
"Sweetheart." Panggil Gil menghampiri Alesya dan memeluknya.
"Hmmm...Gil." Balasnya.
"Kenapa bisa?" Tanya Sam.
"Biarakan Alesya bertisirahat dulu, ini sudah hampir pagi." Ucap Gil.
Dan benar saja, Alesya hanya terbangun dan kembali tidur. Tak lama telpon Gil berbunyi.
"Cepatlah bawa Alesya pulang Gil, ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Ucap Marvel langsung.
"Besok pagi, Aku akan membawanya pulang." Balas Gil.
"Baiklah, bagaimana keadaan Alesya?"
"Entahlah, setelah pulang nanti kau harus memeriksanya Marvel."
"Tentu, kalau seperti itu aku tutup dulu telponnya."
"Ya." Singkat Gil dan mengakhiri panggilannya.
"Sebaiknya kalian istirahat." Lanjut Gil kepada Niel dan Sam.
"Yah, apa Aku harus menghubungi Audrey?" Tanya Niel.
"Terserah, ku saran kan besok. Jika Ale sudah pulang dan, Aku akan menitipkan Ale di mansion untuk sementara waktu." Ucap Gil.
"Baiklah." Balas Niel singkat.
Pagi menjelang, Alesya sudah bangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangan di seluruh ruangan tapi, tidak menemukan seorang pun.
"Apa semalam Aku bermimpi?" Gumam Alesya.
"Kamu sudah bangun sweetheart." Ucap Gil yang baru saja datang membawa sekantong makanan di tangannya.
"Gil?" Tanya Ale.
"Yes it's me, sweetheart. Kenapa kamu terlihat bingung seperti itu hem." Ucap Gil mengusap rambut Alesya pelan.
"Aku kira hanya mimpi karena, Kamu tidak ada di saat Aku terbangun." Jelas Alesya.
"Kamu melihatku semalam, mana mungkin itu mimpi. Sudahlah , sekarang makan sarapanmu dan setelah itu kita kembali pulang."
"Yahh, ternyata Dia membawaku sampai sejauh ini." Gumam Alesya.
"Siapa?" Tanya Gil pura-pura tidak tahu.
"Mantan kekasihmu."
"Selena?"
"Siapa lagi memangnya." Ucap Alesya sedikit kesal jika harus membahas wanita yang mau menghancurkan hubungannya.
"Kenpa kamu bodoh sekali Alesya, sudah tahu Dia tidak suka padamu. Dan apa yang kamu dapat dari semuanya?"
"Iya aku tahu, hanya penasaran saja apa yang akan di bicarakannya."
"Gadis keras kepala, cepat habiskan sarapanmu. Aku akan memanggilkan suster untuk membantumu bersiap." Ucap Gil, setelah mengecup kening Alesya yang di perban, Gil pergi.
Ketika sedang fokus menyantap sarapannya, Alesya di kejutkan dengan kedatangan kedua sahabatnya bersama Niel dan Sam.
"Ya tuhan, kenapa lagi gadis ceroboh ini. Apa kau tidak bosan hah terus keluar masuk rumah sakit dengan perawatan luka yang berbeda. Aku jadi ingin mengurungmu di istana buatanku jika My Ale terus terluka." Audrey memyambut Alesya dengan omelannya yang seperti seorang Mommy.
"Rey, bicaralah baik-baik, ini rumah sakit biasa. Suara lo pasti kedengeran sampe luar, malu-maluin tau gak." Sahut Adela.
"Memang nggak tau malu." Timpal Niel.
"Apa hah, sana pergi bikin sempit ruangan aja." Balasnya pada Niel.
"Ini juga mau keluar, iya kan Sam?"
"Kau saja, Aku akan tetap disini." Ucap Samuel menolak ajakannya.
"Baiklah Aku akan keluar sendiri, minggir." Niel berjalan keluar dengan kesal pada Audrey.
"Dari tadi harusnya." Ucap sinis Audrey.
"Alesya lanjutkan sarapan mu, Aku akan menemani Niel di luar." Ucap Sam.
