My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 69



Ketenangan saat sarapan pagi terganggu dengan kedatangan Gil, untung saja Alesya dan Maria sarapan di kamarnya.


"Morning All." Sapa Gil kemudian duduk di kursi samping Ibunya .


"Makanlah Gil, setelah itu kita bicarakan apa akan kau tanyakan." Ucap Gio.


"Okey." Balas Gil, dia juga sudah lapar karena belum memakan apapun.


Beberapa menit beralu akhirnya Gil yang sudah menunggu langsung menanyakannya kepada Gio.


"Dad, Aku sudah melakukan perintahmu dan, sekarang katakan dimana Alesya ?"


"Mungkin nanti ketika acara pernikahan kalian, Dad akan memberitahumu tapi tidak untuk bertemu dengan Alesya."


"What... Dad, perjanjiannya tidak seperti itu di awal."Protes Gil.


" Ya, karena kau sudah membuat masalah dengan model itu."


"Itu bukan salahku, salahkan saja paparazzi yang mengambil kesempatan saat aku berdua dengan wanita itu." Jelas Gil.


"Aku tidak mau tahu, tunggulah hingga hari pernikahan kalian tiba. Jangan cemaskan Alesya, dia berada di rumah ini dan, kau tidak perlu tahu letak pastinya."


"Mom, berbicaralah padanya. Kenapa dia tega sekali kepadaku, ayolah Mom." Rengek Gil.


Bela merasa sangat bahagia ketika Gil merengek seperti ini, Ia rindu sikap hangat Gil. Dia menjauh setelah kejadian itu, hingga Alesya datang merubah semuanya.


"Mom tidak bisa membatah Daddy mu sayang, bersabarlah tiga hari adalah waktu yang singkat." Ucap Bela menengkan putranya.


"Tidak denganku, apa kalian sedang menjalankan tradisi orang Indonesia? Sam bilang ping...pingiit, ya pingitan benar?" Tanya Gil yang baru ingat perkataan Sam saat di pesawat.


"Ya." Sahut Gio.


"Kita orang barat, kenapa harus menjalankan tradisi negara lain ." Gil sudah merasa kesal.


"Apa kamu lupa Gil, Alesya keturuan Asia. Mom ingin dia bisa merasakan sedikit tradisi negaranya dan, Mom juga merasa penasaran." Jelas Bela.


"Jadi Alesya tidak hilang di culik?"


"Kenapa putera kita menjadi bodoh honey."


"Gio jaga bicaramu, dia anakku. Jangan menghinanya, tidak ingat seberapa bodohnya dirimu saat kau tidak menemukan ku di mansion. Semua penjaga dikerahakan untuk mencariku. Padahal aku sudah memberimu note di meja makan, jadi siapa yang bodoh disini." Ucap Bela.


"Honey, itu sudah beberapa tahun yang lalu. Kenapa kamu mengungkitnya lagi, sudah ku bilang saat itu aku panik." Balas Gio membela dirinya.


"Lihatlah Mom, pria tua ini sepertinya malu." Goda Gil.


"Untunglah tidak ada pria tua di sini." Ucap Gio.


"Wow, Daddy tersayang apa kau tidak merasa sudah tua dengan rambut yang sudah terlihat sedikit memutih itu?"


"Memangnya kenapa, ini terlihat keren. Honey, apa aku sudah terlihat tua ?" Tanya Gio pasa Istrinya.


"Sampai rambutmu sudah memutih, kulit mu tak lagi sekencang sekarang dan kita sudah sama-sama menggunakan tongkat, Aku tidak perduli. Kita akan selalu bersama selamanya dan, Aku akan selalu mencintaimu Gio." Jawab Bela membuat Gio terharu mendengarnya.


"Thank you honey." Balas Gio kemudian menghampiri Bela yang duduk di samping Gil dan menciumnya.


"Jangan bermesraan disini." Protes Gil.


"Why, ini mansion ku juga. Jika keberatan pergilah, mengganggu saja." Balas Gio.


"Kenapa Mom menikahi pria seperti dia, kasar sekali."


"Sudahlah, kenapa ribut-ribut seperti ini. Gio, mengalah-lah dia putera mu." Lerai Bela.


"Biarakan saja, memangnya kau tidak lebih kecil dariku boy."


"Aku sudah dewasa." Ucap Gil.


"Astaga, sebaiknya kita pergi ke kantor sekarang. Biarkan Gil beristirahat, mungkin kamu lelah setelah perjalanan tadi malam." Ucap Bela, jika tidak segera di akhiri mereka akan tetap ribut.


