
Memerlukan waktu yang lama untuk tiba di tempat tujuan, Alesya masih tertidur pulas. Sepanjang perjalan Alesya hanya tidur, Gil juga kebingungan biasanya Alesya akan cerewet bertanya akan kemana.
"Sweetheart, bangunlah kita sudah sampai." Dibangunkannya Alesya.
"Hemmm..kita dimana?" Tanya Alesya yang menggeliat dalam pelukan Gil terbangun.
"Nanti kamu akan tahu sendiri, ayo kita turun sekarang." Ucap Gil.
Setelah sepenuhnya Alesya sadar dan melihat sekeliling, ternyata ini adalah tempat dimana orang tuanya berada.
"Benarkah Gil, kamu mengajakku kemari?" Tanya Alesya tidak percaya kemudian memluk Gil senang.
"Seperti yang aku katakan, kamu akan senang dan berterimakasih kepadaku." Ucapnya bangga.
"Terimakasih honey." Balasnya.
"Apa aku harus melakukan hal-hal yang membuatmu senang dulu hah, jarang sekali kamu memanggilku sayang seperti itu."Protes Gil.
" Setelah menikah mungkin."Acuh Alesya kemudian melepaskan pelukannya dan mulai berjalan, tentunya di bantu Gil. Bodyguard nya mengekor di belakang membawa dua buah bucket bunga untuk orang tua Alesya.
Alesya sudah sangat merindukan mereka, Ia jarang berkunjung kemari karena sibuk. Akhirnya Gil membawanya, air matanya sudah tidak terbendung lagi.
Bucket bunga sudah beralih di tangan Gil dan, diberiakan nya kepada Alesya satu. Kuburan Mom dan Daddynya di buat bersebelahan, Alesya duduk di tengah-tengah.
"Hai Mom, Dad. Maaf Ale jarang berkunjung, apa kalian bahagia disana. Ale sangat merindukan kalian, disini Ale hidup dengan baik, makan terartur. Oh ya, Mom, Dad, Alesya tahun kemarin lulus dan sudah masuk Universitas yang Ale inginkan. Mom, Dad, Aku mau mengadu pada kalian. Lihatlah pria jangkung ini, Dia datang bersamaku. Mom tahu, dia orang yang sangat aku benci dulu Mom. Mungkin jika masih ada Dad, pria ini akan habis babak belur di hajarmu." Alesya menjeda ucapannya karena tidak kuat lagi bercerita, Gil memeluknya mencoba menenangkan.
"Sutt...jangan menangis lagi okey. Mereka akan sedih jika terus melihatmu cengeng seperti ini." Ucap Gil.
"Aku bukan cengeng Gilbert." Balas Alesya kesal dan memukul dasa bisang Gil.
"Awhhh...sakit, kamu memukulku terlalu kuat sweetheart."Ucap Gil pura-pura.
" Pembual, lepaskan."Alesya melepaskan pelukan Gil paksa.
"Mom Vanya dan Dad Erick, sebelumnya aku mau meminta izin memanggilmu seperti itu. Karena sebentar lagi Alesya akan menjadi istriku. Maaf atas kejadian setahun lalu, aku sangat menyesal melakukannya. Untuk itu Aku ingin restu kalian untuk menikahi Alesya sebagai pendamping hidupku, di hadapan kalian. Aku berjanji akan menjaga Alesya dan melindunginya dengan nyawaku sebagai taruhannya, Aku sangat mencintai putri kalian." Jeda Gil.
"Terimakasih sudah melahirkan bidadari secantik dan sebaik Alesya, terimakasih juga sudah mendidiknya menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Pegang janjiku sebagai bukti bahwa aku benar-benar tulus mencintainya. Jika aku melanggar tuhan akan menghukumku sebagai balasan." lanjutnya, Gil sangat serius dan bersungguh-sungguh hingga Alesya terharu mendengarnya.
"I love you Honey." Ucap Alesya memeluk Gil.
"I love you more sweetheart." Gil mencium Alesya lembut.
"Terimkasih." Balas Alesya setelah melepaskan ciuman mereka.
"Kita pergi sekarang?" Tanya Gil.
"Ya, Mom, Dad. Kami pergi dulu, Alesya akan sering berkunjung kemari setelah ini." Ucap Alesya.
Di bantunya Alesya berdiri, kemudian mereka pergi dan melanjutkan perjalan ke rumah sakit untuk memeriksa luka Alesya.
"Kenapa tiba-tiba sekali kamu mengajakku kemari Gil."Tanya Alesya.
" Sesuai janjiku."
"Sudah sebulan yang lalu." Ucap Alesya.
"Tidak masalah, yang terpenting jadi juga."
"Yayaa terserah." Kesal Alesya. "Setelah ini mau kemana?" Lanjutnya.
"Mengecek luka mu ke rumah sakit."
"Bolehkah aku bertemu dengan Adela?"
