
Rodrigez Mansion
Tak sebanding dengan megah-nya mansion ini terlihat, tetap saja seperti tidak ada kehidupan. Penerus satu-satunya keluarga ini memilih tinggal di sebuah apartment, namun berbeda dengan pagi ini.
Tersaji berbagai hidangan mewah di atas meja makan hanya sekedar untuk sarapan.
"Sayang, kenapa kau jarang sekali menemui kami. Apa kau sudah tak menyayangiku sebagai ibumu?" ucapnya sendu.
Dia adalah Bela Sovanka Rodrigez ibunya, meskipun sudah tak lagi muda ia masih terlihat cantik dan menawan.
"Mom..Aku sedikit sibuk belakangan ini. Salahkan saja Dad, kenapa dia membiarkan aku mengelola perusahaannya juga." balasku.
"Kenapa jadi Dad, itu sudah kewajibanmu sebagai satu-satunya penerus keluarga ini. Kalau tidak mau cepetlah menikah." Ucap Dad sewot.
"Benar sayang, Mom rasanya sangat kesepian karena kamu yang sudah jarang berkunjung kesini sedangkan pria tua itu terus saja melakukan pekerjaannya sampai malam." Ucap Mom.
"Honey, kau pernah mendengar semakin matang usia pria maka akan semakin terlihat ketampanannya. Bukan begitu boy?" bertanya kepadaku.
"Omong kosong, malah sebaliknya yang aku lihat." ucapku santai.
"Anak tidak tahu di untung, lihatlah wajahmu sekarang. Kalau bukan aku Daddy mu, wajahmu tidak akan setampan ini." ucapnya kembali.
"Zaman sudah cangih, dengan uang semuanya bisa kita dapatkan."
"Sudah-sudah jangan berdebat di meja makan ku, habiskan sarapan kalian dan jangan berisik." ucap Mom.
..........
Di Elementary Global University. Semua mahasiswa sudah berkumpul di aula untuk memghadiri acara yang diadakan oleh kampus.
Pembagian tempat duduk di atur sesuai fakultas masing-masing, sungguh beruntung bagi mereka yang mendapatkan tempat paling depan karena, bisa dengan jelas melihat keseluruhan panggung.Dan salah satunya ketiga sahabat itu.
"Emang udah jodohnya, kalian liat kan gue dapet tempat duduk disini. Artinya tuhan kasih tanda bahwa dia ngerestuin kita untuk bersama." Ucap Audrey.
"Jangan ngarep." balas Adela.
"yeeee iri aja Lo, secara kan gue lebih cantik. Mangkanya lo gak suka kan." ucap Audrey dan ,Aku hanya menghela nafas. "Perdebatan dimulai lagi." Batinku.
"Siapa juga yang iri, malah cantikan Si Timo."balas Adela.
" Sialan Lo, gue di samain sama ayam."sewot Audrey.
"Hahaha...Aneh kamu Del milih pelihara ayam. Gak ada pilihan yang bagusan dikit apa."ucapku baru teringat bahwa salah satu sahabatnya ini mempunyai hobby yang aneh." Guys aku mau ke toilet sebentar."lanjutku.
"Sebentar lagi acaranya mau di mulai Le, kenapa gak dari tadi aja deh." ucap Adela.
"Iyakan maunya sekarang bukan tadi, yaudah aku pergi dulu."
"Mau di anter gak?" tanya Audrey.
"Gak usah, nggak akan lama kok." setelah itu aku pergi ke toilet.
Namun salah, ternyata di toliet Ia harus mengantri sedangkan acaranya akan segera di mulai. Ale tidak mau terlambat, jika itu terjadi dirinya akan sangat malu karena, tempat duduknya yang berada paling depan. Setelah selesai Ale langsung berlari 5 menit lagi acaranya akan di mulai, sedangkan jarak antara toilet dan aula lumayan jauh.
BRUKKKK.....
Terdengar nyaring, dan semua yang ada disana begitu terkejut.
"Aduhhh..." teriakku, sepertinya aku menabrak sesuatu yang keras. Buru-buru aku berdiri dengan cepat tanpa melihat apa yang membuatnya terjatuh.
Alesya sangat bodoh dan ceroboh dia baru saja menabrak seorang pemilik kampus terbesar di New York. Sang empu hanya diam dengan amarah yang siap meledak kapan saja, tanpa menghiraukan yang lainnya ia pergi begitu saja seolah tak pernah terjadi sesuatu, di susul dengan beberapa bodyguard di belakangnya.
"Huff...huhh..Acaranya...belum mulaikan?" tanyaku dengan terengah.
"Belum, kenapa Lo?" Tanya Adela.
"Abis lari takut ketinggalan acara, terus di jalan kaya nabrak tembok gitu." Jawabku.
"Maksudnya, nggak ngerti gue!" ucap Adela.
"Gimna kalo itu orang bukan tembok Alesya." Ucap Audrey.
"Masa sih nggak mungkin orang kerasanya keras banget kaya tembok." ucapku.
"Oh my god... ganteg bangett. guys masa depan gue." Ucap Adela tiba-tiba dan suasana menjadi riuh karena kedatangan seseorang yang sangat ditunggu.
Disana seseorang duduk dengan sangat beribawa, auranya menunjukan kekuasaan. Alesya merasa sesak, pandangannya lurus menerawang kejadian buruk yang membuat hidupnya hancur. Dirinya tidak fokus mendengarkan runtutan acara karena melamun dan hanya menatap kosong kearah depan, hingga suara riuh tepuk tangan membuyarkan lamunannya.
