My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 28



Kali ini Gil berhenti di sebuah hotel mewah bintang lima, dalam hati Ale bertanya-tanya kenapa Gil membawanya ke sini.


"Aku ingin kau menggunakan penutup mata ini." Ucap Gil tiba-tiba dengan menyodorkan kain hitam penutup mata padaku.


"Kenapa harus diutup?"


"Menurutlah sweetheart, kemari akan aku pakaikan." Ucap Gil sambil menutup mata Alesya dengan kain itu .


"Aku tidak bisa melihat apapun, awas saja kau jangan tinggalkan aku sendirian disini Gil."


"Cerewet, diam dan tunggulah. Aku akan keluar membukakan pintu untuk mu." Setelah itu Gil keluar dan membantu Ale keluar dari mobil.


"Gil berjalanlah dengan pelan, aku tidak bisa melihat apapun bagaimana jika terjatuh."


"Sorry." singakat Gil sambil menuntun Alesya.


Ale mengeratkan pegangannya pada Gil, ia merasa lantai yang ia pijak bergerak naik ke atas, "sebenarnya pria ini mau membawa aku kemana" Batin Alesya.


Merasa lantainya sudah berhenti naik, Gil menuntunnya berjalan. Ale merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.


"Diamlah jangan bergerak sedikitpun, aku akan pergi sebentar." Ucap Gil dan Alesya panik karena akan di tinggalkan di tempat yang entah ia tahu atau tidak.


"Gil jangan berani meninggalkanku, awas saja kau. Aku akan kabur dari apartment mu jika kau melakukan itu."


"Gil...Gill kau dimana?" Teriak Alesya tidak mendapat sahutan dari Gil, dibukalah kain penutup mata itu dan sungguh mengejutkan disana, sudah ada dinner table untuk dua orang.



"Ekhemm..sweetheart." ucap Gil yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Gil, kau darimana dan siapa yang menyiapkan ini semua?"


"Anak buahku." Ucap Gil kemudian menuntun Alesya untuk duduk.


"Kenapa?" tanya Alesya.


"Hanya ingin merasakan makan malam yang berbeda."


"Seromantis ini?"


"Tidak, ini biasa menurutku."


"Hah.. baiklah. Kau memang berbeda tuan Gilbert."


" Yes..I am. Makanlah dan nikmati."


"Pemandangan yang indah." Ucap Ale melihat kerlap kerlip lampu di bawah sana menjadi pemandangan yang sangat inda saat malam hari. Gil ternyata membawanya ke rooftop hotel hanya untuk melakukan dinner yang berbeda, katanya.


"Memang." singkat Gil sambil menikmati makanan yang di hidangkan.


"Rooftop adalah tempat terbaik menurutku."


"Benarkah?"


"Iyahh, disini kita menemukan ketenangan."


"Makanlah dan jangan banyak bicara." ucap Gil


"Perusak suasana." sebal Alesya kemudian menikmati makanan yang sangat mewah dan Ale belum pernah merasakannya.


Setelah menyelesaikan acara makan malam yang menurut Gil tidak romantis itu, mereka tidak langsung pulang. Menikmati angin malam berdua seperti ini merupakan hal yang baru bagi keduanya.


"Kenapa kau berubah Gil?" tanya Alesya


"Mungkin hanya perasaanmu."


"Ya, karana yang aku rasa. Kau berubah tidak lagi berbuat kasar padaku dan semuanya. Kau tidak seperti Gil yang ku kenal sejak pertama kali bertemu."


"Kau hanya belum tahu diriku."


"Memang, emmm Gil !"


"Hmmm."


"Apa kau mau mendegar sebuah cerita dariku?"


"Apa?"


"Dulu ada sebuah keluarga yang tinggal jauh dari kota, sebuah keluarga yang hanya terdiri dari tiga anggota sja yaitu Ayah, Ibu dan Anaknya. Mereka hidup dengan penuh kehangatan, Ayahnya yang bekerja sebagai buruh di kantor dan ibunya sebagai pedagang bunga kecil-kecilan. Walaupun hidup sederhana tapi mereka hidup bahagia, hingga suatu kejadian menimpa Ayahnya yang menyebabkan dia tewas. Mereka semua berduka karena kehilangan sosok pelindung yang selalu siap dikala ada bahaya datang." Jeda Alesya melirik Gil disampingnya yang sudah mengejamkan mata.


"Apa kau tidur Gil?"


"Lanjutkan ceritamu." Balas Gil masih dengan menutup matanya.


"Semenjak kejadian itu mereka hanya bisa menjaga satu sama lain, setiap hari di lalui seperti biasa. Tidak ada duka yang ada hanya kebahagian. Namun takdir berkata lain, semua kebahgian itu musnah. suatu ketika anak itu harus mengalami trauma yang membuatnya tersiksa, merasa ketakutan setiap malam, tidak bisa melakukan aktifitas sewajarnya dan hanya mengurung diri di kamar. Hingga para sahabatnya membuat dia sembuh, akan tetapi memang nasib sial yang terus menimpa dirinya, keluarga satu-satunya yang ia punya pergi untuk selamanya. Anak itu sebatang kara, tidak punya siapapun hanya para sahabtnya saja yang selalu ada menemani.


kau tahu Gil, ternyata anak itu menginkan hidup yang bahagia, menemukan pasangan sejati yang bisa mencintainya dengan tulus, menjaganya dan,melindunginya dari apapun." tutur Alesya.