"Terimakasih Sam." Ucap Alesya hanya di angguki olehnya sebagai jawaban.
"Kenapa kalian bisa tahu Aku ada di sini?" Sekarang Giliran Alesya yang bertanya.
"Biasa, Kakak tersayangmu itu memberitahu bahwa Kau sedang berada di saurgarties mengalami kecelakaan. Akhirnya aku menghubungi Adela dan langsung pergi ke sini." Jelas Audrey.
"Iya, Dia ngabarain Gue jam 3 pagi. Bayangin Le, lagi enak-enaknya bobo cantik dapet kabar kaya gitu kan langsung kaget gue." Ucap Adela.
"Padahal, Aku juga pagi ini akan pulang." ucap Alesya.
"Kalian tahu bagaiman rasanya khawatir dan takut kan."
"Iya tahu, tapi lo mah panik Rey." Sahut Adela.
"Ya sama ajalah."
"Ada yang aneh cara bicaranya Audrey jadi Aku, Kamu iya kan Del?" Tanya Alesya yang baru sadar dengan cara bicara Audrey yang berubah.
"Iyalah, keseringan jalan sama Danielo jadi kaya gitu tuh sekarang." Sindir Adela.
"Apansih ahh gak jelas banget." Kesal Audrey.
"Hahah liat Le, mukanya biru gitu." Ucap Adela menggodanya.
"Hahahah merah kali Del bukan biru." ucap Alesya.
"Kan ini Audrey jadi beda." Balas Adela.
"HAHAHAHAH." Tawa mereka.
"Aduhhhh." Alesya memegang kepalanya yang berdenyut.
"Alesya..." Ucap Double A khawatir.
"Sweetheart." Panggil Gil yang baru saja dantang dan langsung menghampiri Alesya membantunya berbaring.
"Suster tolong periksa Dia." Pinta Gil kepada suster yang tadi ikut bersamanya.
"Permisi sebentar sir, mohon sebaiknya anda menunggu di luar biar saya memeriksanya terlebih dahulu."
"Biar mereka saja, Aku ingin menemai Alesya di sini." Perintah Gil yang terdebgar tidak mau di bantah.
"Okey, kita keluar dulu Le." Pamit mereka kemudian keluar.
Dan tak menunggu lama Dokter datang untuk memeriksa Alesya.
"Bagaimna?" Tanya Gil.
"Tidak apa, hanya kurang istirahat dan efek dari luka di kepalnya jadi membuat Mrs.Rodrigez merasakan pusing. Sebaiknya jangan terlalu banyak gerak, sebaiknya suster yang akan mengganti perban lukanya terlebih dahulu."Ucap Dokter.
" Baiklah, apa Alesya bisa pulang hari ini juga?"
"Bisa, tapi tunggu impusannya habis."
"No problem, asalkan Dia bisa pulang dengan cepat." Ucap Gil.
Setelah beres mengganti perban, Alesya langsung di bantu untuk berganti pakaian. Tentu saja harus berdebat terlebih membuat Alesya malu di hadapan suster karena, Gil ingin tetap di dalam ketika Alesya berganti.
"Gil keluarlah, Aku ingin bersiap dulu." Ucap Alesya memohon.
"Anggap saja Aku tidak terlihat, gampangkan. Lagi pula kenapa harus malu, bukankah Aku sudah mel..."
"shut up Gilbert, terserah kau saja. Kepalaku terasa lebih pusing sekarang." Ucap Alesya memotong pembicraannya.
"Kamu pusing sweetheart, mangkanya jangan banyak berbicara. Mengganti pakaian saja harus berdebat seperti ini dulu." Omel Gilbert, suster yang menyaksikan itu menahan tawanya. Seorang Gilbert bisa bersikap seperti anak kecil ketika sedang bersama kekasih nya.
"Hmmm." Akhirnya Alesya mengalah, masa bodoh dengan Gil yang melihatnya beganti pakaian.
"Selesai, mari Mr. and Mrs. Rodrigez. Semuanya sudah selesai dan, tunggu impusan habis Mrs.Rodrigez bisa pulang, permisi." Pamit sopan suster itu kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Sweetheart.." Panggil Gil menghampiri Alesya yang berbaring memunggunginya.