"Please welcome for join with us, Mr.Gilbert Alejandro Rodrigez sebagai pemilik Elementary Global University sekaligus CEO termuda di GIAR Company untuk sambutan sekaligus sedikit berbagi tips menjadi sukses di usia yang masih muda."ucap MC yang mempersilahkan untuk maju ke podium dan langkahnya tak luput dari pandangan Alesya. Dirinya masih tidak percaya akan di pertemukan lagi dengan pria brengsek itu.
" Le..gimna ganteng kan. Gue juga bilang apa Lo pasti bakalan langsung kelepek-kelepek liat dia,Le..?" Ucap Audrey kepadanya. Dan yang aku lakukan hanyalah diam menatap nyalang baj*ngan itu, hingga Audrey dan Adela juga bingung kenapa aku bereaksi seperti ini.
"Ale..Lo kenapa sih. Dari tadi diem aja." Kata Adela.
"Aku nggak apa-apa hehehe." ucapku sedikit terkekeh karena tidak mau mereka curiga karena, aku belum memberitahukan siapa pria itu dan memang saat itu aku belum tahu identitasnya.
"Hello everyone...Melakukan pendidikan dan menjadi mahasiswa bukanlah perihal yang mudah, untuk menjadi orang yang suskses butuh perjuangan dan kerja keras. jika ingin meraih suatu hal lakukan dengan sungguh-sungguh maka kalian akan mencapainya dan ingat, semakin tinggi pohon maka semakin kencang juga angginnya. Selaku pemilik EGU, terima kasih telah memilih Elementary Global University sebagai tempat pendidikan terakhir kalian." Kurang lebih seperti itulah yang aku dengar, sungguh menjijikan. Mereka bertepuk tangan dengan semangat.
"Tidak tahu dia seperti apa, baj*ngan gila.Dia adalah seorang yang berpendidikan namun kelakuannya berbanding terbalik seperti binatang." Batinku, sebelum semuanya selesai aku bergegas meninggalkan aula.
Sudah sejak tadi Gil menahan keinginannya untuk menyeret gadia itu ke apartment miliknya. Kurang ajar dia mempermalukan-ku di depan semua orang. Saat memberikan sambutan Gil terus mencuri pandang kearahnya dan, mungkin dia sudah mengenaliku karena terlihat dari reaksinya. Sebelum acara selesai dia pergi meninggalkan aula dan kali ini aku tidak akan menunggu lagi.
"Mr.Rudolph, sepertinya saya harus segara pergi karena ada urusan mendadak." ucap Gil.
"Baiklah Mr.Rodrigez, terimakasih sudah meluangkan waktu berkunjung dan memberi sambutan." Ucap Mr.Rudolph sopan. Dan hanya di tanggapi anggukan olehnya, segeralah ia bergegas untuk mencari keberadaan gadis itu.
Gil langsung mengetikan nomor untuk menelpon seseorang.
"Dimana dia?" tanya Gil.
"Taman belakang kampus tuan."
"Terus awasi dia, aku akan segera kesana ." Ucap Gil pergi menuju taman belakang.
"Jangan ikuti aku, tunggulah di depan." pertintah Gil kepada bodyguard nya.
"Tapi tuan." Ucapnya, tanpa membalas Gil melengos begitu saja.
Dari kejauhan Gil sudah melihatnya dan sekarang sudah berada tepat di belakang Alesya tanpa di ketahuinya.
"Lama tidak berjumpa honey."Bisiknya di telinga Ale.
Seketika tubuh Ale menenggang, keringan sudah bercucuran di pelipisnya, perlahan dia mebalikan tubuhnya.
" Kkkk...kkau...kau mau apa kemari hah."ucap Ale gemetar. Tidak akan ada yang tahu pertemuan mereka karena, taman ini jarang di kunjungi mahasiswa lainnya. Memang tempatnya yang jauh dan sedikit sepi.
"Kenapa, kau takut honey. Pulanglah bersamaku." Ajaknya dengan senyum misteriusnya.
"Jangan harap." ucapku.
"Aku tak butuh persetujuanmu, iya atau tidak kau harus tetap ikut bersamaku." ucap Gil memaksa.
"Bermimpilah dulu tuan." ucap Ale tegas.
"Baik, jangan salahkan aku menggunakan cara kasar." Kemudian Gil melirik kearah kanan dan, munculah seorang pria berpakaian serba hitam. Ternyata dia yang Gil hubungi untuk memata-matai Alesya.
"Bawa dia." Ucapnya singkat lalu pergi meninggalkan Ale begitu saja untuk di bawa paksa bodyguard nya.
"Mari nyonya ikut saya, tuan sudah menunggu anda." ucapnya datar.
"Tidak akan, pergi kau. Aku tidak akan pergi bersama baj*ngan gila itu." teriakku.
"Bekerja samalah Nyonya, atau aku akan melakukan hal yang kasar kepadamu." ucapnya kembali.
"Tidak...lepaskan aku." teriakku lagi.
"Maafkan aku harus melakukan ini, karena nyonya yang menginginkannya." lalu pria itu langsung membekap mulut Ale dengan sapu tangan bius kemudian ia gendong ala Bride style agar orang tidak merasa curiga.