My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
Chapter 47



Keesokan harinya Alesya dan Gil sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama kedua orang tuannya.


"Sayang, bagaimana kepalamu. Apa masih terasa sakit atau pusing?" Tanya Bela.


"Hanya sedikit pusing kadang-kadang." Jawab Ale.


"Banyaklah istirahat, maafkan Daddy kemarin tidak sempat melihatmu." Ucap Gio.


"Tak apa Dad, kita kan sekarang sudah bertemu dan Aku baik-baik saja." Balasnya.


"Yasudah kita mulai sarapannya, Kamu mau makan apa sweetheart?" Tanya Gil.


"Emm terserah kamu saja, semua masakannya terlihat sangat enak." Jawabnya.


"Okeyy, memang masakan Mom ini selalu membuat nafsu makan siapapun meningkat " Puji Gil.


"Kamu bisa saja, Mom jadi malu."Ucap Bela.


" Memang kenyataannya seperti itu honey."Sahut Gio membenarkan.


Setelah percakapan singkat itu mereka memulai makan dengan tenang, seperti biasa tidak ada perbincangan di atas meja makan.


Beberapa menit berlalu semuanya telah selesai menyatap sarapan masing-masing dan, berpindah menuju ruang santai. Berhubung hari ini weekend mereka tidak kemanapun, sebenarnya Gio dan Bela sengaja karena putranya sedang ada di rumah. Jadi memutuskan tidak pergi untuk menikmati waktu kumpul bersama, sangat jarang mereka bisa seperti ini.


"Alesya sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Ucap Mom memulai pembicaraan.


"Emm..Sebenarnya ini salahku yang terlalu ceroboh. Aku pergi dari mansion tua yang berada di tengah hutan untuk pulang karena, Aku yakin mengingat jalannnya. Tapi, memang sialnya malah tersesat sampai malam dan seekor Anjing hutan mengejarku. Hingga dia menggigit sepatuku, Aku lari sekencang mungkin. Rasanya ingin menyerah saja namun, dari arah kanan aku melihat cahaya mobil. Langsung saja Aku menambah kecepatan berlari dan, mobil itu menabrakku tidak sengaja." Jelas Alesya menerawang kejadin yang membuatnya harus duduk di kursi roda untuk beberapa hari.


"Kenapa kamu tidak menghubungi Gil sayang?"


"Disana tidak ada sinyal Mom." Jawab Alesya.


"Pantas saja dan Mom dengar seseorang membawamu ke rumah sakit?"


"Iyahh, dia paman Jerry. Mobil miliknya yang menabrakku, sekaligus yang membawaku ke rumah sakit."


"Alesya apa kamu menemukan sesuatu di mansion tua itu mungkin?" Tanya Gio tiba-tiba setelah mendengar nama jerry.


"Alesya hanya melihat sebuah bingkai foto keluarga disana dan, Jerry salah satunya " Sahut Gil.


"Tunggu Gil semuanya semakin jelas, apa kau tidak berfikir. Mansion itu adalah milik Victor yang sangat jarang ditampati, Alesya melihat bingkai foto keluarga. Pasti itu punya keluarga Maures dan, Selena bersama Jerry adalah keluarga. Kemungkinan Selena adalah cucu Victor dari anaknya David bersama Aubrey. Tapi, jika Jerry Vaio berada di bingkai foto. Siapa Dia?"Gio bertanya-tanya.


"Jika menurutmu Jerry adalah paman Selena, apa mungkin Dia salah satu anak Victor?" Gil berasumsi.


"Tidak mungkin sayang, Victor hanya memiliki satu anak yaitu David dan sudah meninggal bukan." Sahut Bela.


"Emmm jika boleh tahu, sebenarnya ada masalah apa dengan keluarga Selena. Kelihatannya lebih rumit dari yang Aku kira." Ucap Alesya, sedari tadi Dia hanya diam memperhatikan arah pembicaraan keluarga ini yang sama sekali Alesya tidak mengerti. Masalahnya sejak bertemu dan mengenal keluarga Gil, mereka selalu membicarakn Victor,Jerry dan Selena. Sekarang David, rasanya disini Akulah yang paling tidak tahu apa-apa.


"Jelaslah Aleysa, Kamu ini orang baru dalam kehidupan mereka." Batin Alesya.


"Sebenarnya ini hanya balas dendam yang belum terlaksanakan Sayang." Ucap Bela.


"Balas dendam?" Tanya Alesya tidak mengerti.


"Iya, semuanya berawal saat David menyukai Bela. Sedangkan David sendiri sudah mempunyai istri." Jawab Gio.


