
One week later
Hari ini Alesya sedang bersiap untuk pergi honeymoon bersama Gil, rencananya mereka akan berangkat siang ini ke paris Francis sebagai destinasi pertama mereka.
"Sweetheart apa semuanya sudah siap?" Tanya Gil.
"Sudah, ternyata Mom se-exited itu. Dia sudah menyiapkan semuanya, Aku sampai tidak enak." Jawab Alesya.
"Biarkan saja, Mom terlalu senang mungkin." Ucap Gil.
"Oh ya Gil, Adela kemarin mengabariku katanya dia hamil. Usia kandungannya baru saja dua minggu, Aku sangat senang sekali mendengarnya."
"Benarkah, tenang saja sweetheart. Kita juga akan segera menyusul, mungkin saja benih ku sudah ada di rahim mu." Ucap Gil sambil mengusap perut rata Alesya.
"Aku harap begitu." Balas Alesya dengan senyum manisnya.
"Baiklah, jika semuanya sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang, kamu sudah tidak sabar bukan?" Goda Gil.
"Tentu."
Dengan di bantu pelayan rumah, Amer membawakan satu koper milik mereka, entahlah Alesya bingung. Kenapa Bela hanya menyipaka satu koper utuknya dan Gil, dia juga belum melihat apa saja di dalamnya.
"Sayang, baik-baik disana okey. Mom sudah menyiapkan semua keperluan di dalam koper dan, Gil. Kau jangan membuat Alesya terlalu lelah, pikirkan juga kesehatannya. Segera kembali bersama calon cucu ku." Ucap Bela.
"Honey, kenapa kamu cerewet sekali." Omel Gio.
"Tak apa Dad." Sahut Alesya.
"Yausdah kami berangkat dulu, bye Mom, Dad." Pamit Gil.
"Ingat pesan Mom ya sayang." Ucap Bela sambil memluk Alesya.
"Sampai jumpa Dad,Mom." Kemudian mereka pergi menuju bandara, kali ini ada yang berbeda dari perjalanan yang Gil lakukan. Alesya memintanya untuk tidak menggunakan pesawat pribadi miliknya, melainkan memesan tiket kelas ekonomi untuk penerbangan kali ini.
Tentu saja Gil sempat menolak, tapi Alesya terus membujuk Gil sampai akhirnya dia setuju. Alesya hanya ingin merasakan kehidupan normal seperti pasangan lainnya, biarkan menjadi sebuah moment baru bagi mereka berdua.
Sesampainya di bandara mereka langsung diarahkan untuk segera naik ke pesawat, tak henti-hentinya Gil bertanya pada Alesya.
"Apa kamu yakin, tidak ingin menggunakan pesawat pribadi saja?" Tanya Gil.
"Sudah berapa kali aku bilang, keputusanku sudah bulat. Jika tidak mau, batalkan saja." Kesal Alesya.
"Baiklah-baiklah, maafkan aku okey." Akhirnya Gil mengalah.
Setelah mencari tempat duduk yang tertera dalam tiket, Alesya dan Gil duduk berdampingan. Untuk Gil, ini adalah pengalaman pertama. Semenjak kecil, dia selalu saja dikelilingi sesuatu yang mewah.
"Maafkan Aku jika kamu merasa tidak nyaman." Ucap Alesya sedari tadi melihat Gil yang bergerak tidak nyaman.
"Tidak masalah sweetheart, apapun yang membuatmu terseyum akan ku lakukan. Jangan merasa tidak enak, jujur saja ini adalah kali pertama aku berada di pesawat dengan kelas ekonomi." Ucap Gil sambil terkekeh.
"Tidak buruk bukan?"
"Lumayan, asal bersama mu."
"Perayu."
"Aku serius sweetheart."
Tidak ada pembicaraan lagi setelah ini, mereka menikmati penerbangan selama 6 jam menuju Francis.
Sebuah BMW hitam sudah menunggu untuk di tumpangi Gil, Daddy nya yang menyiapkan ini untuk menjeput mereka.
"Akhirnya sampai juga." Ucap Alesya.
"Ayo sweetheart." Ajak Gil sambil menggandeng tangan Alesya.
Saat pertama kali Gil dan Alesya melakukan perjalanan, mereka selalu saja menjadi pusat perhatian orang-orang. Bisik-bisik selalu terdengar di telinga mereka, tidak sedikit juga yang iri kepada Alesya.
"Kita akan kamana dulu?" Tanya Ale.
"Sebaiknya kita istirahat dulu." Jawab Gil.
"Ya, aku juga merasa sangat lelah."
sesampainya di hotel yang ternyata sudah menunggu kedatangan Alesya dan Gil, sebagai tamu spesial mereka diberikan pelayan khusus.
"Bienvenvenue Mr. and Mrs. Rodrigez." Ucap salah satu pegawai hotel
(Selamat datang Mr. and Mrs. Rodrigez)
"Viens me suivre dans ta chambre." Lanjutnya.
(Mari ikuti saya untuk menuju ke kamar anda )
Alesya yang terkagaum-kagum dengan hotel tempat mereka menginap, sangat mewah dan berkelas. Apalagi setelah mengetahui view kamarnya yang langsung menghadap kearah Eiffel tower.
