
Setelah Audrey dan Niel mengecek mobil di bengkel, mereka pergi untuk makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari sana.
"Huftt akhirnya makan juga." Ucap Audrey.
"Lapar banget kayanya." timpal Niel.
"Iya karena bertengkar dengan mu harus memerlukan tenaga ekstra."
"Bukan karena kau suka makan?"
"Keduanya."
"Pesanlah terlebih dahulu, aku akan ke toilet sebentar." Ucap Niel beranjak dari kursinya namun, saat menoleh ke samping kiri dia melihat orang yang sangat ia kenal.
"Daddy Gio dan Samuel, mereka sedang apa disini. Kelihatannya sedang mengobrol serius." monolog Niel.
kemudian dia menghampiri meja mereka, untuk memastikan.
"Dad, samuel kalian berada di sini juga." Sapanya.
"Hai Niel, ya kebetulan kami sedang mendiskusikan pekerjaan, bukan begitu sam?" Ucap Gio terlihat santai
"Benarkah, apa mengenai penuduhan Gil?" tanya Niel.
"Salah satunya, kau sedang apa disini?" Tanya Gio.
"Makan siang bersama kekasihku."
"Kau sudah punya kekasih rupanya."
"Do'akan saja." Kekeh Niel.
"Dasar kau ini."
"Emm sorry Daddy Gio aku harus ke toliet sebentar dan takut dia menunggu." Ucap Niel.
"Silahkan, jangan buat dia menunggu. Wanita tidak suka jika harus menunggu lama." Ucap Gio.
"Baiklah aku pergi dulu, bye Dad, sam." Pamit Niel.
Sepeninggalan Niel mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang tertunda.
"Tidak lama lagi Gil pasti akan tahu, bersiaplah." ucap Gio.
"Pasti." Balas singkat sam.
........
Gil yang sedang menjaga Alesya dan melakukan semua pekerjaannya di rumah sakit karena, dia terlalu khawatir padahal di sini sudah ada Amer bersama Anthony dan beberapa bodyguard yang menjaga di luar.
Anthony yang mendapat telpon dari temannya di markas mengabari bahwa sniffer beserta mata-mata yang di inginkan tuannya sudah berada di markas.
"Maaf tuan, mereka sudah berada di markas." Ucap Anthony begitu saja.
"Kita pergi sekarang, aku sudah tidak sabar siap yang berani berkhianat dan menembak kekasihku saat bersama denganku."
Kemudian Gil dan Anthony pergi ke markas dan menyuruh beberapa bodyguard tambahan untuk menjaga Alesya.
Sebenarnya Gil sudah mencurigai salah satu anak buahnya sebelum Niel dan Marvel. Namun dia belum punya cukup bukti untuk membenarkan, lalu ia menyewa agent milik Marvel untuk menyelediki ini. Dan sepertinya Marvel tidak mengetahuinya, terbukti saat dia berasumsi kemarin.
Setibanya di markas Gil langsung menuju ruang gelap yang di khususkan untuk menghukum musuhnya, hampir semua yang masuk ruangan itu tidak pernah keluar dengan utuh.
"Diamana bedebah itu?" Tanya Gil pada anak buahnya.
"Sudah berada di dalam tuan." Ucapnya, segera Gil pergi dengan Anthony di belakangnya.
Disana, seseorang yang terikat di sebuah kursi besi dengan berbagai rantai yang terpasang, lengkap dengan kabel yang tersambung untuk mengalirkan listrik ke seluruh tubuh.
"Cuihh, dasar iblis." ucapnya
"Whoaa.. kau akan tahu bagaimana iblis ini mengantarkanmu ke neraka." Gil mulai mendekat dengan sebuah belati perak di tangannya.
"Lepaskan aku brengsek." ucapnya memberontak.
"Akan ku lepaskan kau jika berkenan menjawab semua pertanyaanku."
"Hah..iblis sepertimu mana bisa di percaya."
"Terserah, aku sudah berbaik hati padamu." ucap Gil sambil memainkan ujung belati di bagian leher pria itu.
"Pengkhianat sepertimu tidak pantas untuk di ampuni."
BUGHHH...
Gil meninju wajah pria itu.
"Beraninya kau masuk kedalam wilayahku dan memberikan informasi murahan pada tua bangka itu." Lanjut Gil marah dan menyayat sedikit kulit wajah pria itu.
"Aggrrhhhh...sialan kau." Teriak kesakitan dan darah mulai mengucur dari luka sayatan itu.
"Katakan atau begini saja, kau tutup mulut satu jarimu yang akan menjadi gantinya." Ucap Gil terdengar sangat kejam.
"Ttidak..jja..jangan lakukan itu." Ucapnya terbata.
"Katakanlah." Kemudian Gil sedikir menjauh dan bersender di depa kursi sambil memainkan remote kontrol kabel yang terpasang disana.
"Tidak akan pernah." ucapnya
"Kau setia juga ternyata, baiklah sesuai janjiku jarimu akan membayarnya." Ucap Gil dan berjalan cepat ke arah pria itu, belum sempat memberontak, Gil sudah memotong dua jari pria itu sekaligus.
"Arrggggghhhh...arrgghhhhh sialan kau Gilbert." Teriaknya keras menahan sakit.
"Bagaimana masih mau tidak bicara?" kemudian Gil melirik Anthony untuk menekan tombol merah pada remot kontrol yang sudah beralih tangan padanya. Seketika itu aliran listrik pada tubuh pria itu dan terkejang-kejang.
"Hehe..heheh.henn...tiii...tikkkan." Ucapnya terbata.
"Hentikan thony." perintah Gil.
"Jadi?" tanya Gil.
"Bermimpilah tuan Gilbert yang angkuh."
"Kau kurang aja sekali hah, tidak ada kata ampun untukmu. Mati saka kau." Gil teriak sangat marah karena dia berani menghinanya.
Bughhh...bughhh..bughhh
"Arghhh." Rintih pria itu.
DOR...
Satu tembakan ia lepaskan tepat di jantung.
DOR...
Satu tembakan terakhir ia lepaskan tepat di kepalanya dan pria itu mati.
"Bereskan ini Antony dan kirimkan kepala bodohnya pada tua bangka itu. Untuk dia." ucap Gil menunjuk pria yang belum sadarkan diri akibat pengaruh obat bius.
"Kau terserah mau apakan dia, dan sisanya beri makan Romeo." Setelah mengucapkan itu Gil melepas sarung tangan hitam dan pergi dari ruangan itu.
Romeo adalah hewan kesayangan Gil sejak masih kecil, seekor singa jantan milik grandpa dan sekarang sudah menjadi miliknya.
Gil pergi ke sebuah ruangan untuk membersihkam diri yang di khususkan untuknya karena, tidak mungkin bertemu Alesya dengan baju berlumuran darah. Dia akan kaget dan takut melihatnya.