
Hari ini Alesya sengaja bangun sangat pagi karena ingin menyiapkan sarapan untuk Gilbert, semalam saat di restoran Gil tidak menyentuh makanannya sama sekali mungkin karena kahadiran Qila yang menyebabkan nafsu makannya hilang.
Kemarin saat tiba di apartment Alesya meminta kamar lain untuk dia tempati dan itu membuat Gil sedikit tidak suka karena dapat terlihat dari sikapnya yang tiba-tiba berubah itu.
Namun Ale tidak memikirkannya dan pagi ini, Ia berencana membuatkan pancake stoberi kesukaanya bersama segelas fresh Milk. Dia juga tidak sempat berterimakasih untuk Gil yang membelikan ponsel yang harganya selangit itu.
Saat semuanya sudah siap dan Ale akan membersihkan diri kemudian membangunkan Gil untuk sarapan.
40 menit berlalu dan kini Ale siap dengan out fit kampusnya. Ia kemudian bergegas menuju kamar Gil namun saat akan mengetuk pintu mahogani itu sudah terbuka menampakan Gil yang sudah rapih dengan kemeja kerjanya. "Sungguh tampan dan sexy" Batin Ale yang tidak sadar sudah menatap Gil dengan terpesona.
"Ekhemmm." Deheman Gil membuyarkan Ale.
"Ehh kau sudah bangun rupanya, tadinya aku mau membangunkan mu untuk sarapan bersama." Ucap Alesya.
"Hell, dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun . keterlaluan." Batin Alesya karena Gil yang mengacuhkannya.
Namun Ale lega karena ternyata dia sudah duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya. Dan Ale segera menuju ke dapur untuk membawa pancake yang ia buat tadi.
"Ini sarapan mu, tadi aku membuat pancake storberi dan fresh milk. Oh ya jangan bertanya kenapa aku tidak menyiapkan hot coffe untukmu karena, ini masih pagi dan coffe tidak baik untuk kesehatanmu Gil. Jadi aku membuatkan ini, makanlah semoga kamu suka." Ucap Alesya panjangn.
Gil sempat terharu karena baru kali ini ada seseorang yang begitu perhatian padanya selain Orangtua dan kedua sahabatnya.
"Bagaimna?" tanya Ale setelah melihat Gil menyuapkan satu potong pancake kedalam mulutnya.
"Tidak buruk." Singkatnya.
"Emm begitu yah, Terimaksih karena telah membelikan ku ponsel pengganti." ucap Alesya tiba-tiba.
"Siapa bilang aku membelikan itu secara cuma-cuma." ucap Gil.
"Maksudmu?"
"Kau harus membayar sisanya, harga ponselmu sebelumnya sangat jauh berbeda dengan yang aku belikan kemarin."
"What.. lalu kenapa tidak membelikan yang sama dengan yang sebelemnya, kalau begitu aku kembalikan saja."
"Seorang Gilbert tidak menerima barang bekas orang lain."
"Kau, jadi apa yang kau inginkan dasar diktator."
"Jadilah pelayanku mulai hari ini, kerjakan apa yang seharusnya Amer kerjakan."
"Hah..pelayan, dirumah ini, sendirian. Apa kau Gila, aku harus kuliah dan sudah lama juga aku tidak masuk kerja part-time ku di cafe, mungkin aku akan di pecat karenamu."
"Tak perlu bekerja di sana lagi karena aku sudah membuatmu di keluarkan dari pekerjaan itu."
"Ya tuhan, dasar seneaknya. Lalu aku harus mencari uang dimana untuk biaya hidup dan berkuliah tuan Gilbert yang terhomat."
"Sudah ku bilang, kau menjadi pelayanku untuk melunasi hutangmu, akan ku jamin semuanya dan kau bisa tinggal sesukamu di sini."
"Tapi aku punya rumah dan, seharusnya kau tidak menahanki di sini."
"Aku tidak menerima penolakan." Ucap Gil dan melanjutkan sarapannya.
"Pemaksa."
"Cepatlah habiskan sarapanmu aku tunggu di bawah."
Ucap Gil kemudian pergi setelah menengguk habis Fresh milk yang di buatkan Alesya.
"Iblis sialan, seenaknya saja dia memerintahku. Ya tuhan kenapa nasibku seperti ini." Kesal Ale dan pergi menyusul Gil.
Saat Ale sudah sampai di lobby dan mendapati mobil Gil yang sudah terparkir manis di sana. Kali ini Gil menggukan supirnya dan membuat aku bisa bernafas lega karena tidak berudaan dengan pria ini, terakhir kali dia bersama dalam satu mobil tanpa siapapun Gil menciumnya, sungguh memalukan.
