My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
83. Extra Part



Sekarang sudah pukul 19:00 malam, Gil, Alesya beserta kedua anaknya sedang melakukan perjalanan untuk menghadiri acara makan malam.


"Dad, kenapa aku harus ikut. Banyak tugas sekolah yang belum di kerjaan, jangan salahkan Leo jika Madam Eros memarahiku karena tidak mengerjakan tugasnya." Protes Leo yang duduk di kursi penumpang bersama adiknya.


"Nanti Dad bantu untuk mengerjakannya, ini acara penting untuk kami. Disana juga kau tidak akan kesepian karena ada anak-anak lain, bukankah anakku ini sudah rindu dengan shely." goda Gil, Alesya langsung mengalihkan pandangannya pada kaca spion mobil melihat ekspresi Leo yang sudah berubah ketika Gil menyembut nama Shely.


"Aku juga rindu pada mereka Dad, kecuali Kak Brian." Sahut chelle.


"Hemmm ada apa dengan Brian sehingga membuat princess Mom tidak menyukainya?" Tanya Alsya.


"Dia sangat jahil padaku, banyak bicara, suka mengadu dan ahhhh pokonya aku kesal jika berada didekatnya." Jawab Chelle lugas.


"Hahaha, dia sama seperti Daddy nya sayang." Ucap Gil.


"Maksud Daddy, Uncle Niel juga seperti Kak Brian?" Tanyanya.


"Uncle Niel selalu membuat Dad kesal, sampai-sampai tangan Daddy gatal ingin meninju mulutnya yang banyak bicara. Tapi Uncle Niel adalah sahabat terbaik bagi kami bertiga, meskipun sifatnya seperti itu." jelas Gio.


"Kenapa Kak Brian tidak mewarisi sifat Aunty Audrey saja." Gumam Cehlle.


"Mom rasa mereka sama."


"Benarkah? yang aku tahu Aunty Rey sangat baik tidak seperti Kak Brian."


"Mungkin karena sudah menjadi ibu, mangkanya sifatnya sedikit berubah." Jelas Alesya.


"Bagaimana dengan Aunty Adela, Aku rasa dia orangg yang unik, apalagi Uncle Marvel. Sangat pendiam, wajar saja jika Kak Davon juga irit bicara."


"Diamlah Chelle, kau ini banyak sekali mengkritik orang. Lihatlah dirimu, masih kecil banyak bicara dan sok pintar." Sahut Leo.


"Biarkan saja."


"Aku beritahu sesuatu Chelle, orang yang suka sekali mengurusi atau mengkritik hidup orang tidak akan banyak teman. Kecuali orang itu memang pantas di kritik, berhati-hatilah saat berbicara jangan sampai ucapnmu menyakiti hati seseorang." Ucap Leo


Alesya dan Gil yang mendengarkan Leo berbicara seperti itu merasa bangga dan terharu, beruntungnya mereka. Leo adalah Kakak dan anak yang baik, mereka yakin Leo akan menjadi orang yang maju saat dewasa nanti.


"Iya akan aku ingat, maafkan aku." Ucap Chelle merasa bersalah.


"Aku maafkan, jangan di ulangi."


"Eye captian." Ucap Chelle semangat sambil memeluk Leo hangat.


"Sudah sampai, ayok kita turun dan menemui mereka." Ucap Gil.


"Okey Dad."


............


Di sebuah meja restoran, sudah berkumpul Niel dan Marvel bersama keluarga. Mereka masih menunggu kedatangan satu keluarga lagi, Gil dan Ale beserta kedua anaknya.


"Lihatlah Sayang, Brian sangat mirip dengan Niel. Tak heran jika dia nakal dan banyak bicara." Ucap Adela.


Brian dan Marshal sedang menggoda marshely, sedangkan Davon hanya diam memainkan rubik kecil di tangannya. Terlihat seperti anak pintar, tapi ia tidak berniat melerai mereka. Layaknya Marvel, saat Niel dan Gil beradu jotos, ia hanya diam melihat sampai selesai.


Yang sangat kasihan disini adalah Marshely, satu-satunya anak perempuan. Meskipun usianya sama-sama enam tahun, tapi Shely adalah anak yang sensitif dan cengeng.


"Tak apa, itu baru anakku." Jawab Niel bangga.


"Kau ini, lihatlah Maria. Anakmu sedang di bully, aku harap Michelle cepat datang." Ucap Audrey.


Ucapan Audrey seketika menjadi nyata, suara teriakan anak kecil yang cempreng terdengar di seisi ruangan ini.


"Chelle datang." Teriaknya.


"Shely, aku datang." Lanjutnya, sambil berlari kearah meja yang sudah di tempati para uncle dan Aunty nya.


"Huhh... Anak rusuh itu sudah datang." Keluh Brian.


"Iya, pasti kita di omeli habis-habisan olehnya karena menjahili Shely." Timpal Marshal.


"Banci, takut sama anak perempuan." Sahut Davon.


"Diamlah Davon." Ucap Mereka bersamaan.


"Hai chelle, kau sudah tumbuh besar sekarang." Ucap Adela saat Chelle memeluknya.


"Tentu, aku kan manusia yang terus bertumbuh bukan seperti benda mati." Jawab Chelle yang membuat mereka tertawa.


"Hallo semua, maaf menunggu." Sapa Alesya saat tiba disana.


