My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 60



Semuanya sudah berakhir, ketakutan dan rasa khawatir akan gangguan Victor sudah selesai. Gil bersama yang lain sedang mengudara menuju mansion milik keluarganya di italia, Alesya dan yang lain membutuhkan perawatan segera. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk kembali ke New York dalam kondisi seperti ini, jadi Gio menyarankan untuk tinggal beberapa hari di sini.


Tidak membutuhkan waktu lama, sampailah di tempat tujuan. Segera mereka mendapatkan pengobatan, untung saja Marvel yang seorang dokter tidak mengalami luka atau cedera yang parah. Jadi, Dia bisa membantu mengobati yang lain.


"Vel, tolong periksa Qila terlebih dahulu." Pinta Gio yang tidak tega melihat Sam, Dia seperti kehilangan separuh jiwanya.


"Tentu Dad." Balas Marvel kemudian menghampiri Sam yang terus memeluk Qila.


"Biarkan aku memeriksanya Sam." Ucap Marvel.


"Vel, Qila masih hidup kan. Dia akan bangun dan berkumpul bersama kita, tolong Vel. Kau pasti bisa, Aku yakin ." Ucap Sam memohon kepadanya.


"Baringkanlah terlebih dahulu Sam." Ucap Marvel.


Qila memang sempat diberikan perawatan seadanya oleh Marvel di pesawat, tapi kondisinya yang sangat lemah membuat kesempatan hidupnya sangat kecil. Apalgi ditambah penyakit yang di deritanya menyebabkan kondisi Qila sangat tidak baik jika telat di berikan pertolongan pertama.


Untunglah Qila masih bernafas, walaupun sangat lemah.


"Tenanglah Sam, Aku akan mencoba membantunya. Tapi, kemungkinan untuk hidup hanya 0,1%." Ucap Marvel.


"Wujudkan 0,1% itu menyanjadi kenyataan Vel, Dia masih bisa hidup." Balas Sam.


"Sam." Panggil Alesya yang sudah menerima pengobatan pada luka-lukanya, Dia yang duduk di kursi roda meminta Gil untuk mendorongnya lebih dekat.


"Sabarlah Sam, Qila pasti akan baik-baik saja. Dia hanya perlu perwatan intensif, Dad Gio akan membawanya kerumah sakit." Lanjut Alesya.


Grappp...


Sam memeluk Alesya dan, menumpahkan segala kesedihannya. Gil tidak marah, Dia juga pasti akan merasa hancur jika yang terbaring disana adalah Alesya.


Sam bercerita kepada teman-temannya sebelum pergi untuk misi penyelamatan Alesya, Ia akan melamar Qila setelah semuanya selesai. Tapi, semua sangat berbanding terbalik dengan apa yang di harapakan Sam. Syaqila ikut dalam pencarian Ale dan, berakhir seperti ini.


Alesya hanya diam, membiarkan Sam menangis dalam pelukannya.


"Sudahlah Sam, sebaiknya bersihkan dirimu. Setelah itu Kembali dan, kau boleh menjaga Qila disini." Ucap Gil.


"Ya Sam, biarkan Aku dan Gil yang menjaganya disini untukmu." Ucap Ale.


"Baiklah, tolong jagalah sebentar." Sam kemudian pergi bersama Marvel mengekor di belakangnya, Dia juga ingin membersihkan diri.


Alesya sangat sedih, melihat Qila terbaring lemah seperti ini. Apalagi Ia baru mengetahui Qila menderita penyakit yang sudah tidak bisa di sembuhkan lagi, pantas saja waktu Ale di rawat di rumah sakit waktu itu. Qila yang sama berada disana untuk cek kesehatan, apa Marvel tahu juga?


"Qila bangunlah, kau harus kuat. Aku ingin kita hangout ber empat, terserah kau mau pergi kemana kita akan menurut saja." Ucap Ale.


"Jangan membuat Sam sedih. bukannya kau belum mendengar balasan cinta dari Sam." Lanjutnya.


"Aku yakin dia juga mencintaimu, kalian pasti akan menikah dan hidup bahagia setelah ini." Alesya terus saja berbicara, hatinya sakit. Qila yang sangat membentengi dirinya dengan sikap angkuh ternyata menyembunyikan sakit yang tidak pernah di ketahui siapapun termasuk orang tuanya.


Tiba-tiba tangan di gennggaman Alesya bergerak, Gil yang melihat itu sontak membuyarkan lamunan Alesya yang tidak menyadari Qila sudah sadar.


"Sweetheart, Qila sadar." Ucap Gil.


Sontak Alesya langsung melihat kearah Qila yang sudah membuka mantanya, Gil tidak ada. Dia memanggil Marvel dan Sam untuk datang kemari.


"Qila, syukurlah." Senang Alesya.


"Sam." Lirihnya.


"Tungglah, Gil sedang memanggilnya kemari."


Tak lama pintu terbuka menampilkan Sam yang langsung mendekap Qila, disusul Marvel, Niel dan, Dad Gio. Sedangkan Gil, sudah berdiri di belakangnya.


" Alesya."Panggil Qila.


"Iya Qila, Aku disini." Jawab Ale kemudian Gil mendorong kursinya mendekat kerahnya.