.........
Mansion keluarga Baston, Audrey sangat kesal karena menunggu Niel yang belum datang menjemputnya.
"Kemana pria itu, aku akan telat pergi ke kampus jika seperti ini." ucap Audrey kesal namun tak lama terdengar bunyi klaskon dari depan gerbang rumahnya. Terlihat sebuah Bugatti Veyron Grand Sport Vitesse keluaran terbaru masuk menuju kearahnya.
"Cepat masuk." Ucap Niel.
Audrey yang masih melongo kerena tidak menyangka akan menaiki mobil termahal ini, rasanya seperti baru memenangkan lotre.
"Heyy nona cepatlah." Teriak Gil
"Iya iyaa, cerewet." Ucap Audrey kemudian masuk."Kenapa kau lama sekali, sudah ku bilang jangan sampai telat dan kau melanggarnya."lanjut Audrey kesal.
"Yang penting sekarang aku sudah disnini bersamamu, jadi tidak masalah."
"Terserah, jangan buat aku telat memasuki kelas."
"okeyy berpeganganlah yang kuat nona." Ucap Niel menyeringai kemudian mencap gas membelakh jalanan kota New York yang sedang cerah hari ini.
Hanya butuh waktu 10 menit bagi Niel untuk sampai di kampus Audrey karena memang tidak terlalu jauh dan dengan kecepatan mengendarai Niel yang sangat wow itu mereka sampai dengan selamat.
"Kau gila hah, mau membuatku mati muda. Aku belum menikah dan hidup bahagia kau sudah membuatku jantungan." Omel Audrey.
"Lemah, itu hanya sebagain kecepatan bagaimna jika full kurasa kau benar-benar akan menjadi mayat di mobil mewahku ini."
"Sialan kau." Ucap Audrey kemudian keluar dan begitupun Niel.
Baru saja terdengar sebuah teriakan yang memanggil namanya.
"Reyyyy..." Teriak Ale yang sedikit berlari menghampirinya bersama Gil yang mengekor di belakang.
"Rey tumben kamu datang pagi, biasanya juga sedikit terlambat " Ucap Ale.
"Diamlah, aku baru saja selamat dari kematian." Kesal Audrey sambil melirik tajam ke arah Niel.
"Astaga kau kenapa memangnya?" Tanya Alesya.
"Tanyakan saja pada Pria sintinng itu." ucap Audrey ketus.
"Siapa?" Tanya Alesya.
"Niel, apa dia teman kencan barumu?" kini giliran Gil yang bertanya pada Niel.
"Gil, kau.. kenapa bisa. Dan sejak kapan seorang Gilbert mengantar jemput mahasiswanya..ohhh atau dia gadis itu Alesya?" Tanya Niel dan Gil hanya menaikan satu alisnya tanpa niat menjawab pertanyaan Niel.
"Maksudnya?" Tanya Ale.
"Perkenalkan aku Danielo Francisco sahabat Gilbert sekaligus kekasih Audrey." ucap Niel dengan santainya mengaku sebagai kekasih Audrey.
"Apa-apan kau hah, nggak le. Lo jangan percaya sama buaya darat kaya dia." Bela Audrey.
"Ahaha kalau beneran juga gapapa, kan Rey mau dapet cowok ganteng yang kaya, udah cocok sama Kal Niel." Ucap Alesya polos.
"Kakak..Hahahha lo panggil dia kakak nggak salah." ucap Audrey sambil tertawa.
"Iya emngnya kenapa, kan Kak Niel kayanya nggak seumuran. Gapapa kan aku panggil kakak?" ucap Alesya.
"Dengan senang hati." ucap Niel.
"Sweetheart aku pegi dulu, jangan pergi dengan siapapun dan ingat ucapanku tadi pagi." Ucap Gil "Niel ku tunggu kedatangamu di kantorku." lanjutnya kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Sweetheart... Kalian?" Tanya Niel.
"Nggak kok kak, emang dia aja yang suka panggil kaya gitu setalah aku jadi kekasih pura-puranya." Jelas Ale.
"Kekasih pura-pura, maksudnya? kau berhutang penjelasan padaku tuan Gilbert." ucap Niel dan tanpa pamit dia langsung pergi menyusul Gil.
"Yaudah yuk ke kelas, kita udah jadi pusat perhatian dari tadi penjelasannya nanti aja." Ucap Audrey kemudian menarik tangan Ale menghiraukan bisikan-bisikan para netizen kepada mereka.