
"Author pov"
"Kullu nafsin dzaiqotul maut " setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, penggalan (QS . Al Ankabut:57)
Mungkin di sini yang paling menyesal adalah Airi, disaat saat terakhir ayahnya dia malah sedang berada di rumah beristirahat. Namun Aruna mencoba menghibur dan menenangkan Airi meski diapun juga masih dalam keadaan duka.
Pada acara pemakaman Fatih, Alan dengan tegar masuk ke liang lahat dan ikut menurunkan ayahnya, dia jugalah yang mengumandangkan adzan pada jenazah ayahnya.
Kebaikan Fatih benar benar terlihat diakhir hayatnya ini, banyak pelayat yang mengantarkan hingga ke pembaringan terakhirnya. Para saudara dan teman mencoba menguatkan Aruna dan anak anaknya, dengan bercerita tentang kebaikan Fatih semasa hidup saat mereka berpamitan meninggalkan pemakaman.
Kini tinggal Aruna, Aira, Alan, Airi dan Sean yang tinggal di pemakaman
"Ayah,,,,, bunda akan menjalankan amanat terakhir ayah untuk selalu menjaga dan menguatkan anak anak" ucap Aruna sambil mengelus nisan Fatih
Alan mengusap pelan pundak bundanya memberi kekuatan, diapun sebenarnya merasa sangat kehilangan, namun karrna ia laki laki satu satunya dalam keluarga dia harus tegar demi kakak dan juga bundanya.
Sedangkan Airi dan Aira masih menangis tak percaya ayahnya pergi secepat ini, tapi kehidupan mereka harus berlanjut, kini ayahnya hanya butuh do'a mereka sebagai tanda bakti.
***
Tak teras dua bulan sudah Fatih pergi meninggalkan keluarganya, kini semua mulai berjalan normal, Alan sudah memulai kuliahnya lagi, Airi dan Sean meneruskan kepemimpinan Fatih di rumah sakit milik Fatih, Arun tetap menjadi ibu rumah tangga, sedangkan Aira kini dia membuka kursus bela diri bagi perempuan, dia tidak menyianyiakan kemampuannya, karrna kemampuannya itu tetap bisa ia salurkan pada hal positif.
Setelah dua bulan ini Aira baru mengingat tentang Dimitri, dia harus tau alasan kenapa pria itu sampai menghianati Andi.
Pagi ini Aira menyempatkan diri untuk mengunjungi Dimitri di penjara, hari ini dia harus tau alasan dibalik penghianatan Dimitri.
Kini Aira sudah berada di ruang tunggu jenguk untuk napi, dia duduk di kursi yang dibatasi sebuah meja. Tak lama Dimitri tampak datang dari balik pintu jeruji dan langsung memposisikan diri duduk di seberang Aira.
"Apa kabarmu Dim??" tanya Aira yang prihatin melihat keadaan Dimitri saat ini.
Dulu pria ini berpenampilan sangat rapi dan terlihat gagah, tapi kini bulu bulu di dagu dan kumisnya tampak lebat tak dicukur, tapi senyum tetap terukir dibibirnya yang merah.
Walaupun seorang penjahat dulu Dimitri tak pernah sekalipun menyentuh obat obatan terlarang maupun rokok, kalau minuman beralkohol dia akui memang meminumnya.
"Aku baik Ai,,,, terima kasih telah mengunjungiku" ucap Dimitri penuh syukur
"Tak masalah,,, ini aku bawakan makanan ,,,, bundaku yang memasaknya sendiri" ucap Aira lagi "Makanlah,,,,,,"
"Terima kasih biar ku makan nanti di dalam"
"Maaf sebenarnya kedatangannku kali ini hanya ingin mengetahui alasanmu menghianati Andi??" Hening sesaat
"Apa kamu sangat ingin mengetahuinya??"
"Tentu,,,"
"Apa kau akan benci padaku saat mengetahui alasanku Ai!?" tanya Dimitri khawatir
"Tergantung,,,,,, alasanmu ??"
Mendengar itu Dimitri hanya mampu tertawa getir , "Memangnya aku siapa bertanya begitu? dia bersedia mengunjungiku saja aku sudah beryukur, meskipun alasannya mengunjungiku hanya karena ingin tau alasanku berkhianat" batin Dimitri berkata
"Aku mengkhianatinya karena tak sanggup membunuh orang yang aku cintai"
"Dulu saat membebaskanku kata kata itu juga kau ucapkan, tapi aku tak bisa memahami maksutmu sampai sekarang"
"Aku mencintaimu Ai" ucap Dimitri emosional
Aira hanya ternganga mendengar alasan Dimitri, tak pernah dia sangka Dimitri akan menyukainya hingga menghianati Andi.
"Tapi aku cukup tau diri,,,,, maka dari itu selama ini aku tak pernah mengungkapkannya padamu"
Dimitri terdiam begitupun Aira, dia tak bingung harus menanggapi bagaimana perasaan Dimitri.
Tanpa disangka Dimitri menggenggam tangan Aira yang berada di atas meja. Sesaat Aira kaget dan hendak menarik tangannya.
"Ai ku mohon ijinkan aku kali ini saja" mohon Dimitri
Kali ini Aira melihat ketulusan di mata Dimitri, pada akhirnya ia harus menggunakan nuraninya dan mengijinkan Dimitri memegang tangannya.
"Terima kasih Ai" ucap Dimitri dan dijawab senyum tulus oleh Aira
"Aku mulai menyukaimu saat pertama kali bertemu denganmu Ai" ucap Dimitri sambil membayangkan masa masa itu "Aku ikut sakit saat tuan Andi memukulmu sampai terluka parah saat itu, saat menggendongmu ke rumah sakit bahkan perasaanku sangat kacau , aku takut kehilanganmu"
"Dim,,,," ucap Aira tercekat
"Jika kau tanya apakah aku menyesal menghianati tuan Andi?? jawabannya adalah tidak, bahkan aku sangat bahagia karena kau sekarang sudah aman" ada jeda sesaat karena tiba tiba air mata Dimitri mengalir begitu saja.
