My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 33



Pagi ini Alesya yang duduk di kursi roda di temani Amer bersama beberapa bodyguard di belakang sana hanya sekedar untuk berjaga, menikmati udara segar di taman rumah sakit.


Saat bangun Alesya tidak mendapati Gil dan, ternyata dia pergi ketika Alesya sudah tertidur untuk membereskan beberapa pekerjaan, kata Amer.


"Nyonya ingin berkeliling?" Tawar Amer.


"Tentu, Bibi tolong dorong kursi rodanya." ucap Alesya sopan.


"Uhhhhh...segar sekali." ucap Alesya merentangkan tangannya menghirup udara taman.


Saat Amer membelokan kursi miliknya, Alesya melihat Qila sedang berjalan di koridor rumah sakit.


"Qilaaa.." Teriak Alesya memanggilnya."Syaqilaaa."ulangnya dan Qila pun menoleh kemudian berjalan kearahnya.


"Kenapa kau disini, sakit apa?"Ucap Qila ketus " Dan ada apa kau memanggilku?"Lanjutnya.


"Hanya kecelakaan kecil, kamu sendiri kenapa ada disini?"


"Ini rumah sakit umum jadi bebas dong aku disini."


"Kemarin kembaranmu Selena datang menjengukku bersama samuel."Ucap Alesya dan tentu saja Qila kaget mendengarnya.


" Dia adi disni, menjengukmu bersama siapa?"tanyannya memastikan.


"Iya, Samuel sahabat Gil. Kau bisa tanyakan pada Gil nanti jika ingin bertemu atau sekedar bertanya-tanya."


"Sungguh kau tidak berbohong bukan?" Tanya Qila curiga.


"Tanyakan saja pasa Bibi Amer atau perlu meminta petugas cctv untuk melihatnya."


"Iya Nona kemarin, wanita yang mirip seperti anda datang berkunjung bersama tuan sammy."Ucap Amer membenarkan.


" Kalau begitu, diamana Gil. Aku ingin bertemu dengan sahabatnya samuel."


"Dia sedang tidak ada di sini, jika mau tunggulah."


"Menyebalkan sekali aku harus menunggu disini."


"Terserah." singakat Alesya.


"Baiklah aku akan menunggunya disini bersamamu.", Ucapnya pasrah.


" Kalian terlihat berbeda jika kau ingin tahu."


"Berbeda?" tanya Qila.


"Iyah, cara berpakaian yang paling berbeda. Selena berpakaian sangat terbuka sedangkan lihat dirimu yang selalu berpaikain sopan." Jelas Alesya.


"Akan ku lihat sendiri nanti."


Tidak ada percakapan lagi setelah itu Qila yang sibuk dengan ponselnya dan Alesya yang melihat anak-anak sedang bermain di taman. Merka pasien di sini juga, Marvel memang sangat memperhatikan fasilitas rumah sakit ini sangat baik.


"Sweetheart kenapa kau disini?" ucap Gil yang baru saja sampai berjongkok di depan Alesya.


"Aku bosan dan meninta Bibi Amer berkeliling di taman."


"Kau kenapa bersama dengannya?" ucap Gil melihat Qila.


"Dia ingin menemui samuel." Jelas Alesya.


"Berikan nomor ponselnya." Ucap Qila


"Tanyaka saja pada Niel, aku tidak punya." ucap Gil dengan santai.


"Kamu sahabatnya, mustahil bagimu tidak menyimpan kontaknya." Ucap Qila kesal.


"Terserah, kau bisa mendatangi kampusku untuk menemuinya." ucap Gil acuh.


"Yang benar saja." Qila menggerutu.


"Jika kau ingin."Singkat Gil.


" Arghh.. baiklah aku akan pergi kesana."Ucap Qila lalu bangkit kemudian pergi begitu saja.


"Amer tolong tinggalkan kami berdua." ucap Gil dan Amer bersama beberapa bodyguard yang tadi pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa?" tanya Alesya.


"Aku ingin berudaan denganmu."ucapnya kemudian bangkit dan mendorong kursi rodanya.


" Kau tidak lelah?"


"Tidak."


"Beristirahatlah sejenak Gil."


"Jika ada waktu."


"kau ini, berhenti di sini." ucap Alesya. Mereka berhenti di bawah pohon palm yang luamyan besar.


"Lihat lah sepasang kekasih itu Gil." lanjutnya menunjuk sepasang kekasih yang sedang bercanda.


"Lihatlah mereka, romantisnya. namun terdapat kesedihan yang terperangkap di mata pria itu. perempuan itu berpakaian pasien tanpa rambut dengan selang yang tertempel di hidungnya. wajahnya pucat tapi dia masih bisa tertawa, tawa bahagia." tutur Alesya dengan senyumnya.


"Jika aku berada di posisinya, sungguh beruntungnya aku Gil. Dicintai pria yang mampu bertahan meski dia tahu harapan untuk bersama sangat tipis. Tapi dia menjadikan setiap detiknya berharga untuk di lewatkan."Lanjutnya.


