My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 7



Alesya mengerejapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan pencahayaan, Dia kaget mendapati sudah terbangun di sebuah kamar sangat asing banginya.



"Kenapa aku berada disini." ucapku bingung.Tiba-tiba pintu magohani coklat itu terbuka, beberapa orang wanita berpakaian pelayan masuk mendekat kesrahnya.


"Kalian siapa, mau apa kemari dan ini dimana?" tanyaku


"Maafkan kami jika lancang, Saya Amer kepala pelayan disini dan, di kanan Nory sedangkan yang sebelah kiri saya viya. kami di perintahkan tuan untuk membantu anda mempersiapkan diri." tuturnya.


"Nn..nyo...nyonya?" gumamku"Namaku Alesya. Izinkan aku pergi dari sini, aku mau pulang."lanjutku.


"Tuan Rodrigez yang memerintahkan kami untuk membantu anda." Ucapnya


"Mari nyonya saya bantu, jangan sampai membuat tuan marah karena lama menunggu." ucap Viya.


" kini aku ingat, saat di kampus baj*ngan gila itu memaksaku untuk pulang bersama, apa mungkin rumah ini miliknya?"Batinku. "Sial, aku harus cepat keluar dari tempat iblis itu." lanjutku.


"Aku bisa sendiri, kalian keluarlah." ucapku


"Tapi nyonya, tuan akan marah jika kami tidak melayani anda dengan benar." ucap Nory takut.


"Emmm baiklah tapi, aku akan mandi sendiri." Ucapku.



"Whoaaa... besar sekali, seperti istana saja. Bahkan ukurannya hampir bisa untuk dua ruangan besar, dasar orang kaya." Setelah selesai aku keluar dengan menggunakan baju yang sama.


"Permisi Nyonya." ucap Viya sopan.


"Berhenti memanggilku seperti itu, Aku bukan Nyonya di rumah ini. Pasti kalian salah orang, panggil aku Ale..Alesya."


"Tapi Nyonya tuan akan marah." ucapnya kembali.


"Kenapa kalian terus menyebut tuan tuan tuan dan tuan, memang sangat menegerikan tuan mu itu hingga takut seperti ini."


"Bukan seperti itu Nyonya, maafkan kelancangan kami."Ucap Nory


" Sudah aku bilang jangan panggil Nyonya, panggil Ale saja okey."ucapku


"Kenapa anda berpakaian yang sama, kami akan menyiapkan yang baru untuk anda." ucap Amer.


"Aku tidak membawa yang lain, daripada memakai handuk. Tidak bau juga kok." ucapku.


"Hahaha anda sungguh lucu, mari saya siapkan pakaian yang baru untuk anda." Ucap Amer.



"Apanya yang lucu." Batinku heran. Lalu aku di bawa ke sebuah ruangan dan itu adalah walk-in closet yang tak kalah besar dari ruangan kamar sebelumnya.


"Punyaku bahkan sangat sempit." batinku lagi dan, Amer memberikan sebuah dress selutut berwarana peach.


"Untukku?" tanyaku heran.


"Apa anda tidak suka, biar saya menggantinya." ucap Amer.


"Tidak apa-apa, aku akan memakainya. Kalian bisa tunggu di luar saja." ucapku.


"Tapi.." ucap Amer


"Ayolah, aku bisa melakukannya sendiri." ucapku kesal.


"Baiklah kami menunggu di luar, jika ada kesulitan panggil saja kami. Permisi Nyonya." mereka pergi meninggalkan ruangan .


picture....


Setelah bersiap, mereka menuntunku menuju ruang makan. Sangking kagumnya akan interior rumah ini aku bahkan tidak menyadari sudah berada di ruang makan.


"Benar, ternyata baj*ngan gila itu yang membawaku kemari.Aku harus melakukan apa sekarang, bagaimna caranya bisa kabur penjagaanya ketat sekali." batinku.


"Ekhemmm, Duduklah." ucapnya, Aku perlahan duduk jauh dengan dirinya yang duduk di kepala meja makan.


"Kemari dan duduklah disini." perintahnya. Aku pun terpaksa menurutinya, sungguh melihat para pria bertubuh kekar di belakangnya membuat nyaliku ciut.


"Emmm...Kapan anda akan memperbolehkan aku pulang?" ucapku "Besok aku harus kuliah dan bekerja." lanjutku.


"Kau tidak akan kemana-mana dan tinggal disini bersamaku." ucapnya tenang.


"Mma...mmaksud anda tinggal disini, tidak aku tidak mau. Aku akan pulang sekarang." ucapku kemudian bangkit, namun belum sempat melangkah jauh tanganku sudah ia cekal dengan sangat kuat.


