My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 35



Alesya benar-benar kesal karena Gil berbohong tentang Niel akan menyuruh sahabatnya datang menemani, nyatanya dia hanya berdua dengan Amer.


"Nyonya kenapa Anda tidak makan, tuan akan marah jika anda seperti ini." Ucap Amer


"Diamlah Bibi aku sedang kesal, biarkan tuan Gilbert mu itu marah, Aku tidak perduli. Dan kemana Marvel tidak memeriksaku hari ini, Bibi aku ingin pulang." Ucap Alesya merajuk.


"Bersabarlah Nyonya, kita harus menunggu perintah tuan terlebih dahulu." Balas Amer.


"Ada apa Amer?" Ucap Gil yang baru saja datang.


"Nyonya dari siang tadi tidak menyentuh makanannya tuan." Ucap Amer takut.


"Kenapa kau tidak makan Alesya?" tanya Gil mendekati Alesya yang duduk memunggunginya.


"Kau pembohong." ucap Alesya


"Apa maksudmu, berbohong apa?"


"Kau bilang sudah menghubungi Niel untuk mengabari Audrey datang menemaniku tapi tidak ada, aku bosan Gil. Pulangkan aku sekarang, aku sudah sehat dan ingin pergi kuliah." Jelas Ale.


"Mereka tidak ada?"


"Kau tuli?" Ucap Alesya yang sudah sangat kesal.


"Jangan menghinaku nona, bersiaplah jika kau ingin pulang. Aku akan bertemu Marvel." Ucap Gil meninggalkan ruangan.


"Apa katanya, berisap?" ulang Alesya memastikan."Bibi dengar apa yang Gil katakan?"Tanya Ale.


"Benar Nyonya, tuan menyuruh anda untuk bersiap jika ingin segera pulang." Jawab Amer.


"Yessss, Baiklah." ucap Alesya semangat.


.......


Di luar ruang rawat Alesya, Gil sedang menghubungi Niel.


"Angkat bodoh, kemana anak ini." Kesal Gil.


"Hallo Gil ada apa, aku sedang sibuk."


"Apa kau benar menghubungi Audrey untuk datang kemari?"


"Iya dia bilang tidak akan datang karena sedang membuat rencana kejutan ulang tahun Ale."


"Ulang tahun..Alesya. Kapan? Dan kenapa kau tidak memberitahuku Niel."


"Aku lupa dan sangat sibuk hari ini." Kekeh Niel disana.


"Baiklah, nanti aku akan bertanya pada Audrey ."


"okey, sampai jumpa Gil."


Setelah itu sambungan berakhir dan beralih menelpon Marvel.


"Apa?" Ucap Marvel mengangkat sambungannya.


"Alesya boleh pulang hari ini?"


"Tunggu aku untuk memeriksa keadaanya terlebih dahulu."


"Baik, cepatlah. Dia sudah sangat bosan."


"Aku pergi kesana sekarang."


Ketika Gil masuk mendapati Alesya yang sudah berganti pakaian normalnya dan terlihat sangat senang.


"Tunggu Marvel memeriksamu sebelum pulang." ucap Gil.


"Marvel, seharian ini dia juga tidak ada.Kenapa dengan semua orang, menyebalkan." Alesya menggerutu.


"Cerewet." Balas Gil singkat.


"Sekarang kau sudah mulai berani dengaku Alesya?" ucap Gil datar yang membuat Alesya diam seketika.


"**..Ttidak." Ucapnya terbata.


Suasana berubah 180° setelah Gil berucap seperti itu namun, Marvel datang tepat waktu. Seketika Alesya berterimakasih padanya.


"Hai Nona, kau tidak sabar untuk keluar dari sini rupanya." Ucap Marvel.


"Disini membosankan." Balas Ale.


"Seperti itulah, berbaringlah akan ku periksa lukamu." ucap Marvel kemudain kemeriksa Ale.


