
Four day later
Alesya terbangun merasakan pening di kepalanya, tubuhnya sangat kaku untuk Ia gerakan. Tenggorokannya terasa kering, Alesya tidak mengenali kamar siapa ini.
"Rey." Alesya langsung teringat kecelakaan yang memnimpanya.
Kriettt ....
Tiba-tiba pintu hitam di depannya terbuka, menampilkan seseorang yang Alesya kenali.
"Paman Jerry." Panggil Aleysa memastikan.
"Ale kau sudah sadar, sebentar akan ku panggilkan dokter untuk memeriksan keadaanmu." Ucapnya kemudian pergi.
Tak lama Jerry masuk bersama seorang dokter dan memeriksanya.
"Semua baik, istirahat yang cukup. Kurasa lusa juga dia sudah mulai sehat kembali." Jelas dokter itu.
"Syukurlah, kau bisa pegri sekarang."
"Baik sir, permisi." Dokter itu pergi.
"Paman aku ada dimana, dan Audrey?" Tanya Ale.
" Saat kejadian itu kebutulan aku berada disana dan segera menlpon ambulance, para perawat itu membawa temanmu dan aku membawamu untuk dirawat dirumahku."ucapnya.
"Bagaimana keadaan Audrey, apakah dia baik-baik saja?" Tanya Ale khawatir.
"Tenanglah tidak terjadi hal serius kepadanya, jadi jangan khawatir okey." Ucap Jerry menenagkan.
"Kenapa paman membawaku ke sini dan, tidak dibawa kerumah sakit saja. Gil pasti mencariku paman, boleh aku menghubungi nya?" Tanya Alesya.
"Nanti saja, sebaiknya kau tidur dan istirahat. Sebentar lagi asistenku akan membawakan makanan untukmu." Nada bicara Jarry berubah menjadi sedikit kasar.
"Tapi aku harus segera menghubunginya paman. Tolonglah.." Ucap Alesya memohon.
Dan yang dilakukan Jerry membuat Alesya terkejut, dia mengabaikan permintaanya. Ale baru ingat tentang foto keluarga yang ada di mansion itu dan rekaman audio yang di berikan Sam, Jerry adalah pamannya Selena. Pasti dia akan berniat jahat karena bekerjasama dengan keponakannya.
Alesya bingung harus melakukan apa disaat dirinya terbaring lemah di sini, semuanya sudah terencana. Dia harus berbuat sesuatu untuk keluar ataupun sekedar memberitahu Gil, biarkan hari ini Ale beristirahat dan memulihkan kesehatannya.
Ada seorang pelayan wanita yang datang membawakan nampan untuk Alesya makan, ternyata dia adalah asisten yang dimaksud Jerry tadi.
"Permisi Nona, saya di perintah tuan jerry untuk melayanimu disini. Apakah nona akan makan sekarang?" Ucapnya sangat sopan, dapat dilihat usia wanita ini mungkin hanya beda beberapa tahu diatasnya. Kemudian wanit itu menyodrkan semangkuk sup dan, membantu Ale bangun.
"Terimkasih..eemm.."
"Maria, nama saya Maria." Sahutnya.
"Ya terimakasih Kak Maria." Ucap Alesya dan Maria kaget di panggil Kak olehnya. "Namaku Alesya, sepertinya Kakak lebih tua dariku. Jadi tak apa bukan kalau aku memanggilmu seperti itu?"
"Tak apa nona, tapi jika di hadapan tuan anda jangan memanggilku seperti tadi." Pintanya.
"Tentu dan, Kakak juga jangan menyebutku dengan nona. Aku lebih tua darimu bukan ? dan ayo bertemanlah, Aku tidak pernah merasakan bagaima punya kakak perempuan."
"Apa, emm bba...baiklah. Terimakasih Ale, aku bahagia akhirnya bisa mempunyai teman sekaligus adik sekarang."
"Sama-sama Kak Maria."
"Sekarang, kau harus makan sup ini mumpung masih hangat. Sudah empat hari kau tertidur, pasti lapar bukan." Ucap Maria bersiap menyuapi Ale.
"Tunggu, empat hari?" Tanya Alesya kaget.
"Iya, kau koma dan baru sadar hari ini. Tuan Jerry membawamu yang sedang terluka dan, merawatmu disini."
"Astaga, Gil pasti sedang mengkhawatirkanku." Ucapnya cemas.
"Siapa?"
"Calon suamiku, kita akan menikah dua minggu lagi. Aku harus segera pergi dari sini Kak dan, jerry sengaja menahanku disini."
"Benarkah, Aku tidak tahu kau menjadi tahanan tuan Jerry. Tenanglah sebaiknya pulihkan dirimu dan, kita pikirkan ini nanti." Ucap Maria menenangkan.
Maria mulai menyuapi Alesya yang terlihat berpikir keras untuk segara pergi dari sini, begitupun dengan Maria yang tidak habis pikir kenapa taunnya menahan seorang gadis baik seperti Alesya.
"Apa dia juga sama seperti ku, korban sebagai ganti membayar semua hutang orang tua ku ?" Batin Maria.
Setelah beberapa menit menyenghabiskan makanan dan meminum obatnya, Maria tidak langsung keluar.
"Apa Aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Maria.
"Emmm, apa kau di tahan disini karena sebagai ganti membayar hutang orang tua mu?"
"Maksud Kakak?"
