
"Fatih pov"
Dan di sini lah sekarang aku berada,,,,,,,, menunggunya di sebuah kafe tempat kami janjian, ku tunggu dia beberapa menit ia tampak muncul dari gang depan kafe, dan ya aku sangat terkejut melihat tampilannya kini,,,, dia sangat berbeda dengan tampilannya saat ber ada di sekolahan "Aruna zahara kau memang sangat cantik biarlah aku saja yang akan menyadari betapa cantik dan imutnya dirimu"
kupandangi langkahnya berjalan menuju diriku,,,,,hari ini rambut yang selalu ku lihat di kuncir saat di sekolahan ia urai,,,,,, diatasnya ia sematkan topi berwarna army senada dengan celana seperempat yang ia kenakan, dia juga mengenakan kaos putih dengan outer jaket coklat tua dan sepatu sneakers putih,bibirnya merah alami pun pipinya terlihat merona tanpa riasan blush on. sungguh penampilannya kini semakin membuat mataku enggan berpaling darinya ,"oh Aruna zahara ku"
"Fat,,,,,, Fat,,,,,,, Fatih,,,,,,kamu nglamun ya??!" aku tersentak ternyata dia sudah berada tepat di depanku
"ah,,,,,hanya menikmati keindahan,,, saja," jawabku padanya sambil ku suguhkan senyum terindahku
"ih mulai deh gesreknya kumat ,,," berekspresi seperti jijik tapi aku tau dia hanya bercanda
"ayok ah,,,berangkat keburu sore"
"ayookkk,,,,,," aku berdiri dari duduk lantas langsung menggenggam tangannya dan menariknya berjalan mengikutiku
"Fat,,,,,,apa an sih lepasin entar ada yang lihat dikiranya kita pacaran lagi,,,,, ketahuan fans fans kamu aku pasti di bully lagi deh,,,,,"
"Biar aja sih,,,,,,"
"Faaaaatttt"
Ku gerakkan tangan untuk menggapai pipinya tapi belum sempat mencapainya aku tersentak karena ada yang menepuk bahuku dari belakang "Bro,,,,," suara yang sudah kutahu siapa,,,,, aku dan a
Aruna pun menoleh bersamaan ke sumber suara yang memanggilku "E eh,,, ma,,, mas Qiya" Aruna terbata memanggil Qiya tapi whaaaat dia panggil Qiya mas " MAS??? ngapain panggil kunyuk ini mas??" emosiku tiba tiba tersulut mendengar Aruna memanggil Qiya dengan sebutan mas ,,,,dan Qiya pun tertawa sampai mukanya memerah ,,,,,,, sungguh menjengkelkan,,,,,,,,,
"ha ha ha ha ha sungguh sekarang perutku sakit,,,,jadi kau dengarkan Aruna??? jangan panggil aku mas,,, aku jadi merasa seperti mas mas penarik odong odong ha ha ha ha" dia masih juga belum selesai tertawa,,,,,dan saat aku beralih memandang Aruna ia menunduk tampaknya ia malu,,,,,namun sesekali ia mengangkat wajahnya dan memandang Qiya dengan pandangan berbeda.
Aku mencoba menepis tentang dugaanku,,,,,, dan ku harap memang tak seperti dugaanku, puas Qiya tertawa akhirnya dia bergabung dengan kami untuk mencari buku juga, rupanya dia tadi juga ingin mencari buku referensi,,,,, ,beberapa jam kami habiskan un tuk memilih milih buku di sana dan kini kami telah berada di depan kasir untuk membayar buku buku yang kami ambil, selesai membayar kami bertiga memilih mampir di kafe tempatku menunggu Aruna tadi, kami memesan minuman dan makanan ringan untuk menemani kami ngobrol, ya Qiya dan aku bukan tipe orang yang suka dengan body shiming, kami tak pernah membedakan teman dari bentuk badan maupun wajah, maka dari itu Qiya juga bisa menerima Aruna dengan baik
Tapi kini aku merasa seperti nyamuk di antara mereka berdua,,,,,Aruna terus tertawa tiap kali Qiya bercerita tentang masa masa SMP kami, tawanya sungguh lepas dan ia tampak begitu manis dan cantik,,,,,smartphone Qiya berdering menginterupsi pemiliknya lantas ia mengangkat teleponnya dan menjauh dari kami,,,,belum sempat aku membuka mulut untuk berbicara pada Aruna,,,,,, Qiya tampak kembali dan berpamitan untuk pergi duluan pada kami ia menjabat tanganku ala laki laki dan menjabat tangan Aruna kemudian mencium tangan Aruna, seketika ada sengatan di dadaku melihat senyum Aruna atas perlakuan Qiya padanya,,,,setelah Qiya berlalu Aruna masih tampak senyum senyum sendiri dan akhirnya aku tak tahan untuk menanyakan pertanyaan yang ku sesali kemudian
"kamu suka Qiya???" dia tersenyum memperlihatkan deretan giginya
"apa begitu terlihat?????"
deg,,,,,,,,, bukan jawaban itu yang aku harapkan, sepertinya ku telah kalah sebelum maju berjuang
to be continue
Ulu uluh sakit deh hati ma mas Fatih,,,,luka yang tak tampak di lihat mata tapi sakitnya,,,,,,,