"Lepaskan, Aku tidak takut." ucapku mencoba melepaskan cekalan tangannya namun percuma, pergelangan tanganku memerah karena baj*ngan ini mencengkramnya begitu kuat.


"Ouhhh baiklah, ikut aku." Sambil menyeretku ke sebuah ruangan gelap sangat gelap, udara dingin dan mencekam membuatku bergidig ngeri.


"Tempat apa ini." batinku.


Dia menghepaskan ku dengan keras, seketika bau amis tercium begitu pekat. Aku menangis ketakutan, dalam pencahayaan yang minim aku masih bisa melihat baj*ngan itu sedang membawa belati kecil di tangannya. Aku beringsut mundur, tubuhku gemetar.


Kemudian Gil, dia sudah berjongkok di hadapanku sambil mencengkram daguku kuat.


"Kau tau, Aku sudah menunggu ini sejak lama. Dan sepertinya takdir memang berpihak padaku." ucapnya kemudian melepaskan cengkramannya.


"Sepertinya jika bermain sedikit bisa menggantikan makan malam yang tertunda." lanjutnya sambil memainkan ujung belati di leherku.


"Apa mau mu?" desisku.


"Kau."


"Kenapa?"


"Karena kau mainan ku bi"ch."


CUIHHH... Alesya meludahi Gil, karena kesal.


"Kurang ajar." ucapnya marah.


PLAKK...PLAAKKKK...Gil menapar Ale begitu keras, hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Memang seperti itu kenyataanya bukan." ucapnya lalu mencodongkan wajahnya kedepan dan berbisik."Sepertinya kau masih ingat malam panjang kita honey."


BUGHH.... Alesya mendang Gil sehingga ia dapat sedikit menjaduh darinya.


"Berani kau samakan aku dengan mereka, harusnya aku yang marah karena, kau dengan sangat brengsek melakukannya kepadaku." teriakku tak terima.


"Yes, i am ashhole honey, akan ku tunjukan seberapa berengseknya diriku." ucapnya.


"Mau apa kau hah, jangan mendekat atau aku akan menusukan belati ini." ucapku panik.Sebenarnya aku tidak berani melakukan itu.


"Lakukan." ucapnya singkat.


"what, apa dia gila." batinku takut ,dengn gemetar aku menggenggam belati itu dengan erat.


"Oo...okey aku tidak bermain-main." ucapku gemetar.


"Sekarang." ucapnya menatapku tajam.


JLEBBB.. aku melakukannya, bahuku yang terkena tusukan merasakan nyeri, darah mulai merembes keluar dari dalam bajuku,mungkin sebentar lagi aku akan hidup bahagia bersama Mom dan Dad di atas sana. Perlahan pandanganku mulai kabur ,badanku lemas dan aku terjatuh, kegelapan mulai mengahampiri namun, samar-samar aku mendengar seseorang berteriak. Mustahil jika baj*ngan itu menolongku.


"SHIT, gadis gila. Ku kira dia hanya main-main saja." ucapku langsung membawanya ke ruang perawarawatan khusus yang ada di apartment miliknya.


Dengan tergesa Gil membaringkan Ale, lalu menelpon seseorang untuk datang kemari.


Selang beberapa waktu, Marvel datang dan langsung melakukan tugasnya. Setelah selesai mereka keluar dari sana untuk membicarakan beberapa hal.


"Siapa dia Gil?" ucap Marvel langsung.


"Dia." ucapnya singkat.


"Kau yang melakukan ini?" Tanyanya kemudian.


"Tidak, dia yang ingin melakukannya sendiri."


"Pasti ada alasan dia melakukannya." ucap Marvel


"Hah dasar gadis lemah." Ucap Gil


"Terserah, aku akan kemabali ke rumah sakit. Jika ada sesuatu kabari aku, dia akan sadar besok karena efek dari obat yang aku berikan."


"Hmmm, thank Vel."


"It's okey." balasnya, baru beberapa langkah Marvel membalikan badannya dan berkata" Gil, Aku hanya ingin mengingatkan. Berhati-hatilah dengan sikapmu kedapanya, bisa jadi itu boomerang di masa depan. Aku pergi." Setelah kepergian Mervel, Gil masih diam mencerna perkataan sahabatnya itu.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan dude." gumamnya. Lalu pergi untuk melihat kondisi Alesya.


Gil mengamati wajah Alesya, Gil mengakui bahwa Ale sangat cantik dengan bibirnya yang pink natural, hidung mancung, bulu mata yang lentik, dan netra biru yang indah. Membuat dia Gil sejenak melupakan niat awalnya, dia terpesona melihat netra milik Ale yang memancarkan ketenangan namun bisa berubah ganas di saat waktu yang bersamaan. Tanpa Gil sadari, sudah masuk kedalam pesona Alesnya dan benih cinta itu mulai tumbuh di hatinya.