Aira ikut sedih melihat itu, pria yang dulu ia lihat tegar dan berdarah dingin kini terlihat rapuh di depannya.
"Dim,,,, kau bicara apa?? aku,,,,," ucapan Aira terpotong karena ada petugas yang masuk
"Maaf nona jam kunjung sudah berakhir silahkan meninggalkan ruangan ini!"
Dengan berat Aira berdiri ,,,,, sebenarnya dia tak tega dengan Dimitri, namun dia harus mengikuti peraturan.
"Dim seminggu lagi aku akan mengunjungimu lagi" ucap Aira sebelum pergi
"Jangan mengunjungi aku lagi,,, hiduplah dengan bahagia Ai"
Saat mau menjawab Dimitri, petugas sudah menggiring Aira keluar dari ruangan tersebut.
Sesuai janji Aira seminggu kemudian Aira datang untuk menjenguk Dimitri, tapi kali ini Dimitri menolak bertemu. Dia tak ingin lagi bertemu Aira karena takut semakin sulit melupakan gadis itu, Aira jelas kecewa tapi dia menitipkan makanan dan obat obatan pada petugas untuk diberikan pada Dimitri.
Minggu berikutnya Aira kembali berkunjung tapi tetap saja Dimitri enggan menemuinya, Aira tak kecewa lagi, dia kembali menitipkan makanan dan buku buku agama yang bisa dibaca Dimitri pada petugas.
Hari berganti hari Aira selalu rajin mengunjungi Dimitri meski Dimitri terus saja enggan bertemu dengannya.
Sedangkan Dimitri karena sering membaca buku buku yang dibawakan Aira, kini ia memutuskan untuk menjadi mualaf, dia terkesan dengan perhatian Aira yang selalu rajin mengunjunginya, namun ia juga tak ingin banyak berharap karena ia sangat tahu posisinya.
Hukuman yang harusnya Dimitri jalani selama 12 tahun, hanya Dimitri lalui selama 9 tahun, Dia mendapatkan banyak remisi karena berkelakuan baik.
Matahari pagi yang cerah menyambut Dimitri saat keluar dari pintu tahanan, dia bersyukur masih diberi kesempatan melihat indah dunia luar .
Seorang wanita berjilbab dengan senyum ayunya menghampirinya, tak pernah ia sangka Aira gadis yang sangat ia cintai masih sudi menemuinya setelah 9 tahun ini.
"Ai kenapa kau disini?? kau dengan siapa??"
"Aku bersama bundaku Dim" tak berapa lama Aruna datang menghampiri mereka
"Tante,,,,," sapa Dimitri sambil menyatukan tangannya di dada,
Selama di penjara dia sudah mempelajari tentang Islam, dia tau dia tak boleh menyentuh wanita yang bukan muhrimnya.
"Nak Dimitri tante mau mengucapkan terima kasih karena dulu telah menyelamatkan Aira"
"Sama sama tante,,,,,itu sudah tugas saya sebagai sesama manusia" Dimitri diam sesaat kemudian mencoba melihat pada Aira, tak dipungkiri ada rasa rindu yang menggebu untuk gadis ini tapi dia cukup tau diri.
Gadiss??? ini sudah sembilan tahun tak mungkin Aira masih gadis, dia pasti sudah memiliki anak atau setidaknya sudah menikah.
"Ngomong ngomong kalian mau kemana Ai??" tanya Dimitri
"Aku mau menjemput calon suamiku Dim"
Jawab Aira yang semakin membuat Dimitri kecewa "Jadi Aira akan menikah dan dia menjemput calon suaminya" batin Dimitri pilu
"Calon suamimu seorang polisi yang bertugas di sini?? siapa dia?? mungkin aku mengenalnya" tanya Dimitri dengan senyum meski hatinya perih
Sedangkan Aira hanya tersenyum mendengar pertanyaan Dimitri, begitupun Aruna
"Nak Dim calon suami Aira itu akan ada jika kamu menyetujinya" tutur Aruna lembut
"Maksut tante?? kenapa harus lewat saya, ini kan pilihan Aira sendiri??" tanya Dimitri bingung
"Karena calon suami Aira adalah nak Dimitri, jadi bagaimana apakah nak Dimitri setuju menjadi calon suami anak saya??"
"Kenapa saya harus tidak setuju dengan pilihan Aira??" Jawab Dimitri tanpa memperhatikan kata kata Aruna, dia hanya fokus pada hatinya yang perih.
Aruna dan Aira tersenyum geli mendengar jawaban Dimitri yang spontan.
"A,,, apa saya calon suami Aira??" tanya Dimitri setelah sadar dengan ucapan Aruna
Aruna dan Aira hanya mengangguk dengan senyum pada Dimitri.
Entah sekarang Dimitri sedang bermimpi atau apa yang pasti dia sekarang tidak ingin bangun dari mimpi ini. Ini terlalu indah baginya.
"Jangan bangunkan aku Ai,,,, mimpi ini indah sekali" ucap Dimitri dengan cengonya
"Mas istighfar,,,,, ini kenyataan lo" ucap Aira mengingatkan
"Mas???"Akhirnya Dimitri benar benar pingsan oleh kata kata itu,,,,,,,
Setelah Dimitri tersadar akhirnya mereka benar benar menikah di depan penghulu dengan disaksikan sanak saudara, dan merekapun hidup dengan bahagia.
The End