
Setibanya di kampus Gil membukakan pintu mobil untuk Alesya, berlebihan memang. Tapi, Gil ingin berubah membuat Alesya nyaman berada di dekatnya.
"Thank you." Ucap Alesya
"Sweetheart akan ku jemput nanti, Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Kemana saja yang membuatmu senang." Ucap Gil sambil mengacak-ngacak rambut Alesya.
"Ihh Gil, rambutku berantakan nih." Ucapnya kesal
"Uhhh gemasnya kekasihku."
"Kenapa Kamu jadi aneh ya."
"Aneh apanya?" Tanya Gil.
"Sikapmu yang seperti permen ini."
"Aku hanya ingin membuatmu nyaman sweetheart."
"Maka dari itu jadilah dirimu sendiri."
"Aku sedang menunjukannya."
"Benarakah?"
"Iya, jangan banyak bertanya. Masuklah dan hubungi aku jika ada apa-apa karena, Samuel sudah tidak menjadi dosen lagi dan kebutulan tidak ada bodyguard yang menjagamu."
"Kamu memecat Samuel?"
"Tidak, Dia sedang mengurus perusahaannya."
"Dia juga sepertimu ternyata, Aku kira hanya dosen saja."
"Kamu ini, sana pergilah." Ucap Gil mencium kening Alesya lama.
"Iya sayang iya." Alesya tidak sadar apa yang barusan Ia ucapkan membuat Gil terseyum senang.
"Apa, sayang?" Ulang Gil sembari menggodanya
"Hah apa?"Tanya Alesya dan baru sadar. " Udah ah, Aku mau ke dalam dulu." Pamitnya kemudian berlari tanpa menghiraukan teriakan Gil yang memanggil namanya.
"Menggemaskan."Gumam Gil kemudian pergi.
Saat sedang berlari Alesya tidak sengaja menabrak bahu seseorang dan, membuat keduanya terjatuh.
"Awwwhhh." Rintih mereka bersamaan sambik bangkit merapihkan pakaiannya.
"Kau bisa jalan tidak?" Teriak wanita iti.
"Maaf, Aku tidak sengaja." Ucap Alesya.
"Kau."
"Selena! Kamu Selena kan?" Ucapnya memastikan.
"Iya Aku Selena, maaf. Sungguh, Aku kira kamu bukan pacarnya Gil." Balasnya langsung berubah 180° dari sebelumnya.
"Ahaha iya tak apa, kamu sedang apa di sini. Mencari samuel? Jika mencarinya, Dia sedang tidak masuk." Jelas Ale.
"kebetulan sekali, Aku kemari ingin bertemu denganmu.."
"Alesya, namaku Alesya." Lanjut Ale.
"Ya Alesya, Aku ingin membicarakan beberapa hal dengan mu." Ucap Selena.
"Benarkah, membicarakan apa jika Aku boleh tahu?"Tanya Alesya.
" Sebaiknya kita bicarakan di tempat lain, apa kamu tidak keberatan?" Tawarnya.
"Tapi Aku akan ada kelas hari ini."
"Hmm tolonglah, hari ini saja." Mohon Selena.
"Tapi.."
"Sekali ini saja please.."
"Emmm baiklah." Tanpa berfikir buruk Ale menyetujui ajakan Selena.
"Terimakasih." Ucap Selena senang.
Betapa lupanya Alesya untuk menghubungi sahabat maupun Gil, Dia pergi begitu saja bersama Selena.Tidak ada yang tahu apa yang sedang di rencanakan wanita itu padanya.
...............
Setelah mata kuliah selesai, Audrey dan Adela heran. Kenapa Alesya tidak masuk kuliah namun, mereka pikir mungkin sedang bersama Gil, Apalagi mereka baru saja meresmikan hubungan.
Mereka berdua juga tidak bertanya ataupun curiga mengenai Ale yang tidak masuk kuliah.
"Ale tumben banget nggak ngasih kabar."Ucap Audrey.
"Iya yah." Singkat Adela.
"Heumm nggak kaya biasanya, dikit-dikit ngabarin "
"Bener."
"SPJ (Singkat, padat dan, jelas) banget." Kesal Audrey.
"Kenapa sih Rey ah." Ucap Adela masih setia memandangi layar ponselnya.
"Kenapa..Kenapa. Kita lagi ngomongin Alesya yang nggak kaya biasanya hari ini." Ulang Audrey menjelaskan.
"Maklumlah, palingan lagi liburan buat ngerayain hari jadi mereka kemarin." Balas Adela berjalan dan, hanya fokus membalas pesan di ponselnya.
"Bukan dari siapa-siapa kok." Jawabnya kemudian mematikan layar ponselnya dan, Ia masukan kedalam kantong.
"Lo punya pacar yah?" Selidik Audrey.
"Ee..enggak, kan Gue udah di jodohin Audrey sayang."Ucapnya.
" Tuh kan gugup, ngaku aja deh. Benerkan Lo lagi deket sama cowo."Audrey berasumsi.
