
"Author pov"
Gadis cantik berambut panjang nan hitam itu masih betah mengutak atik hand phonenya di dalam mobil, sudah hampir dua puluh menit Ia menunggu adiknya di depan kampus.
Tak lama kaca mobilnya diketuk seorang laki laki yang tak lain adalah adiknya itu, Airi langsung membuka kunci pintu mobilnya, dan kemudian laki laki berlesung pipit itu masuk mobil. Adiknya memang cowok yang sedikit unik, meskipun wajahnya sempurna dan sangat manis idaman para gadis gadis tapi ia memiliki lesung pipit di pipinya, yang seharusnya cowok terkesan maco adiknya malah terlihat imut dan manis.
"Lama banget sih dek,,," ucap Airi jengkel
"Ia tadi ada tambahan penjelasan dari mata kuliah aku kak jadi kalau mau marah,,,, marah sana sama dosen aku"
Tanpa menjawab ucapan adiknya Airi langsung melajukan mobilnya untuk pulang, dan melepaskan segala lelahnya dengan mandi.
"Assalamualaikum,,,,,,,," ucap Airi dan Alan berbarengan
"Waalaikumsalam" jawab Aruna
"Bun ayah udah di rumah? kenapa tadi gak ayah sih yang jemput adek?" rengek Airi kesal karena melihat mobil ayahnya sudah terparkir di rumah
"Ayah gak tau kalau rapatnya hari ini cepat selesai" sahut Fatih dari arah tangga
Sekarang rumah mereka sudah pindah ke rumah yang lebih besar dari rumah mereka yang dulu
"Eh kalian pulang pulang bukannya salim dulu malah merengek" ucap Aruna
Lantas kedua anaknya menghanpiri dan mencium bergantian tangan bunda dan ayah mereka.
"Bun yang kung sama yang ti lama banget sih nginapnya di rumah om Syaif??" tanya Alan
"Nanti sudah pulang kok,,, kamu kangen ya?" jawab Aruna lembut.
Aruna tau Alan sangat manja pada yang kung dan yang ti nya, dia adalah cucu kesayangan mereka karena dia cucu laki laki satu satunya yang ada di keluarga Fatih.
Yang kung dan Yang ti sampai di rumah ba'da maghrib, setelah mereka istirahat sebentar dan bercerita tentang hari harinya di rumah Syaif, Aruna mengajak semua orang untuk makan malam bersama. Makan malam itu diwarnai kebersamaan dan tawa hangat dari semua anggota keluarga,tapi keadaan ini sangat berbanding terbalik dengan keadaan seorang gadis yang berada di negara lain itu.
Malam ini seperti biasa ia harus makan malam sendiri dengan dilayani maid, suasana membosankan yang ia rasakan hampir setiap malam. Laika mulai menyendokan makanan ke mulutnya, meski sangat malas ia terus berusaha mengunyah makanannya. Tiba tiba suara orang yang sangat ia harapkan makan bersamanya terdengar di telinganya.
"Kau tak menunggu papi Ai??"
"Papi,,,,,," ucap Laika kaget sekaligus senang "Aku tak tau papi makan malam di rumah hari ini" ucap laika lagi
Kemudian papinya mengambil posisi duduk di kursi samping Laika.
"Papi mau makan apa? biar Laika ambilkan untuk papi" setelahnya Laika mulai mengambilkan makanan yang ditunjuk papinya.
Susana makan malam yang tadinya Laika pikir membosankan kini menjadi sangat menyenangkan, papinya bisa makan bersamanya malam ini.
"Ai lusa kita pulang ke Indonesia papi sudah mempersiapkan semuanya" ucap papi Afanas
"Kunjungan seperti biasanya pi??" tanya Laika
"Tidak,,,,, mulai lusa kita akan menetap di Indonesia" jelas Afanas pada Laika
"Kenapa pi??" tanya Laika bingung karena selama ini papinya sangat melarang Laika berkunjung lama lama ke negara asalnya itu.
"Perusahaan papi di Indonesia sangat membutuhkan keberadaan papi di sana"
Hari keberangkatan Afanas dan Laika ke Indonesiapun tiba, kini mereka sudah berada di ruang tunggu bandara internasional Domodedovo Moscow, meski sudah akan berangkat Laika tetap saja merasa kesal akan keikut sertaan Dimitri ke Indonesia, teringat perdebatannya dengan papinya beberapa jam yang lalu.
