My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 59



"Syela?" Gumam Victor.


"Grandpa." Panggil Qila, Dia begitu merindukan Kakek yang selalu menyayanginya dulu.


Plakk...


Suara tamparan begitu nyaring terdengar, Victor menampar Qila.


"Kenapa Grandpa menamparku?" Tanya Qila, hatinya sakit. Kenapa orang yang selalu menjaganya setelah Daddy bersikap kasar seperti ini.


"Anak tidak tahu di untung, beraninya kau bersekongkol dengan Gilbert untuk menjatuhkanku hah." Murka Victor.


"Apa maksud grandpa, aku tidak bekerja sama dengan siapapun." Balasnya meyakinkan Victor.


"Omong kosong, Dad. Dia sudah menuntun Gio bersama yang lain kemari dan bekerja sama dengan salah satu sahabat anak itu, mungkin kedatangan dia juga mungkin sudah direncanakan." Sahut Jerry.


"Tidak grandpa, kau harus dengarkan penjelasanku dulu." Bantah Qila.


PLAK..


Selena menampar Qila hingga memar, Ia mencegahnya untuk berbicara. Jika tidak, semua rencana yang Selena susun berantakan.


"Jangan dengarkan pembual itu grandpa, sekarang kita harus fokus pada rencana awal untuk membalaskan semuanya." Saran Selena.


Victor, Pria itu masih sangat gagah meski di umurnya yang sudah tua. Dengan bantuan tongkat, dia berjalan menghampiri Alesya. Diacungkannya tongkat itu, tepat lurus di jantungnya, Ale menatap nyalang Victor.


"Gadis manis, seharusnya kau tidak perlu bertemu dengan anak keturunan Rodrigez. Beginilah jadinya jika kau berani bersamanya, jangan salahkan aku. Mungkin aku akan memulangkanmu yang sudah menjadi mayat, bagus untuk hadiah pernikahan bukan." Ucapnya.


Tongkatnya Ia arahkan naik dan, terasa dingin menusuk leher jenjang Alesya. Ternyata terdapat pisau kecil yang runcing, perlahan Ale merasakan perih di lehernya.


"Sshhhh." Desah Alesya merasakan cairan merah itu membasahi lehernya.


"Grandpa.." Teriak Qila.


"Berisik sekali kau." Selena maju dan menyumpal mulut Qila.


"Sel..eemm...emmm." Qila hendak protes.


"Begini lebih baik." Gumam Alesya.


"Kenapa?" Tanya Alesya.


"Kau adalah umpanku sayang, Kami menunggu kedatangan mereka jika kau ingin tahu. Tunggulah dan saksikan, Kekasihmu itu akan mati di tanganku." Ucap Victor.


"Apa tidak salah, mungkin anda yang mati di tangan kekasihku." Balas Alesya.


Victor marah dan tersulut emosi, Ia menatap tajam Alesya. Kemudian diambilnya benda di balik tuksedonya, sebuah senjata laras pendek.


"Bicara sekali lagi, Peluru kesayangnku akan menembus otak cantik mu nona."Ancam Victor.


" Heh...Kau kira aku takut." Balas Alesya meremehkan.


"Owhh, gadis manis ternyata kau berani juga." Ucap Victor.


DOR...


suara tembakan terdengar di ruangan itu, Jerry ambruk. Kakinya tertembak, kemudian mereka melihat kepada Maria.


"Hell, kenapa kau bisa lepas pelayan." Geram Jerry.


Maria sudah berdiri sambil mencodongkan pistolnya kearah Victor, ketika semua fokus melihat padanya yang berada di pojok samping membuat mereka lengah, Alesya dan Qila melakukan hal yang sama, masing-masing memegang revolver.


Sebenarnya sebelum Alesya bertanya mengenai kedangan Qila kemari, dia menyuruh Alesya untuk mergoh saku celananya yang terdapat korek gas. Setelah dirinya terlepas, kemudian Ale membantu Maria dan Qila melepaskan diri.


Dengan kaget, ternyata Qila membawa tiga buah revolver dibalik baju dan sepatu botsnya. Alesya sempat menolak tapi Qila memaksa dan, katanya untuk berjaga-jaga sebelum Gil datang. Tentunya semua CCTV di ruangan ini sudah di matikan oleh Marvel karena, Qila sudah mengirim sinyal melalui Chip yang sudah di berikan Gil padanya dan tentu dengan rekaman audio, seperti saat bersama Selena.


"Shit, sepertinya kalian ingin bernain denganku sekarang." Ucap Victor.


DOR..


DOR..


Maria dan Qila menembak asal, mereka tidak bisa menggunakannya. Untunglah dewi keberuntungan hari ini berpihak kepada mereka, Maria berhasil melukai tangan Selena, sedangkan Alesya masih diam gemetar. Melihat ini, dia baru pertama kali.


Saat Jerry berdiri dan mengarahkan pistolnya pada Maria, bukannya menembak Alesya malah berlari dan melindunginya.


DOR..


Alesya berhasil menyelamtkan mereka berdua dari tembakan Jerry, rasa sakit dari luka di tubuh tidak dirasanya.


DOR...


Di balik pintu, Sam sudah berdiri menembak Jerry dan saat itu juga dia mati. Disusul Gil dan Gio, Alesya menangis kala melihat mereka datang.


