
Gil merasa sangat marah karana hilangnya Alesya, di tambah lagi kolega bisnisnya yang mempunyai anak seorang model terkenal itu mengadakan makan malam bersama di sebuah resort yang pasti mengundang paparazzi. Mereka akan menyebarkan berita-berita murahan, Gil yakin itu.
Hanya dirinya yang di undang, Gil tidak kuasa menolak. Teman-temannya malah asik-asikan menikmati malam terakhir di sini dan, Gil sangat menahan amarahnya.
"Silahkan Mr.Rodrigez." Ucap Mr. Walter mempersilahkanya duduk.
"Kamu mau memesan apa Gil?" Tanya Jessica seperti sudah mengenal dirinya lama, Gil hanya melirik tidak minat tanpa menjawabnya.
Salah satu pelayan sudah datang menghampiri meja mereka dengan membawa beberpa hidangan dan, ternyata itu adalah pesanan Gil. Dia meminta pelayan salah satu resort miliknya untuk menghidangkan menu sebelumnya.
"Aku sudah memesannya terlebih dahulu." Ucap Gil santai.
"Maafkan putriku, silahkan menikmati hidangan anda Mr.Rodrigez." Sahut Mr.Walter.
Akhirnya setelah memesan, hidangan merekapun datang.
"Apa kamu akan pulang ke New york secepat itu Gil ?" Tanya Jessica lagi.
Gil yang sedang menyantap makannanya sama sekali tidak menjawab, Mr.Walter sudah mengerti menyenggol tangan putrinya.
"Makanlah, Mr. Rodrigez tidak akan berbicara jika sedang makan." Bisiknya.
Setelah beberapa mereka terdiam, melihat Gil sudah menyelesaikan makannya. Jessica menggunakan kesempatan itu untuk berbicara dengan billionaire tampan itu.
"Bagaimna dengan pertanyaanku tadi, apa kamu tidak akan menjawabnya?" Tanya Jessica.
"Ya, karena aku harus mempersiapkan persiapkan pesta pernikahan. Oh ya, jangan lupa untuk datang ke acaranya empat hari lagi." Ucap Gil mencoba tenang, Ia sengaja membawa kata pernikana agar Jessica berhenti mengejarnya.
"Tentu, Aku sudah menerima undangnnya. Pasti kami akan datang, benarkan Jessica?" Ucap Mr.Walter.
"Benarkah kamu akan segera menikah? dengan putri dari kalangan mana, seorang model kah? mungkin aku mengenalnya." Sangat jelas nada tidak suka yang Jessica ucapkan.
"Dia gadis sederhana, Aku mencintainya apa adanya. Jika kau ingin bertemu dengannya datanglah kepernikahan kami, dia wanita yang sangat baik." Gil memuji Alesya yang membuat Jessica semakin panas.
"Ya, mungkin kita akan berteman baik setelah ini." Ucapnya.
"Mungkin, Mr.Walter terima kasih atas undangan makan malamnya. Saya harus segera pulang karena, besok pagi sekali kami akan kembali ke New York." Pamit Gil sopan.
"Tak apa, seharusnya aku berterimakasih sudah bersedia makan malam bersama kami."
"Baiklah, jika seperti itu saya pamit pergi dulu. Sampai jumpa di pesta pernikahan nanti, aku tunggu kehadiran kalian." Ucap Gil.
"Ya sampai jumpa kembali Mr. Rodrigez, salamkan juga terimakasih kepada ayahmu Giovano karena sudah membantu masalah di perusahanku."
"Akan ku sampaikan, permisi." Setelah itu Gil pergi dengan du bodyguard yang mengekori di belakangnya.
"Dad, kenapa kau tidak memberitahuku bahwa Gilbert akan segera menikah." Kesal Jessica.