" Sepertiku, Aku dipaksa kemari sebagai ganti untuk melunasi semua hutang yang ayah pinjam dari tuan Jerry. Aku di pekerjakan disini sebagai pelayan namun, dia sangat tidak berbelas kasihan. Dengan Alasan orang tua ku yang berisik karena tidak terima anaknya dibawa, Tuan jerry menembak mati mereka di hadapanku."Jelas Maria yang sudah berkaca-kaca.
"Astaga, ternyata dia jahat sekali." Alesya tidak percaya orang yang menyelatkannya saat itu adalah rubah iblis yang menjelma sebagai malaikat.
"Awalnya aku terus berontak tidak terima, tuan jerry melangar kesepakatan untuk tidak membunuh ayah dan bundaku. Aku dipaksa dan di siksa jika tidak menurut apa yang dikatakannya, hingga akhirnya sekarang aku pasrah menerima takdir yang mungkin akan bernasib seperti ini." Dan sekarang Maria benar-benar menangis.
"Jangan berbicara seperti itu, Aku yakin kita akan keluar bersama-sama dari sini. Bersabarlah dan mari kita buat rencana untuk pergi dari sini." Ucap Ale.
"Benarkah?"
"Tentu, Gil dan yang lain pasti sedang mencariku. Kita hanya perlu bersabar dan membuat rencana, setidaknya untuk pergi dari sini."
"Yasudah, sebaiknya kau istirhat dulu. Nanti aku akan kembali saat sore untuk membawakanmu makan."
"Hmmn iya Kak, aku juga sedikit merasa pusing."
"Baiklah sampai jumpa nanti." Pamitnya dan pergi keluar digantikan Jerry bersama seorang wanita masuk kedalam.
"Bagus sekali paman, aku tak mengangka kau berakting sangat bagus." Ucapnya.
"Selena." Batin Alesya yang terbaring dan pura-pura tertidur.
"Hahaha, aku berbakat bukan."
"Jadi apa yang akan paman lakukan setelah ini?" Tanya Selena.
"Kita lihat saja nanti, aku dan Kakekmu sudah menyiapkan sesuatu yang besar untuk membalaskan dendam kita Lena." Jawan Jerry sangat berambisi.
"Baikalah, aku ingin segera melenyapkan mereka."
"Bersabarlah little girl." Ucap Jerry kemudian pergi meninggalkan kamar itu bersama Selena.
Alesya menangis takut, apa yang akan mereka lakukan pada Gil. Untuk sekarang dia harus memulihkan keadaanya terlebih dahulu dan, semoga saja Gil cepat menemukannya.
....................
PRANGGG....
Suara pecahan gelas terdengar begitu nyaring, Gil sangat berantakan setelah Alesya pergi dan belum di temukan.
Anak buahnya masih mencari, Marvel pun dihubunginya untuk membantu. Tapi, masih belum ada perkembangan mengenai keberadaan Alesya.
Entah kenapa, kali ini semuanya sangatlah rapat dan bersih tanpa meninggalkan jejak apapun. Orang misterius yang sengaja memperlihatkan dirinya, itu juga masih tidak ditemukan.
Victor juga menghilang tanpa jejak, menyulitkan Gil bersama yang lainnnya sulit melacak keberadaannya. Apartment sangat berantakan, tidak ada seorang pun yang boleh masuk. Gil marah pada dirinya sendiri karena tidak becus menjaga Alesya sesuai janjinya.
"Astaga kawan-kawan lihatlah gudang ini sangat berantakan sekali." Sapa Niel saat masuk kedalam apartment Gil yang gelap.
"Pergilah." usir Gil.
"Sam tolong ambilkan champagne dari bar milik lelaki ini." perintah Marvel dan, Sam pergi untuk mengambilnya.
"Bodyguard mu sangat bodoh Gil, sebaiknya kau ganti saja." Ucap Niel.
Gil hanya diam saja, para sahabatnya sangat khawatir dan sedih jika dia tetap seperti ini. Menyiksa dan, mengurung dirinya sendiri.
Sam datang dan menuangkannya kedalam gelas, kemudian duduk di sofa panjang sebelah Niel.
"Mau sampai kapan kau seperti anak kecil seperti ini. Bukannya mencari malah diam dan tidak melakukan apapun, bodoh." Ucap Marvel.
"Alesya butuh kau disaana, jangan jadi pria paling menyedihkan Gil. Kau seorang yang kuat kenapa beurubah lembek seperti ini, bangunlah. Kau seperti bukan Gil yang kami kenal." Ucap Sam.
"Benar apa yang dikatakan mereka Gil, sebaiknya kita terus mencari dimana kemungkinan Alesya di bawa olehnya." Sahut Niel.
"Sudah empat hari Alesya tidak di temukan, yang kita harapkan hanyalah cicin itu. Pencarian sedang kita lakukan di seluruh New york, aku tidak pantas bersamanya Niel. Aku gagal lagi menjaga Alesya." Ucap Gil.
"Kau boleh beristirahat sejenak Gil, tapi jangan terlalu lama." Ucap Sam.
"Perintahkan pelayanmu untuk membereskan ke kacauan yang kau perbuat, ikut aku ke markas dan disana kita bisa mulai mencari keberadaan Ale." Perintah Marvel.
Semuanya bangkit dan pegri meinggalkan apartment, tanpa berbicara sepatah katapun Gil ikut bersama mereka setelah meminta kepada bodyguard nya untuk menjaga dan memberitahukan beberapa pelayan untuk membereskan apartment nya.
Oh ya, Audrey sudah kembali sehat. Hanya tangannya saja yang masih di gif karena cedera, Niel yang selalu menjaganya di sela-sela mencari Alesya. Adela juga pulang bersama Marvel setelah mendapati Alesya hilang dalam kecelakaan.