"Kau tahu sweetheart, terkadang sesuatu yang sangat kita harpakan dan ingin kita miliki harus kandas. Karena takdir tidak memilhnya untuk kita, ada suatu hal yang lebih besar sebagai gantinya." ucap Gil.


"Kau benar Gil." jawab Alesya.


"Sedikit, kapan aku bisa pulang Gil?"


"Kau bosan?"


"Kelihatannya?"


"Iya."


"Kau ini tidak pengertian sekali." Ucap Alesya.


"Akan ku tanyakan pada Marvel nanti, sebaiknya kau kembali ke kamar. Aku akan bertemu daddy dan kembali melakukan beberapa meeting, Niel sudah ku suruh menghubungi Audrey dan Adela datang kemari untuk menemanimu"


"Hufftt baiklah, setidaknya aku tidak akan kesepian." ucap Alesya kemudian Gil membawanya kembali ke ruang rawatnya.


........


Syaqila langsung menuju kampus setelah di beritahu oleh Gil, sekarang dia sedang menunggu samuel di parkiran khusus dosen. Dan bodohnya dia tidak tahu bagaimana rupa samuel itu, setelah berjam-jam dia menunggu dan baru terpikir untuk menanyakannya pada staff kampus tentang samuel.


"Permisi, apa disini ada dosen yang bernama samuel?" Tanyanya langsung.


"Maksud anda Samuel Delvano dosen yang baru saja manggang?"


"Mmm..ii..iiya samuel itu. Apa anda bisa pangilkan, saya ada keperluan penting dengannya."


"Baiklah tunggu sebentar."Ucapnya kemudian pergi untuk memanggil sam.


Tak butuh waktu lama seseorang sudah masuk dan Qila yakin itu adalah samuel yang dimaksud Alesya.


" Maaf Mr. Delvano seseorang ingin bertemu dengan anda."


"Siapa?" Tanya Sam


"Aku. Apa benar kamu samuel yang di maksud Alesya?" ucap Qila.


"Selena?"


"Aku Syaqila." ucapnya"Boleh bicara sebentar?"lanjutnya.


"Baiklah." kemudian mereka keluar dan menuju kantin kampus yang kebetulan sedang tidak ramai.


"Jadi kamu Qila yang sering di ceritakan Alesya?" Tanya sam.


"Iya, dan dia bilang kamu tahu dimana selena kembaranku?"


"Tentu, awalnya aku kira kamu adalah selena, pantas saja penampilanmu berbeda dengan selena yang ku kenal."


"Ahaha begitu terlihat yah." kekeh Qila.


"begitulah, ada apa kamu menemuiku?"


"Tadi pagi saat aku di rumah sakit Alesya memanggilku, ternyata dia di rawat disana juga. Dan dia memberitahukan bahwa kemarin kamu mengunjunginya bersama selena."


"Yah benar, Aku baru tahu bahwa selena mempunyai kembaran. kenapa kalian tidak pernah bersama?"


"Entahlah, aku tidak tahu kenapa kami terpisah. Kata kedua orang tua angkatku, Saat umurku 9 tahun Aku di temukan tergeletak di trotoar dengan banyak luka dan tidak bisa mengingat apapun hingga sekarang."


"Maksudmu, kamu amnesia? selama itu, tidak ingat apapun?" Tanya Sam


"iya seperti itulah kenyataanya."


"Kamu tidak bertanya kepada orangtua angaktmu?"


"Mau bertanya apa, mereka juga menemukanku di trotoar."


"Jadi maksudmu sekarang kamu ingin bertemu dengan selena?"


"Iya, aku ingin tahu keluarga sungguhanku, mungkin saja mereka juga mencariku "


"Aku bingung, kau tahu selena adalah orang yang tertutup dan latar belakang keluarganyapun tidak jelas. Dari saat aku mengenalnya sampai sekarang dia selalu tinggal sendiri, pun selama sekolah orangtua atau kerabatnya tidak pernah ada yang datang."


"Benarkah, berarti dia hanya menghidupi dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain?"


"Tidak seperti itu juga, dia hidup dengan sangat layak. Tinggal di kawasan apartment elit, mobil mewah, barang-barang mahal dan yang aku lihat dia tidak pernah kekurangan uang."


"Jadi dimana orangtaunya?"


"Mungkin hanya selena yang tahu keberadaan keluarganya diamana."


"Semua ini membuatku pusing."


"Emm Qila, sepertinya aku harus kembali mengajar dan kita bisa lanjutkan obrolannya lain waktu jika kamu mau."


"Ya tentu, masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu. jika boleh aku minta nomor ponselmu." Ucap Qila


"Tentu."


"Terimakasih atas informasi dan waktunya, maaf juga mengganggu waktumu Sam."


"Tidak masalah, jika ingin menanyakan tentang Selena tanyakanlah."


"Pasti."


"Baiklah aku akan kemabali mengajar."


"iya"


Setelah Samuel yang pergi untuk kemabali mengajar dan Qila beranjak untuk pulang.