"Okey honey, jangan mencari Alesya dimana pun di seluruh rumah ini. Jika kau ketahuan bertemu dengannya, akan ada hukuman sebagai gantinya." Ancam Gil.


"Terserah." Setelah itu Gil pergi meninggalkan orang tua nya menuju kamar Alesya. Pikirannya sudah penuh dengan ide-ide untuk menemukan Alesya, apalagi Daddy-nya bilang. Dia masih berada di rumah ini, namun tentu saja di tempat rahasia.


"Sayang, kamu yakin Gil tidak akan menemukan Alesya?" Tanya Bela.


"Aku tahu Gil seperti apa, jangan khawatir honey." Ucap Gio. "Ayo, kita berangkat sekarang?" Lanjutnya.


"Tentu, tunggu sebentar aku harus membawa tas dulu."


"Baiklah, aku tunggu di mobil saja honey."


"Ya." Singkat Bela kemudian pergi lantai atas untuk mengambil tas nya.


Sedangkan Gio menunggu istrinya di mobil, hari ini dia bersemangat karena Bela akan menemani seharian di kantor. Tak lama yang di tunggu datang dan duduk di kursi kemudi, Bela sudah rapih dengan pakaian yang berbeda. Bela adalah orang yang sederhana, jadi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dia berganti pakaian dan berdandan.


Setelah memastikan orang tuanya benar-benar sudah pergi, Gil mulai melancarkan aksinya. Ia bergegas pergi ke ruangan rahasia yang berada di kamarnya, Gil mulai memeriksa CCTV satu persatu. Tapi, tidak menunjukan keberadaan Alesya. Daddy-nya tidak bodoh, untuk menempatkan CCTV di tempat Alesya. Akhirnya Gil memutuskan untuk mencari di ruangan yang tidak mungkin orang datangi, untung saja dia tahu seluk beluk mansion luas milik keluarganya ini.


"Lihat saja Dad, aku kan menemukan Alesya." Ucap Gil yakin.


Setiap lorong yang menuju ruangan rahasia yang tak pernah orang luar tahu Gil perikasa satu persatu, totalnya ada enam. Tinggal satu ruangan di ujung lorong bawah tanah yang belum Ia periksa, pintunya terdapat sandi. Dengan mudah Gil membobol sandinya.


Nittt....


Sura kunci terbuka, dengan tak sabaran Gil membuka pintu yang berlapis pintu di dalamnya dengan semangat.


Setelah sepenuhnya masuk, benar saja Gil melihat seorang wanita yang sedang duduk di balkon dengan tudungan di kepala. Langsung saja Ia melangkahkan kakinya dan memeluk wanita itu erat.


"AAAAAA...." jerit wanita itu. "Lepaskan aku brengsek."


Ternyata dia adalah Maria.


"Maria?"


"Gilbert ? apa yang kau lakukan hah, kurang ajar. Masuk ke kamar orang dan, dengan beraninya kau memelukku." Teriaknya lagi.


"Dimana Alesya, aku kira kau adalah dia."


"Mana aku tahu, Dad tidak memberitahuku dimana keberadaan Alesya setelah kami kembali dari Manhattan."


"Kalian di Manhattan?" Tanya Gil tidak percaya.


"Iya dan, kami pulang. Tidak, Alesya memutuskan pulang karena melihatmu berdua dengan model cantik itu sedang makan malam romantiskan ? aku tidak percya, bajing*n mana yang tega berselingkuh saat pernikahannya tinggal menghitung jari." Murka Maria, Ia juga meresa marah karena Gil dengan mudahnya bersama wanita lain di luar sana.


"Sialan, kalian salah paham. Aku tidak perduli jika kau marah padaku, sekarang dimana Alesya?"


"Aku sungguh tidak tahu, Dad hanya menyuruhku diam disini sampai hari pernikahan kalian tiba." Jawab Maria kesal.


"Kenapa kau juga ikut di sembunyikan ?"


"Entahlah, berhubung sekarang kau sudah tahu aku disini. Aku bisa keluar dan, aku memang tidak tahu keberadaan Alesya." Ucap Maria kemudian pergi meninggalkan Gil yang masih diam memikirkan dimana Alesya, semua tempat tersembunyi sudah ia periksa.


"Apa masih ada lagi tempat yang lain, yang aku tidak tahu?" Tanya Gil kepada dirinya.


Gil harus berpikir keras, jika ia bersabar selama tiga hari mungkin tidak akan sepusing ini.