Flashback on


Di sebuah acara pengangkatan Giovano Rodrigez menjadi CEO, menggantikan Ayahnya Abraham Matvei Rodrigez. Semua tamu dari berbagai negara kumpul berbaur di sebuah Hall besar yang muat menampung beratus-ratus manusia di dalamnya. Acaranya sangat mewah, semua orang yang memasuki Hall itu rasanya ingin berlama-lama di dalam menikmati pesta.


Acara penyambutan telah tiba, Mc melakukan tugasnya hingga nama Abraham di panggil untuk naik di atas mimbar yang sudah di persiapka.


"Ekhmmm...Thank you, to all invited guests who were lazy to attend the appointment of the new CEO of GIAR Company. After a long time as CEO and, now is the time for my only son to replace this old Daddy. let's welcome my son, the new CEO of GIAR Company." Ucap Abe dan Gio langsung menggantikan Daddynya di atas mimbar untuk memberikan sambutan.


"Thank you for trusting you to replace you as the new CEO of GIAR company. I make sure our company is superior in terms of performance, please cooperate well."Ucap Gio.


"And I want to introduce the greatest woman in my life, my world, my house, who gives light when I fall in the dark. Bela Sovanka Rodrigez and my son Gilbert Alejandro Rodrigez. Come here baby." Lanjutnya.


Bela yang begitu menawan menghampiri Gio dengan Gil kecil yang masih digendongannya baru berumur 1 tahun. Gio menyambut Bela dengan senyum manisnya dan, beralih menggendong Gil.


"Dad come here." Panggil Gio pada Ayahnya.


"Thank you, you are the best father and mother for me. Mom must be happy to see us up there, thanks for everything. May the best prayers always be with us." Lanjut Gio.


Semua bertepuk tangan begitu meriah, ya. Savina Evgen Rodriges adalah Mommy Gio yang sudah tiada saat melahirkannya. Gio hanya hidup berdua dengan Abe, mereka selalu melakuakn apapun bersama.


Setelah acara sambutan selesai, mereka turun dan menyapa para kolega atau teman yang hadir atas undangannya.


"Congratulations dude." Ucap David.


"Selamat Gio, akhirnya kau jadi CEO juga." Sahut Aubrey.


"Ahah yahh terimakasih Dav, Bry. Kalian tidak membawa si kembar?" Tanya Gio.


"Tidak, akan repot jika membawa mereka kemari."Jawab Aubrey.


" Lihatlah pengeran kecil ini sungguh menggemaskan."Ucap David.


"Tentu, dia akan menjadi Pria tertampan di masanya. Jagalah putri kalian agar tidak terpikat pada pesona putraku." Canda Gio.


"Kurang ajar kau." Ucap David dan mereka sama-sama tertawa oleh lelucon yang Gio berikan.


"Sorry guys, sepertinya aku harus ke toilet sebentar." Ucap Aubrey.


"Aku antar." Tawar David.


"It's okay honey, aku hanya akan pergi ketoilet. Tidak perlu diantar." Tolak Aubrey.


"Baiklah, cepat kembali." Ucap David lalu mengecup pipi istrinya itu.


" Emm sayang sepertinya Gil sudah tidak nyaman, sebaiknya aku menidurkannya dulu."Sahut Bela sedang menangkan Gil yang sudah rewel.


"Dave, bisakah kau mengantar Bela. Aku harus menemui Mr. Franko disana." Pinta Gio, Dia tadinya ingin mengantar Bela namun Mr.Franko memanggilnya.


"Thanks Dave, Aku akan menyusul nanti." Ucap Gio kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Ayok." Ajak Dave.


Sesampainya di kamar, Bela langsung menidurkan Gil yang sudah terlelap di gendongan David. Karena tadi Dave menawarakan diri untuk, menggantikan Bela menggendong Gil.


Bela merasa aneh dengan David yang tidak kunjung keluar, Dia malah merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Saat Bela ingin pergi untuk bertemu Gil supaya meminta salah satu pelayannya menjaga Gil, David mencekal tangannya.


"Ya kenapa Dave?" Tanya Bela berusaha setenang mungkin.


Tanpa aba-aba David mencium Bela dengan kasar, Bela memberontak. Hell, apa-apan ini.


Plakk


Satu tamparan mendarat di wajah tampan david, Bela sangat marah.


"Apa-apan Kau hah, kurang ajar." Teriak Bela.


"Kenapa Sayanga, Aku sudah menunggu ini sejak sekian lama. Aku mencintaimu Bela, sejak pertama Gio mengenalkanku padamu. Dan sungguh sialnya Gio memperkenalkanmu sebagai calon istrinya, padahal aku sudah menyukaimu saat itu juga." Ucap David mendekati Bela dan menyudutkannya di pojokan.


"Ceraikan Gio dan, menikahlah denganku Bela." lanjutnya.