"Whoa, Gil view nya bagus sekali." Ucap Alesya.
"Kamu suka sweetheart?" Tanya Gil sambil memeluknya dari belakang.
"Tentu, aku jadi tidak sabar untuk segera pergi kesana."
"Beristirahatlah." Ucap Gil melepaskan pelukannya dan pergi membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, Gil langsung merebahkan diri dan tertidur. Sekarang sudah jam 9 malam di Francis, suaminya sudah pergi saat Alesy kembali dari kamar mandi.
"Kenapa perginya Dia, tadi perasaan masih tidur." Gumam Alesya, kemudian melihat dua kotak hitam di atas tempat tidur. Karena penasaran Alesya membukanya dan, ini adalah sebuah drees lengkap dengan sepasang sepatu.
..."Use Me "...
Alesya tersyum membacanya, sebenarnya Alesya tidak nyaman memakainya. Dress nya terlalu terbuka dan, jelas sekali sangat memperlihatkan lekul tubuhnya.
Crazy Bastard 🐺
Keluarlah
Melihat nama yang tertera di layar ponselnya membuat Ia tersenyum, dulu memang dia sangat tidak menyukai Gil. Alesya takut, Gil yang selalu kasar padanya. Tapi, perlahan sikap kasarnya perlahan berubah membuat Alesya balik mencintainya.
Tanpa pikir panjang, Alesya melihat pantulan dirinya di cermin.
"Perfect." Ucapnya.
Di depan pintu, seseorang sudah menunggu. Alesya tentu kaget dan bingung, siapa dia dan kenapa berdiri di pintu kamarnya.
"Bonsoir Mme Rodrigez. Auparavant, présentez-moi Vale. Venez avec moi, mais avant. M. Rodrigez vous demande d'utiliser ce tissu pour un cache-œil." Ucapnya.
( Selamat malam Mrs.Rodigez. Sebelumnya, perkenalkan Saya Vale. Mari ikut dengan saya, tapi sebelumnya. Mr.Rodrigez meminta agar anda menggunakan kain ini untuk penutup mata)
"Vraiment, Gil m'a-t-il demandé de fermer les yeux?" Tanya Alesya, untung saja dia mengerti. Karena, ia selalu antusias jika belajar tentang bahasa Francis.
(Benarkah, apa Gil yang memintaku untuk menutup mata?)
Belum ada jawaban dari Vale, ponselny sudah bergetar.
Crazy Bastard 🐺
Aku yang menyuruh Vale, melakukannya.
Alesya sedikit ragu, tapi Gil sudah mengirim pesan bahwa dia yang memintanya.
"D'accord." Ucap AlesAlesya
(Baiklah)
Setelah sampai di lobby, barulah Alesya ditutup matanya. Dia sangat takut, jika bukan Gil yang melakukan ini semua. Tadi Vale, pria suruhan Gil sedang mengemudi entah akan pergi kemana. Tapi itu tidak lama, mungkin hanya lima menit kami sudah sampai.
"Es-tu arrivé? Tanya Alesya.
(Apakah sudah samapai ? )
Tidak Ada jawaban darinya, Alesya hanya mendegar suara pintu mobil terbuka dan seseorang menyentuh tanganya. Reflek Alesya menjauhkan tangan miliknya, dia tidak tahu siapa yang berada di dekatnya sekarang. Hingga suara yang sangat Ia kenal memanggilnya."
"Sweetheart."
"Gilbert?"
"Keluarlah perlahan." Ucap Gil. Alesya menutur saja dan, Gil menuntunnya berjalan.
"Kenapa kamu memakai baju seperti ini?" Protes Gil tidak suka.
"Bukankah kamu yang menyiapkannya?" Tanya Alesya bingung.
"Orang suruhanku yang membelinya, aku tidak sempat karena harus mengurus sesuatu." Jelas Gil.
"Itu salahmu sendiri, jadi apa kita masih harus berjalan?" Tanya Alesya.
"Sudah sampai, aku akan membuka penutup matanya. Tapi jangan membuka mata sebelum ada aba-aba dariku." Perintah Gil.
"Baiklah."
"One...two...three.. sekarang."
"Dinner?"
"Ya, kamu suka sweetheart."
"Tentu."
Kemudian Gil mendekat menarik kursi mempersilahkan Alesya duduk.
"Aku menyiapkan ini tanpa bantuan siapapun." Ucap Gil.
"Really ? aku tidak percaya."
"Sungguh, ya aku di bantu. Tapi selebihnya aku yang mendekor dan, memasak."
"Kamu memasak?" Tanya Alesya tidak percaya.
"For you sweetheart, aku memang bisa memasak. Tapi banyak orang yang tidak tahu akan itu, kecuali keluargaku."
"Sahabatmu?"
"Mereka juga."
"Baiklah, aku akan mencoba masakan chef Gilbert." Ucap Alesya sambil terkekeh.
"Silahkan your Majesty."
Alesya mencicipi semua masakan yang Gil hidangkan.
"Bagaimana?" Tanya Gil penasaran.
"Enak." Jawab Alesya.
"Benarkah?"
"Ya sayang, masakanmu sangat enak." Puji Alesya.
"Syukurlah."
Akhirnya mereka makan malam bersama di bawah langit berkelip bintang dengan pemandangan Eiffel tower.