My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 42



Alesya dan Selena baru saja sampai di sebuah mansion mewah dan, sangat jauh dari kota. Alesya bingung, kenapa Selena membawanya kemari. Saat di perjalanan Dia tidak banyak bertanya, hanya diam mengamati jalanan yang semakin dalam terlihat sepi.


"Silahakan masuk Ale." Ucap Selena mempersilhakan Alesya masuk.


"Ahh..iya terimakasih Lena." Balasnya kemudian masuk mengikuti Selena yang menuntunnya ke ruang tamu.


"Duduklah sebentar, Aku akan mengambil minum untukmu." Pamitnya lalu pergi ke dapur.


Sepeninggalan Selena, Dia bangkit dan mulai melangkahkan kakinya hanya sekedar melihat desain interior klasik mansion ini.


Dilihat dan di raba-nya lukisan-lukisan kuno beserta hiasan patung yang berjejer rapih di atas meja. Berbagai pernak pernik aksesoris yang sangat lawas, mungkin keluarga Selena memang penyuka hal yang seperti ini.


Namun, saat Ia tak sengaja melangkah sedikit menjauh dari ruang tamu, Alesya melihat bingkai foto yang sangat besar. Sebuah foto keluarga yang menggambarkan kehangatan disana, seorang Kakek dan Nenek duduk paling depan di sebuah kursi buludru merah bercorak emas. Di sampingnya dua orang pria yang tampan duduk bersebelahan, sambil menggendong dua anak kemabar yang kira-kira berumur 5 tahun. Sedangkan dua orang wanita berdiri di samping kedua pria itu sambil memluknya dari belakang, pancaran senyum kebahagian begitu terlihat disana.


Dia baru ingat jika Selena dan Syaqila adalah kembar, apakah mereka sudah bertemu satu sama lain? Saat Alesya sedang melamun karena memikirkan itu, Selena sedikit meninggikan suaranya memanggil Alesya karena, Ia tidak mrlihatanya di ruang tamu.


"Alesya, kamu disni!" Panggil Selenya.


"Maafkan Aku Lena, harusnya Aku tidak perlu melihat-lihat." Ucap Alesya yang merasa tidak enak atas kelancangannya.


"Santai saja Ale."Ucapnya.


" Kamu tahu, saat Aku masih kecil dulu rasanya semua akan berjalan dengan baik-baik saja. Tapi, kenyataanya berbanding terbalik.Ketika dimana awal kehancuran ini terjadi, Aku tidak menyangka permasalahan keluarga pun bisa sangat berpengaruh pada semuanya. Hanya karena cinta dan balas dendam, membuat siapapun akan lupa akan rasa belas kasihan untuk mendapatkannya." Tuturnya.


"Kenyataan memang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan, hidup bahagia tanpa meliliki musuh itu mustahil Ale. Kita di tuntut untuk bersikap bukan seperti apa yang kita inginkan, Aku sangat tahu bagaimana rasanya itu." Lanjutnya yang sangat terkihat bahwa Selena menanggung beban berat di pundaknya.


Kemudian Alesya maju dan membawa Selena kedalam dekapannya.


"Sudahlah, Aku tahu kamu wanita yang kuat. Nyatanya, kamu masih bisa bertahan sampai sekarang. Bukan kamu saja yang merasakan bagaimna perihnya hidup apalagi tanpa siapapun yang menenmani, rasanya seperti ingin mengakhiri hidup bukan."Ucap Alesya.


" Ahhh maafkan Aku Ale, kenapa jadi melow seperti ini. Ayok kita kedepan, Aku baik-baik saja." Sambil melepaskan pelukannya, Selena pergi meninggalkan Alesya.


Kini mereka sudah duduk diruang tamu dan, memulai pembicaraan yang di maksud Selena.


"Apa kamu tinggal sendiri di mansion bersar ini?"Tanya Alesya.


"Tidak, ini mansion keluarga ku. Berhubung aku sedang ada urusan denganmu dan tidak memungkinkan untuk kita bicara di luar, akhirnya aku memilih tempat ini."


"Memangnya kenapa?" Tanya Ale.


"Kamu tahu bukan, kekasihmu itu sangatlah over protective. Jadi Aku tidak mau menggambil resiko karena, Gil sangat membenci ku."Ucap Selana yang berubah menjadi sendu.


" Maaf jika Aku boleh tahu, apa yang ingin Kamu bicarakan?"Tanya Alesya menghiraukan ucapan Selena mengenai Gil.


"Kamu tidak sabar sekali, minumlah dulu. Aku hampir lupa menawarkanmu." Ucapnya sambil menyodorkan segelas orange jus yang sudah Ia buat tadi.


"Iya terimakasih." Alesya mengambil gelas itu dan meminumnya setengah.


"Emm sebenarnya Aku ingin memberitahumu sesuatu, mungkin Gil belum menceritakan ini padamu." Ucap Selena serius.


"Memangnya apa?" Tanya Alesya.


"Gil dan Aku bukan hanya sepasang kekasih Alesya, kami sebenarnya akan menikah setelah lulus sekolah. Kamu tahu jika pergaulan di sini sangatlah bebas, kami melakukan itu dan...Aku hamil. Tapi, saat Aku meminta pertanggung jawaban pada Gil, Dia marah dan meminta untuk menggugurkannya."Jelas Selena.