"Sweetheart." Teriak Gil menghampiri Alesya dan memeluknya.


Niel, Marvel dan, Anthony di tugaskan untuk menghabisi penjaga dan anggota di luar.


"Victor." Panggil Gio.


"Gio." Ucapnya, setelah sekian lama. Hari ini mereka kembali bertemu, bukan untuk bertamu.


"Pengecut mana yang beraninya menggunakan seorang wanita untuk di jadikan umpan, bodoh." Ucap Gio.


"Mari selesaikan sekarang bocah ingusan."


"Sebelum kau melakukan itu, sebaiknya kau ingat apa yang sudah putramu lakukan pada istriku Victor." Ucap Gio.


"Seharusnya dendam ini tidak ada, aku masih brerbaik hati untuk tidak melenyapkanmu Victor. Dulu keluarga kita sangatlah dekat, David dan Aubrey adalah sahabatku. Tapi, Aku tidak menyangka, putramu mencintai istrku padahal dia sudah memlilik anak waktu itu." Jelas Gio.


"Memang, jika kau tidak membunuhnya." Balas Victor.


"Apa perlu ku ingatkan lagi tuan Victor, Anakmulah yang membunuh Kakek ku." Ucap Gil.


"Yahh, jika seperti itu. Kali inu aku mau kau nyawamu untuk membayar kematian putraku Jerry."


"Sekarang kau baru mengakui Jerry adalah anakmu? cuih...kasihan sekali. Dia baru diakui sebagai kelurga Maures setelah menjadi bangkai." Cemooh Gio.


Diam-diam Selena mengampiri Alesya tanpa di ketahui mereka.


HAP...


Selena menyandra Ale, mengarahkan ujung pistolnya tapat di pelipisnya.


"Tenanglah Gil sayang, akan ku buat dia membawar nyawa pamanku." Ucap Selena.


"Gil." pangil Ale meminta tolong.


"Sialan, lepaskan Alesya." Teriak Gil marah.


"Tentu, setelah aku kirimkan dia ke neraka." Balasnya.


Dengan gerakan cepat Gil membawa Alesya sedetik sebelum Selena menekan pelatuknya.


DOR....


"Nona.." Teriak Maria.


"Qila..."Sam memarah lalu menembak Selena.


Tiba-tiba anak buah Victor masuk dan terjadilah adu tembak disana, Selena sudah tidak sadarkan diri. Entah sia pingsan atau mati, Sam menembakinya tiga kali.


" Qila bertahanlah."Ucap Sam.


"Sam."Lirih Qila, nafasnya sudah tidak beraturan. Tubuhnya sangat lemas, sebenarnya kondisi Qila sedang memburuk akhir-akhir ini. Tapi, ia sembunyikan karena ingin bertemua keluarga kandungnya dan membantu Alesya.


" Bertahanlah Qila, jangan tutup matamu. Ayok, aku akan mebawamu Marvel pasti bisa membantu."Ucap Sam.


"Tidak sam, Alesya." Panggil Qila.


"Qila, maafkan aku. Ini semua karenaku, berthanlah." Ucap Alesya yang sudah menangis.


"Shit." Sam mengumpat. "Alesya jagalah Qila, aku harus membantu Gil." Lanjutnya.


"Le, setelah pulang dari sini. Kau masuklah kedalam...kamarku dan...ambil..semua...sur..rat...yang...adah....di..di..meja..nakh..kashhku.." Ucap Qila terbata.


"Qila." Ucap Alesya mulai khawatir dengan kondisinya.


"SAMUEL..SAM..." Teriak Alesya memanggil Sam.


Samuel yang sibuk bertarung dengan musuh pun menoleh kearah Alesya berada, setelah berhasil melumpuhkan lawan Sam berlari menghampirinya


"Alesya.." Panggil Sam.


"Qila, cepat bawa Qila Sam." Alesya sudah menagis segukan sambil memeluk Qila.


"Sshh...sssam..Aku...Me..men..cintaimu. Berr...bahaag...gialah." Ucapan terakhir Qila untuk Sam.


"Syaqila..."


"Qilaa." Teriak mereka bersamaan dengan Gio yang melesatkan pelurunya tepat di jantung Victor.


Gil yang mendengar teriakan Alesya langsung menghampirinya.


"Gil...Qilaa..dia.." Alesya menangis tersedu, sahabatnya barus saja pergi meninggakannya.


"Shuttt..Tenanglah. Semuanya sudah selesai, kita harus segera pergi dari sini." Ucap Gil menggendong Alesya.


Dengan perasaan yang hancur Sam juga membawa Qila dalam gendongannya, Maria mengikuti di belakang di bantu oleh salah satu bodyguard Gil.


Dibawah helicopter sudah menunggu, Niel, Marvel dan Anthony. Semuanya mendapat luka, bahkan Niel yang paling parah. Setelah semua pasukan Gil dan Gio dipastikan menaiki heli, barulah mereka pergi dan,


BOOM...BOMM...


Suara ledakan begitu dahsyat, Marvel sudah merancang Bom di bantu oleh anggota yang lain sebelumnya.


Jasad Jerry, Selena dan Victor dan beberapa anak buahnya terbakar hangus. Mungkin sudah tidak berbentuk dan hancur karena ledakan.