My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 48



Setelah Gio menceritakan masalalunya yang membuat Victor sangat membenci keluarganya, tiba-tiba Sam datang bersama Qila.


Gil baru ingat bahwa, kemarin Ia meminta Sam membawanya kemari untuk membicarakan beberapa hal sebelum pertemuan Qila dan Selena.


"Morning all, apa aku datang terlalu pagi?" Ucap Sam yang baru saja datang bersama Qila.


"Permisi semua." Sapa Qila.


"Hai Qila, Sam. Kemari duduklah, ada apa pagi-pagi sudah bertamu?" Sahut Bela.


"Aku hanya melaksanakan perintah tuan muda ini untuk membawa Qila kemari." Jawab Sam sambil menepuk pundak Gil.


"Benarakah, jika seperti itu kami harus pergi dulu. Tidak baik mendengarkan pembicaraan anak muda."Ucap Bela.


" It's okey Mom, Kau disini saja."Sahut Gil.


"Tidak Gil, ini pembicaraan kalian. Mom dan Daddy akan ke atas saja, ayo sayang." Ucap Bela lalu menggandeng tangan Gio yang diam saja menurut.


"Yasudah." singat Gil


Sekarang mereka sudah berpindah ke halaman belakang, agar lebih nyaman untuk mengobrol.


"Jadi, kenapa kau ingin bertemu denganku?" Tanya langsung Qila.


"Hari adalah pertemuanmu dengan Selena bukan, aku hanya ingin meminta bantuan darimu sebagai teman sahabatku." Ucap Gil.


"Apa?"


"Sebelumnya, apa kau membenci Alesya?" Tanya tiba-tiba Gil.


"Hah, kenapa kau bertanya seakan disini aku adalah orang yang kejam. Tentu saja tidak ada alasan aku membencinya, kau ada-ada saja Gil." Jawab Qila dan tidak dapat di pungkiri Alesya senang mendengarnya.


"Kenapa?"


"Kau bertanya kenapa? maksudmu kenapa aku tidak membenci Alesya padahal dia adalah penyebab perjodohan kita gagal begitu?" Tanyanya dan hanya di angguki Gil sebagai jawaban.


"Aku bukanlah orang yang hanya mementingan diri sendiri, orangtuaku tidak mengajarkan merebut yang bukan hakku. Dengar, aku tidak mempermasalahkan tentang itu. Memang awalnya aku sempat tidak suka padanya tapi, jika di pikir-pikir untuk apa menyakiti diri sendiri memaksakan hal yang memang bukan milikku. Lagian sekarang sudah ada Sam.." Ucap Qila yang tidak sadar sudah mengakui bahwa dirinya menyukai Sam.


"Hah?" Sahut Sam yang masih syok dengan ucapan Qila.


"Ehh..maksudku, emmm Sam adalah orang yang membantuku melupakanmu. Yahh membantu, kita sahabat bukan Sam?" Tanya Qila salah tingkah.


"Hah....hahaha iya sahabat, sahabat." Ucap Sam ragu.


"Okey, jadi kau tidak ada masalah dengan kekasihku bukan?" Tanya Gil memastikan.


"Hemm."Balas Qila singkat.


" Terimakasih Qila, Aku tahu kamu adalah orang yang baik. Kita bisa berteman bukan?"Sahut Alesya.


"Tentu." Balasnya dengan senyum menghias di wajah cantiknya.


"Thanks Qila."Ucap Alesya bahagia.


" Apa yang harus aku bantu?"Tanya Qila.


"Kau mungkin tidak tahu Selena itu seperti apa, tapi yang jelas kami sudah lebih lama mengenalnya. Aku hanya meminta kau tidak terlalu percaya pada kembaranmu itu sebelum, ingatanmu kembali Qila." Ucap Gil.


"Kenapa?" Tanya Qila heran.


"Aku hanya memperingatkan, Selena adalah pembual yang baik. Dia rubah licik, aku berpicara apa adanya Qila."


"Jadi?"


"Pasti kau ingin mengetahui keluargamu yang sebenarnya dan mengingat kembali bukan?"


