My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 45



Mansion keluarga Rodrigez sangat heboh setelah kedatangan Gil dan kawan-kawan, di sana sudah ada Marvel dan kedua orang tua Gil yang menunggu mereka.


"Astaga, sayang kamu kenapa bisa seperti ini. Gil apa kau tidak menjaga menantuku dengan baik, ayo sayang kita beristirahat di atas." Omel Bela ketika melihat menantu kesayangannya terluka seperti ini.


"Mom biar Aku yang menggendongnya ke atas." Tawar Gil mengabaikan ocehan Bela.


"Yasudah cepat."


Sekarang para wanita sedang menemai Alesya di kamarnya sedangkan, para Pria sedang berkumpul di ruang kerja Gio.


"Kau menemukan mansion victor?" Tanya Gio.


"Tidak tahu, anak buahku hanya menemukan sebuah mansion tua yang sepertinya tidak berpenghuni di tengah hutan."Jawab Gil.


" Iya itu adalah mansion keluarga Victor, Aku sudah meretas nya kemarin. Yang perlu di pertanyakan, kenapa Selena ada di sana? Sebenarnya siapa Selena ini?"Sahut Marvel.


"Apa kau tidak mengetahui sesuatu Sam?" Tanya Gil.


"Entahlah, sangat sulit jika berbicara tentang keluarganya. Selena selalu saja seperti menghindari pertanyaan itu." Ucap Sam.


"Bagaimna dengan kau Sam, pertemukan Qila dengan Selena. Mungkin saja Dia akan terbuka jika berbicara pada kembarannya." Usul Niel.


"Boleh juga rencanamu Niel, akan ku coba nanti." Ucap Sam.


"Bagus, sebelumnya Aku dan Alesya harus bertemu dengan Qila. Ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan, apa kau bisa mewujudkannya Sammy!" Ucap Gil.


"Tentu, besok Aku kan membawanya kesini." Balasnya.


"Ohh ya Vel, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Gil.


"Kemarin Jerry yang membawa Alesya ke rumah sakit." Ucap Marvel.


"Jerry?" Ulang Gio.


"Pantas saja, kemarin saat akau bertanya mengenai Alesya. Resepsionis itu menyebutkan nama Jerry sebagai penanggung jawab." Sahut Niel.


"Benarkah?"Tanya Sam.


" Iya, Aku kira dia salah menyebutkan nama."Jawab Niel.


"Apa yang di lakukan dia disana?" tanya Gil.


"Sudah sangat jelas boy, Jerry akan berkunjung ke mansion itu. Bukankah Dia adalah orang kepercayaan Victor." Timpal Gio.


"Jerry, Selena dan Victor. Kurasa semua ini sudah di rencanakan saat Selena datang kepadamu Gil." Ucap Gio.


"Maksudmu?"


"Aku berasumsi jika orang yang di sebut paman oleh Selena adalah Jerry Vaio." jawabnya.


"Apa mungkin Dad?" Tanya Gil


"Ya, Kau lihat. Seberapa sering wanita itu terlihat bersama Jerry dan, kemungkinan mereka adalah suruhan Victor untuk menghancurkan Kita."Jelas Gio.


"Aku harus bertanya dulu pada Alesya, mungkin dia bisa menemukan sedikit jawaban yang kita cari." Ucap Gil.


"Yasudah, jika seperti itu. Sekalian Aku akan memeriksa Alesya dan, setelah itu harus menemui Mom di butik." Sahut Marvel.


"Baiklah ayo, Dad kita tinggal dulu." Ucap Gil.


"Aku ikut." Ucap Niel ikut pergi meninghalkan Sam dan Gio.


"Sam, tugasmu untuk menjadi dosen magang akan ku berhentikan. Uruslah perusahaanmu, Aku akan menyewa bodyguard untuk menggantikanmu mengawasi Alesya." Ucap Gio.


"Apa Gil, sudah berbicara padamu?" Tanya Sam.


"Yahh dan kurasa Gil benar, Kau menjadi lebih sibuk karena harus menjadi dosen."


"Tak apa Dad, Aku senang melakukannya."


"Sebaiknya kita menyusul mereka." Ucap Gio.


"Tentu."


Akhirnya mereka pergi menuju kamar Alesya untuk melihat keadaanya.


Kamar Alesya sangat gaduh karena, mereka sedang membicarakan boyband korea yang sangat di gemari wanita itu, tak sengaja pembicaraannya terdengar oleh Gil dan Marvel yang baru saja masuk.


"Iya, Aku juga sangat menyukai Jungkok yang tampan itu." Ucap Adela.


"Yahhh mereka sangat tampan bukan, apalgai J-hope astaga Aku rela menjadi istirnya." Sahut Alesya.


"Apa, kau ingin menjadi istri siapa Alesya?" Ucap Gil dengan marah.


Seketika tawa mereka berhenti karena kehadiran mereka berdua.


"Jawab aku Alesya?" Lanjutnya dingin.


