My Fat Girl

My Fat Girl
Pergi jauh untuk melupakan



"Fatih pov"


Aku masih memikirkan perasaan ku kenapa aku sangat susah melupakan aruna sepertinya aku harus menghindar jauh dari aruna agar aku bisa benar benar melupakannya dan aku sudah memutuskannya,,,,,, aku akan melakukan pengabdianku sebagai dokter muda di Kalimantan timur sebelum aruna menikah, setidaknya aku tak akan melihatnya bersanding dengan Qiya,,,,,,


Setelah memutuskan itu aku mencoba terpejam untuk mengistirahatkan hati dan badanku yang telah lelah ini,,,,,,,


Entah sudah berapa lama aku terpejam,,,, kini aku bangun karena mendengar teriakan ibu dari luar kamarku ku intip jam di nakas samping tempat tidurku ternyata sudah menunjukan jam Empat sore aku melewatkan ibadah salat dhuhurku,,,, pantas saja ibu memanggilku sambil berteriak teriak


"*Le cepat bangun,,, kamu kok gak bangun bangun to dari tadi"


"enggih buk ini saya sudah bangun*" ku jawab teriakan ibuku ,,,, lantas aku segera bangkit dari ranjang dan membersihkan diri di kamar mandi setelah selesai aku segera mengqodho' salat dhuhur ku dan kemudian sholat asyar sekalian,,, dulu saat masih di bangku sekolah aku memang jarang beribadah bagiku ibadah tak begitu penting namun seiring jalannya waktu aku menyadari bahwa mendekatkan diri kepada yang Maha pemberi segalanya adalah kebutuhanku bukan hanya soal kewajiban. Selesai melakukan sholat aku keluar kamar lalu menuju dapur disana kulihat ibu sedang menyiakan makanan


"Udah keluar le,,,,ini makan dulu ibu sudah siapkan,,,," titah ibuku


"enggih buk,,,," lantas aku duduk dan mulai memakan makananku ku lihat ibu juga masih menungguiku,,,,


"pelan pelan to le kalau makan kamu ki kok kayak anak kecil" dan hanya ku jawab dengan senyuman,,, segera ku selesaikan makan lalu aku minum air putih yang telah disiapkan ibu


"Alkhamdulillah,,,,,,, bu bapak belum pulang dari rumah mas syaif?? tanyaku ke ibu (o ya sekedar info aku dua bersaudara,,,, mas syaif beda 7 tahun dariku dia sudah berkeluarga rumahnya tak begitu jauh,,,,, berbeda denganku pekerjaannya bergelut di dunia perotomotifan dan dia sudah memiliki satu anak perempuan bernama safa dan kakak iparku bernama inara)


"Belum lah kalau udah ketemu safa mana ingat pulang bapakmu,,,, tadi ibu mau ikut juga gak boleh" terlihat muka ibu yang kesal


"Yo ingat lah bu mosok pulang gak ingat,,,, o ya assalamualaikum,,,," bapakku tiba tiba muncul


"Waalaikum salam" aku dan ibu menjawab kompak,,, lantas bapak duduk di depanku


"*Kamu hari ini libur le kok belum siap siap"


"enggih pak libur*" bapak menanggapi dengan memanggut manggutkan kepalanya


"pak buk fatih mau ngomong" bapak dan ibu langsung memfokuskan pandangannya ke aku


"Ngomong opo to le?? tanya ibu


"la kok adoh men to le?? "kaget ibu (adoh\=jauh)


"Mohon di izinkan gih buk,,,,ini juga salah satu cara fatih untuk melupakan aruna" jelasku pada ibu


"Walah le le tapi itu jauh,,, gimana kalau ibu kangen sama kamu" keluh ibu


"*Kan dulu waktu aku kuliah ibu juga ditinggal sama fatih"


" kan kalau kuliah di M***** kamu seminggu sekali pulang,,,hla kalau ini kalau mau pulang yo kudu punya banyak duit dan perjalanannya lama"


"uwes to buk,,, mbok di izinkan saja wong anak kita anak laki laki kamu gak usah khawatir dia pasti bisa jaga diri,,,, lagi pula kalau dengan begitu dia bisa melupakan nak aruna kan bagus, kalau ibu kangen ibu bisa video call sama fatih ,tapi awas jangan cari pacar orang sana kamu fat nanti mudiknya susah*,,,,," ancam bapak


"enggih pak aku kan cuma mau pengabdian saja disana" terlihat ibu masih belum ikhlas melepasku " buk,,,,, fatih mohon izinkan fatih buk" mohon ku lagi pada ibu


"*ya sudah ibu izinkan"


"alkhamdulillah*"


Keesokannya aku langsung mengurus keberangkatanku ke kalimantan, aku akan berangkat ke kalimantan setelah menyelesaikan masa koasku seminggu lagi, namun sebelum berangkat aku juga berpamitan pada aruna,,, dia menangis tersedu sedu mendengar berita keberangkatannku, dia berharap aku akan bisa menghadiri pernikahannya tapi ini sudah keputusanku aku akan pergi jauh untuk melupakannya


Tak terasa seminggu sudah terlewati hari ini adalah waktu keberangkatanku, semalam aku sudah mempacking bawaanku,,, dan di saat saat terakhir ini aku masih berharap aruna mengantar kepergiannku, namun dia tidak datang, kemarin setelah aku berpamitan dia ngambek dan tidak mau berbicara padaku ,, rasanya sakit tapi akan lebih sakit kalau melihat di duduk disamping Qiya di pelaminan,,, aku berangkat dengan berat,,,, travelku sudah menunggu di depan,, aku berpamitan pada ibu, bapak, kakak dan kakak iparku lalu memasuki mobil travel saat mobil travel mulai berjalan tiba tiba ada terikan aruna


"faaaaattt,,,,,, tunggu,,,,,,," aku langsung meminta sopir travel berhenti sebentar lantas aku turun,,,, aruna berlari menuju pelukanku sambil menangis ,,,,,


"*fat ,,,,,huuu,,,, kamu,,,, tega bangset ninggalin aku huuuuuuuuuuui"


"maafin aku ya ,,, semoga kamu selalu bahagia bersama Qiya*" dia hanya merespon dengan aggukan karena menangis


"yaudah aku berangkat dulu ,,,,,," aku kembali masuk mobil,,,lalu ku buka kaca ku keluarkan kepalaku dan aku melambaikan tanganku pada aruna dan juga keluargaku,,,,,,,, akan ku simpan senyum terakhir aruna di memory otakku selamat tinggal aruna


to be continue