My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 52



Setelah acara pesta pernikahan sahabatnya, mereka tidak langsung pulang ke mansion karena memang jaraknya yang jauh. Acara berlangsung sampai larut malam, jadi Gil bersama teman-teman memutuskan untuk menginap. Untung saja Marvel sudah menyiapkan semuanya, memang sahabat yang pengertian.


Pagi sekali Alesya sudah bangun dan keluar dari kamar hotel, langit-pun masih gelap. Ia berjalan sangat berhati-hati dan pelan karena, luka di kakinya belum sembuh total. Sebenarnya Alesya sudah sedikit bisa berjalan, tapi Gil tetap saja memaksanya untuk menggunakan kursi roda. Menyebalkan, tapi Ale suka dengan perhatian yang Gil berikan kepadanya.


Dengan hanya memakai piyama tidur dan rambut yang di gulung asal, Ale duduk sendirian di taman hotel terlihat sedang melamun. Entah apa yang membuatnya berada disini dan meninggalkan Gil yang masih tertidur, mungkin nanti saat bangun dia akan panik. Rasanya Alesya butuh ketenangan dan udara segar seperti ini dan, sudah lama juga Alesya tidak menikmatinya.


"Hufttt segar sekali." Hela Alesya kemudian ia melihat jarinya yang sudah terpasang cincin tunangan yang bertuliskan nama Gil sebagai pasangan.


"Aku tidak menyangka akan mendapatkan ini semua, sahabat yang setia menemaniku, bertunangan dengan Gil terasa mimpi bagiku. Semua yang terjadi begitu cepat, kepergian Mom. Aku pikir hidupku akan sangat menyedihkan, tapi salah. Aku sangat bersyukur kepada tuhan untuk semua ini. Dan aku harap, semuanya akan baik-baik saja." monolog Alesya yang tidak menyadari kehadirab seseorang yang diam mendengarkan perkataanya di belakang, saat dia keluar dan duduk dia sudah berdiri tanpa berniat mengganggu Alesya.


"Aku merindukan kalian Mom, Dad." Ucap Alesya sambil melihat keatas langit yang sudah terlihat orange menandakan sang fajar akan datang.


Tiba-tiba Alesya merasakan tubuhnya didekap dari belakang oleh seseorang, dengan reflek Ale memukul orang itu sangat keras.


"Awhh.." Rintih pria itu.


Tunggu seorang pria, buru-buru ia berbalik dan mendapati Gil yang sedang tersyum disana.


"Gil, kenapa kamu ada disini ?" Tanya Alesya merasa lega karena bukan orang lain yang memeluknya tadi.


"Sejak kekasihku yang nakal ini bangun diam-diam dan, keluar tanpa memberitahuku." Ucap Gil.


"Maaf." Balas Alesya disertai senyum manisnya.


"Sini." Pinta Gil merentangkan tangannya agar Alesya memeluknya.


"Hangat." Gumam Alesya polos, Gil hanya tersenyum mendengarnya.


"Kamu tahu sweetheart, Aku sangat sangat bahagia sekali dan bersyukur karena kamu adalah wanita yang ditakdirkan tuhan untukku. Jangan pernah berpikir pergi dariku Alesya, ingatlah. Sejauh apapun, kemana dan dimanapun kamu, Aku akan selalu menekukanmu. I love you more sweetheart !" Ucap Gil lalu mengecup pucuk kepala Alesya.


"Terimakasih Gil, kamu mau mencintaiku, menerimaku dengan tulus. Aku tidak akan pergi kemanapun jika kamu tidak memintaku untuk pergi, I love you too Gil."Balas Alesya berkca-kaca.


" Apa kamu ingin bertemu calon mertuaku sweetheart? "Tanya Gil.


" Mertuamu? Orangtuaku?"Alesya bingung.


"Kenapa Kamu menjadi bodoh sweetheart, your mom and Daddy." Jawab Gil merasa gemas.


"Ohhhh...bilang saja Mom dan Daddyku apa susahnya. Aku kan tidak tahu, pertanyaanmu ambigu." Sebal Ale.