"Kau tidak bertanya dan, bukankah kau selalu menghindar jika menyangkut bisnisku. Ku peringatkan untuk mundur dan jangan ganggu hubungan mereka, kau tahu bukan siapa Rodrigez." Ucap Paul kepada putrinya.
"kita lihat saja nanti." Ucap Jessica.
Tibanya di mansion Gil langsung memanggil anak buahnya untuk menyiapkan keberangkatannya kembali ke New York malam ini juga.
"Dude, apa kau mabuk. Kita akan kemabali sekarang? malam ini juga?" Protes Niel.
"Jika kau keberetan dan masih ingin disini, Aku tidak melangrmu."Ucap Gil acuh.
"Jangan mulai lagi Niel, apa kau ingin menambah tato di wajah jelekmu itu."Sahut Sam.
"Menyebalkan sekali kau Sam, sepulang dari sini aku akan mengadu kepada Marvel." Ucap Niel tidak terima.
"Hell, are you serious...Yang ada Marvel akan menendangmu juga." Ucap Sam.
"Terserah."
"Bersiaplah Sam, biarkan dia jika tidak mau." Ucap Gil.
"Yayayaya sekarang aku benar-benar menjadi anak tiri." Ucap Niel asal.
"Aku tidak perduli." Balas Sam.
Akhirnya Niel juga ikut bersiap-siap, sebenarnya Ia tidak ingin pulang karena wajahnya yang masih terlihat bekas tonjokan Gil. Niel sangat merawat wajahnya dengan sangat baik, jika Ia keluar dengan wajah yang seperti ini. Sama saja Dia mempermalukan dirinya, menurunkan derajat pangeran tertampan katanya.
Disinilah sekarang, setelah bersiap mereka langsung pergi kebandara. Gil langsung memerintahkan kopilot untuk tidak menunda keberangkatannya, pikiran Gil penuh dengan Alesya. Ia tidak sabar bertemu Daddya untuk menanyakan dimana keberadaan Alesya.
"Gil, aku melihat paparazzi memotermu dengan model itu. Bukannya kalian pergi dinner bersama Mr.Walter?" Tanya Sam.
"Memang."
"Seperti tidak tahu saja mereka selalu melebih-lebihkan yang ada." Sahut Niel.
"Wajah kau bersama model itu terlihat di semua siaran TV, aku kira kalian hanya dinner berdua?"
"Kau kira aku mau pergi makan malam bersama wanita lain, di saat pernikahanku sebentar lagi ?" Jawab Gil sedikit meninggikan suaranya.
"Mungkin saja." Sahut Niel.
"Apa kau mau menambah lebam di wajahmu Niel?" Tawar Gil.
"Jangan repot-repot, sebaiknya mengembalikan wajah tampanku di banding menambahnya. Terimakasih atas tawarannya tuan Gilbert." Jawan Niel..
"Sepertinya kau harus berhati-hati dengannya Gil."
"Tenang saja Sam, jika dia berani. Lihat saja apa yang akan terjadi, aku pastikan dia akan menderita." Ucap Gil dingin.
Tidak ada yang berbicara setelah ini, Niel yang sudah tertidur pulas. Sam dan Gil mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, Sebenarnya Niel adalah penghidup di antara mereka.
Meskipun sikapnya yang sangat tidak mencerminkan seorang yang berwiba dan, selalu saja menjadi bullyan sahabatnya yang lain. Tapi Niel adalah orang yang apa adanya dan paling dekat dengan Gil, jadi sudah tidak aneh lagi jika mereka selalu berkelahi dan seletelah itu seperti tidak terjadi apapun.
Akhirnya mereka sampai di New york setelah hampir 9 jam melakukan perjalanan dari Roma Italia, Sam dan Niel langsung pulang ke rumah masing-masing. Begitupun dengan Gil yang sudah tidak sabar bertanya dimana kebaradaan Alesya, kepulangannya lebih cepat dari perkiraan. Karena Jessica membuat Gil muak berlama-lama disana dan, ingin segera kembali.