"Tentu saja Sweetheart, apapun untukmu." Jawab Gil.
"Thanks." Ucap Alesya senang.
................
Setelah pulang dari rumah sakit Gil hanya mengantarkan Alesya ke mansion Marvel karena, ada pekerjaan mendadak yang harus Gil lakukan.
Disinilah mereka Triplets A, Audrey di beritahu Alesya setelah kuliahnya selesai.
"Kamu sendirian di sini Del?" Tanya Alesya.
"Hemm, kalo udah sore gini aku sendiri. Soalnya pekerja pulang pas udah beres semua, kecuali supir sih sama Bi Amy pelayan pribadi yang udah di anggep ibu sama Marvel." Jelas Adela.
"Sekarang gimana semenjak jadi Nyonya Darko?" Tanya Audrey.
"Masa sih, pasti ada bedanya dong. Iya nggak Le?"
"Ya gak tahu juga, kan aku belum pernah nikah." Jawab Alesya.
"Ck! yaudah deh, pertanyaannya ganti. Masih mau lanjutin kuliah?"
"Nggak tahu, kayanya iya. Tapi, kalau pas udah hamil marvel nyuruh aku berhenti." Jawab Adela.
"Udahlah mending nggak usah di lanjutin aja sekalian, percuma aja."
"Loh kok gitu Rey?" Tanya Ale.
"Ya iya, nih ya. Kita semua kan baru juga semester pertama, kalau nanti Adela hamil masih ngampus kan ujung-ujung nggak lulus."
"Nggak gitu juga Audrey sayang, mungkin maksud Adela. Kalau perutnya masih kecil masih bisa ngampus, asal jangan kecapean aja.Trus kalo udah brojol juga masih bisa kok ngelanjutin, sekarang kan banyak yang udah tua ikut kuliah." jelas Alesya.
"Bener tuh kata Alesya, tanggunglah. Seenggaknya lulus kuliah, biar anak aku bangga juga. Masa nanti kalo di tanya, ibu kamu lulusan apa? kan malu kalau jawabnya cuman tamatan SHS."Ucap Alesya.
" Iya iya itu terserah kalian aja, Aku kan belum jadi Momy."Balasnya.
"Mangkanya cepatlah menikah, kalian berpacaran kan?" Goda Adela.
"Siapa? tidak."
"Jangan berbohong, kita tahu kok kalian ada something special ka?" Godanya lagi.
"Astaga, sungguh aku tidak ada hubungan apapun dengan Niel." Sangkal Audrey.
"Tapi akan ada apa-apa sebentar lagi." Sahut Alesya.
"Kalian kenapa sih, nggak jelas banget." Kesal Audrey.
"Sebenarnya kamu suka kan Rey?" Tanya Alesya.
"Entahlah, aku takut Niel menganggapku sebagai adiknya saja."
"Kurasa tidak, Kak Niel juga menurutku memiliki perasaan lebih padamu Rey." Ucap Alesya.
"Itu menurutmu, bagaimna jika salah mengartikan. Sudahlah, aku kesini untuk bersenang-senang." Ucap Audrey mengalihkan pembicaraan.
"Menyedihkan sekali kamu Rey." Sahut Adela.
"Tereserah, aku hampir lupa menanyakan ayam kesayanganmu ada di sini?" Tanya Audrey.
"Tentu, di halaman belakang. Marvel membuatkan rumah khusus untuknya, romantis bukan." Jawab Adela.
"Kamu sudah mencintainya?" Tanya Alesya.
"Sepertinya, aku sedang belajar untuk menerima semuanya. Tapi, aku yakin Marvel adalah pria yang dikirim tuhan untukku. Meskipun di jodohkan, kami tidak mempermasalahkan itu." Jelas Adela.
"Syukurlah, Marvel orang yang baik. Meski terkihat cuek, semoga kalian bahagia selalu." Ucap Alesya.
"Terimakasih, aku berharap juga begitu."
"Sekarang aku baru terlihat sangat menyedihkan." Sahut Audrey .
"Bersabarlah, pangeran berkuda mu akan segera datang menjemput." Ucap Adela.
"Hemmmm..."Jawab singkat Audrey.
" Oh ya, bagaimana dengan Kak Maria. Dia akan tinggal di mansion kalian?"Tanya Adela teringat Maria.
"Entahlah, jika dia ingin. Aku tidak akan memaksa, tapi sepertinya Mom punya rencana untuk itu." Jawab Alesya.
"Maksudmu?"
"Mom akan menawarkan Aunty Marina untuk mengadopsi Maria."
"Hah, apa mereka mau?" Tanya Kaget Audrey.
"Entahlah, kita lihat saja nanti. Mom juga belum berbicara dengan Maria mengenai ini."
"Heumm begitu ya."
Selebihnya yang mereka lakukan hanya mengobrol, menonton dan masak makan malam. Rencananya mereka akan dinner bersama di rumah Marvel, untuk pertama kalinya.