"Tanyakan sedetail mungkin kau dan Selena bersal dari keluarga mana dan, berikan informasi itu kepadaku."


"Tunggu, kau bilang sudah mengenal Selena tapi kenapa hanya keluarganya saja kau tidak tahu."


"Aku sudah bilang sebelumnya bukan, bahwa Selena sangat tertutup mengenai hal itu."Sahut Sam.


" Sorry aku lupa, jadi hanya itu yang kau minta?"Balas Qila dan kembali memastikan.


"Yah, nanti setelah kalian bertemu. Aku ingin kau bersama Sam menuiku kembali."


"Baiklah." Ucap Qila.


"Segampang itu?" Tanya Sam.


"Apa?" Tanya singkat Qila.


"Mengiyakan kemaun Gil?"


"Apa yang dikatakan Gil memang ada benarnya, Aku tidak tahu masa kecilku, keluargaku dan semua tentang kami. Yang aku pikirkan adalah Selena kembaranku yang baik, tapi itu hanyalah sebuah asumsi belaka. Entah dia baik atau sebaliknya Aku tidak tahu, yang jelas informasi yang Gil inginkan aku juga membutuhkannya. Jadi tak apa karena, sekarang aku lebih mempercayai kalian di bandingkan kembaranku." Jelas Qila.


"Kenpa kamu bisa berrasumsi seperti itu?" Tanya Sam.


"Sebenarnya Aku, beberapa hari ini selalu bermimpi hal yang sama."


"Apa?"


"Dalam mimpiku sebuah keluarga yang tidak hidup bahagia meskipun dalam kelurga yang berada, pasangan suami istri itu selalu bertengkar. Aku ingin membantu tapi anehnya tidak bisa berbuat apaun, Aku seperti melihat sebuah reka adegan dalam cuplikan film yang memperlihatkan berbagai kejadian yang berbeda."Jedanya.


"Lalu mimpi itu berubah, memperlihatkan dua orang anak kembar. Itu aku, disana anak yang berwajah sama denganku saat kecil sedang menyiksaku. Dia menjambak rambutku, menuduhku merusak bunga kesukaan ibunya dan masih banyak lagi. Aku sempat bertanya-tanya siapa mereka, apakah ini keluargaku atau hanya sekedar mimpi. Tapi jika mimpi, aku sudah beberapa hari selalu memimpikan yang sama. Seakan itu adalah separuh ingatanku yang hilang atau, mungkin sebuah peringatan. Entahlah yang jelas mimpi itu seperti nyata." Qila menjelaskan masih dengan perasaan bingung.


"Jadi itu yang membuatmu percaya dan menerima kata-kata Gil?" Tanya Sam.


"Mungkin, semuanya begitu rumit bagiku."


"Sudahlah Qila, mudah-mudahan saat bertemu dengan Selana Ingatanmu bisa kembali." Ucap Alesya menyemangati.


"Terimakasih Ale." Balas Qila.


"Baiklah, jika seperti itu Aku dan Qila akan pergi sekarang." Pamit Sam.


"Kau akan ikut dengannya?" Tanya Gil.


"Hanya mengantar dan menjemput Qila, Aku tidak akan bergabung ikut pembicaraan mereka."


"Baguslah." Singkat Gil.


"Yasudah kami pergi dulu."


"Hmmm, sampai jumpa Sam, Qila." Ucap Alesya.


"Samapai jumpa Ale." Balas Qila kemudian pergi bersama Sam.


"Kamu merencanakan sesuatu sepertinya Gilbert." Ucap Alesya.


"Tentu sweetheart, sebentar lagi bukti-bukti itu akan segera terkumpul dan semuanya selesai." Ucap Gil.


"Apa semuanya akan baik-baik saja Gil?"


"Jangan khawatir, akan ku pastikan itu." Jawab Gil menenangkan.


Setelah itu mereka kembali ke dalam, Gil yang melakukan pekerjaanya di rumah langsung menju ruang kerja setelah mengantarkan Alesya ke ruang baca. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya terhalang dua ruangan saja.