My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 61



Kemarin keluarga Jhonson datang, Marina sangat histeris ketika melihat putrinya terbaring di dalam peti mati. Dia tidak marah kepada Gio karena, rekaman yang di berikannya menjawab kenapa Qila bisa seperti ini. Mereka tidak menyalahkan Gio, mungkin memang sudah takdirnya seperti ini. Marina dan Tio harus menerima, walau dengan berat hati.


Hari ini mereka kembali dan langsung menuju pemakaman yang sudah di siapakan sebelumnya, Audrey, Adela dan Bela juga ada disana.


Semua berduka dan jangan lupakan Maria, Dia juga ikut. Alesya mengajaknya untuk tinggal bersama di New york, meski belum ada persetujuan dari Gil ataupun Dad Gio tapi untuk sementara lebih baik Dia ikut bersamanya.


"Alesya." Teriak duo A berlari menghampirinya.


"Kau baik-baik saja, kami sangat khawatir." Ucap Adela.


"Aku juga merindukan kalian, lihat hanya sedikit luka dan memar saja. Tidak apa, Audrey bagaimana denganmu?" Tanya Alesya.


"Aku sudah sehat, seminggu kau menghilang membuat kerjaan orang saja." Balas Audrey.


"Qila." Ucap Alesya tiba-tiba melihat proses pemakan di dedpannya.


"Aku tidak menyangka dia akan pergi dengan cara seperti ini, kami baru saja akan mengajak kalian pergi bersama jika sudah kembali, Mom Bela tidak memberitahu kami mengenai kematian Qila." Jelas Adela.


"Mungkin Mom tidak ingin membuat kalian lebih khawatir." Jawab Alesya.


"Sayang." Tiba-tiba Marvel memeluk Adela, Dia datang terlambat karena sedikit ada urusan yang harus Ia selesaikan berasma Niel, Sam dan Gil. Mereka datang bersaam tentunya, Gil langsung menghampiri Alesya dan Niel, siapa lagi kalau bukan Audrey. Sedangkan Sam, Dia hanya diam menatap sendu pusara Qila yang sudah terntancap namanya di nisan.


Para sahabatnya tahu sekali, apa yang dirasakan Sam saat ini. Masalahnya Sam belum pernah jatuh cinta, dia memang suka bermain dengan wanita tapi tidak pernah disertai dengan cinta. Baru kali ini dia merasakannya, tapi harus pupus dengan kematian Qila yang pergi meninggalkannya.


"Qila sudah bahagia disana." Ucap Gil meguatkan.


Setelah selesai dan perlahan keluarga pulang meninggalkan pemakaman, barulah mereka menghampiri orangtua Qila.


"Aunty maaf kan kami." Ucap Gil


"Tidak apa Gil, semuanya memang sudah takdir Qila. Tuhan lebih sayang padanya, Daddy mu sudah menjelaskan semuanya." Balas Marina.


"Ikutlah pulang bersama kami, bukankah Qila memintamu untuk mengambil surat di kamarnya!" Sahut Tio.


"Ya uncle, kami akan menyusul." Ucap Alesya.


"Baiklah kami duluan, Gio, Bela mari." Ucap Tio pamit.


"Kita juga akan pergi sekarang Boy, Mom tunggu kedatangan kalian di Mansion" Ucap Bela.


"Maria, ikutlah bersama kami dulu." Ucap Gio kemudian Maria hanya menurut dan pergi.


Tinggalah mereka yang tersisa, Sam hanya diam memandang nisan Qila sambil mengusap-usapnya. Dia tidak menangis, entah sampai kapan Sam kuat menahannya.


"Aku kira kita bisa pergi berlibur setelah ini, tapi kau malah pergi ke tempat ternyaman di atas sana." Ucap Adela.


"Ya, aku sudah memperisapkan diri untuk menerimamu dan meminta maaf atas kata-kata tidak suka yang aku ucapkan. Jujur, itu semua bohong." Lanjut Audrey.


