My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 72



Alesya menggeliatkan badannya yang terasa kaku, betapa kagetnya pertama kali saat Ia membuka mata yang dilihatnya adalah wajah Gil yang kini sudah menjadi suaminya.


Ia masih tidak percaya sekarang sudah menikah dengan orang dihadapannya, enggan untuk beranjak. Alesya terus mengamati wajah tampan suaminya, betapa bersyukurnya Alesya memiliki Gil.


Di usapnya perlahan halis rapih tebal, hidung mancung, rahang yang tegas dan, bibir tipis. Ia kaget saat Gil tiba-tiba memeluknya dengan erat, seperti Alesya adalah gulingnya.


"Mau mencoba menggodaku se-pagi ini sweetheart." Ucap Gil dengan suara khas bangun tidurnya yang terdengar sangat sexy.


"Ttti...tidak." Sangkal Ale gelagapan.


Masih dalam dekapan, perlahan mata Gil terbuka sepenuhnya yang langsung memandang netra biru milik istrinya.


Gil membalikan posisinya menindih Alesya kemudian menciumnya lembut, tentuntu saja Alesya yang masih kaget masih diam tidak merspon ciuamannya, sampai Gil menggigit bibir bawah Alesya dan menyadarkannya.


Di sela ciumannya Gil tersenyum karena Alesya membalasnya meskipun masih terasa kaku, perlahan ciuman Gil turun ke leher jenjang yang sudah menggodanya. Alesya sudah tidak fokus, belaian Gil membuatnya menginginkan lebih.


"I want you." Ucap Gil serak, kemudian menatap Alesya dengan penuh gairah meninta izinnya, Ia tidak bisa menolak. Gil adalah suaminya sekarang dan, Alesya juga menginginkannya.


Hanya anggukan yang dapat Alesya berikan sebagai jawaban, setelah itu Gil melanjutkan aksinya dan terjadilah malam pertama yang sempat tertunda tadi malam.


.................


Di lain tempat, Bela dan Gio bersama Maria sedang bersantai menikmati pemandangan di resort miliknya ini. Mereka tentu menunggu kemunculan pasangan baru yang belum terlihat batang hidungnya sampai sekarang. Padahal matahari sudah terik, tapi mereka memakluminya.


"Maria bolehkah Aku bertanya beberapa hal ?" Tanya Bela.


"Tentu Mom, tanyakan saja." Jawab Maria.


"Apa kamu mau jika keluarga Jhonson mengangkat mu sebagai anak mereka?"


"Maksudnya?"


"Jika kamu mau, keluarga Jhonson akan mengangkat mu sebgai putrinya. Setelah kepergian Qila membuat mereka sedikit terpukul, Marina dan Tio sangat ingin memiliki anak. Tapi keinginan mereka tidak tercapai karena, penyakit yang di deritanya, Marina harus rela rahimnya di angkat dan tidak bisa mempunyai keturunan. Beruntunglah saat itu mereka menemukan Qila di jalan dan menjadikannya anak, namun kejadian yang merenggut nyawanya membuat Marina dan Tio merasa kehilangan." Jelas Bela.


"Entahlah Mom, aku pikir-pikir dulu. Sebenarnya setelah pernikahan Alesya, Aku kan kembali menikmati hidupku yang seperti dulu." Ucap Maria.


"Pikirkanlah baik-baik, kami tidak memaksa jika kau tidak mau. Tapi menurutku ini adalah suatu keuntungan bagimu karena bisa memiliki orang tua dan hidup enak, sedangkan Marina dan Tio dengan senang hati akan menerimamu sebagai putri mereka." Sahut Gio.


"Apa mereka sudah tahu?" Tanya Maria.


"Tentu, kami sudah membicarakan ini. Mereka juga butuh seorang anak untuk meneruskan bisnis keluarganya, tapi kamu jangan salah paham. Mereka tidak ingin memkasa dan mempermasalahkan itu, semua tergantung padamu Maria. Tapi, Aku harap Kamu menerimanya." Ucap Bela.


"Ya Mom, berikan aku waktu." Ucap Maria.


Setelah itu mereka habiskan waktu dengan mengobrol, tidak dengan Gio yang terus fokus mengerjakan pekerjaan kantor di laptopnya.


Hingga Malam pun tiba, mereka semua sudah berkumpul. Tinggal meninggu Gil dan Alesya, seharian ini pasangan baru itu benar-benar tidak keluar dari kamarnya.


"Apa mereka akan turun dan bergabung degan kita?" Tanya Maria.