"Ale, aku kangen banget tahu." Ucap Audrey menghambur kepelukan Alesya di ikuti Adela kemudian Maria.


" Aku juga."Jawabnya.


"Apa kita tidak akan berpelukan juga seperti para wanita?" Tanya Niel dengan nada jahilnya.


"Ayolah, kemari... sini peluk aku, Gilbert, ayolah Marvel, Sam." Ucap Niel sambil merentangkan tangannya dan mendekati mereka.


"Jangan lakukan itu Niel." Cegah Gil.


"Astaga kenapa orang tua kita seperti anak kecil." Ucap Brian, mereka sedari tadi hanya memperhatikan.


"Iya Brian." Jawab Marshal.


"Seperti kalian yang masih anak kecil." Sahut Davon.


"Ada apa denganmu Davon, kau selalu saja mengatai kami." Ucap kesal Brian.


"Tidak, aku hanya melakukan apa yang kalian lakukan pada Marshely." Masih dengan jawaban yang tenang sambil memainkan rubiknya.


"Michelle." Teriak Marshely.


"Shelyy... AAAAAA... I miss you." Seketika semuanya diam dan memperhatikan Chelle yang berlari kearah Shely dengan riang. Di susul Leo yang berjalan santai mengikuti adiknya.


"Sebentar lagi." Gumam Sam.


"Iya, Shely akan mengadu pada anakku, tidak heran." Ucap Gil.


"Shely aku sangat merindukanmu, apa sebelum aku sampai mereka menjahilimu?" Tanya Chelle dan hanya anggukaj yang ia dapatkan.


"Emmmm... Kau jangan salah paham Chelle, kami hanya bermain saja, benarkan Marshal?" Ucap Brian gelagapan.


"Iya, apa yang di katakan Brian benar."


"Jangan berani berbohong kepadaku ya kalian." Ancam Chelle.


"Tidak...Ohh hai Leo. Aku kira kau tidak akan datang." Ucap Brian mengalihkan pembicaraan.


"Terpaksa, Dav. Kurasa kau sudah jengkel bermain bersama brandal ini, benar bukan?" Ucap Leo.


"Bisa kau lihat." Jawabnya.


Memang Davon dan Leo sangatlah akrab, mungkin sama-sama pendiam. Jika dipikir mereka bertengkar karena mereka musuh, dugaan kalian salah besar. Memang seperti inilah, Marshal dan Brian yang selalu menjahili Marshely yang cengeng dan akan di bela oleh Chelle yang pemberani, kemudian Leo dan Davon akhirnya selalu memgejek mereka karena bertingkah sangat kekanak-kanakan. Padahal mereka masih anak-anak, hanya Davon dan Leo yang sudah bersifat dewasa sebelum waktunya.


"Menyebalkan, pergi saja sana Kakak tua. Kami ingin bermain tanpa gangguan kalian, benarkan ?" Ucap tidak terima Marshal.


"Tanpa di mintapun kita akan pergi, ayo Leo." Davon bangkit dan menuju meja para orang tua.


"Dasar sok dewasa." Grutu Brian.


"Sudahlah, kenapa kaliam jadi mengomentari Kakak ku? jadi, mau jujur atau..." Ucapan Chelle belum selesai dan sudah di potong oleh Brian.


"Iya iya kami hanya sedikit menjahili Marshely, dengar sedikit. Jika dia mengis karena menurutmu aku berlebihan ? tidak, dia saja yang cengeng." Ucap Brian.


" Lihatlah, bahkan Marshal tidak membelaku. Hanya kau yang sayang padaku Chelle."Ucap Marshely.


"Sudah, sudah. Biarkan saja, ayo Shely sebaiknya kau bertemu dengan Momy ku, daripada disini." Ucap Chelle.


"Iya." Dan kahirnya hanya tinggal Brian dan Marshal disana.


"Kalian ini selalu saja membuat ribut, sekali-kali akur bisa tidak." Ucap Maria.


"Brian dan Marshal lah penyebabnya." Ucap Chelle.


"Iya, kenapa mereka sangat menyebalkan. Apalagi Brian, Marshal jadi selalu ikut menjahiliku daripada membela." Keluh Shely.


"Jangan berbicara seperti itu sayang, mereka hanya bercanda. Shely harus tahu, semua sayang padamu pada kita. Kita harus saling menjaga satu samalain oke?" Ucap Maria.


"Heummm, yes Mom." Jawabnya.


Tiba-tiba Brian dan Marshal datang berlutut di depan Shely.


"Hei, kenapa kalian berlutut di hadapanku?" Tanya bingung Shely.


"Maafkan kami Shely sudah menjahilimu." Ucap Brian.


"Iya, aku juga minta maaf." Sahut Marshal.


"Astaga, manisnya anak-anak ini." Ucap Alesya.


"Iya aku maafkan, berdirilah." Ucap shely.


"Duduklah sayang, kita akan memulai makan malamnya." Ucap Niel pada Brian dan Marshal.


Setelah itu mereka menyantap makanan dengan di selingi candaan dan tawa karena tingkal lucu dari anak-anak mereka atau mengeng masa lalu sebelum mereka menikah dengan menceritakan hal-hal konyol yang pernah dialami.


Beruntungnya mereka bisa mendapat keluarga yang sangat mencintai satu sama lain, saling mendung dan melindungi. Persahabatan mereka akan terus berjalan tiada henti dari generasi ke generasi.