My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 57



Victor, Jerry bersama Selena. Mereka terlihat bahagia karena sebentar lagi rencananya untuk balas dendam akan tercapai.


"Grandpa sebaiknya kita melancarkan semuanya dengan cepat, Aku takut semuanya menjadi berantakan dan gagal." Ucap Selena.


"Tenanglah Lena, Aku sudah menyiapkannya dengan sempurna. Kau tidak perlu takut, diam dan ikuti saja perintahku." Balas Victor.


"Tapi apa yang dikatakan Selena ada benarnya Dad, mereka pasti tidak akan tinggal diam." Sahut Jerry.


Tiba-tiba salah satu bodyguard nya menghampiri Jerry dan membisikan sesuatu, yang membuatnya terlihat sangat marah dan takut.


"Apa, bodoh. Hal seperti itu saja kalian tidak becus, perketat penjagaan Alesya sekarang." Perintah Jerry.


"Ada apa?" Tanya Victor.


"Pelayan sialan itu berusaha meminta bantuan dan, menghubungi anak ingusan Gilbert menggunakan telpon rumah Dad."Jelas Jerry.


" Ceroboh."Marahnya.


"Sebaiknya kita cepat kembali dan membawa Alesya pergi, sebelum Gil menemukannya." Saran Selena.


"Iyah, kau benar Lena." Ucap Victor.


Mereka pun bergegas pergi, Jerry tidak menyangka. Pelayannya bersekongkol dengan Alesya dan, betapa bodoh para penjaga disana yang tidak menaruh curiga pada Maria.


Ya, salah satu anggota yang ada di markas yang diperintahkan Jerry untuk terus memantau pergerakan yang ada dibsana melihat pancaran signal dari mansion milik bosnya. Setelah di telusuri ternyata nomor Gilbert Alejandro Rodrigez yang Dia huhungi. Segera orang itu memberitahu salah satu bodyguard yang sedang bersama Jerry untuk melaporkan.


Sesampainya di mansion Jerry langsung mencari Maria, Dia sedang berada di dapur menyiapkan makan siang Alesya.


"Maria." Teriak Jerry.


Maria datang terpogoh-pogoh menghapiri Jerry, perasaannya sudah tidak enak.


"Apakah aku ketahuan?" Batin Maria bertanya.


PLAKK...


satu tamparan keras mendarat di pipinya, Maria hanya bisa diam menerima semuanya.


PLAKKK...


Kali ini Selena yang menamparnya di tempat yang sama, hingga sudut bibir Maria mengeluarkan darah.


Dijambaknya Dia dengan kencang oleh Selena.


"Jal*ng sialan, kau mau mempercepat kematianmu." Ucap Selena.


"Ampun nona." Maria memohon ampun, kulit kepalanya sudah terasa perih.


"Apa yang kau pikirkan hah, beraninya kau menghubungi Gil untuk datang kemari. Paman sebaiknya pelayan tidak tahu diuntung ini pantas mendapat kematiannya dengan cepat." Ucap Selena tenang, membuat Maria takut.


Dia takut bukan karena Selena akan membunuhnya, tapi Alesya. Ia memikirkan Alesya, gadis baik itu masih pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah ini, Maria tidak akan menyerah untuk membantu dan melindungi Alesya yang sudah Ia anggap sebagai Sahabat dan Adiknya sendiri.


"Tunggu dulu sayang, jangan terlalu cepat. Sebaiknya kita pergi dsebelum mereka datang." Ucap Victor.


"Benar Lena."


"Baiklah Grandpa." Ucap Selena. "Kali ini kau selamat, bersiaplah untuk mengisi kuburmu sebentar lagi." Lanjutnya kemudian melepaskan jambakannya pada rambut Maria.


Alesya yang sedang resah mendengarkan kerubutan diluar, pasti Maria ketahuan. Dia bingung, untuk pergi dari sini pun sangat tidak memungkinkan. Akhirnya, sebelum Jerry datang. Alesya menuliskan surat petunjuk, mungkin saja Gil akan kemari. Ia lipat kemudian Ia taruh di bawah bantal, Ale juga memastikan dapat dilihat nantinya.


Ale kaget saat Jerry tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.


"Jerry." Panggil Alesya.


