
Setelah selesai dinner, disinilah mereka. Menikamati malam memandang Eiffel tower lebih dekat, Alesya sudah banyak memotret dirinya.
"Sekarang aku menyesal tidak membelikan dress untukmu sendiri." Ucap Gil.
"Kenapa?"
"Bagaimana mereka tidak tergoda dengan tubuh indah mu sweetheart, rasanya aku ingin sekali mencongkel mata mereka keluar. Berani sekali memandangi mu dengan tatapan menjijikannya itu, kita harus segera pulang." Ucap Gil.
"Astaga, ini juga salahmu."
Padahal Gil sudah memakaikan Alesya jas nya, namun tetap saja pria disana menatap nakal pada istrinya. Dress yang di gunakan Alesya memang sangat menggoda kaum adam, meskipun sudah di balut dengan jas milik Gil, tetap saja belahan pahanya masih terlihat. Membuat Gil uring-uringan sejak tadi dan, sibuk memelototi mereka.
Alesya melihat Gil terkekeh, dia sangat protektif sekali. Namun, wajar saja karena dia suamiku. Tidak tega Alesya berdiri mengulurkan tangnnya, Gil tentunya bingung.
"Ayo kita kembali, sudah malam dan kita harus beristiharat. Besok adalah hari terakhir kita disini, aku ingin menikmati Paris seharian." Ucap Alesya.
"Degan senang hati sweetheart." Balas Gil bersemangat meraih tangan Alesya.
"Aaaaaa." Jerit Alesya yang merasakan tubuhnya melayang, ternyata Gil menggendong. Tak menghiraukan tatapan dari orang sekitar, Gil membawa Alesya untuk segera pergi dari sini.
"Gil, turunkan Aku." Protes Alesya.
"Tidak mau, biarkan saja para pria sialan itu melihat, kamu adalah mililku." Ucap Gil.
"Semua orang juga tahu bahwa aku istrimu Gil, turunkan. Aku malu."
"Tidak sweetheart."
Akhirnya Alesya pasrah saja, ternyata Gil adalah orang yang sangat pencemburu.
Beberapa menit mereka sudah sampai, Gil masih setia menggendong Alesya ala bride style menuju kamarnya.
"Apa kamu tidak berat terus menggendong ku?" Tanya Alesya meringkuk dalam gendongan Gil.
"Tidak, kamu kan sangat kecil sweetheart." Ucap Gil.
"Kamu mengataiku kecil, bahkan tinggiku hampir menyamaimu Gilbert." Cibir Alesya.
"Benarkah, hanya sebatas bahu. Kurasa itu masih kategori pendek, sulit sekali mengakuinya." Balas Gil.
"Menyebalkan sekali." Kesal Alesya sambil memajukan bibirnya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Perlakuan Alesya tidak luput dari perhatian Gil, tanpa membalas ucapan Alesya. Gil langsung menciumnya, membuat Alesya kaget akan serangan mendadak itu.
Dibalasnya ciuman Gil yang sedikit menuntut, mereka masih berada dalam Lift menuju kamar. Untung saja lift ini di rancang khusus hanya bisa di pakai oleh keluarga Rodrigez saja dan, beberapa pegawai saja.
Ting...
Denting lift terdengar, Gil langsung bergegas tanpa melepaskan ciuman mereka. Alesya membantu Gil untuk membuka pintu kamarnya, langsung saja Gil masuk dan membaringkan Alesya di atas tempat tidur.
"Aku sudah sangat bersabar menahan ini sweetheart." Ucap Gil di sela-sela ciumanya.
Alesya mengerti, dengan berpakaian biasa saja sudah membuat Gil menginginkannya apalagi terbuka seperti tadi. Pasti suaminya ini sangat bekerja keras menahannya sedari tadi, tapi demi Alesya dia rela menahannya.
"Gil."
"Ya, sweetheart. Call my name !" Ucap Gil.
"Now?" Tanya Gil meminta izin Alesya. Dia selalu seperti itu, mungkin Gil takut menyakiti Alesya dan mengingatkannya pada kejadian itu.
" I'm yours baby." Balas Alesya.
Tentu saja setelah mendegar itu, mereka menghabisakan malam yang panjang.
.............
