
Saat ini Gil sudah bersama Gio di ruang kerja, sebenarnya Gio tahu penyebab sikap puteranya berubah seperti ini karena dia menyelelidikinya.
"Dad, aku mau bicara."Ucap Gil.
"Ada apa Boy, duduklah. Apa perlu secangkir moccacino?" Candanya.
"Mengenai wanita itu..." ucap Gil
"Aku sudah tahu kau berpacaran dengan Selena sejak awal." ucapnya.
"Dad kau, sejak kapan?" Ucap Gil kaget.
"Semenjak sifatmu berubah 180°, aku langsung mencari tahu kenapa putraku yang gila ini berubah menjadi pendiam dan dingin." tuturnya
"Apa yang kau tahu dad?"
"Apa saja yang kau tanyakan, aku pasti tahu jawabannya."
"Apa kau tahu bagaimana hubungan mereka setelah putus denganku?"
"Sepertinya kau salah paham mengenai ini dude."
"Maksud Dad?"
"Aku tidak berhak mengatakannya, sebaiknya kau cepat selesaikan kesalah pahaman ini sebelum seseorang memanfaatkannya."
"Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang Dad katakan, tapi aku akan mencari tahunya sendiri. Dan sepertinya seseorang tahu tentang ini."
"Lakukan apa yang menurutmu benar boy, dan mengenai gadis itu kau juga menipu kami."
"Dad tahu juga?"
"Apa yang tidak aku ketahui di dunia ini son." ucapnya angkuh.
"Sombong sekali kau dad, iya aku merencanakan ini karena tidak mau mom menjodohkanku dengan kenalannya."
"Aku paham itu, tapi dengan gadis baik seperti Alesya kurasa kau salah memcari partner."
"Apa ada yang salah dengannya? kurasa itu baik-baik saja."
"Kau belum merasakannya saja son, jangan kau anggap aku tidak tahu kejadian setahun lalu dan apa yang terjadi dengan gadis itu setelahnya. Kau memang baj*ngan sejati."
"Ayolah Dad aku tidak sadar waktu itu jadi jangan salahkan aku." ucap Gil kesal.
"Aku tanya dan kau harus jawab jujur. Kenapa kau membawanya untuk tinggal bersama?
" Aku hanya penasaran saja dad tidak lebih."
"Penasaran seperti apa harus membawanya tinggal bersama?"
"Kau banyak sekali bertanya dad sangat cerewet dan ingin tahu seperti wanita saja."
"Jawab saja kenapa harus mengkritik ku."
"Ya penasaran kenapa dia tidak tertarik dengan pesona seoranh Rodrigez, kau tahu bukan banyak wanita di luaran sana mengantri untuk menghangatkan ranjangku."
"Dasar anak kurang ajar kau." ucap Gio sambil terkekeh.
"Jangan berpura-pura, kau jauh lebih buruk dariku dad." Balas Gil.
"Why.. sepertinya kau tidak perlu ikut campur masalahku dad."
"Jika wanita yang kau bawa sekarang adalah seorang bit*h akan ku terima tapi, dia adalah gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Singkirkan egomu kali ini boy."
"Terserah, yang jelas aku akan berbuat sesuka ku dan dad jangan ikut campur." ucap Gil serius
"Silahkan, aku tidak masalah dengan itu. Kau tahu siapa Daddy mu ini son."
"okeyy.. sekarang singkran dulu masalah ini. Aku hanya ingin tahu apa tanggapanmu dengan Qila yang mirip Selena?"
"Entahlah aku juga tidak tahu, yang jelas mereka orang yang berbeda."
"Aku tidak yakin, Mereka sangat mirip Dad tidak ada bedanya bahkan suranya juga sangat sama."
"Aku sudah mengenal keluarga jhonson sejak lama dan, Qila aku sudah bertemu dengannya saat masih kecil."
"Bagaimna bisa." Ucap Gil prustasi.
"Jangan pikirkan itu, biar Mommy -mu yang menanyakan tentang Qila."
"Baiklah."
"Ku dengar markas mu di serang."
"Yah begitulah, Samuel sialan itu menyerang markasku karena dia mengira aku yang membocorkan problem perusahaanya ke investor cina itu."
"Benar dugaanku, Dia sudah mulai bergerak Gil."
"Yes Dad, aku juga berpikir seperti itu, namun aku harus mengumpulkan bukti untuk mengungkapnya."
"Aku akan membantumu, karens sejak awal ini adalah urusanku yang belum terselesaikan son. semua terjadi karena dia yang begitu terobsesi pada Bela waktu itu."
"it's okey dad, kita semua harus cepat membereskan bedebah itu agar tidak mengganggu keluarga kita lagi."
"Kau benar boy."
"Yasudah dad sepertinya kau harus cepat beristirahat, jangan terlalu banyak bekerja pak tua."
"Kurang ajar, jangan kira aku tua boy karena, kenyataanya aku masih kuat untuk membuatkan beberapa adik untukmu boy."
"Omong kosong." ucap Gil sambil terkekeh.
"Baiklah selamat malam little boy." kemudian dad pergi meninggalkan ruangan.
"Aku janji Dad akan membuat hidup kita tenang setelah ini dan membalaskan kematian grandpa untuk mu, untuk kita."Ucap Gil beranjak menuju kamarnya.
........
Gil lupa bahwa dia menyuruh Alesya untuk tidur di kamarnya, setelah membersihkan diri Gil naik ke ranjang dan memperhatikan Alesya dalam tidurnya yang damai.
Dilihatnya Alesya dengan pandangan berbeda, dia tidak tahu kenapa harus berhubungan dengannya lagi. Sepintas dia teringat perkataan Daddynya untuk membiarkan Ale, tapi Gil tidak ingin melepaskannya.
" Kau tahu, sejak saat itu. Bayanganmu selalu menghantuiku, entah itu perasaan bersalah atau marah. Kau tahu kehadiranmu membuatku takut untuk meraskan hal itu lagi."ucap Gil sedikit berbisik dan membelai wajah mulus Alesya.
"Racun apa yang kau berikan padaku Alesya." bisiknya kemudian dia mengecup singkat bibir merah jambu milik Ale dengan lembut.
Setelah itu Gil memeluk Ale dan pergi kealam mimpi.