"Andai semuanya dapat kita atur kembali, semuanya pasti akan baik-baik saja. Berbahagialah disana bersama keluargamu, kami akan selalu mendoakan kebaikan untuk mu." Ucap Alesya.


"Sebaiknya kita harus segera pergi, sebentar lagi akan turun hujan. Sam ayo.." Gil membantu Sam berdiri.


"Duluan saja, Aku masih ingin disini." Jawab Sam.


"Baiklah, Anthony akan membawakan payung kemari jika tiba-tiba saja hujan." Ucap Sam.


"Kita pergi dulu." Pamit Niel dan mereka pergi kecuali Marvel.


"Sam, puaskanlah kesedihanmu hari ini dan. Berbahagialah esok hari, kehilangan orang yang sangat kita cintai memang membuat jiwa kita hancur. Tapi ingat, Qila tidak mau melihatmu terus bersedih seperti ini. Samuel adalah sahabartku yang kuat, kau harus yakin. Tuhan pasti memberikan kebahagaian yang tak terhingga untukmu di masa depan, Aku pergi menyusul yang lain. Ku harap, kau juga menysul ke rumah Dad Gio." Ucap Marvel menyemangati, kemudian pergi dan melihat Anthony yang sudah berjalan ke arahnya untuk memberikan payung kepada Sam.


....................


Mansion Rodrigez, langit sudah berubah gelap. Gil dan yang lainnya baru saja sampai, Sam sudah datang dari tadi dan sedang berada di kamar khusus miliknya jika dia berkunjung kemari.


"Mom." Panggil Gil yang melihat Bela sedang menunggu di ruang tamu bersama Maria.


"Mandilah dulu, Mom sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Oh ya, sepertinya Sam tidak ikut bersama kalian. Dia baru datang sore tadi dengan baju yang sudah basah, Mom jadi khawatir." Ucap Bela.


"Iya Mom Bela, mungkin seharian tadi Sam berada di pemakaman." Sahut Niel.


"Baiklah, kamar kalian sudah di bersihkan." Ucap Bela.


"Yasuda kalau begitu kami membersihkan diri dulu Mom." Balas Gil.


"Mom tunggu." Jawabnya.


Gil membawa Alesya di kamar lantai bawah karena, kondisinya yang sulit berjalan dan mengharuskan memakai kursi roda.


"Sweetheart apa kau ingin membersihkan diri?" Tanya Gil.


"Ehmm..iya Gil, tapi sepertinya aku harus meminta bantuan karenan kakiku masih terasa sakit untuk di gerakan." Jawabnya.


"Mau aku hantu hemm." Ucap Gil dengan nada menggoda.


"Tidak..Emm apakah Amer ada disini?" Tanya Alesya ragu.


"Tentu, akan ku panggilkan. Tunggulah, biarkan aku mandi di kamar mandi atas saja." Jawab Gil.


"Terimakasih."


"Apapun untukmu Sweetheart." Setelah mengecup pelipis Alesya yang terbalut perban Gil pergi memanggil Amer dan, bergeges mandi.


Tak lama Amer pun datang dan membantu Alesya membersihkan diri.


Jika kalian bingung kenapa para sahabat Gil dan Alesya terlihat sangat dekat bahakan memanggil Bela dan Gio degan Mom dan Dad karena, memang sudah dari dulu Bela dan Gio memintanya memanggil seperti itu katanya agar lebih dekat. Tidak hanya Bela dan Gio saja, orangtua Marvel dan Niel pun juga sama. Keluarga mereka memang sangat dekat, meskipun jarang bertemu tapi acara kumpul keluarga selalu ada sebulan sekali agar mempererat tali persaudaraan. Bukan hanya rekan bisnis semata, mereka juga adalah keluarga. Mangkanya banyak yang iri dengan kehangatan dan juga kebersamaan mereka, juga kekakyaannya.


Alesya beruntung bisa bertemu dengan orang-orang yang sangat menyayanginya, memang rencana tuhan tidak terduga. Yang menurut Alesya awalnya buruk, ternyata tidak selamanya buruk. Justru membuatnya terus merasakan kebahagian dan kasih sayang dari mereka semua.