
Di sebuah ruang rawat VVVIP Alesya terbaring lemah dengan selang infus yang setia menancap di punggung tangannya.
"Maaf ...Aku tak bisa menjagamu sweetheart. Bangunlah, Aku berjanji tidak akan bersikap kasar lagi padamu dan akan selalu melindungimu." Ucap Gil disamping Alesya.
Gil yakin bahwa yang menembak Alesya adalah sniffer suruhan Victor untuk memberi tanda, bahwa dia sudah tahu kehadiran Alesya. Karena dapat terlihat dia menjadikan perut Alesya sebagai sasaran, bukan organ fital penting.
Kemudian Gil mengetikan sesuatu di ponselnya untuk menghubungi seseorang
"*Hallo boy ada apa kau menelpon malam-malam begini mengganggu saja*."
"Ck, kau tahu jerry vaio dad?"
"Ceo baru di perusahan victor?"
"Iya."
"Tidak banyak, apa yang ingin kau tahu Gil?"
"Apa victor punya anak lain selain David?"
"Yang aku tahu, tidak ada. Tapi aku mencurigai sesuatu tentang jerry vaio yang tiba-tiba menjadi CEO di perusahaan itu."
"Aku juga berfikir seperti itu, Marvel sedang mencari informasi mengenai jerry dan Dad, aku bertemu selena."
"Benarkah, dinama?"
"Pusat perbelanjaan New York, dan disana aku sempat melihat dia menghampiri pria seperti jerry."
"Kita bicarakan ini nanti boy, aku sedang sibuk. kau memang pengganggu."
"Baiklah, maafkan putramu ini Dad." kekeh Gil kemudian mengakhiri sambungan telponnya.
........
Drtttt....Drrtttt...
Ponsel Audrey bergetar, kemudian tangannya yang meraba-raba atas meja yang terletak di sebelah tempat tidurnya.
"Hmmm, siapa?" ucap Audrey yang masih memejamkan matanya.
"Honey, kau baru bangun?" Jawab di sebrang sana.
"Iya, siapa nih?"
"Danielo, aku mau mengabari Alesya masuk rumah sakit." balasnya, dengan cepat Audrey bangun dari tidurnya.
"Kau jangan bercanda Niel."
"Aku jemput sekarang dan berisaplah, 10 menit lagi aku sampai." ucap Niel kemudian menutup sambungannya.
"Ini bener nggak sih." Ucap Audrey bingung kemudian dia menghubungi Adela.
"Del, lo ke rumah gue deh sakarang."
"Ngapain, nggak ada kerjaan banget."
"Si Niel bilang ke gue katanya Alesya masuk rumah sakit."
"Yang bener lo, pagi-pagi jangan bercanda deh nggak lucu tahu."
"Gue nggak tahu juga, tapi Niel lagi OTW ke sini buat jemput gue."
"Yaudah gue ke rumah lo sekarang."
Setelah menelpon Adela, Rey segera membersihkan diri.
"Rey...Audreyy..." Teriak Adela yang sudah sampai di rumah Audrey namun tidak ada yang menyahut kemudian Adela mengecek ke kamarnya.
"Audrey...rey...rey lo masih mandi yah." Teriak Adela.
"Nggak usah teriak bisakan." Sahut Audrey yang baru keluar dari walk-in closet.
"Maaf deh, lagian rumah lo sepi banget kaya di kuburan."
"Sialan lo, ehh si Niel udah nyampe belum?"
"Udah, tadi gue liat dia lagi santai-santai di ruang tamu."
"Hah, di ruang tamu, nggak sopan benget tuh anak." ucap Audrey dan pergi menghampiri Niel, benar saja dia sedang memainkan ponselnya.
"Heh, kau tidak sopan sekali masuk rumah orang tanpa permisi."
"Karena ini rumah mu honey jadi aku tidak perlu izin."
"Honey..honey, aku bukan madu. Ayok katanya Alesya masuk rumah sakit, anterin kita kesana."
"Dengan senang hati." ucap Niel.
.......
Alesya mengerejapkan matanya perlahan, ia samar melihat seseorang sedang tidur sambil menggenggam tangannya hangat. Ale baru ingat kemarin ia tertembak dan mengakibatkannya berada di rumah sakit.
Kemudian dia melihat Gil yang tertidur disana, tangan kanan yang tak di impus ia gerakan untuk mengelus rambut Gil.
"Terimakasih." ucapnya lirih namun, usapannya membuat Gil terbangun dari tidurnya.
"Hemmm sweetheart kau sudah sadar." ucap Gil
"Maaf membangunkan mu."
"Tekan saja ini, kenapa kau menjadi bodoh seperti ini."
"Ahah aku lupa." Ucap Gil lalu menekan tombol itu.
Terdengar pintu di buka dengan terburu-buru, ternyata itu adalah sahabatnya.
"Ya tuhan Le, kenapa bisa gini sih. Ehh pak jagain Alesya yang bener dong, gimana sih." cerocos Audrey memarahi Gil.
