My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 67



Tiga hari sudah berlalu, Alesya merasa bosan hanya berdiam diri di apartment.


"Masih terisa empat hari lagi ya Kak!"


"Bersabarlah, setelah ini kalian akan selalu bersama setiap hari."Ucap Maria menenangkan.


" Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan agar tidak merasa bosan?"Ucap Alesya.


"Aku tidak tahu, semuanya sudah kita lakukan. Memasak, bertukar cerita, menonton Film, bermain Game dan apa lagi."


"Huftt, pilihan terakhir hanya menonton TV." Ucap Alesya lesu.


Saat Alesya menyalakan televisi di hadapannya, Ia begitu terkejut melihat Gil bersama seorang wanita cantik. Ale tahu dia adalah seorang model papan atas Jessica Qareny Walter, Gil berada di Italia?


"Kak, dia Gilbert kan calon suami ku? kenapa bersama Jessica?" Tanya Alesya.


"Tenanglah Ale, mungkin dia sedang ada perjalan bisinis. Jangan berpikiran buruk, bisa jadi Gil tidak hanya berdua." Ucap Maria menenangkan Alesya.


"Aku harus berbicara pada Mom Bela, kenapa Gil terlihat dekat dengan dia. Aku harus pulang sekarang.."


"Tunggu Ale, bagaimana dengan rencananya."


"Aku tidak perduli, ayo Kak." Ajaknya kemudian berjalan keluar di susul Maria. Alesya sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat, meskipun masih sedikit terpincang. Tapi, Ia abaikan karena tidak sabar untuk pulang dan menanyakan kebenarannya.


"Alesya tunggu." Teriak Maria. " Astaga anak itu cepat sekali."Rutuknya.


Di depan Alesya di hadang oleh penjaga yang di tugaskan Gio untuk menjaga Alesya.


"Maaf, Nyonya apa yang anda lakukan di luar?" Cegah penjaga itu.


"Antarkana Aku ke mansion Gil sekarang." Perintah Alesya.


"Tapi, Tuan Gio tidak memerintahkan kami untuk itu."


"Antarkan sekarang atau, Aku akan mengadu kepada Dad Gio agar memcatmu." Ancam Alesya.


"Bbba..baik Nyonya, tunggalah sebentar. Kami akan menyiapkan mobil terlebih dahulu." Ucap Penjaga itu dan pergi ke basement.


"Ale, larimu cepat sekali." Omel Maria.


"Maafkan Aku Kak."


Tak butuh waktu lama, sebuah mobil sedan hitam sudah berhenti di hadapannya. Langaung saja Alesya dan Maria masuk, di perjalanan perkataan reporter itu terus saja terngiang.


"Benarkah model itu kekasihnya ? Tidak Alesya kamu jangan berpikiran buruk dulu, itu hanya berita. Bisa saja media membesar-besarkannya, tenanglah." Batin Alesya.


Untunglah jarak dari apartment menuju mansion Gil tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai disana.


"Mom Bela, apa kamu ada di rumah. Mom.." Teriak Alesya tidak sabaran.


"Alesya tenanglah." Maria menenangkan Alesya.


"Alesya, kenapa kamu berada di mansion sayang. Bukanlah emapat hari lagi kamu boleh bertemu Gilbert, ada apa?" Ucap Bela dari arah taman.


Alesya langsung memeluk Bela erat dan menangis, Bela yang kaget melihat Maria seakan meminta jawaban kenapa calon menantunya seperti ini.


"Sayang ada apa, duduklah kita bicara baik-baik okey." Ucap Bela menuntun Alesya duduk di kursi, Maria sudah pergi membawakan air minum untuk mereka.


"Apa Gil pergi ke Italia?" Tanya Alesya.


"Ya, Dad menyuruhnya pergi kesana untuk mengurusi beberapa masalah perusahaan bersama Sam dan Niel. Kenapa kamu tahu?"


"Astaga, Mom belum melihat berita hari ini. Tidak mungkin Gil seperti itu sayang, kalian akan menikah empat hari lagi."


"Aku takut Mom."Lirih Alesya di pelukan Bela.


"Gil pria yang setia, Mom yakin itu. Kamu harus percaya padanya sayang, dia disana hanya mengurusi masalah bisinis."ucap Alesya. " Begini saja, dia akan pulang besok dan, kita sudahi acara pingitanya.."


"Pingitan?" Tanya Alesya memotong ucapan Bela.


"Iya, tradisi orang indonesia. Mungkin kamu sudah tidak asing lagi dengan ini."


"Kenapa Mom tidak menjelaskannya dulu pada kami, aku kira Mom sengaja menjauhkan ku dengan Gil."


"Hahaahaha...kamu ini. Tidak mungkin Mom berani untuk melakukan itu, Gil sangat mencintaimu Alesya. Tidak ada yang bisa memisahkan kalian, percyalah."


"Aku berharap begitu, kenapa Mom sampai berpikiran kesana?"


"Bulan lalu Mom dan Dad menghadiri acara pernikahan kolega Dad di indonesia, Dia menjelaskan bahwa di negaranya ada tradisi kuno yang namanya pingitan. Setelah menjelaskan semuanya Mom sangat penasaran dan menjadi tertarik, akhirnya Mom coba saja kepada Gil sekalian menghukumnya selama seminggu." Jelas Bela. "Maaf kan Mom Alesya." Lanjutnya.


"It's okay Mom, ibuku berasal dari Indonesia. Aku jadi bisa merasakan sedikit tradisinya, terimkasih Mom." Balas Alesya.


"Kamu memang wanita yang baik, syukurlah Gil mendapatkan mu sebagai pendamping hidupnya."


"Permisi, mengganggu sebentar. Aku sudah menyiapkan minuman untuk kalian." Sahut Maria menata gelas berisi fresh orange jus di meja.


"Terimakasih Kak."


"Thank you Maria."


"Sama-sama, Aku yakin setelah bercerita panjang lebar kalian merasa haus." Balas Maria.


"Ya, kurasa kau benar." Ucap Bela.


"Jadi, kami tidak perlu balik ke apartment lagi?" Tanya Maria.


"Ya, tapi Mom minta kalian jangan keluar dulu. Biarkan Gil menemuimu besok Alesya, Mom akan siapkan kamar untuk kalian tempati."


"Syukurlah, aku sudah merasa bosan. Lebih baik disini membantumu meberskan rumah dan memasak, rasanya seperti terkurung dalam ruangan mewah." Curhat Maria.


"Maafkan Mom."


"Tak apa Mom, karena itu juga kami setidaknya sudah sedikit saling mengenal dan lebih dekat, benarkan Ale?"


"Tentu." Jawab Alesya.


"Oh ya bagaimana dengan perkembangan kaki mu sayang?" Tanya Bela.


"Seperti yang Mom liahat, kaki ku sudah sangat membaik. meski terkadang masih terasa sakit, tapi tak apa." Jawab Alesya.


"Syukurlah, kalau begitu beristirahat dulu di kamar Gil. Biarkan Amer menyiapkan kamar persembunyian kalian..."


"Hahah, sangat aneh mendengar kamar persembunyian di rumah sang penajahatnya." Ucap Alesya.


"Yahh....aneh memang." Sahut Maria.


"Kalian ada-ada saja." Ucap Bela.


Semenjak kehadiran Alesya di tambah Maria, Bela tidak merasa kesepian lagi. Setelah pembicaraan itu mereka pergi, Alesya yang langsung pergi ke kamar Gil. Sedangkan Maria memilih membantu Amer memberskan kamar dan, Bela pergi setelah memberi perintah kepada Amer.