"Thanks for everything......Aku...Akan selalu mengingat....kalian." Ucapnya dengan susah payah.


"Jangan berterimakasih, kita adalah keluarga sekaligus sahabat. Dalam peraturannya tidak ada kata terimakasih ataupun Maaf, cepatlah pulih. Adela dan Audrey bersama kedua orangtuamu sudah menunggu kita kembali Qila." Ucap Alesya.


"No, untuk....yang terakhir ...Aku...mau berterima...kasih sudah mau....menjadi sahabat...dan keluarga bagi...ku." Jeda Qila dan berali menggemam tangan Sam.


"Kau...tidak mau....mengucapkan...apapun padaku?" Tanya Qila dengan senyuman yang terlihat dipaksakan karena menahan sakit.


"I love you more Syaqila Johnson."Ucap Sam kemudian mencium Qila lembut, air matanya tidak berhenti mengalir. Ia tahu apa yang di ucapkan Qila adalah perpisahan terakhir untuknya.


Ya, Qila sudah pergi untuk selamanya. Meninggalkan cinta bagi Sam dan, semuanya.


" Marvel, apa yang terjadi pada Qila."Panik Alesya.


"Tenanglah Sweetheart." Gil mencoba menenangkannya.


"Dia sudah tenang Ale." Ucap Marvel.


"Gil, Marvel berbohong kan. Qila masih hidup, setelah kembali kita akan berlibur bersama." Ucap Alesya yang sudah menangis dalam dekapan Gil.


Niel dan Gio hanya diam, mereka tidak menyangka. Untunglah sebelumnya Gio sudah menghubungi keluarga Johnson untuk ke Italia, mungkin besok mereka akan datang dan mendapati putri semata wayangnya sudah tiada.


Niel menghampiri Sam dan menepuk pundaknya.


"Aku yakin kau kuat Sam." Ucap Niel, setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan, Dia akan mempersiapkan semua perlengkapan Qila.


"Kita tidak tahu hal paling berharga apa yang tuhan ambil, semua orang akan merasakan kehilangan. Bersabarlah, sekarang Dia sudah tidak merasakn sakit lagi." Ucap Gio menguatkan dan, menyusul Niel untuk membantunya.


"Sweetheart sebaiknya kamu juga istirahat, pikirkan kesehtanmu juga. Besok kita akan pulang untuk memberikan tempat terakhir, biarkan yang lain mengurus ini semua okey."


Ucap Gil.


Alesya hanya mengangguk dan melihat kearah Qila sebelum pergi.


Marvel masih ada disana dan beberapa suster yang baru saja datang untuk membantunya melepaskan semu alat dan, menggantikan Qila dengan gaun putih. Sam hanya diam melihatnya, tatapannya kosong.


"Qila, jika kau tidak ikut bersama kami. Mungkin sekarang aku sudah melamarmu, memang semuanya tidak adil. Aku baru saja merasakan cinta sesungguhnya dan kini tuhan merebutnya kembali. Perasaanku kalut Qila, Aku marah dan kecewa tidak bisa menjagamu. Tapi aku lega dengan kepergianmu ini, mungkin kau sudah bahagia berkumpul bersama kedua orangtua kandung dan juga Selena. Kau tidak merasakan sakit lagi setiap hari, Aku harap kita bisa bertemu di kehidupan yang selanjutnya Syaqila." Batin Sam.


.................


Pagi sekali di kediaman Rodrigez, Bela bersama kedua sahabat Alesya sedang melihat siaran berita italia.


"Siang tadi telah terjadi ledakan besar di daerah pedesaan Amalfi , lebih tepatnya di Furore Campania Italia. Lokasi yang terjal dan tebing curam, menyulitkan penyelidikan. Pemadaman dilakukan melaui jalur udara, hampir 5 jam. Setelah diselidiki ternyata ledakan itu berasal dari bagunan tua , menurut warga sekitar. Sering banyak sekali orang-orang misterius yang datang menggunakan mobil truk besar, ternyata bangunan itu adalah gudang penyimpanan senjata ilegal dan obat-obatan terlarang, terbukti dari di temukannya sisa-sisa bekas ledakan. Korban yang di evakuasi juga tidak sedikit, sebagian dari mereka banyak yang tidak utuh ataupun hancur, kepolisian masih menyelidiki kasus ini." Kurang lebih seperti itu reporter wanita yang sedang menyiarkan berita Italia.


"Astaga Mom, bagaimana dengan mereka." Ucap Adela khawatir.


"Tenang sayang, Gio sudah menghubungi Mom tadi. Mereka akan kembali besok bersama yang lain, semuanya pasti baik-baik saja." Ucap Bela menenagkan.


Mereka tidak pulang kerumah masing-masing, Adela yang memang di titipkan oleh Marvel di sini karena orangtuanya yang sedang tidak ada di New york. Sedangkan Audrey, Ia ingin bersama Adela menunggu Ale kembali.


"Huff syukurlah, Aku harap mereka kembali dengan cepat. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan Alesya." Ucap Adela.


"Ya, kita tunggu mereka besok." Ucap Bela, dia tidak memberitahu mengenai kepergian Qila.