Ke esokan harinya, mereka masih bermalas-malasan untuk tidur. Waktu sudah menunjukan pukul 11 siang di Francis, tapi kedua insan ini masih saja setia bergulung di bawah selimut.
Karena mereka baru saja bisa tertidur jam 3 pagi, sarapan dan makan siang mereka lewatkan. Keinginan Alesya kemarin malam untuk berlibur seharian di Paris tidak terlaksana dan, yang terjadi hanya berdiam diri di kamar tanpa melakukan aktifitas apapun.
Dering ponsel Alesya terus berbunyi, hingga akhirnya dia terbangun untuk mengangkat teleponnya. Karena masih mengantuk, Alesya tidak sadar bahwa kedua sahabatnya melakukan video call.
"Aleeeeeeeee.....lagi ngapain, kamu baru bangunkah atau masih tidur. Kenapa berantkan sekali, heiiii Alesya jangan diam saja jawab aku." Teriak Audrey di seberang sana.
"Ada apa Rey, kenapa pagi-pagi kamu sudah menghubungiku." Keluh Aleya.
"Pagi, aku saja yang berada di New york tahu bahwa disana sudah jam 3 sore." Ucapan Audrey membuat Alesya reflek melirik jam di nakas dan, benar saja jam sudah menunjukan pukul 15:45.
"Aku kira masih pagi." Gumam Alesya.
"Maklum lah Rey, Ale kan pengantin baru" Sahut Adela.
"Ya kau benar." Balas Audrey.
"Adela, bagaimana dengan baby nya?" Tanya Ale.
"Dia sehat, aku masih tidak percaya sekarang ada malaikat kecil dalam perutku." Jawab Adela.
"Ya, aku jadi tidak sabar menantikan Marvel junior." Ucap Audrey.
"Memangnya bayimu laki-laki Del?"
"Tidak tahu, belum kelihatan."
"Aku hanya menebak, jangan bertanya." Ketus Audrey.
"Terserah."
Tiba-tiba selimut yang Alesya pakai sedikit melorot karena Gil yang menariknya, terlihat bercak merah di area dada Alesya. Membuat Audrey menjerit heboh.
"Le, jujur deh. Kamu lagi gak pake baju kan?" Tanya Audey.
"Apasih Rey."
"Udahlah Reyz, kamu juga tahu kali. Jangan buat Alesya malu dong ah, mangkanya cepet nikah biar nggak komen mulu." Sahut Adela.
"Lah, kan nanya doang." Ucap Audrey.
"Ehh, nanti kalo udah di Bali kabarin yah. Aku mau nyusul ah sama Niel, kayanya seru ganggu kalian honeymoon." Ucap Audey sambil terkekeh.
"Nggak akan aku kasih tahu." Ucap Alesya dengan penuh penekanan.
"Lihat aja deh nanti." Ucap Audrey.
"Sweetheart." Tiba-tiba Gil memanggil namanya dengan suara khas bangun tidur.
"Emm, udahan dulu yah. Kayanya Gil bangun nih, bye." Ucap Alesya langsung mematikan sambungan video call nya.
"Jam berepa?" Tanya Gil.
"Jam 3 lebih."
"What, sore? maaf kan aku, kamu jadi tidak menghabiskan waktu seharian di Paris." Sesal Gil.
"Its okay Gil, kita bisa menghabiskan waktu di sini saja. Aku juga sudah tidak mood."
"Lain kali kita akan kesini lagi dan berlibur sesukamu."
"Benarkah?"
"Tentu sweetheart."
"Terimakasih." Ucap Alesya senang kemudian memeluk Gil.
"Mau mandi bersama?" Goda Gil.
"Apa, kamu saja duluan." Ucap Alesya gugup.
"Kita harus menghemat waktu daj air sweetheart."
"Tidak untuk menghemat waktu, yang ada mandi berdua dengnmu akan lama."
"Hanya mandi saja tidak lebih." Ucap Gil.
"Tidak."
Tanapa menunggu, Gil langsung menggendong Alesya dan bangun dari tidurnya. Membawanya ke dalam kamar mandi, entah apa yang akan mereka lakuan di dalam. Apakah benar-benar akan membersihkan diri atau melakukan hal yang lain.