"Sudah?" Kemudian Gil bertanya.


"Ya."


" Kenapa kau menceritakannya."


"Hey, itu kata-kata ku?"


"Terserah."


"Kau..." tunjuk Gil marah.


"Apa...aku tidak takut." Goda Alesya kemudian berlari agar Gil mengejarnya.


"Beraninya kau." Ucap Gil kemudian Bangkit dari duduknya dan akan mengejar Alesya, Baru saja ia akan berlari suara tembakan terdengar begitu nyaring.


DOR...


"ALESYA." teriak Gil dan berlari menghampirinya, darah merembas dari belakang baju Alesya.


"Gil."lirih Ale.


" Sialan, bertahanlah sweetheart."Ucap Gil.


Tak lama dari itu, terlihar beberapa anak buah Gil dengan tergesa.


"Bodoh, kalian kemana saja hah. Apa tidak mihat ada seseorang yang memcurigakan, apa yang kalian lihat cepat panggilkan Anthony untuk mengirimkan Heli kemari." Teriak Gil marah.


"Gil." panggil Alesya sebelum kehilangan kesadarannya


"Alesya, bertahanlah sweetheart. Hey tetap buka matamu sayang Alesya, kenapa lama sekali sialan." Teriak Gil kepada mereka karena Helicopter belum juga sampai.


Beberapa menit berlalu dan Anthony sudah turun bersama Heli yang sudah terparkir di helipad rooftop hotel.


Segera Gil menggendong Alesya yang sudah tak sadarkan diri untuk membawanya kerumah sakit.


Tim medis sudah menunggu kedatang Gil di rooftop rumah sakit mereka di perintahkan untuk bersiap. Setelah sampai Gil langsung membaringkan Alesya untuk segera di tangani, sangat jelas terlihat kekhawatiran Gil disana.


Sekarang Gil menunggu Alesya yang sedang melaukan perawatan di ruang operasi, disana sudah ada Niel dan Anthony disana


"Tenanglah Gil, Alesya pasti akan baik-baik saja." Ucap Niel menenangkan.


"Sialan, siapa yang sudah berani menembak Alesya saat berada dekat denganku. Anthony aku ingin segera kau temukan bedebah itu "


"Baik tuan." Ucap Anthony kemudian pergi entak kemana.


"Duduklah Gil, aku sampai pusing melihatmu bulak balik seperti setrikaan saja." Keluh Niel.


Saat lampu ruang operasi mati dan menampilkan Marvel yang lengkap dengan baju dokternya.


"Bagaimna Vel apakah Alesya baik-baik saja?" tanya Gil pasa Marvel kerena dia yang menangani Alesya.


"Tidak terjadi luka serius, pelurunya tidak menembus dalam dan beruntung kau cepat membawanya, dia hampir kehilangan banyak darah." Tutur Marvel.


"Baiklah, apa aku boleh melihatnya?" Tanya Gil


"Sebaiknya nanti setelah di pindahkan ke ruang rawat dan, kita harus membicarakan sesuatu." Balas Marvel.


"Ada apa?" Tanya Niel.


"Kita bicara di ruanganku." ucap Marvel.


Setelah tiba di ruangan Marvel, mereka duduk di sebuah kursi pajang yang ada di pojok ruangan. Marvel menghampiri mereka dengan membawa kantong plsatik kecil berisi peluru.


"Kalian pasti tahu ini milik siapa?" Ucap Marvel kemudian menyimpannya di atas meja.


"Victor." Gumam Niel


"Keparat, kenapa dia tahu aku bersama Alesya di sana." lanjut Gil


"Kurasa ada mata-mata yang menyamar menjadi anak buahmu Gil." Ucap Marvel.


"Akan ku selidiki itu nanti, Vel apa kau bisa meretas sistem disini?" Tanyanya pada Marvel.


"Mungkin saat di rumah aku akan melakukannya, apa yang kau inginkan?"


"Jerry Vaio." ucap Gil.


"Kenapa dia?" Tanya Niel.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu."


"Baiklah, akan ku lihat nanti. Sekarang aku harus ke markas untuk mengecek keadaan disana." Ucap Marvel sambil memberskan jas dokternya.


"Hmmm, Aku juga akan menemui Alesya." ucap Gil


"Oke, jangan terlalu mengkhawatirkannya dia tidak apa-apa." Ucap Marvel menepuk pundak Gil dan pergi meninggalkan ruangan.


"Kau terlihat kacau Gil, bergantilah. bajumu penuh darah milik Alesya, aku akan menghubungi Audrey besok." Niel menyodorkan paper bag berisi baju ganti untuk Gil kenakan.


"Hmm, thanks Niel."


"Okey, apa kau butuh teman untuk menjaga Alesya?"


"Tidak perlu, aku yang akan menjaga. Kau pulang lah." Kemudian Gil pergi meuju ruang perawaran Alesya.


"Nasib udah, di tinggal mulu." Kesal Niel bangkit meninggalkan ruangan Marvel untuk pulang.