"Seringlah merajuk seperti ini sweetheart. Kamu lucu jika seperti ini, bibirmu jadi terlihat seperti bebek tahu." Goda Gil.


"Gil, aku bukan bebek." Kesalnya.


"Iya karena kamu tunanganku Alesya, jadi mau apa tidak?"


"Tentu, Aku sudah lama tidak mengunjungi mereka."


"Tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi."


"Kesembuhanmu, Aku tidak mau Mom dan Dad memarahiku karena membawa anaknya yang terlihat menyedihkan. Nanti aku tidak di restui untuk menikahi putrinya lagi."Ucap Gil.


" Hahaha kamu ada-ada saja, tenang beberapa hari luka ku akan sembuh tanpa bekas."Ucapnya Antusias.


"Gadis pintar, sebaiknya kita kembali dan bersiap. Hari ini kita harus pulang." Ucap Gil.


"Oke." Singat Alesya dan seperti biasa Gil tidak memperbolehkannya berjalan, alhasil di menggendong Alesya sampai kamar. Ale pun tidak menyangka ternyata, di lobby sudah banyak orang. Gil terlihat biasa saja dengan wajah datarnya sedangkan Alesya, dia membenankan wajahnya lebih dalam karena malu menjadi pusat perhatian orang-orang. Apalagi Ia dan Gil masih menggunakan pakain tidur, sungguh memalukan bagi Alesya.


Sekarang mereka semua sudah berkumpul untuk pulang, di lobby sudah berjajar sport car seperti sedang balapan saja.


"Del, kita pulang dulu yah. Kita nggak mau ganggu acara kalian."pamit Alesya mewakili.


" Heumn, iya gapapa kok."Balas Adela.


"Yaudah kita pergi dulu, selamat bersenang-senang Adela." Sahut Audrey.


"kita tunggu kabar baiknya." Ucap Sam.


"Uncle Niel pesen dedek cowok ya Daddy Marvel." Goda Niel.


"Cepat pergilah, mengganggu waktuku saja." Kesal Marvel.


"Baiklah, kita sudah di usir olehnya. Bye vel." Pamit Niel dan pergi menuju mobilnya bersama yang lain.


"Anthony akan mengirimkan sesuatu padamu, anggap saja sebagai hadiah pernikahan semoga kau suka." Ucap Gil lalu pergi dan, tidak lama benar saja. Anthony datang sengan sebuah amplop merah di tangnnya.


"Dari tuan Gil semoga anda suka dan, selamat atas pernikahan kalian. Mari tuan Marvel." Ucap Anthony.


"Terimakasih Thony." Balas Marvel.


Setelah kepergian Anthony, Dia membuka isi amplopnya. Adela juga sama penasarannya dan, dibukalah.


"Surat?" Gumam Marvel.


Aku sudah membeli sebuah pulau pribadi di Spanyol Isla De Sa Ferradura. Sebagai hadiah pernikahan untuk sahabatku, jika kau ingin menggunakannya untuk honeymoon juga tidak terlalu buruk. Semua surat sertifikat sudah di meja kerja mu.


^^^Gilbert Alejandro R^^^


"Pulau pribadi ?" Ucap Adela sangat terkejut, Gil memberikan sebuah pulau pribadi untuk mereka sebagai hadiah pernikhan. Bagaimana dengan sahabatnya yang lain, "astaga aku sudah menikahi pria yang sangat kaya" Batin Adela.


Marvel hanya tersyum membacanya, memang hadiah dari Gil yang paling mahal dari sahabat yang lainnya. Niel yang memberikan sport car merk Lamborghini Huracan, Sam memberikan tiket honeymoon ke Maldives. Tapi, semuanya sangat berarti bagi Marvel.


"Sayang, ayo kita juga harus bersiap untuk pergi." Ucap Marvel.


"Heumn iya." Balas Adela.


Sebenarnya Marvel sudah mengenal Adela setelah tahu dia akan di jodohkan, dan kebetulan adalah sahabat dekat Alesya. Marvel berpura-pura tidak tahu dan hanya memperhatikan Adela saja.