
Tak terasa pagi sudah menjelang, semuanya sudah menyelesaikan sarapan dan akan melakukan aktifitas masing-masing seperti biasa.
Marvel dan Adela sudah pulang bersama Audrey dan Niel, hanya ada Sam yang belum pergi.
Sesuai perkataan Gil kemarin, Dia akan membawa Alesya ke suatu tempat. Mereka sudah siap dan, akan segera pergi.
"Gil, bolehkah aku berbicara sebentar dengan kalian?" Cegah Sam saat mereka akan pergi.
"Tentu Sam, ada apa?" Jawab Alesya dan kembali bertanya.
"Mengenai pernikahan kalian, sebelumnya maafkan aku kemarin malam saat kalian sedang mengobrol. Aku tidak sengaja mendengarnya, lakukanlah apa yang seharusnya di lakukan Alesya. Tidak perlu merasa tidak enak denganku, Qila juga pasti mengerti dan akan sedih jika kau mengundurkan acara pernikahan kalian." Jelas Sam.
"Jadi kau mendengar semuanya Sam?" Tanya Gil.
"Hanya tentang pengunduran acara pernikahan kalian saja, saat itu aku ingin kesana untuk menenangkan diri tapi, tidak jadi karena ada kalian dan, ketika aku akan pergi Alesya mengatakan tentang itu." Ucap Sam.
"Maaf aku tidak bermaksud seperti itu tapi.." Ucapan Alesya terpotong.
"Tak apa, aku mengerti. Terimakasih sudah mau perduli denganku, sungguh aku baik-baik saja." Ucap Sam.
"Jika seperti itu, terimakasih Sam." Ucap Alesya.
"Sama-sama, Oh ya dude. Bolehkah aku menginap beberapa hari disini, sepertinya aku sedang takut sendirian di rumah." Ucap Sam.
"Lakukan semaumu, jika menolak pun. Mom dan Dad pasti akan mengizinkan." Balas Gil.
"Okeyy, kalian akan pergi kemana?" Tanya Sam melihat pakaian yang di kenakan mereka.
"Ke tempat, calon istriku ini akan merasa sangat bahagia dan berterimakasih kepadaku." Ucap Gil angkuh.
"Benarkah? kita lihat saja nanti." Alesya membalasnya ketus.
"Hemmm, yasudah. Apa kalian akan berdiam disini dan, tidak akan pergi." Ucap Sam..
"Kau mengusir kami di mansion ku sendiri? kurang ajar." Kesal Gil.
"Tentu, berhati-hatilah Alesya." Ucap Sam kemudian pergi meninggalkan mereka begitu saja.
"Sialan." Umpat Gil.
"Jangan terus mengumpat, ayo pergi sekarang." Ucap Alesya.
"Mari princes." Balas Gil membantu Alesya berjalan.
Alesya memang memaksa tidak ingin menggunakan kursi roda, Supaya jalannya juga tidak kaku jika terus duduk saja. Jadilah Alesya memilih menggunakan tongkat meskipun harus berdebat dengan Mr.protective ini. Berhubung pernikahannya tinggal menghitung jari, Alesya harus pulih dengan cepat.
Ia tidak mau menggalkan pernikahannya karena, sang mempelai wanita duduk di kursi roda. Alesya ingin merasakan bagaimana menjadi seorang pengantin, yang katanya menjadi ratu semalam. Ia tidak sabar akan itu, rasanya masih terasa seperti mimpi.
"Sweetheart." Panggil Gil.
"Alesya." Panggilnya lagi.
"Iya kenpa Gil?" Jawabnya.
"Kamu melamun ternyata."
"Tidak." Sangkal Alesya.
"Tidak mau mengaku, ayo." Ucap Gil lalu membantu Alesya untuk berjalan dan menaiki mobil.
Di perjalanan Alesya tidak bertanya, Ia malas dan masih mengantuk karena kejadian kemarin harus membuatnya bergadang. Gil juga memilih diam, setengah perjalanan berlalu. Ternyata Alesya tertidur, Gil hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa dia tidak tidur semalam." Gumanya kemudian membenarkan letak Alesya agar nyaman.
................
Maria bingung harus melakukan apa, rumah ini sangat besar. Dia tidak di perbolehkan melakukan pekerjaan apapun disini, luka di tangannya juga sudah mulai membaik meskipum masih di perban.
Akhirnya Maria memutuskan pergi ke halaman belakang, melihat ikan di kolam. Tiba-tiba Ia merasa seseorang duduk disampingnya.
Maria yang kaget langsung berdiri dan akan pergi, tapi tangannya di cekal oleh Sam. Iya, orang itu Samuel.