"Kemana sebutan paman untukku gadis manis." Ucap Jerry sambil mendekati Alesya dan mencengkram dagunya kuat.


"Awhh....lepaskan." Berontak Alesya.


"Dengar, jangan kira Aku bodoh. Pangeran mu itu tidak akan menemukanmu dimanapun sayang, dia akan mati sebelum menjemputmu."


PLAKK...


"Oh ya, aku rasa kalian yang akan mati sebelum Kau membunuhnya." Ucap Alesya. "Kau tahu, Gil itu lebih hebat darimu. Aku sarankan, kau berhati-hati. Karena kalian sudah berani menjauhkanku darinya brengsek." lanjut Ale memberanikan diri, Ia harus bertahan sampai Gil dan yang lain menjemputnya.


BUGHH...


Jerry memukul Alesya sangat keras, Ia tersulut emosi tidak terima dihina seperti ini. Ale terjatuh dan kepalanya terbentur ujung nakas kamar tidurnya, seketika darah keluar dari pelipis kanannya dan pingsan. Setelah Jerry sadar dan melihat Alesya yang sudah tidak sadarkan diri, dengan cepat ia memanggil bodyguard untuk membawanya kedalam mobil.


"Kau sudah membunuhnya paman?" Tanya Selena yang melihat Alesya dalam gendongan bodyguard itu dengan darah di wajahnya.


"Tidak, gadis lemah itu hanya sedikit ku beri pelajaran." Balasnya.


"Son ayo, kita harus pergi." Ucap Victor, lalu mereka pergi meninggalkan mansion itu.


................


Tak lama dari kepergian Victor, Gil bersama yang lain datang. Langsung memasuki rumah, semuanya kosong.


"Hell, apa-apan ini. Kau tidak salah Marvel, kenapa kosong seperti ini." Ucap Gil.


"Tenanglah Gil, semuanya cepat geledah rumah ini." Perintah Niel.


"Aku tidak salah, bukannya kau melihatnya sendiri." Balas Marvel.


"Sudahlah, jangan meributkan hal yang tidak penting." Lerai Sam.


Selang beberapa menit, salah satu anggotanya menemukan sebuah surat berwarna merah. Segera Ia membawanya untuk di bava oleh tuannya.


"Permisi tuan, saya menemukan ini di bawah bantal kamar atas. Sepertinya itu bekas ruang perawatan nona Alesya, masih terlihat beberapa obat dan selang infus disana.


Gil mengambil dan membacanya, Ia tersenyum setelah mengetahu isi surat ini. Wanitanya memang sangat pintar.


"*Desa yang tidak tertulis di peta Italia, tebing curam dan batu yang tinggi. Menyusuri Amalfia, ku harap kamu menemukanku."


^^^I Love You^^^


^^^AMG*^^^


"Apa isinya Gil, kenapa kau malah tersenyum seperti itu?" Tanya Niel heran.


Namun dering ponsel Gil berbunyi sebelum menjawab pertanyaan Niel.


"Dad?"


"Cepatlah kemari, aku sudah menunggu di pinggir pantai. Informanku berhasil menemukan Alesya." Ucap Gil di seberang sana.


"Aku sudah tahu, tunggu kami Dad." Jawabnya kemudian mengakhiri sambungan telponnya.


"Apa?" Tanya Niel Lagi.


"Furore Campania, Jerry membawa Alesya kesana. Kita harus cepat, Dad sudah menunggu dengan kapalnya." Jelas Gil.


"Benarkah?" Tanya Sam.


"Hmmm." Singkat Gil.


"Semua, kembali dan pergi menuju pinggir pantai Amalfi." Komando Marvel.


Tidak membutuhkan waktu lama, perahu yang Gio siapkan sudah terlihat disana.


"Dad." Sapa Marvel.


"Ayok nak, kita harus segera pergi." Ucapnya.


kemudian mereka naik dan mulai berlayar, di sepanjang jalan. Gil terus memikirkan Alesya Ia tidak sabar, bagaimna keadaan Alesya sekarang. Ia tidak tahu lagi jika sesuatu terjadi pada alesya, mungkin Gil akan menyalahkan dirinya atas semua yang tejadi pada Alesya.