"Enggak beneran, ini Mom suruh Gue ke butik buat pitting baju."
Balasnya sendu.
"Pitting, Lo mau cepet married ?" Tanya Audrey kaget.
"Heeemmmm gitulah, Gue juga nggak tahu calonnya kaya gimana, sama siapa, orangnya kaya apa, dari keluarga mana. Sebenernya Gue nggak mau Rey tapi demi orangtua, Gue nurut aja." Ucap Adela memberhentikan langkahnya dan terlihat sudah hampir menangis.
"Astaga Del, sorry Gue nggak tahu. Lo sih nggak cerita apa-apa ke Gue." Audrey memeluknya mencoba menenangkan.
"Gue nggak mau buat lo sama Alesya tahu ini karena, ini urusan Gue sama keluarga. Apalagi kalau cerita sama Ale, Lo tahu kan Dia aja udah pusing sama masalah hidupnya."Jelas Adela.
" Del denger."Ucap Audrey sambil melepaskan pelukan mereka dan menatap Adela yang sudah sembab. " kita itu udah kenal berapa lama sih. Okey, lo nggak mau cerita sama Ale geu juga ngerti tapi, apa salahnya cerita ke Gue?"Lanjutnya dan menghapus jejak air mata di wajah sahabatnya itu.
"Gue siap dengerin curhatan lo, sedikitnya perasaan lo juga bakal tenang. Kita sahabat Adela, nggak perlu ngerasa nggak enak atau takut." Ucap Audrey.
"Maafin Gue Rey, maaf."
"Udahh, nggak usah minta maaf segala. Lain kali jangan di ulangin lagi." Ucap Audrey sambil mencubit gemas kedua pipi Adela untuk sedikit membuatnya tertawa.
"Uhhh, makasihhh...Beruntung banget Gue punya sahabt kaya Lo sama Alesya."
"Iya iya, di antara persahabatan kita nggak ada kata maaf ataupun terimakasih karena, itu yang seharusnya kita lakuin." Balasnya.
"Hehe..Yaudah yuk pulang, Mamy udah ngirimin pesan mulu.",
"Yaudah ayok."Balas Audrey kemudian mereka bangkit dan melanjutkan langkahnya menuju parkiran.
Seperti biasa Audrey yang setiap harinya di jemput oleh Niel sedangkan Adela, sudah tak terlihat menuju parkiran.
" Lama."Kesal Niel.
"Sorry ada urusan kewanitaan tadi.",
" Ribet."
"Udah deh ahh, lagi PMS sensian amat."
"Teserah, cepet masuk." Perintah Niel.
Di dalam mobil Audrey tidak henti-hentinya mengomel karena Niel yang sangat menyebalkan hari ini.
"Berhenti mengoceh honey, kau membuat kupingku terasa panas karena suaramu yang terdengar seperti cacing itu."
"Kau baru saja menghina suaraku yang seperti burung merpati ini!" Teriak Audrey.
"Jangan berteriak di mobilku honey." Teriak Niel tak mau kalah.
"Kau juga bertiak Niel." Desis Audrey dan dihiraukan Niel.
"Gil sedang liburan yah?" Tanya Audrey.
"Tidak." Singkatnya.
"Benarkah, Aku kira mereka sedang berlibur."
"Memangnya kenapa?" Tanya Niel.
"Alesya tidak masuk kuliah." Ucapnya.
"Kau jangan bercanda, Gil sendiri nyang mengantarkannya. Tadi pagi Aku baru saja sarapan di apartment-nya." Jelas Niel.
"Astaga untuk apa Aku bercanda Niel." Ucap Audrey kesal.
"Apa Alesya ada menghubungimu atau Adela?" Tanya Niel serius.
"Tidak ada, Niel bagaimana ini. Alesya pergi kemana?" Audrey terlihat panik karena khawatir.
"Sebentar, Aku akan menghubungi Gil untuk memastikan." Ucap Niel menepikan mobilnya.
"Cepatlah Niel." Ucap Auderey tidak sabar.
"Hallo Gil, apa kau sedang bersama Alesya?" Ucap Niel yang sedang mengubungi Gil.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Alesya tidak masuk kuliah hari ini, apa kalian tidak jadi pergi ke kampus?"
"Apa...tidak mungkin, Kau tahu sendiri Niel tadi pagi Aku mengantarnya."
"Lalu kemana perginya Alesya?"
"Baiklah Niel, Aku akan menghubungimu nanti." Ucap Gil dan mengakhiri panggilannya.
"Bagaimna?" Tanya Audrey.
"Entahlah, Gil akan menghubungi Alesya." Ucap Niel.
"Mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang buruk pada Alesya tuhan." Do'anya, Ia sangat khawatir. Baru saja Alesya merasakan sedikit kebahagiaan.
"Tenanglah honey, tidak akan terjadi apa-apa pada Alesya." Ucap Niel menenangkan.
"Semoga saja."
Setelah itu dengan perasaan khawatir dan pikiran-pikiran negatif menghantui Audrey, mereka melanjutkan perjalanan.