
"Author pov"
Sesampainya di rumah Fatih dan Aruna langsung mengabarkan kabar baik tersebut kepada ibu dan bapak, tak lupa juga dengan papa Aruna, mereka semua sangat bahagia karena penantian cucu telah terkabulkan.
Ibu menjadi orang yang paling protective semenjak mengetahui kabar tersebut, tapi Aruna malah merasa aman dengan hal itu, di pengalaman pertama kehamilannya ini, sosok mama yang dibutuhkan untuk membimbingnya dalam melewati masa kehamilan, benar benar digantikan dengan baik oleh ibu mertuanya.
Seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya, morning sickness juga dialami oleh Aruna, setiap bangun pagi muntah di kamar mandi menjadi rutinitas barunya, namun Fatih selalu sabar mendampingi entah sekedar memijit mijit tengkuk atau menyiapkan air putih hangat untuk Aruna.
Semenjak hamil susu apapun tak bisa masuk ke perut Aruna, pernah satu kali ia memaksakan meminum susu hamil, dengan cara menutup hidung dan segera meminum habis susunya, tapi di detik berikutnya susu itu kembali keluar beserta semua isi perutnya, jadilah makin lemas tubuh Aruna.
Aruna juga sensitif dengan bau bauan, bahkan sekarang Fatih tak pernah lagi memakai parfum bila ingin berdekatan dengan Aruna, kemarin saat belum mengetahui kesensitifan itu, Fatih seperti biasa selalu memakai parfum favoritnya dan mendekati dengan mencium cium gemas pipi Aruna.
Mencium bau yang tiba tiba menusuk di hidungnya, Aruna segera berlari ke kamar mandi dan
Ueweekkkkk uweekkkk
Kembali ia memuntahkan isi perutnya. Semenjak itu saat mencium Fatih menggunakan parfum, Aruna selalu menjauh dan melarang Fatih untuk mendekatinya, bahkan malam hari pun Fatih harus rela tidur di sofa ruang keluarga.
Dan bukannya membantu ibu dan bapaknya malah mendukung Aruna, sungguh Fatih merasa bukan ia anak ibu dan bapaknya melainkan Aruna.
Ngidam juga tak luput dari kehamilan Aruna ini, kapan hari ia ngidam memakan jambu air, pernah juga ia ngidam makan mie ayam yang berada di dekat kos kosan saat dulu ia kuliah di kota M*****. Akhirnya siang itu juga dengan menempuh waktu sekitar dua jam Fatih mengajak Aruna ke warung mie ayam tersebut, tapi di sayangkan penjual mie tersebut sudah lama tidak berjualan.
Malam ini kembali Aruna merengek pada Fatih untuk menuruti ngidamnya
"Ayo mas,,,,, aku tu pengen banget,,,, ini udah ngiler banget,,,, kamu mau anakmu nanti jadi ileran???" rengek Aruna sambil menggoyang goyangkan lengan Fatih
"Tapi yank,,,,, kamu tu gak boleh makan itu,,,,, itu pedes dan bisa berbahaya juga buat lambung kamu" tolak Fatih untuk kesekian kali
"aaaaa,,,,, kamu mah gitu emang gak sayang sama aku" ucap Aruna sambil mulai bercucuran air matanya
"Ya udah to le,,,, timbang nurutin permintaan istri lagi hamil aja kamu gitu banget, itu juga demi anak kamu" timpal ibu yang mendengar menantunya menangis
"Bukan gitu buk,,,,,tapi itukan bahaya buat kesehatannya" ucap Fatih tetap teguh
"Gak tiap hari juga,,,,, kasian cucu ibuk nanti jadi ileran, coba ibu bisa naik motor pasti ibu belikan sendiri menantu ibu" ucap ibu masih berusaha membujuk Fatih
Dan Fatih yang terus melihat istrinya menangis jadi tak tega juga
"Ya udah ya udah aku anterin,,,,,, jangan nangis lagi, cepet ganti baju sana"
Aruna yang mendengar perkataan suaminya, langsung tersenyum senang dan mengganti bajunya dengan cepat cepat.