"Pi Dimitri ikut kita?" tanya Laika heran saat Dimitri datang membawa koper
"Tentu saja dia ikut, siapa yang akan menjagamu kalau bukan Dimitri?"
"Pi Ai sudah dewasa kenapa Ai harus selalu diawasi?"
"Papi tak mau kau kenapa napa" ucap Afanas santai
"Papi bercanda?? papi aku adalah penembak jitu bahkan ilmu bela diriku sangat bagus, papi tau aku sudah membunuh berapa banyak orang untuk papi, kenapa aku harus terus diawasi??" tanya Laika tak habis fikir dengan keprotektivean papinya selama ini
"Papi tak menerima bantahan Ai" ucap Afanas tegas tak lagi bisa dibantah.
Kini Laika, Afanas dan Dimitri telah duduk di kursi pesawat menuju ke Indonesia, pesawat yang mereka tumpangi baru saja lepas landas dari bandara internasional Domodedovo, Laika memilih untuk tidur karena perjalanan panjang yang akan ia tempuh ini terasa lebih membosankan dengan keberadaan Dimitri.
Sementara Dimitri pria muda itu sangat senang karena bisa terus menempel pada Laika gadis yang sangat ia sukai, tapi keberaniannya hanya sebatas menjadi pengawalnya, karena jika lebih dari itu ia sangat tau sekejam apa Afanas akan memperlakukannya.
Setelah menempuh waktu 19 jam 30 menit akhirnya mereka sampai di bandara Ngurah Rai Denpasar. Setidaknya selama sepuluh hari ke depan mereka akan tinggal di Bali untuk menyelesaikan pekerjaan Afanas.
Sepuluh hari terlewati dengan cepat, kini dari Bali Laika dan Dimitri mengikuti Afanas terbang ke bandara Juanda Surabaya, kemudian mereka berkendara lagi ke kota B***** kampung halaman Afanas, Laika tau itu, tapi belum pernah sekalipun Papinya mengajaknya ke sana, beberapa kali datang ke Indonesia Laika hanya mendatangi Bali dan Jakarta, dulu papinya selalu melarang Laika mengikutinya pulang ke kampung halaman, namun kali ini papinya sendiri yang mengajaknya.
Empat jam perjalanan akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan, perum mewah ditengah kota, cukup memudahkan penghuninya menuju pusat perbelanjaan, sekolah, perkantoran dan rumah sakit.
Hari sudah sore saat mereka sampai di perum tersebut, akhirnya sisa hari itu hanya dihabiskan dengan mengistirahatkan tubuh di ranjang perum yang nyaman.
Suara kicauan burung menyambut pagi pertama Laika di perum mewahnya, setelah membersihkan diri Laika turun untuk bersarapan bersama papinya
"Pagi pi" sapa Laika sambil duduk di kursi ruang makan
"Pagi Ai,,,," jawab papinya sambil terus memakan sarapannya
"Papi bolehkah hari ini Ai jalan jalan disekitar sini?" ucap Laika sambil mengoleskan selai kacang ke rotinya
"Tentu Ai tapi jangan lupa mengajak Dimitri"
"Pi aku ingin menikmati hariku sendiri"
"Kau tahukan papi tak suka dibantah?" ucap papinya sambil menatap Laika tajam "Papi setelah ini akan keluar untuk mengurus pekerjaan, hanya Dimitri yang papi percaya untuk menjagamu" lanjut papinya lagi
"Iya pi"
Selesai sarapan Laika berangkat berjalan jalan dengan diikuti Dimitri, namun dia tak habis akal, dia berusaha membuat Dimitri sibuk dengan permintaanya, dan saat Dimitri lengah Laika kabur dengan berlari kencang melewati lalu lalang orang orang yang berangkat kerja pagi ini.
Saat terus berlari dari kejaran Dimitri, Laika memasuki sebuah gang sempit , dia terus saja melihat belakang takut Dimitri masih mengikutinya, sampai tak melihat ada orang di depannya dan
Bruuukkkk,,,,,,,,, Laika hampir terjungkal bersama orang tersebut
"Maaf tuan,,,,,,,,,"
To be continue
Hayo,,,,,, siapa ya yang ditabrak Laika?? vote vote vote, like like like , coment coment coment 😂😂