"Duduklah, temani aku di sini." Perintah Sam.
Maria hanya menurut, dia tidak mau membuat kekacaun di rumah orang yang sudah menyelamatkah hidupnya.
"Maria Smith, benar?" Tanya Sam.
"Iya tuan." Jawabnya.
"Samuel Delvano, panggil nama saja. Kau bukan pelayanku, bersikaplah seperti biasa."
Seketika Maria kaget, Delvano adalah salah satu nama orang terkaya. Walaupun dia belum pernah bertemu atau melihat wajahnya, tapi dia tahu nama-nama orang yang sering menjadi perbincangan masyarakat.
"Tuan, anda...Astaga. Aku baru pertama kali melihat mu secara langsung, ternyata masih sangat muda." Ucap Maria antusias.
"Kita seumuran sepertinya." Balas Sam.
"Mungkin, Aku tidak menyangka. Tunggu...atau jangan-jangan pria kemarin adalah sahabatmu Marvelino Darko dan, Danielo Francisco?" Tanyanya.
"Tentu, jika kau ingin tahu juga. Sekarang kita sedang berada di mansion keluarga Rodrigez."
"Ya tuhan, mimpi...ini bukan mimpi kan." Maria tidak percaya.
Tingkahnya membuat Samuel terkekeh, Ia baru saja melupakan kesedihannya.
"Kenapa Alesya tidak memberitahuku." Rutuknya.
"Sudahlah, kau konyol sekali."
"Bukannya seperti itu, bagiku. Bertemu dengan orang terpandang seperti kalian menjadi salah satu impian, apalagi aku sering mendengar nama-nama itu saat di luar. Orang-orang banyak memperbincangkan mengenai kalian, itu juga membuatku penasaran."
"Kau tidak pernah tahu rupa kami seperti apa dan, hanya sekedar sering mendengar jadi kau penasaran?" Tanya Sam.
"Ya, dalam pikirku kalian adalah pria berumur. Oh ya kecuali Gilbert Alejandro Rodrigez itu, aku tahu dia adalah sorang billionaire muda."
"Tahu karena mendengar juga?"
"Ya." Singkat Mari sambil mengangguk-angguk.
"Hidup di jaman apa kau, apa tidak pernah menonton televisi?"Tanya Sam.
" Aku hanyalah seorang pelayan rendahan, tuan Jerry membawaku paksa. Ayah berhutang padanya karena, belum bisa melunasi semua hutang-hutang. Dia mau aku sebagai gantinya."
"Lalu kemana orang tua ku sekarang?"
"Meninggal, tuan Jerry membunuhnya di hadapanku sendiri." Maria tidak meneteskan air mata atau sekedar berkaca-kaca, air matanya sudah kering. Ia juga harus jadi anak yang kuat, orangtua nya pasti tidak suka jika Maria terus saja menangisi kepergian mereka.
" Maaf, aku tidak tahu." Ucap Sam, dia juga dapat melihat. Seberapa tegarnya wanita di sampingnya ini, Sam merasa kagum ada seorang wanita kuat menghadapi semua ini sendirian. Tapi Sam tahu, Maria adalah sosok wanita yang terlihat kuat namun, rapuh di dalam.
"Tak apa, aku sudah terbiasa."Balas Maria sambip tersenyum mencoba menguatkan dirinya.
" Apa kalian berpacaran?"Tanya Maria tiba-tiba.
"Belum, tadinya aku akan melamar dia setelah misi pemyelamatan Alesya. Tapi tuhan berkehendak lain, Aku tidak bisa melakukan apapun dan harus menerimanya bukan." Jawab Sam.
"Iya, kita sebagai manusia yang masih diberi kesempatan hidup harus tetap melanjutkannya. Mereka juga pasti ikut bahagia di atas sana, jika kita juga bahagia disini."
"Iya, kau benar. Biarakan mereka tersimpan di hati yang paling dalam untuk kita kenang.....Terimakasih." Ucap Sam.
"Kenapa?"Tanya Maria bingung.
"Mau menemaniku."
"Sama-sama, jika kau ingin teman bercerita jangan sungkan. Aku adalah pendengar yang baik, jika kau ingin tahu." Sombongnya.
"Tentu." Ucap Sam.
Dari lantai atas Bela melihat interaksi keduanya, Ia bersyukur Sam terlihat sudah bisa menerima kepergian Qila. Dari semua sahabat Gil, Samuel-lah yang paling dekat dengan bela. Sedangkan Niel lebih dekat dengan Gio dan, berbeda dengan Marvel yang netral.