"Tentu, karena mereka sedang menuju kemari." Jawab Bela dengan senyum lebarnya meliahat kedatangan mereka.


"Mom maaf kan aku tidak ikut bergabung sarapan tadi." Ucap Alesya merasa malu karena baru terlihat sekarang, salahkan Gil yang mengurungnya seharian. Sampai-sampai Alesya harus menggunakan baju tertutup karena ulah Gil tubuhnya penuh tanda.


"It's okey, kami sangat mengerti. Makanlah, kamu pasti sangat lelah." Ucap Bela.


"Kau terlalu bergairah boy." Sahut Gio.


"Like you." Balas Gil.


"Biarkan saja Gio, Aku sudah tidak sabar menanti kedatangan Gilbert junior." Ucap Bela.


"Kami sudah menyiapkan tempat untuk kalian pergi honeymoon." Ucap Gio.


"Francis, Brazil, Cina, Maldives dan, Bali. Kami ingin pergi kesana..."


"Whoa, memang Daddy yang terbaik." Puji Gil.


Tempat yang di sebutkan Gil adalah negara impian yang Alesya mau kunjungi, dengan perasaan senang dan terharu ternyata ayah mertuanya sudah menyiapkan itu semua.


"Terimakasih Dad." Ucap Alesya.


"Apapun untukmu sayang, bagaimana? Apa Gil pemain yang hebat ?" Alesya seketika malu dengan pertaannya yang Gio katakan.


"Tentu, bukan begitu sweetheart ? Aku sudah jelas lebih baik darimu dad." Jawab Gil.


"Kenapa kalian terus menggoda menantuku, lihatlah Gil kau tidak perhatian sekali. Alesya sangat malu dengan obrolan vulgar kalian, sebaiknya kita cepat makan dan kembali ke mansion." Omel Bela.


"Maafkan Aku sweetheart." Ucap Gil.


"Tak apa Gil, sekarang makanlah." Balas Alesya.


Setelah itu, mereka mulai menyantap hidangan makan malam yang sudah di sajikan.


Kemudian, setelah selesai. Mereka langsung bergegas pulang, sesuai apa yang di katakan Belaa tadi. Bela, Gio dan Maria, mereka satu mobil sedangkan Gil dan Ale tentunya di mobil yang terpisah. Seperti biasa, selalu ada pengawalan dimana-mana.


"Gil, apa kita akan pergi honeymoon ke lima tempat sekaligus?" Tanya Alesya.


"Ya, semacam honeymoon tour. Apa kamu keberatan sweetheart?"


"Tentu saja tidak, hanya tidak menyangka saja akan mengunjungi semua tempat yang selama ini ku impikan bersamamu." Ucap Alesya.


"Aku akan berusaha membuat mu terus bahagia sweetheart."


"I love you." Ucap Alesya.


"I love you more sweetheart." Balas Gil.


Sesampainya di mansion, semuanya langsung pergi ke kamar masing-masing. Sekarang Alesya tidak menempati kamar lamanya, melainkan bersama Gil sang suami. Saat pintu kamar di buka, mereka di buat terkejut. Kamarnya sudah di dekor dengan banyaknya bunga-bunga, kemudian Alesya mengecek kamar mandi yang juga sama.


"Astaga Gil, siapa yang menghias semua ini." Ucap Alesya.


"Entahlah." Ucap Gil.


"Lihat." Tunjuk Alesya ke atas tempat tidur.


"All your bestfriends." Ucap Gil.


"Jadi ini dari mereka, so sweet sekali." Ucap Alesya terharu.


Tanpa sadar, Gil sudah memeluk Alesya dan mengecup punggung lehernya berkali-kali.


"Gil." Panggil Alesya.


"Hemm."


Di balikannya tubuh Alesya agar mengadap kearahnya, mereka saling pandang dan tersenyum.


Perlahan Gil mendorong Alesya dan di baringkannya di atas tempat tidur yang sudah penuh dangan taburan bunga mawar merah.


Alesya tahu apa yang di inginkan Gil, Ia hanya diam memnunggu apa yang akan di lakukannya.


cup..


satu kecupan mendarat di keningnya, kemudian beralih ke mata, hidung, kedua pipi, dagu dan, bibir yang kemudian di ciumnya.


Ciuman yang semakin lama berubah menuntut, Alesya masih belum terbiasa menyeimbangi permainan Gil, tangan Gil yang tentu saja tidak diam itu sibuk melucuti pakaian yang Alesya kenakan.


Dan akhirnya, malam ini mereka kembali melakukannya.