"Bagaimana Aku bisa pulang bukan?" Tanya Alesya terdengar seperti permohona mutlak yang harus di laksanakan.


"Iya, tapi...Lukamu jangan terkena air untuk semntara waktu, jangan beraktifitas yang menyebabkan luka jahitanmu terbuka, oleskan salepnya juga dan, minum obat yang sudah ku berikan agar lukamu kering lebih capet." Tutur Marvel.


"Siap Dokter Marvelino. Aku akan melakukan apa yang anda katakan tadi, jangan khawatir." Balas Alesya.


"Baguslah, kalau begitu cepat pergi. Disini kau hanya menabah beban pekerjaanku saja." Canda Marvel.


"Kau tidak tulus merawatku, begitu?"


"Kau terlalu serius nona, Gil cepatlah bawa Gadis banyak omong ini pulang." Balas Marvel.


"Tentu." Singkat Gil.


"Baiklah semuanya aku harus kembali, cepat sembuh untukmu nona." Ucap Marvel dan pergi untuk melanjutkan tugasnya.


"Ayo, jangan berjalan dan gunakan kursi roda." ucap Gil datar dan pergi begitu saja tanpa membatu Alesya.


"Apa dia marah?" Asumsinya.


Kini mereka sedang di perjalanan menuju apartment, tidak ada percakapan apapun. Alesya yang sudah sangat takut Gil kemabali seperti dulu, Gil yang kejam dan kasar.


"Apa karena aku ingin pulang dia marah seperti ini? Bodoh, seharusnya aku tidak meminta itu jika akhirnya akan seperti ini." Batin Alesya.


Beberapa Menit berlaku, mereka sudah sampai di apartment Gil. Alesya langsung pergi ke kamarnya di bantu Amer.


"Beristirahatlah, jangan buat susah Amer. Aku akan pergi dulu."Ucap Gil pergi begitu saja.


"Malam-malam begini, mau pergi kemana? Ahh sudahlah bodo amat." Monolog Alesya dan merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah itu.


........


Di lain tempat Gil yang duduk dengan angkuh dengan wajah super datarnya sedang bersama Selena. Wanita itu memberikan pesan singkat saat di perjalanan pulang tadi, meminta bertemu di sebuah cafe yang jauh dari keramaian.


"Bicaralah, waktuku tidak banyak hanya sekedar mendegar ocehan busukmu." Ucap Gil.


"Sayang, aku sungguh minta maaf atas kejadian beberapa tahun lalu. Kamu tahu aku di jebak oleh sahabatmu itu, dia memintaku untuk menjauh darimu jika tidak dia akan menyiksaku. Percayalah Gil, aku sungguh mengatakan yang sebenarnya." ucap Selena sambil menangis.


"Kau kira aku percaya."


"Kamu harus percaya Gil, aku yakin kamu pasti masih mencintaiku kan sayang.?"


"Jangan berharap terlalu tinggi Nona."


"Jangan berbohong Gil, aku tahu kamu pasti malu kan mengakuinya?"Ucap Selena namun Gil, Dia hanya diam saja. "Kenapa kamu diam saja Gil." lanjutnya.


"Aku sudah mempunyai kekasih Selena."


"Hah, wanita murahan yang ku temui saat di rumah sakit itu? Dia kekasihmu, apa seleramu menjadi rendahan Gil."


"Jangan pernah berbicara kotor tentang kekasihku, dia sangat lebih pantas dibandingkan kau."


"Baiklah jika kau bersikeras membela jal*ng sialan itu, akan ku pastikan dia tidak akan pernah mendapatkanmu."Ancam Selena.


"Sebaiknya kau berhati-hati mulai saat ini Selena Vaines Maures." Ucap Gil menekan kata Maures kemudian pergi begitu saja dengan Selena yang terkejut karena, Gil mengetahui nama aslinya.


"Bb...bagaimana bisa dia tahu, Aku harus segera bertemu paman."Ucapnya dan bergegas pergi.