"Yuk mas,,,, udah,,,," ajak Aruna pada Fatih
"Dih,,,, kalau udah maunya cepet baget siap siapnya"
"He he he he he"
Kemudian mereka segera menuju tempat yang Aruna inginkan. Sesampainya di sana Aruna langsung memesan satu porsi bakso beranak mercon untuknya dan satu porsi bakso beranak bakar untuk Fatih.
Mata Aruna tampak berbinar binar saat pesanannya sudah tiba, tanpa menunggu lama ia langsung memakan bakso tersebut, namun hanya tiga suapan ia sudah tak mau dan malah merebut bakso yang dimakan Fatih, dan menyerahkan bakso yang dipesannya tadi pada Fatih.
Jadilah malam itu Fatih harus merelakan bibirnya jontor, karena memakan bakso beranak mercon milik Aruna.
Setelah mengganti baju dan memposisikan diri di ranjang, Fatih mulai usil pada Istrinya
"Yank,,,,, tadi udah jauh jauh aku kabulin permintaan kamu, tapi taunya gak dimakan sama kamu, sekarang gantian kamu yang kabulin mau aku" ucap Fatih licik
"Eh,,,,, emang harus gitu?"
"Ya iya dong,,, hitung hitung ini tu hukuman buat kamu" ucap Fatih sambil tersenyum nakal
"Emangnya apaan??"
"Aku mau jengukin anak kita" sambil menaikan satu alisnya
"Aaaahhhh,,,,,,, semalam kan udah,,,,, udah lebih dari tiga kali tau mas seminggu" keluh Aruna lelah
"Ya gak apa apa lah biar anak kita itu tau kalau ayahnya sayang banget, makannya sering dijengukin"
"Ih itu mah modus"
"Ayo dong yank,,,,,,!" pinta Fatih dengan wajah yang dibuat memelas
"Aahhhh,,,,,, selalu gitu,,, ya udah ya udah" ucap Aruna sebal
"Dosa lo nolak suami,,,,, yang ikhlas dong,,,,"
"Iya iya aku ikhlas"
Tak menunggu lama setelah mendapat persetujuan, Fatih segera melucuti baju tidur Aruna dan dirinya sendiri hingga polos. Untuk merilexkan Aruna, Fatih memulai dengan mengulum lembut bibir istrinya itu.
Mengimbangi bibirnya yang bekerja, tangannya juga ikut memilin gemas benda favoritnya, setelah suara manja istrinya keluar, bibirnya mulai beralih ******* tempat favoritnya.
Tangannya kirinya kini sudah beralih ke stasiun terakhirnya, di sana jari jarinya mulai menekan nekan jalan keluar layaknya menekan tuts piano.
Suara suara lenguhan mulai sering terdengar keluar dari mulut Aruna, sedikit demi sedikit stasiun istrinya sudah mulai mengalami kebanjiran, pertanda kereta Fatih siap untuk berjalan.
Sekarang kereta Fatih sudah bersiap di depan pintu stasiun, tanpa aba aba lagi kereta itu maju dengan kecepatan penuh lalu mundur kembali, begitu berulang ulang hingga kecepatan penuh yang disusul banjir bandang tiba.
Setelah cukup menormalkan nafasnya, akhirnya Fatih merebahkan diri di samping istrinya, dan mereka berduapun terlelap menikmati kelelahan berdua.
Pagi hari saat Aruna bangun ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman di bagian bawah tubuhnya, tangannya mulai meraba kebawah dan dilihatnya tangan tersebut.
Seketika dia kaget dan panik tangannya berwarna merah dan saat ia cium itu adalah darah, tanpa berfikir panjang dia langsung membangunkan Fatih
"Mas mas mas ini gimana mas? aku takut mas" ucap Aruna sambil menangis
Fatih yang mendengarkan tangisan Aruna langsung terbangun, dia juga ikut panik melihat darah yang keluar dari tubuh bagian bawah Aruna.
To be continue
Kira kira apa yang terjadi pada Aruna ya?? habis ini part sedih apa enggak sih reader?? yuk biar aku semangat nulisnya terus like, comment dan votenya ya!!