"Rey, aku gapapa kok cuman luka tembak di perut doang." balas Alesya.
"Lo bilang cuman, Le masih syukur lo kenanya di perut gimana kalau di kepala atau jantung, lo bisa ke surga Alesya." omel Audrey.
"Rey, udah deh jangan lebay, malu-maluin aja lo." ucap Adela.
"Gue khawatir tau." ucap Audrey mengampiri Alesya dan memeluknya sambil menangis.
"Sutt...udah ahh aku gapapa, makasih ya rey, del udah khawatir sama aku."
"Karena kita sahabat, kita keluarga lo. mana bisa nggak khawatir."
"iya iya, udah ahh jangan nangis jelek tahu." Ucap Alesya sambil menghapus air mata Audrey.
"Permisi." ucap seseorang yang baru datang itu menghampiri mereka.
"Vel." sapa Niel.
"Sepertinya sedang ada arisan keluarga." canda Marvel.
"Ck ! cepet periksa Alesya." balas Gil tidak sabaran dan Marvel pun melaksanakan perintahnya.
"Syukurlah, kondisinya sudah mulai membaik. Mungkin tiga atau lima hari lagi Alesya bisa pulang." Jelas Marvel.
"Makasih Marvel" ucap Alesya.
"Heummm, kalau begitu cepat sembuh, aku harus pergi dulu. Niel, Gil ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
"Duluan, aku akan menyusul." Balas Gil.
"Jangan membuatku menunggu lama." Ucap Marvel kemudian pergi bersama Niel.
"Sweetheart apa kau ingin sesuatu, mungkin kau lapar? Akan ada Amer kemari bersama Anthony, Jangan pergi kemanapun dan jika ingin sesuatu mintalah kepada mereka okey. Ohh ya kalian jaga kekasihku dan jangan melakukan hal-hal aneh disini, Aku pergi dulu sebentar." Ucap Gil kemudian mencium kening Alesya yang terdiam karena, baru kali ini Gil berbicara banyak seperti tadi dan yang membuat Alesya senang adalah, Gil yang begitu memperhatikannya.
"Alesya." Panggil Gil.
"Hah iii...iya Gil, pergilah jangan membuat Marvel marah." balas Alesya gugup.
"Baiklah, ingat perkataanku." setelah itu Gil benar-benar pergi.
"AAAAAAAA.." Teriak Adela" Demi apa le, tuan dingin itu khawatir sama lo, ini keajaiban. Lo kasih makan apa le kok bisa jadi jinak gitu dan apa tadi dia bilang, kekasih KE..KA.SIH..Astaga lo sama dia udah..?"lanjutnya histeris.
"Apaan sih Del, enggak kok kita cuman pura-pura aja." ucap Alesya.
"Masa sih kanapa pura-pura tapi kaya beneran, iya nggak Rey?" tanyanya pada Audrey.
"Hooh...gue bingung sama kalian, jujur deh Le. Lo udah suka sama dia kan?" Tanya Audrey.
"Ee...enggak, kata siapa. Enggak kok kita cuman pura-pura aja beneran."
"Yaelah jujur aja kali kita juga nggak akan marah, kita-kita udah tau lagi Lo suka sama dia. Keliatan banget." Ucap Adela.
"Masa sih?"
"Dan keliatanya dia juga suka sama lo deh le." ucap Audrey.
"Hahaha...nggak mungkin banget."
"Yaudah kalo nggak percaya, Gue jamin dalam waktu dekat kalian bakal jadian." Ucap Audrey.
"Trus lo sama Niel giamana?" tanya Adela tiba-tiba pada Audrey.
"Gak gimana-gimana, emang kenapa lo jadi nanyain gue sih Del?" balas Audrey.
"Penasaran aja, sebenernya gue tuh bingung sama kalian tahu."
"Bingungnya?Tanya Audrey.
" Nih ya, Alesya sama Gil kalian yang katanya pacar pura-pura tapi keliatannya enggak. Nah lo rey sama Niel juga, keliatanya kaya orang udah pacaran apalagi si Niel udah panggil honey segala ke lo."Jelas Adela.
"Ahahah perasaan lo aja kali Del, nggak usah di pikirin jodoh udah yang ngatur. Siapa tau lo sama dokter Marvel, biar datenya triple seru kan." Ucap Audrey.
"Mimpi lo kejauhan, Gue udah di jodohin sama temennya Daddy." Ucap Adela berubah jadi muram.
"Seriuss, kenapa lo baru cerita. Sejak kapan?" tanya Audrey.
"Gue lupa, belum lama sih. Gue juga belum ketemu sama anaknya." Ucap Adela.
"Terus kamu terima del?" tanya Alesya.
"Ya mau gimana lagi." Balas Adela.
"Yang sabar Del, gue do"ain deh calon lo yang ganteng dan bukan om-om." Ucap Audrey mencairkan suasana.
"Sialan lo." Umpat Adela.
Kemudian mereka pun tertawa dan tak lama dari itu, Amer bersama Anthony datang.