"Aku tidak percaya Gil tega membunuh darah dagingnya sendiri." Sangkal Alesya.


"Aku berkata apa adanya Alesya, Namun Aku tidak melakukannya dan Gil memutuskan ku."


"Bukankah kalian berpisah karena kamu selingkuh dengan Samuel?"


"Itu setelah kami berpisah dan, Samuel datang menjadi teman di saat Aku sedang terpuruk."


"Aku hanya ingin memberitahu padamu untuk berhati-hati pada Gil karena, mungkin saja saat ini kamu hanya di jadikan umpan untuk membuat musuhnya terlihat."


"Umpan? Aku tidak mengerti."


"Iya, mangkanya Aku memberitahumu. Coba pikirkan, yang Aku dengar dari Sam kalian bersama karena Gil merasa penasaran kepada mu Alesya dan, bisa saja setelah rasa penasarannya hilang. Kamu akan di campakan, setelah itu Gil menikah dengan calon pilihan keluarganya, kembaranku bukan!"


"**...tidak mungkin, Dia tidak mungkin melakukan itu. Aku tidak akan percaya sebelum membuktinyannya."


"Terserah, Aku hanya memperingkatan ." Ucap Selena acuh.


"Aku harus pulang." Ucapnya kemudian bangkit dan pergi meninggalkan mansion itu.


"Hahahahah dasar gadis bodoh, pulanglah sana, Aku yakin kau akan tersesat dan beruntunglah Aku jika Alesya bodoh itu bertemu hewan buas di hutan sana." Tawa Selena menggema kencang di mansionnya sendirian.


Alesya sedang berlari sendirian di dalam hutan, langit sudah mulai gelap dan Dia belum juga menemukan jalan pulang. Betapa cerobohnya Alesya tidak menghubungi siapapun dan sekrang ponselnya tidak mendapatkan sinyal di sini.


"Ya tuhan, semoga Gil menemukan ku di sini. Maafkan Aku." Ucapnya sambil menangis karena takut.


Dia terus mencari jalan keluar dari hutan ini, meskipun tadi Ia memperhatikan jalan. Tapi itu tidak semua dan fokusnya mengingat jalan juga teralihkan karena, sesekali Selena mengajaknya berbicara.


"Gil help me.." Teriaknya.


Kini Alesya menyerah dan, beristirahat di sebuah pohon tua yang besar. Batrai ponselnya sudah hampir habis karena, Ia menggunakan senter dari ponselnya. Semuanya gelap, hanya ada bintang yang berkelip di langit bersama senter yang menambah pencahayaannya.


.................


Gil sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Alesya, sejak Niel mengabari bahwa Alesya tidak masuk kuliah sedangkan, dirinya sendiri yang mengantarkannya sampai depan kampus. Gil sudah menghubungi Alesya berkali-kali tapi, tetap saja tidak aktif.


Setelah mengubungi Marvel untuk membantunya, Gil mendapat kabar bahwa terakhir ponsel milik Alesya aktif berada di perbatasan hutan yang jarang di kunjungi oleh siapapun. Segeralah Gil bersama Niel dan beberapa anak buahnya ikut mencari kesana.


"Shit, kenapa Alesya berada di sana? Apa yang membuat dia pergi ke tempat itu." Marah Gil.


"Tenanglah Gil, Samuel dan Marvel sedang mencari siapa orangnya."Ucap Niel.


"Jika terjadi apa-apa dengan kekasihku, akan Ku pastikan samurai kesayanganku yang akan membuat kepalanya terpisah."Janji Gil.


Mereka sedang di perjalanan mencari Alesya, jaraknya yang sangat jauh membuat Gil semakin marah dan khawatir. Malam sudah sepenuhnya datang dan, mereka masih setangah perjalanan.


Di sisi lain Alesya yang tidak sengaja terlelap bangun karena mendengar suara patahan ranting dari arah belakang. Dirinya was-was takut, di hutan lepas seperti ini sangat memungkinkan bagi binatang buas berkeliaran apalagi sekarang sudah gelap.


Dimatikannya senter dengan terburu-buru, Alesya merapatkan tubuhnya lebih dalam berusaha menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat.


" Ya tuhan tolong aku."Alesya terus berdoa.


Suara nya semakin jelas dan mendekat, Alesya panik. Ia ingin pergi berlari namun kakinya berat untuk melakukan itu, saat Alesya memberanikan diri menyalakan senternya untuk mengecek.


Dewi Fortuna hari ini mungkin sedang tidak bersamanya, disana seekor anjing hutan sedang menatapnya nyalang dengan taring yang keluar bersama tetesan liur dari mulutnya.


"AAAAAAAAA..." Alesya berlari sangat kencang, perih di kakinya tak Ia hiraukan akibat menginjak ranting-ranting dan bebatuan.


HAP


"Ahhrggg...pergi kau jangan gigit kaki ku." Teriaknya


Anjing hutan itu menggigit sepatu Alesya dengan brutal, membuat sepatunya terlepas. Tak perduli dengan sepatunya yang sudah terlepas, Alesya bangkit dan berlari.


Seakan tuhan membantunnya Alesya melihat cahaya mobil, Ia menambah kecepatan berlarinya dengan sedikit terpincang-pincang.


Brakkk....