
"Author pov"
Sore itu di kediaman Fatih. Fatih dan Aruna berbincang santai di kursi samping rumah, nampak Airi dari arah dalam menghampiri kedua orang tuanya itu.
"Yah Airi bisa bicara sebentar" ucap Airi saat sampai di depan orang tuanya
"Bicara saja Ri" jawab Fatih santai
"Tapi yah ini masalah pekerjaan,,,, nanti bunda malah pusing dengernya" ucap Airi sambil memberi kode pada Fatih
Memahami akan kode anaknya Fatih kemudian berdiri dari duduknya.
"Ok kita ke ruangan kerja ayah,,,,," kemudian Fatih memandang ke arah Arun "Bentar ya bund"
"Iya yah,,,,,, bunda mah gak apa apa gak denger tentang pekerjaan kalian yang penting bunda dapat uangnya hahahahaha" ucap Aruna sambil tertawa
"Hhmmmsss itu sih mau bunda" ucap Fatih dan Airi berbarengan
Kemudian Fatih berjalan menuju ruang kerjanya, sementara Airi mengikutinya dari belakang, setelah mereka sudah sama sama duduk di sofa ruangan itu, Fatih mulai pembicaraanya.
"Ada hal serius apa Ri sampai kamu ngajak ayah bicara serius" tanya Fatih
"Yah apa mungkin Aira masih hidup??"
"Kenapa kamu tanya itu Ai??" reaksi Fatih kaget
" Beberapa hari yang lalu Airi lihat orang yang wajahnya mirip Airi hampir 90%"
"Benarkah???? dimana Ri???"
"Di taman kota yah"
"Jangan beritahu bundamu tentang ini, bundamu sangat yakin Aira masih hidup, begitupun dengan ayah tapi semua orang percaya Aira sudah tiada, jika itu benar Aira ayah dan bunda akan sangat senang, tapi kalau bukan kasian bundamu Ri"
"Iya yah Airi tahu,,, makannya tadi Airi ngajak ayah ngomong di dalam, biar bunda gak denger, kalau menurut ayah beneran Aira apa bukan??"
"Bisa jadi Ri,,,, sebenarnya hal ini gak pernah ayah katakan pada bundamu, terakhir ayah melihat Aira bukan saat ulang tahun kalian" Fatih diam sejenak mengingat memory 20 tahun yang lalu
"Lantas kapan yah?" tanya Airi penasaran
"5 bulan setelah ulang tahun kalian adalah terakhir kali ayah melihat Aira, saat itu ayah dan pihak kepolisian sudah mengepung pelabuhan untuk menangkap Andi, karena dari informasi hari itu Andi akan kabur ke luar negeri.
Namun Andi memang licik dia mengelabuhi para polisi dan ayah, dia memasang jebakan dengan menyuruh bawahannya menyamar seperti dia, saat ayah sadar kami mengejar orang yang salah, ayah berlari kembali ke arah pelabuhan ,dan benar saja Andi sudah naik ke kapal yang sudah mulai berjalan menjauh dari pelabuhan.
Ayah melihat jelas Andi menggendong Aira yang tampak diam, dengan jumawanya Andi melambaikan tangan pada Ayah, ayah memang ayah yang bodoh dan tak berguna" ucap Fatih sedih mengingat kejadian itu
Airi yang melihat kesedihan ayahnya, berusaha menenangkan dengan mengelus lembut tangan ayahnya.
"Ayah jangan sedih,,, justru karena ayah melihat saat itu Aira masih hidup, jadi kemungkinan perempuan yang aku temui kemarin adalah Aira sangat besar. Kita bisa mulai mencarinya yah, tentu tanpa sepengetahuan bunda"
"Boleh,,,, kita akan melakukan itu Ri, siapa tahu itu benar benar Aira"
"Yah,,,,, perlukah kita memberitahu Alan??"
"Sebaiknya kita beritahu siapa tahu Alan bisa membantu menemukan Aira, tapi kemana perginya anak itu? ayah belum melihatnya dari tadi"
"Mungkin masih bergelut dalam dunia sosialnya, ayah tau kan anak ayah satu itu sangat menyukai kegiatan sosial"
"Ya biarkan saja Ri,,, itu baik untuk dia daripada masuk dalam pergaulan tidak jelas ayah lebih suka Alan seperti itu"
Airi hanya manggut manggut mendengar ucapan ayahnya.