"Kamu marah? Maafkan Aku okey." Ucap Gil yang kini sudah berada di hadapan Alesya.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, jika kamu mau tahu. Maafkan aku tidak bisa menepati janji untuk selalu menjagamu sweetheart, Aku gagal kali ini." Lanjut Gil.
"Shuuttt, ini bukan salahmu. Kamu tidak perlu meminta maaf, Aku tahu Gil kau pasti sangat khawatir. Maaf sudah membuatmu cemas dan repot mengurusiku." Balas Alesya sambil memegang tangan Gil.
"Tidak, jangan... jangan salahkan dirimu Alesya. Kau tahu Entah sejak kapan rasa cinta ini ada untukmu, yang jelas sampai detik ini dan selamanya Aku akan tetap mencintaimu. Aku ingin melindungi dan menjagamu sampai kapanpun, I Love You Alesya Margareta Gaven." pernyataan cinta itu spotan Gil ucapkan karena, memang Gil belum pernah menyatakan cinta pada Alesya.
"Kka..kamu bilang apa?" Tanya Alesya terkejut.
"I LOVE YOU ALESYA." ulang Gil dengan jelas.
Alesya kemudian memeluk Gil dengan erat, Ia bahagia akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Gil. Pernyataan cinta kepadanya yang selama ini Alesya tunggu dan, sekarang semuanya sudah terwujud.
"Thank you." ucap Alesya disela tangisnya, Ia menangis bahagia.
"Sweetheart kenapa kamu menangis, maafkan Aku jika menyakitimu."
" I love you too Gilbert. "Balas Alesya.
" Hey, sweetheart don't cry. Kamu terlihat jelek jika menangis seperti ini."Ucap Gil sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi mulus kekasihnya itu.
"Aku bahagia, akhirnya kamu mengatakan itu Gil. Aku kira kamu tidak mencintaiku dan hanya mempermainkan ku."
"Astaga, kenapa kau memikirkan hal bodoh seperti itu." Gil gemas kemudian mencubit pipi Alesya yang sudah memerah itu.
"Awhhh, jangan mencubit pipiku sayang."
"Apa kamu bilang apa tadi..hah?" Goda Gil.
"Apa..Aku tidak mengatakan apapun." Ucap Alesya blushing.
Gil menangkup kedua wajah Alesya lalu menciumnya dengan lembut, rasanya bibir Alesya sudah menjadi candu sejak pertama kali merasakannya.
"Astagaaaa, Aku tidak melihat sungguh." Ucap Sam yang baru saja masul kedalam sambil menutup kedua matanya.
Gil melepaskan ciumannya dan Alesya sudah sangat malu karena tertangkap basah oleh Sam.
"Mengganggu saja." Gerutu Gil.
"Ada apa dude?"Tanya Niel yang ikut masuk bersama kedua sahabatnya.
" Tidak ada, hanya melihat adegan yang membuat mataku iritasi."Ucap Sam.
"Woww, apa itu Sammy?" Goda Niel.
"Diamlah, kalian berisik sekali." Sahut Gil yang sudah kesal karena para sahabatnya mengganggu.
"Alesya sayang, kau demam. Lihatlah wajahnya sudah seperti kepiting rebus buatan Mommy ku saja....Hahahah." Ucap Adela membuat Alesya semakin membenamkan wajahnya di balik punggung Gil.
"Gil." Cicit Alesya.
"Tak apa sweetheart, jangan perdulikan mereka. Sekarang bersiaplah kita akan pulang karena, impusmu sudah mulai habis." Ucap Gil mengalihkan pembicaraan. "Sammy tolong panggilkan suster untuk memeriksanya terakhir kali, Aku ingin semuanya aman." Perintah Gil.
"Tunggulah sebentar your Majesty." Ucap Sam sambil membungkukan badannya seperti pelayan kerjaan.
"Ada-ada saja kelakuannya." Sahut Niel.
Setelah semuanya di pastikan aman dan Alesya sudah boleh pulang, mereka semua kembali menggunakan mobil masing-masing.