Ucap Audrey sudah berkaca-kaca.
" Hey, aku tidak apa. Jangan menangis."
Grep...
Audrey memeluk Niel tiba-tiba.
"Terimakasih Niel."
"Untuk ? Aku tidak melakukan apapun, jangan berterimakasih." Ucapnya.
"Baru kali ini aku merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang laki-laki."
"Daddy.mu?" Tanya Niel.
"Mom dan Dad selalu saja meninggalkan ku sendiran di rumah, mereka lebih mementingkan kolega bisnis, perusahaan sedangkan, Aku kesepian seakan hidup tanpa orang tua. Untnglah ada sahabat-sahabatku." Ucapnya.
"Tapi,.waktu kau kecelakaan mereka langsung datang Audrey."
"Iya datang, hanya mengecek anak satu-satunya masih hidup atau tidak."
Dengan kasar Niel melepaskan pelukan mereka, Audrey kaget dengan perlakuannya.
"Jangan pernah berbicara seperti itu Audrey." Bentak Neil.
Audrey diam, kenapa Niel semarah ini padanya.
"Memangnya kenapa jika aku mati Niel, meraku pun sepertinya tidak akan perduli." Jawab Audrey meninggikan suaranya berbaur dengan suara hujan.
"Bodoh, kau memang bodoh. Adela, Alesya dan Aku. Kau anggap kita hah?" Bentaknya lagi.
Audrey menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Ia menagis sambil bergumam " Maaf...maaf.."
Niel kembali mendekpnya, seketika tangis Audrey tak terbendung di pelukan Niel.
"Maaf membentakmu, menangislah. Sekerang dan seterusnya aku yang akan menjagamu Audrey, kau tidak akan kesepian lagi." Ucap Niel sungguh-sungguh.
"Benarkah?" Tanya Audrey.
"Jika kau ingin."
"Terimakasih Niel." Ucap Audrey semakin erat memeluknya.
"Sebaiknya kita kedalam, sudah malam. Kau juga harus istirhat, malam juga semakin dingin, tidak baik untuk kesehantanmu." Saran Niel.
"Gendong." Ucap Audrey begitu saja.
"Apa?"
"Tidak mau? Yasudah lepaskan." Jawab kedal Audrey.
"Baiklah nona, berpeganganlah yang kuat." Ucap Niel kemudian menggendong Alesya di punggungnya.
"Audrey kenapa kau aneh sekali hari ini ?" Tanya Niel.
"Drey?" Panggilnya lagi, tidak ada sahutan dan ternyata Dia sudah tidur.
Sesampainya di kamar yang sudah di siapakan Mom Bela, perlahan Niel membaringkan Audrey,Ia tidak habis pikir dengan sikapnya yang berubah. Atau mungkin memang seperti inilah sifat yang sesuangguhnya, Niel tidak mau memikirkan itu. Yang jelas, Dia senang karena, Audrey jinak tidak seperti biasanya.
Di bernarkannya selimut samapi bawah dagu, AC nya Niel matikan karena sedang hujan kemudian sebelum pergi Ia mematikan lampu kamarnya.
Baru kali ini Niel tidak bisa mengontrol senyumnya, hatinya berdebar tidak karuan. Apa tidak salah jika terlihat bahagia di saat seseorang sedang merasakan kehilangan. akhirnya Niel pergi ke kamarnya dan tidur, sedangkan Sam.
Dia masih menatap kosong jendela kamarnya, masih tidak percaya Qila orang yang sangat Ia cintai pergi. Memang Sam belum lama mengelnya tapi, perasaan ini tumbuh begitu saja. Entahlah, apa Sam perlu waktu untuk mengenal cinta yang baru dan, bangkit dari kesedihannya. Atau dia akan melupakannya dan di simpan sebagai kenangan yang indah di hatinya.