Setelah pembicaraan Fatih dan Airi kemarin, Fatih mulai menggerakkan beberapa orang kepercayaanya utuk mencari gadia yang mirip dengan Airi, namun beberapa hari mencari belum juga ada titik terang.
Airi bahkan siring kali pergi ke taman kota dimana ia pernah bertemu dengan gadis itu,tapi Airi juga tak pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Fatih dan Airi akhirnya juga tak jadi melibatkan Alan, karena Alan sudah tampak sibuk beberapa minggu ini.
Sementara di sisi lain Afanas alias Andi juga tengah kebingungan mencari Laika, anak itu seperti di telan bumi, terakhir Dimitri mengetahuinya di depan musholla, Dimitri meninggalkannya sebentar untuk membeli minuman. Saat kembali mobil Laika sudah menghilang, mobilnya bisa ditemukan dengan melacak gps yang terpasang di mobil tersebut, tapi ternyata mobilnya sudah di jual dan mereka tak bisa menemukan keberadaan Laika.
Afanas tentu murka pada Dimitri karena tak bisa menjalankan tugasnya mengawasi Laika, tapi sebanyak apapun Afanas memukul Dimitri, Laika juga masih belum bisa ditemukan, rupanya kepintaran Afanas menyembunyikan diri telah ditiru oleh Laika.
Sedangkan orang yang sedang dicari cari Afanas dan Fatih, sedang bersembunyi di kosannya. Selain menenangkan diri dan memperdalam agama yang ia peluk, Laika juga gencar mencari informasi tentang asal usulnya pada beberapa bekas maidnya dulu di Rusia.
Lewat laptop yang ia beli setelah menjual mobilnya, Laika menghubungi maidnya via email, dia menemukan beberapa fakta tak terduga.
Menurut maidnya ia mengasuh Laika sejak Laika berusia lima tahun, saat itu papinya belum menikah dengan maminya, baru dua tahun setelah itu papinya menikahi maminya.
Jadi mami Laika juga bukan mami kandungnya, Karena papinya yang mengasuhnya lebih dulu, tapi jika Afanas papi kandungnya kenapa Afanas tidak sama sekali menyayanginya, itulah yang sedang Laika fikirkan sekarang. Saat dia pusing memikirkan kemungkinan kemungkinan lainnya, tiba tiba pintu kamar kosnya di ketuk.
Seperti kebiasaan sebelum sebelumnya Laika akan mengintip dulu siapa yang mengetuk pintunya, dia tak mau bertemu papinya sebelum asal usulnya jelas, dia tak mau lagi jadi mesin pembunuh ayahnya.
Setelah tau yang mengetuk pintunya adalah Alan, Laika langsung membuka pintunya. Selama ini yang selalu mengantarkan makanan padanya adalah Alan.
Beberapa hari setelah tinggal di kos Alan memaksa Laika untuk pulang, karena Laika tak mau pulang akhirnya Laika menceritakan siapa dia yang sesungguhnya, terkejut tentu itu reaksi normal Alan saat mengetahui Laika seorang pembunuh.
Tapi Alan tetap membantu Laika. karena tahu Laika sangat ingin berubah menjadi lebih baik, dan caranya memang harus jauh dari Afanas, karena selama ini yang memerintah Laika untuk membunuh adalah Afanas.
"Kak ini Al bawain gado gado buat makan siang" ucap Alan sambil menyerahkan kantung plastik
Setelah Alan masuk Laika selalu membuka pintu lebar lebar, yang mereka berdua tau mereka bukan muhrim, makannya tak pantas jika mereka berduaan di kamar.
"Kak ini ada baju gamis, kerudung dan cadar" ucap Alan sambil menyerahkan paper bag
"Untuk apa Al?" Laika menerima paper bag itu dengan bingung
"Habis ini Al mau kenalin kakak ke bundanya Al, pasti bunda ngira kak Al itu kak Airi" ucap Alan sambil melihat Laika, Alan tahu ada kecemasan di wajah Laika " Kakak tenang saja kalau kakak pakai cadar orang orang di luar tak akan mengenali kakak"
Setelah berfikir agak lama akhirnya Laika memutuskan ya
"Baiklah kak Ai akan ikut kamu Al"
To be continue
Detik detik pertemuan Laika alias Aira dengan bundanya segera datang,,,,, terus like, komen dan vote terima kasih🙏🙏😁😁