
Hampir seharian Sam, Niel dan Audrey mendekor kamar untuk bayi. Hidangan pun sudah siap di santap, tadi Mom datang dan membantu Maria bersama Gil memasak.
Semuanya sudah berkumpul di meja makan, sepuluh masakannya sudah tersaji sempurna dengan aroma yang sangat lezat.
"Sudah beres mendekornya?"Tanya Alesya.
"Done your Majesty." Jawab Audrey.
"Pekerjaanya menjadi sangat lama karena mereka selalu bertengkar, aku sampai pusing."Sahut Sam.
" Kenapa kau menyalahkan ku, nih si Niel yang ganggu."Ucap Audrey.
"Eh.. ngaca dong sayang, bukannya kau yang merecoki pekerjaanku." Bela Niel.
"Apa?"
"Apa kau ?"
"Kau yang kenapa?"
"Tidak apa-apa, mungkin kau yang sedikit sakit otak." Ucap Niel.
"Kurang ajar kau.." Ucap Audrey yang terpotong oleh Sam.
"Lihatlah, mereka selalu seperti itu." ucap Sam.
"Sudahlah Sam, biarkana saja."Sahut Maria.
" Keluarlah, aku ingin makan dengan tanag tanpa ribut di meja makan."Ucap Gil.
"Suruh saja dia, aku lapar." Sewot Niel.
"Kau saja."
"Tidak mau."
"Astaga, kenapa kalian seperti balita saja hah. Sudah jangan ribut, makanlah dengan tenang." Sahut Bela.
"Iya Mom."Ucap Audrey.
"Terimakasih sudah mau meneruti keinginan ku." Ucap Alesya.
"Tidak masalah, kami senang mengerjakannya." Ucap Maria.
"Iya, benar yang di katakan Maria." Ucap Audrey
"Heumm .. tapi aku akan tetap berterimakasih kepada kalian semua."
"Sudahlah, sebaiknya kita makan aku sangat lapar." Sahut Niel.
"Ayo, kau mau makan yang mana dulu Ale?" Tanya Maria.
"Emm udang asam manis dan ayam bumbu hijau saja." Jawab Alesya.
"Jangan terlalu banyak Maria." Ucap Gil.
"Why?" Protes Alesya.
"Perbanyaklah makan sayuran sweetheart, boleh makan asal jangan berlebihan." Jawab Gil mencoba selembut mungkin aga istrinya tidak marah.
"Iya, aku akan makan sedikit saja." Ucap Alesya lesu.
"Tenang saja, nanti kamu boleh makan sepuasnya setelah melahirkan oke?"
"Tentu Gil." Ucap Alesya senang.
Mereka menikmati makan siang dengan tenang Audrey dan Niel sama sekali tidak bersuara, mungkin takut tidak jadi makan enak karena Gil akan mengusrinya jika mereka berisik.
......
Hari sudah malam Mereka semua sudah pulang, hanya Mom Bela yang menginap di mansion nya. Semenjak kepulangan dari Maldives waktu itu, Gil langsung membawa Alesya pindah menempati mansion pribadi mereka.
Bela sempat menolak karena Alesya sedang mengandung dan dia mau merawatnya, namun Gil tetap bersikeras untuk tinggal di mansion nya. Alhasil, hampir setiap minggu Bela ataupun Gio selalu berkunjung.
Sudah hampir jam satu pagi Alesya merasa gelish tidak mau tidur, perutnya yang dia rasa sedikit sakit kini benar-benar sakit luar biasa.
"Gil..Arghhhh." Teriaknya lagi dan Gil terbangun dari tidurnya.
"Sweetheart ada apa?"
"Perutku Gil arghhh sakit, seperti aku akan melahirkan."
"Astaga, bertahanlah kita akan kerumah sakit sekarang."
Di gendongnya Alesya, mereka memang menenpati kamar lantai bawah. Jadi mudah untuk membawa Alesya, Gil sangat panik. Ia lupa mengabari ibunya, tapi tadi ia sudah berpesan pada Amer untuk membangunkan Bela agar menyusul ke rumah sakit dan membawa perlengkapan lainnya.
"Gil apa masih lama?"
"Bertahanlah, sebentar lagi kita samapai." Ucap Gil.
"Menyetirlah lebih cepat lagi sialan." Teriaknya pada sang sopir.
"Jangan mengumpat Gilbert." Kesal Alesya."
Setengah jam mereka sampai dan Alesya langsung di bawa ke ruang bersalin, Gil menunggu di depan sendirian dengan perasaan campur aduk. Tak beberapa lama Bela, Gio datang bersamaan.
"Bagaimana Gil?" Tanya Bela langsung menghampiri putranya.
"Dia sedang di dalam."
"Tenanglah Alesya dan bayimu akan baik-baik saja." Ucap Gio.
Tiba-tiba suster datang untuk meminta Gil menemani Alesya di dalam, tanpa ragu Gil langsung masuk dan melihat Alesya terbaring lemas dengan banyak keringat di dahinya.
"Sweetheart." Panggil Gil.
"Gil, rasanya sakit sekali."
"Bertahanlah, kamu harus kuat demi anak kita sweetheart."
"Ya aku harus kuat, demi anak kita." Ulangnya, seakan mendapatkan semangat.
"Baik nyonya, kepalanya sudah terlihat sedikit lagi." Ucap Dokter itu.
Alesya menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, ia ulangi beberapa kali. Kemudian Alesya berteriak dan menggenggam tangan Gil erat untuk mendorong kuat-kuat.
"Oekkk...oekk..oekk." Suara tangis bayi terdengar begitu nyaring,
Rodrigez kecil telah lahir.
"Berhasil, terimakasih sweetheart terimakasih. Kamu berhasil sayang anak kita sudah lahir, I love You." Ucap Gil, ia merasa sangat bahagia. Perasaan baru yang ia rasakan dalam seumur hidupnya.
"Gil.." Panggil Alesya tersenyum sangat lemah.
"Anak kita sweetheart, dia sudah lahir." Ucapnya.
Tiba-tiba dia panik melihat istrinya memejamkan mata, perasaan bahagia kini berubah menjadi khawatir takut.
"Dokter, kenapa Alesya?"Teriak Gil.
" Mohon maaf Mr.Rodrigez, sepertinya Mrs.Rodrigez pingsan akibat terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Sebaiknya anda menunggu di luar, kami akan mengurusnya. Dia akan baik-baik saja, percayakan kepada kami."Ucap Dokter itu.
Tak banyal bicara Gil langsung keluar, sebelumya dia juga melihat anaknya yang ternyata laki-laki sangat mirip dengannya.
"Gil." Ucap Bela kemudian memeluknya.
"Akhirnya kita mempunyai cucu Gio, Gil cucuku perempuan atau laki-laki?"
"Laki-laki Mom, seorang jagoan seperti ku." Ucapnya bangga.
"Bagiamna keadaan Alesya?" Tanya Gio.
"Dia pingsan dan sedang di tangani dokter, kita bisa melihatnya saat sudah di pindahkan ke ruang perawatan."
"Aku sudah tidak sabar menantinya, apa kau sudah membaut nama untuknya?"
"Sudah."
"Baiklah, sebaiknya kita tunggu." Ucap Gio.