"Ahahahahaha." Tawa mereka pecah kecuali Alesya tentunya karena merasa Gil sedang dalam mode marahnya.


"Astaga Sayang, kau cemburu dengan artis korea. Yang benar saja ahahahha.." Sahut Mom masih dengan tawanya.


"Yang Mom katakan memang benar Gil, kita hanya membicarakam idol korea. Jangan salah paham." Ucap Alesya.


"Benarkah?" Tanya Gil.


"Ahahah Gil, wajahmu lucu sekali jika cemburu seperti itu."Ucap Audrey.


" Sudahlah, sekarang cepat periksa kekasihku Marvel." Ucap Gil kesal.


"Baiklah nona-nona, mohon minggir. Aku akan memeriksa Alesya dulu." Ucap Marvel.


"Keadaanya mulai membaik, perbanyaklah istirahat. Perban di kepala serta kaki mu harus sering di ganti dan, untuk sementara waktu jangan dulu terkena air. Aku akan menyuruh Gil membelikan resep obat untukmu." Lanjutnya.


"Terimakasih Vel." Balas Alesya.


"it's okay, cepat sembuh. Kau hanya menyusahkan ku saja, semua Aku harus pergi sekarang. Mom menyurhku pergi ke butik Bibi Nensy." Pamit Marvel.


"Yahh, terimaksih Marvel sudah membantu Alesya dan Gil." Ucap Bela.


"Tak apa Mom Bela." Balas Marvel.


"Emmm...Marvel, Boleh Aku menumpang. Kebetulan Momyku juga sedang disana dan, menyuruhku untuk pergi sekarang. Apa kamu tidak keberatan?" Sahut Adela.


"Hmmmm." Singkat Marvel menjawab pertanyaan Adela kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.


"Semuanya Aku pamit dulu, Alesya cepat sembuh. Nanti Gue kabaran lagi, bye." Ucap Adela lalu menyusul Marvel.


"Kebetulan yang sangat pas." Gumam Audrey.


"Kenapa Marvel pulang bersama Adela?" Sahut Niel yang baru datang dan hanya di tanggapi acuh oleh mereka.


"Sayang maafkan Mom harus pergi, biarkan Gil yang menjagamu disini. Beristirahatlah okey." Ucap Bela kemudian mengecup tangan Alesya lalu pergi.


"Kalian pulang lah, Alesya harus istirhat." Usir Gil.


"Gil." Tegur Alesya.


"Tak apa Ale, kita akan pulang karena Aku harus kuliah bukan. Dan, Pria ini akan ikut denganku." Ucap Audrey menunjuk Niel yang sedang duduk di sofa.


"Pulang saja sendiri."Balanya.


" Jangan membatahku Niel."


"Memangnya Kau siapa, mengatur-atur ku begitu." Ucap Niel kesal.


"Pergilah, jangan berdebat di sini." Sahut Gil.


"Baiklah Ale, Aku pergi dulu sampai jumpa." Pamit Audrey sambil menyeret Niel keluar.


"Heyy, Gil tolong Aku dari nenek sihir ini." Teriak Niel.


"Mereka ada-ada saja." Ucap Ale.


"Sweetheart." Panggil Gil kemudian menghampiri Alesya.


"Permisi." Sahut Sam yang baru saja tiba melihat alesya sendirian.


"Apa aku mengganggu, tenang saja. Aku hanya ingin pamit dan menyampaikan salam dari Daddy Gio yang tidak sempat kemari melihatmu karena, harus mengantarkan Mom Bela tadi."Lanjutnya.


" Tak apa Sam."Ucap Alesya. " Terimakasih sudah ikut membantu Gil menemukanku."


"Bukan masalah besar, yasudah lanjutkan aku pergi." Balasnya sambil menutup pintu kembali.


"Huftt mereka pergi juga." Gil menghela nafas.


"Kamu ini, harusnya berterimakasih sudah membatumu." Tegur Alesya.


"Iya iya, sweetheart. Tidurlah, dari tadi kamu terlalu banyak bicara."


"Memangnya tidak boleh?"


"Bukan seperti itu, Aku takut kepalamu sakit lagi sweetheart."


"Iya iya, Aku akan beristirahat." Alesya memilih mengalah.


"Good, tidurlah. Aku disini akan menemani dan menjagamu." Ucap Gil sambil beralih membaringakan tubuhnya di samping Alesya.


"Gil."


"Kenapa, apa ada yang salah? Aku hanya ingin istirahat, sejak kemarin aku tidak tidur karena mencemaskanmu."


"Terserah." Ucap singkat Alesya.


Gil berbaring sambil memeluknya dan menenggelamkan kepala di ceruk leher Alesya, hembusan nafas Gil begitu terasa hangat menggelitiknya. Jantung Alesya berdetak cepat kala merasakan itu, dengan susah payah Dia memejamkan matan untuk beristirahat. Sedangakn Gil, Dia terkihat biasa-biasa saja.