"Kau gila, Aku tidak menyangka. Sahabat macam apa berani mengatakan cinta pada istri sahabatnya sendiri dan, meminta bercererai untuk menikah dengannya. cuihhh rendahan sekali." Cibir Bela.


"Hanya Aku, Aku rela berpisah dengan Aubrey jika untuk bersamamu."


"Jangan Gila, untuk apa kau menikahinya jika seperti itu."


"Aku tidak mencintainya Bela, kau tahu kami di jodohkan."


"Omong kosong, enyahlah dari sini. Sebelum Gio membuatmu tak bernyawa." Ancam Bela.


"Aku akan pergi bersamamu." Ucap David dan kembali mencium Bela. Dia sangat kasar, Bela sudah meronta dan memanggil Gio di sela ciuamnnya.


Hingga pintu kamar terbuka menampilkan Gio berdiri bersama Aubrey tekejut dan marah.


"Brengsek."


BUGHHHH


BUGHHHH


Gio meninju David samapai dia terkulai lemas dengan lebam dan darah yang keluar dari wajahnya.


"Gio." Isak Bela.


Gio langsung menghampiri Bela dan memeluknya.


"It's okay honey I'm here." Ucap Gio meneangkan Bela.


"David, apa yang kau lakukan pada Bela.Aku tidak percaya." Ucap Aubrey.


Tiba-tiba Victor dan Abrhama datang, alangkah terkejutnya dengan apa yang terjadi disana.


"Ada apa ini Gio?" Tanya Abe.


"Tanyakan saja pada pria sialan itu, yang beraninya melecehkan istriku." Ucap Gio marah.


"Apa maksudmu Gio, putraku melakukan apa?" Tanya Victor.


"Aku mencintai Bela sejak dulu Dad." Sahut David.


"Jangan bercanda Dave, kau sudah memliki istri dan anak." Ucap Victor.


"Itu karenamu yang menjodohkanku." Balasnya.


Tiba-tiba sura tangisan Gil terdengar begitu kencang, Aubrey yang melihat Bela masih syok langsung berinisiatif menenagkan Gil di kamarnya. Meninggalkan mereka semua, Ia sengaja tidak mau mendengar itu lagi. Karena Aubrey sudah tahu ini sejak pertama kali menikah dengan David. Dia menjelaskannya tapi, Aubrey tidak percaya dengan hari ini.


"Jangan harap kau bisa merebutnya dariku Baj*ngan."Sahut Gio.


" Baiklah jika aku tidak bisa memiliki Bela kaupun juga sama Gio." Dengan gerakan tak terduga, David melayangkan pelurunya untuk menembak Bela. Tapi, pergerakannya tidak luput dari penglihatan Abe. Ia langsung berlali.


DOR


Peluri itu menembus jantung Abe.


"Daddy, Abe." Teriak yang ada disana. Aubrey yang berada di kamar pun terkejut dengan sura itu.


"Kau." Teriak Gil marah.


DOR...DOR...DOR...


Tiga peluru bersarang di kepala, perut dan jantung David. Dan saat itu juga Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Gio melakukannya dengan sangat cepat karena, memang dia adalah penembak yang sangat baik.


Victor hanya diam membeku, melihat putra dan sahabatnya mati dalam waktu bersamaan, entah dia harus bersikap seperti apa. Karena memang ini adalah kesalahan putranya, namun salah Victor merasa marah karena putra yang sangat ia banggakan itu mati dengan cepet.


Aubrey yang lagi-lagi mendengar tembakan langsung keluar meinggalkan Gil yang sudah kembali terlelap dan, mendapati ruangan sudah penuh dengan darah, dilihatnya David yang sudah tidak bernyawa itu.


"Dave." Panggil Aubrey.


"Dad, capat bawa David ke rumah sakit." pinta Aubrey yang sudah banjir air mata.


Tak beberapa lama anak buah Victor bersama Gio datang untuk membantu majikan mereka, pesta sudah di bubarkan sejak tadi. Setelah Victor pergi bersama Aubrey membawa jasad David untuk ddi urus dengan layak, berbeda dengan Abraham yang tidak mau di bawa ke rumah sakit untuk di tangani.


"Dad ayolah jangan seperti ini." Ucap Gio prustasi karena, Abe kekeh untuk tidak kemanapun.


"Gio, jaga keluargamu dengan baik. Terimakasih sudah menjadi putraku yang tangguh dan kuat, Bela jadilah istri dan ibu yang baik untuk Gio dan Gil. Savina sudah menjeputku, samapai jumpa Son." setelah mengucapkan itu Abe pergi untuk selama lamanya.


Beberapa bulan berlalu Gio kira setelah kepergian Ayahnya, Victor akan meminta maaf. Tapi tidak, Dia marah, tidak terima anaknya mati dengan cepat. Dan sampai saat ini permusuhan itu masih berlangsung.


Flashback off