
Langit malam begitu kelam, setelah Maria membawakan makan sore dan obat yang harus Ale minum, Dia masih berada di kamar. Alesya meminta Maria pada Jerry untuk menemaninya disini dan, di izinkan olehnya.
"Kak, kenapa nasib buruk selalu saja terjadi padaku. Baru saja kebahagian akan datang tapi, semua itu sudah diambilnya kembali. Sebenarnya apa salahku Kak, Aku tidak pernah mengeluh dan bersikap kasar pada siapaun, tapi kenapa tuhan selalu saja menghukum ku seperti ini." Keluh Alesya.
"Jangan berbicara seperti itu Alesya, hidup memang keras dan kejam. Kita harus yakin setelah kesedihan dan setiap masalah yang dihadapi, tuhan pasti akan memberikan kebagaian tak terhingga setelahnya."
"Kau bener Kak, untunglah kamu ada disini. Jika tidak, mungkin aku akan sendirian." Ucap Alesya sambil memeluk Maria.
"Begitupun denganku." Balasnya.
"Aku hampir lupa, apa ini masih di new york?" Tanya Alesya yang baru ingat, entah kemana Jerry membawanya.
"Tidak, kita sedang berada di Amalfi Italia. Tuan Jerry membawa mu di hari kedua setelah kecelakaan dan bersamaku, awalnya aku kira kau salah satu keluarganya." Jelasnya.
"Asataga, Kak boleh pinjam ponselmu?"
"Aku tidak di perbolehkan mempunyainya Le, jika ingin mungkin aku bisa manggunakan telepon rumah."
"Bagaimana caranya ? Itu akan sangat sulit!"Tanya Alesya.
" Kita harus menunggu Tuan Jerry dan Nona Selena pergi dulu, baru kita bisa menggunakannya." Saran Maria.
"Dan kapan mereka akan pergi?"
"Ku dengar lusa mereka akan akan pergi berkunjung ke rumah tuan besar, tak apa bukan jika kita menunggu sebentar?"
"Tidak masalah, asalkan aku bisa menghubungi Gil atau sahabatku."
"Baiklah, sekarang kau tidurlah."
"Kau juga Kak."
"Selamat malam." Ucap Alesya.
"Malam." Balas Maria kemudian pergi.
Hari yang di tunggu-tunggu Alesya tiba, Jerry sudah berada di hadapannya berpakaian rapih.
"Ale, aku akan pergi dulu. Jagan pergi keluar dan melakukan hal apapun, para penjaga sudah aku perintahkan untuk menjagamu di setiap sudut tempat. Jangan mencoba untuk kabur dariku gadis manis." Ucap Jerry mengancam.
"Mengerti?" Bentak Jerry.
"Ii..iya." Cicit Alesya.
"Bagus, bersenang-senanglah." Ucap Jerry dan pergi meninggalkan Alesya.
Tak beberapa lama Maria datang dengan terburu-buru ke kamar Alesya.
"Bagaimana Kak, mereka sudah pergi?" Tanya Ale langsung.
"Sudah, cepat mana nomor yang akan aku hubungi." jawa Maria.
Alesya menuliskan di telapak tangan Maria agar tidak di curigai, nomor Gil, Audrey dan, Adela iya tulis di telapak tangnnya jikalau salah satu dari nomor yang Ale berikan tidak aktif, Maria bisa mengubungi yang lainnya.
"Sudah, semoga berhasil Kak."Ucap Alesya sambil memeluk Maria erat.
" Hey kenapa kau menangis Ale?"Tanya Maria melepaskan pelukannya dan melihat Alesya sudah menangis.
"Terimakasih, aku harap Kita bisa keluar dan menakimati hidup yang normal setelah ini." Ucap Alesya.
"Ya Aku harap juga seperti itu, sudahlah. Aku akan kebawah dan segera menelpon mereka, berdoalah semoga tidak ketahuan."
"Pasti kak, berhati-hatilah."
Maria berakting seperti sedang menjawab telpon, padahal sebelum itu dia sudah menuliskan nomor Gil yang katanya calon suami Alesya.
"ciao ... con residenza maures. C'è qualcosa che posso aiutare?" Ucap Maria dengan bahasa Italia.
"Siapa ini siapa?"
"Ohh, mi dispiace che il signor Miss Alesya stia riposando."Balasnya berpura-pura.
" Apa maksudmu siapa ini?"
"Oh mio dio mi dispiace, pensavo fossi un grande maures."
"Aku tidak mengerti, kau jangan membuatku marah. Diamana Alesya calon istriku hah?" Teriak Gil di seberang sana.
"Se è così, perdonami ancora una volta, lo dirò al signor Jerry più tardi."Ucap.Maria
" Apa?" Jawab Gil yang tidak mengerti apa yang dibicarakan wanita ini.
"costs d'Italia." Lanjutnya berbisik sangat pelan, Maria berharap Dia dapat mendengarnya.
"Grazie Signore." Maria menutup telponnya sengan keringat yang sudah membasahi wajahnya karena takut ketahuan.
Setelah itu, Maria langsung menuju kamar Alesya dan memberitahunya.
"Huffftt.. selamat. Aku berhasil Ale, semoga calon suamimu mengerti ucapan yang aku katakan padanya." Ucap Maria.
"Maksudanya?" Tanya Ale bingung.
"Disana banyak sekali penjaga, jadi aku harus berpura-pura. Aku hanya bisa memberikan petunjuk, itupun jika dia mengerti."
"Gil pasti mengerti, kita tunggu saja kak. Semoga dia segera membaskan kita."
"Iya."
.................
Di lain tempat Gil yang baru saja mendapatkan telpon dari nomor asing. Untunglah Gil mengerti apa yang di ucapkan wanita itu, tapi ada yang janggal.
Setelah Gil memberitahu kepada sahabatnya, Sam langsung mencari nomor asing itu beserta rekaman pembicaraan mereka.
"costs d'Italia, artinya pesisir Italia. Apakah itu petunjuk?" Tanya Sam.
"Gotcha, aku sudah menemukannya. Lihatlah!" Sahut Marvel.
Disana hologram menunjukan sebuah pesisir pantai italia, setelah titik merah yang menunjukan sinyal nomor itu di perjelas. Sebuah rumah klasik di ujung pesisir dengan banyak penjagaan, mereka tidak tahu milik siapa itu. yang pasti ada hubungannya dengan jerry dan, Victor.
"Kita harus segera kesana, Alesya pasti dalam bahaya." Ucap Niel.
"Anthony tolong perisapkan penerbangan ke Italia sekarang." Perintah Gil.
Tidak butuh waktu lama, di depan markas sudah ada pesawat milik Gil yang bertuliskan Rodrigez. Segera mereka begegas dan melangsungkan penerbangan menuju Amalfia Italia.
Marvel terus memantau pergerakan yang ada disana, tidak mau terjadi kesalahan harini. Para anggota yang berada disana sudah Niel perintahkan untuk menuju tempat yang sudah di tentukan.
Sudah seminggu Alesya belum juga di temukan dan, sekarang seseorang tiba-tiba menghubunginya dan memberitahu keberadaan Alesya.
"Tenanglah Gil, Alesya pasti akan baik-baik saja. Dad Gio juga menyusul, kuharap semuanya akan kita selesaikan hari ini." Ucap Niel.
"Hmmmm." Gil hanya berdehem sebagai jawaban.
Tidak ada lagi pembicaraan dari mereka setelah obrolan singkat, Gil dan yang lain tidak gegabah asal datang. Berbagai rencana sudah di buatnya, pasti sangat banyak pasukan Maures karena disini adalah tempatnya.